SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    April 2009
    M T W T F S S
    « Mar   May »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for April 1st, 2009

PENGUMUMAN DARI TEAM KEABSAHAN PBSI : PERIHAL PENCURIAN UMUR ATLIT

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


BERITA DARI  TEAM KEABSAHAN PBSI

Bahwa prosentasi praktek pencurian umur atlit pebulutangkis kita ternyata masih cukup tinggi , terbukti dari 121 atlit yang diperiksa Kedokteran Forensik RS Pusat POLRI masih ada 24 yang terbukti data usianya tidak benar.
Dampak dari pemalsuan umur sering menimbulkan masalah pada kejuaraan kejuaraan yang digelar dan juga sangat merugikan bagi pengembangan prestasi atlit.
Menyadari hal tersebut maka PB PBSI akan melakukan tindakan yang lebih keras  terhadap pencurian umur  sebagai bentuk perlindungan terhadap atlit atlit pada umumnya.
Namun sebelumnya PB PBSI akan memberikan  keringanan  bagi mereka yang selama ini memakai atau memberikan data umur yang “keliru/salah”  untuk diperbaiki sesuai dengan umur yang sebenarnya melalui program pemutihan data umur yang berlaku dari tangal 31 Maret s/d 31 Mei 2009. ( sudah disampaikan ke Pengprov dan dapat dilihat di web site PB PBSI  :  pb-pbsi.org )

Pemutihan yang disampaikan sesudah tanggal tersebut diatas tidak diterima dan apabila terbukti datanya di “manipulasi ”  maka akan dikenai sanksi sesuai dengan Ketentuan Keabsahan yang berlaku yaitu : Memanipulasi umur s/d 1 tahun dikenai sanksi scorsing  12 bulan , lebih dari 1 tahun dikenai sanksi 24 bulan, dan bagi atlit yang telah terbukti dan telah dikenai sanksi ternyata masih memanipulasi umur maka akan dikenai sanksi
“TIDAK BOLEH MENGIKUTI KEJUARAAN RESMI PBSI atau KEJUARAAN – KEJUARAAN  YANG DIREKOMENDASI OLEH PBSI”

Diharapkan kesempatan ini betul betul dimanfaatkan agar tidak ada yang mengalami kerugian karena tidak menggunakan kesempatan yang baik ini.
Diharapkan juga kepada seluruh warga PBSI / Klub untuk membantu menyampaikan berita ini kepada para atlit.

SUBID KEABSAHAN.

Posted in Berita, Pengumuman | 1 Comment »

Tanggapan atas tulisan Bung Arief Rachman : Pemain Non Pelatnas penyelamat muka PBSI

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


Oleh: Rully de rully

Membaca berbagai tulisan mengenai Pelatnas dan Non Pelatnas/ Jalur Profesional selalu saja terjadi pemojokan terhadap pemain dan pengurus yang berada di PBSI. Padahal, mohon maaf sebelumnya, keputusan untuk memilih jalur profesional adalah langkah yang diambil oleh pemain tersebut (contohnya: Taufik Hidayat yang telah dipanggil ke Pelatnas tapi menolak bergabung, Vita, Hendra AG, Alvent, juga yang menolak bergabung walaupun telah dipanggil oleh Pelatnas).

Apakah kita bisa mengklaim bahwa mereka yang menolak untuk bergabung dengan pelatnas juga tidak memiliki rasa nasionalis? Padahal itu adalah merupakan langkah dan keputusan yang telah diambil oleh mereka.

Ketika pemain-pemain senior tersebut masih berada di Pelatnas, maka yang pasti dikirim adalah pemain2 senior tersebut sementara pemain2 yunior makin jarang dikirim ke kejuaraan luar negeri karena terbatasnya dana… bahkan salah satu pemain pelatnas saat ini Frans kurniawan sudah beberapa bulan ngga pernah dikirim ke kejuaraan dan ini sangat kontras dengan kondisi dia sewaktu di klubnya dulu Djarum…

Ketika mereka masih di pelatnas dan prestasinya mandek selalu saja digembar-gemborkan untuk segera regenerasi dan ketika pemain-pemain junior sudah dikirim untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan international super series atau pun gp gold dan belum mendapatkan hasil maksimal kita kembali ribut mempertanyakan hasil-hasil yang mereka peroleh dibandingkan oleh senior-senior yang sudah keluar dari pelatnas. Dan menurut saya sangat wajar saja kalau mereka (pemain senior) mendapatkan hasil maksimal di India Open karena hampir seluruh pemain top dunia dari China, Korea, Malaysia, Denmark tidak ambil bagian dalam kejuaraan India Open tersebut.

