SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    May 2009
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for May 4th, 2009

61 PESERTA MUNDUR DARI PIALA INDOCOCK

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 4, 2009


Surabaya, 4/5 (Roll Sports) – sebanyak 61 peserta mengundurkan diri dari kejuaraan bulu tangkis internasional Piala Indocock Wali Kota Surabaya 2009, yang berlangsung di GOR Sudirman dan Suryanaga Surabaya pada 4-9 Mei.

Referee Kejuaraan Piala Indocock, Eddyanto Sabarudin, yang ditemui wartawan di Surabaya, Senin, mengatakan dari peserta yang mundur tersebut, sekitar 13 atlet berasal dari Singapura dan sisanya dari sejumlah klub di Indonesia.

Peserta Singapura mengundurkan diri, karena mendapat larangan dari otoritas olahraga negara setempat untuk bepergian ke luar negeri, menyusul merebaknya virus flu babi.

Tapi satu peserta dari Singapura tetap nekad melanggar aturan tersebut dan berlaga di kejuaraan berhadiah total Rp130 juta ini.

“Sementara peserta lokal mundur, karena sejumlah alasan, di antaranya sakit, keperluan sekolah dan lainnya,” kata Eddyanto di sela-sela pertandingan babak penyisihan hari pertama turnamen Piala Indocock.

Mundurnya 61 atlet itu membuat jumlah peserta berkurang, dari sebelumnya 1.322 orang menjadi 1.261 orang.

“Jumlah pertandingan jelas berkurang, karena puluhan peserta lain juga diuntungkan dengan kemenangan WO,” tambah Eddyanto yang juga Sekretaris Umum Pengprov PBSI Jatim.

Kejuaraan Piala Indocock Wali Kota Surabaya diikuti pebulu tangkis dari lima negara, yakni Singapura, Malaysia, Jepang, Nepal, dan Meksiko.

Sedangkan peserta lokal berasal dari 116 klub, 48 kabupaten dan 17 provinsi di seluruh Indonesia. Juara bertahan Djarum Kudus tetap menjadi salah satu unggulan untuk menjuarai turnamen tahunan ini.

Sementara itu, dari 20 nomor yang dipertandingkan pada kejuaraan tahunan kalender PB PBSI tersebut, nomor tunggal dewasa putri sangat minim peserta karena hanya diikuti 10 atlet, yakni tujuh atlet dari dalam negeri, dua atlet dari Singapura dan satu atlet lainnya dari Meksiko.

“Enam atlet langsung dipastikan lolos ke babak perempat final,” jelas Eddyanto.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Pengprov PBSI Jatim, Ferry Stewart, mengatakan minimnya peserta kelompok tunggal dewasa putri, terjadi hampir di semua turnamen di dalam negeri.

“Harus diakui regenerasi pebulu tangkis putri memang sedikit lambat dibanding putra. Tapi mudah-mudahan tahun depan bisa lebih banyak, karena saat ini pemain putri di kelompok taruna sudah cukup banyak,” ujarnya.

Posted in Berita | Leave a Comment »

Olimpiade Yunior dan Klub Djarum Kudus

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 4, 2009


Atlet-atlet yunior akan menghadapi tantangan baru. Sebuah pesta akbar antar atlet yunior terbaik dunia akan terjadi pada Youth Olympic Games 2010. Event multi cabang yang diterjemahkan sebagai Olimpiade