Apakah ini bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan mereka? Apakah kita juga masih mengatakan berhasil untuk kejuaraan All England ketika China menyapu bersih semua nomor? Ketika ganda putra gaek asal Malaysia menjadi juara di India Open dan mengalahkan ganda putra senior (non pelatnas) kita? Tapi ini tidak mendapatkan komentar dari kita. Apakah regenerasi di Malaysia juga mengalami kemunduran? Padahal Malaysia juga mengirimkan pemain-pemain lapis dua bahkan lapis tiga mereka dalam kejuaraan ini, tapi yang juara malah ganda putra senior mereka.

Kita selalu asik mengamati, menganalis hasil pertandingan dan langsung memberikan kesimpulan atau vonis. Padahal untuk mendapatkan Taufik Hidayat, Vita Marisa, Flandy Limpele, Markis Kido dan lainnya butuh proses yang panjang. Bukannya dalam hitungan satu atau dua tahun langsung muncul juara-juara saperti mereka. Mungkin kita terbawa pemikiran para politisi kita yang asik mengharapkan seorang ‘Satrio Peningit’ yang bisa langsung menyelesaikan masalah dan menghasilkan juara-juara dalam sekejap. He he he.

Bahkan kita sering merasa lebih pandai dari seorang pelatih bulutangkis sekalipun dengan memberikan penilaian bahkan sering sangat teknis sekali melebihi kemampuan seorang pelatih bulutangkis sekalipun. He he he.

Kita sering lupa bahwa pelatih hampir setiap saat melihat dan tentunya melatih pemain-pemain tersebut, jadi tentunya mereka lebih mengetahui kondisi dan keadaan pemain tersebut dibanding kita, tapi kenapa kita-kita ini sering memberikan penilaian yang seolah-olah lebih mengerti dibandingkan pelatih sekalipun.

Catatan menjelang kejuaraan Piala Sudirman saya rasa bukan suatu masalah ketika yang diikutsertakan adalah pemain pelatnas atau non pelatnas selama mereka masih menjadi warga negara Indonesia karena pada waktu kejuaraan Sudirman yang lalu juga Chandra Wijaya masuk kedalam team walaupun dia sudah menjadi pemain profesional waktu itu.

Hanya yang perlu diingat adalah seringnya kita tidak percaya kepada pemain-pemain kita sendiri, coba deh buat penilaian,

Tunggal putra :
Walaupun Sony DK tahun lalu sudah berusaha membuktikan dengan tiga juara ss tetap aja kita lebih mempercayai Taufik Hidayat dibandingkan dengan Sonny DK. Kenapa ya?

Ganda Putra:
Ini juga yang agak aneh padahal Kido/Hendra sudah terbukti terbaik dan pelapisnya ada Bona/Ahsan dan Rian/Yoke tapi kita masih menginginkan pemain non pelatnas.

Tunggal Putri:
Kalau yang ini kelihatannya tidak banyak polemik karena semuanya masih mempercayai pemain pelatnas.

Ganda Putri:
Kalau ini, Vita masih tetap bisa dipertimbangkan untuk masuk squad untuk menjadi pasangan Lilyana (Butet) selain pasangan Shendy/Meli. Tapi bagaimana dong kalau Butet sudah tidak mau main ganda putri karena dia mau konsentrasi di mix double apakah Vita masih dibutuhkan dalam squad?

Ganda Campuran:
Sampai saat ini ganda campuran terbaik indonesia masih Nova/Lilyana kenapa kita malah mau mencoba pasangan lain?

Disini jelas bahwa kita sendiri sering tidak atau belum bisa memberikan kepercayaan kepada pemain kita sendiri. Dan bahkan kita masih berharap dengan memberikan pasangan dadakan akan membuat kejutan. He he he.

Ada hal lucu lainnya ketika Taufik Hidayat masih di pelatnas dan tidak mendapatkan juara pada tahun lalu bahkan sering kalah oleh pemain-pemain yang bukan unggulan, habislah Taufik dihujat dibilang bahwa Taufik sudah habis dan sudah tidak konsentrasi lagi. Bahkan ada tulisan yang meminta untuk dia mundur saja dari pelatnas ketika dia keluar dari pelatnas dan kalah dua kali ketika ketemu Lee Chong Wei dari Malaysia masih dianggap sebagai penyelamat muka Indonesia. Aneh ya, he he he. Coba kalau Taufik masih di pelatnas pasti deh tulisannya berbeda karena Taufik kalah dua kali berturut-turut lawan pemain yang sama, pasti ada tulisan ‘Taufik Sudah Habis’. He he he. Kita sering bersikap tidak adil dalam memberikan penilaian dalam penulisan tanpa kita sadari.

Ini sekedar berbagi pemikiran, tidak ada maksud memberikan kesimpulan. Mohon maaf kalau ada tulisan yang kurang berkenan dari tulisan ini. (badminton-indonesia@yahoogroups.com)

Posted in Berita | Leave a Comment »

Ke Kanada, Taufik Dapat Julukan Baru

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


RICHMOND,  Kompas.com – Usai meraih gelar juara yang pertama tahun ini di India Terbuka, Taufik Hidayat akan ikut dalam eksebisi Racket Rally ’09 di Richmond, 3-5 April 2009 ini.

Taufik menjadi juara di turnamen India Terbuka di Hyderabad, Minggu (29/3)  setelah mengalahkan pemain Malaysia Muhammad Hafiz Hashim di babak final. Ini merupakan gelar pertama Taufik setelah ia memutuskan menjadi pemain profesional murni dengan mengundurkan diri dari pelatnas Cipayung, akhir Januari lalu.

“Hidup menurut saya baru berarti kalau kita bisa mempertahankannya; kadang saat terindah pada seseorang ada pada saat tersedih untuk orang lain,” demikian pernyataan tertulis Taufik setelah kemenangannya. ia mengacu kepada peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung, Jumat lalu.

Dalam rilis tersbeut juga disebutkan Taufik akan mengikuti Racket rally bersama pemain Denmark, Peter Hoeg Gade dan pemain tim Djarum Jawa Tengah, Andre Kurniawan Tedjono.

Namun Peter Hoeg Gade  yang merupakan  pemain peringkat 4 dunia memutuskan menarik diri karena mengalami cedera patah kaki. Posisinya kemungkinan digantikan oleh pemain Denmark lainnya, Joachim Persson.

Racket Rally 2009 akan dilangsungkan di Richmond Olympic Oval di Richmond. Kota di Kanada ini memang merupakan kota dengan populasi pendatang asal Asia yang cukup besar. Cukup banyak pemain bulu tangkis dan tenis meja keturunan Asia berasal dari kota ini. Salah satunya adalah Darryl Yung yang pernah mewakili Kanada di Olimpiade Atlanta 1996.

Yung-lah yang mengusahakan penggantian Gade dengan pemain dengan peringkat tinggi, Joachim Persson. Para pemain ini akan melakukan eksebisi bulutangkis yang juga diikuti peringkat utama bulutangkis Kanada, Andrew Dabeka dari Ottawa.

Yung secara khusus memuji sosok Taufik Hidayat. “Saya pernah menonton dia beberapa kali,” kata Yung. Taufik mampu membuat permainan jadi menarik. Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan dilakukannya. Ia bisa saja melakukan backhand smash dengan kecepatan 200 kilometer perjam. Bagi saya ia seperti Michael Jordan,” kata Yung.

Situs media Kanada, www.vancouversun.com juga menyamakan Taufik dengan petenis AS, John McEnroe atau Andy Roddick sebagai pemain temperamental karena suka memrotes wasit, ribut dengan pemain lain bahkan dengan penonton. “Saya lebih mengagumi Hidayat sebagai pemain dengan kemampuan menyihir, bukan sebagai pemarah,” kata Yung.

Setelah tidak lagi menjadi pemain pelatnas, Taufik justru memiliki kesempatan memopulerkan bulu tangkis.  Justru di negara-negara  tanpa tradisi bulu tangkis, Taufik ternyata cukup dikenal dengan pelbagai julukan. Dari Micahel Jordan, John McEnroe hingga Andy Roddick. Saat menjadi juara di India, pekan lalu, Taufik juga mendapat julukan, “The Golden Boy…”

Posted in Berita | Leave a Comment »

Julia as good as in team for Sudirman Cup (Malaysian Team For Asia Badminton Championship)

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


KUALA LUMPUR: Women’s singles shuttler Julia Wong is virtually assured of a place in the Malay­sian team for the Sudirman Cup world mixed team championships in Guangzhou from May 10-17.

But the race is open for the re­­maining spot in the team for a men’s back-up squad player.

National chief coach Rashid Si­dek said that Julia had justified her selection with good performances in the India Open while the men’s back-up squad singles player will only be named after the Asian Championships (ABC) in Suwon, South Korea, from April 7-12.

The 21-year-old Julia came close to winning her first international Open title in Hyderabad on Sunday. She went down fighting to Pi Hongyan of France in the final.

Julia Wong posing on the podium with her medal and cheque in Hyderabad on Sunday. – AFP

“Julia used to be a drab player and known for engaging her opponent in long rallies. But she now has more flair in her game,” said Rashid.

“She now dares to attack her opponents with powerful smashes. But there is still a lot more for her to improve on to become a complete player.

“We will name her in the team for the Sudirman Cup together with Wong Mew Choo. The mixed team event will be another platform for her to show what she is capable of.”

If Mew Choo, who was beaten in the quarter-finals at the India Open, is unable to raise her game, it is likely that Julia will be given the task to play a more prominent role for the team in the Sudirman Cup.

Rashid added that Tan Chun Seang was currently the front-runner for a place in the team based on his commendable showing in the India Open.

He knocked out two seeded play­ers – Nguyen Tien Minh of Vietnam and Anup Sridhar of India – before going down to Indonesian Tommy Sugiarto in his first quarter-final appearance in an international tournament.

Currently, only world No. 1 Lee Chong Wei takes the men’s singles spot in the team.

“In the last few tournaments, different back-up players showed good results. It is not easy to make a pick. But on current form, Chun Seang is ahead,” said Rashid.

“I will wait until after the ABC before naming the top back-up player for the team to Guangzhou. This is the last chance for them to make an impression.”

Besides Chun Seang, three other back-up players – Chong Wei Feng, Mohd Arif Abdul Latif and Liew Daren – will also compete in the ABC. Wei Feng, probably, will have more to prove after losing to compatriot Chan Kwong Beng in the third round of the India Open.

The Malaysian team for ABC

Men’s singles: Mohd Hafiz Hashim, Kuan Beng Hong, Chong Wei Feng, Mohd Arif Abdul Latif, Tan Chun Seang, Liew Daren.

Men’s doubles: Lin Woon Fui-Hoon Thien How, Mak Hee Chun-Tan Wee Kiong, Khoo Chung Chiat-Ong Soon Hock.

Women’s singles: Wong Mew Choo, Julia Wong, Lydia Cheah, Tee Jing Yee, Sanntasah Saniru.

Women’s doubles: Woon Khe Weo-Marylen Ng Poau Leng, Goh Liu Ying-Nairul Suhada Abdul Latif, Amelia Anscelly-Lim Yin Loo.

Mixed doubles: Mohd Razif Abdul Latif-Woon Khe Wei, Chan Peng Soon-Goh Liu Ying, Ong Jian Guo-Sabrina Chong, Lim Khim Wah-Marylen Ng Poau Leng.

Posted in Berita | Leave a Comment »

EVALUASI India Gold Grand Prix : Pengalaman Menentukan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


Pebulu tangkis pelatnas pulang tanpa gelar dari turnamen India Gold Grand Prix di Hyderabad (24-29 Maret). Namun, tetap ada sisi positif yang dipetik pebulu tangkis muda yang dikirim.

Tunggal putra Tommy Sugiarto dan ganda campuran Tontowi Achmad/Richi Puspita Dili menjadi pemain pelatnas terakhir yang bertahan. Keduanya takluk dari wakil nonpelatnas di babak semifinal.

Tommy kalah 13-21, 11-21 dari Taufik Hidayat, sedangkan Tontowi/Richi takluk 10-21, 19-21 dari Flandy Limpele/Vita Marissa. Taufik dan Flandy/Vita akhirnya menjadi kampiun.

“Penampilan terbaik Tommy ada saat perempat final. Soal pengalaman, memang kalah dari Taufik, tapi dia berhasil melewati target dengan mencapai semifinal,” kata Lius Pongoh, manajer tim Indonesia ke India.

Wakil di nomor ganda putri, Debby Susanto/Komala Dewi dan Annisa Wahyuni/Anneke Feinya, yang terhenti di babak kedua, juga memetik pengalaman di penampilan perdana pada turnamen sekelas Gold GP ini, terutama saat berhadapan dengan lawan yang kualitasnya sekelas.

“Pemain-pemain baru memang kadang tak bisa lepas dari rasa grogi. Yang jelas mereka kalah pengalaman dan masih harus ditambah power-nya. Tapi, semangat mereka tetap tinggi dan tak kelihatan demam panggung. Paling tidak hal ini bisa menjadi modal,” ucap Lius.

Kesuksesan justru diraih para pemain nonpelatnas. Ganda putra Alvent Yulianto/Hendra Gunawan, Candra Wijaya/Joko Riyadi, dan ganda putri Jo Novita/Endang Nursugianti lolos ke semifinal.

Lius, yang juga menjabat sebagai Kabid Binpres PBSI, tak terlalu merisaukan hasil yang lebih berpihak pada pemain nonpelatnas. “Pengalaman mereka memang lebih kaya. Jadi tak bisa dibandingkan langsung,” ujar Lius.

Dua Final Vita

Buat Taufik dan Flandy/Vita, gelar yang mereka raih berarti spesial. Mahkota juara ini adalah yang pertama mereka raih setelah memutuskan untuk keluar dari pelatnas pada 2009.

“Partai yang tak mudah, tapi saya memang sudah menyiapkan mental dan fisik,” sebut Taufik, yang tak pernah kalah dalam enam pertemuan sebelumnya dengan Hafiz Hashim, yang ditaklukkan 21-18, 21-19 di final.

Vita pun tak kalah gembira karena bisa menembus dua final. Bersama Nadya Melati, Vita juga mencapai final ganda putri.

“Terima kasih untuk sponsor dan teman-teman yang sudah mau membantu. Hasil ini menjadi pembuktian buat diri sendiri bahwa kami masih sanggup berprestasi,” kata Vita. (Erwin Fitriansyah)

Posted in Berita | Leave a Comment »

PR buat India

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


India mendapat kehormatan untuk menggelar Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis pada 10-16 Agustus di Hyderabad. Kota tempat penyelenggaraan awal adalah New Delhi. Namun, karena renovasi Stadion Siri Fort tak bisa memenuhi tenggat waktu, akhirnya tempat dipindah ke Gough Bouli, Indoor Stadium, Hyderabad.

Turnamen India Gold GP ini jadi sarana tes buat kesiapan Hyderabad. Soal sarana stadion, rasanya tak ada masalah.

“Lapangan tak ada masalah. Tapi, karena gedung ini bukan tempat untuk main bulu tangkis, ada sedikit gangguan angin. Namun, itu tak terlalu mengganggu,” tutur Lius Pongoh, manajer tim Indonesia ke India Gold GP.

Kalaupun ada masalah yang harus diperbaiki saat Kejuaraan Dunia dihelat nanti, itu adalah soal transportasi dan makanan.

“Hotel juga bagus. Sayangnya transportasi sulit didapat. Ada shuttlebus, tapi lama datangnya. Lantaran hotel ada di tengah pusat bisnis, makanan juga sulit didapat. Ini yang harus jadi perhatian untuk Kejuaraan Dunia nanti,” lanjut Lius.

Yang harus diwaspadai juga adalah keamanan. Lantaran aksi teroris di Mumbai tahun lalu, negara seperti Inggris menganjurkan atletnya absen di India Gold GP.

Posted in Berita | Leave a Comment »

Lee Akui Keracunan saat India Open 2009

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 1, 2009


Kejutan sempat terjadi di India Gold GP saat pemain nomor satu dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei, kalah 21-7, 16-21, 18-21 di babak pertama dari pemain Cina, Chen Long. Setelah kalah, Lee mengaku keracunan makanan dan menuding soal kebersihan dan sistem sanitasi di Hyderabad.

“Saya telah diberi tahu agar berhati-hati dengan makanan yang kami ambil di India. Tetapi, saya tidak pernah terpikir akan mengalaminya sendiri,” kata Lee.

Menurut Lee, sang kekasih, Wong Mew Choo, juga mengalami hal sama. Bedanya Wong bisa bertahan hingga babak perempat final sebelum tumbang dari Yu Hirayama (Jepang).

Lee mengaku sulit mendapat makanan yang terjamin kebersihannya di India.

“Saya terpaksa membeli minuman dari luar dan satu-satunya pilihan adalah saat bisa berhenti di pasar raya mini dalam perjalanan pulang ke hotel,” ucap Lee

Pemain yang mencapai lima kali babak final setelah Olimpiade Beijing ini menyebut alasan lain soal kekalahannya. Kali ini dia menuding wasit.

“Kualitas wasit tidak sesuai dengan kelas gold GP. Di Kejuaraan Dunia, hal ini harus ditingkatkan,” kata Lee. Apakah hal ini sekadar alasan Lee setelah kalah di babak pertama

Posted in Berita | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: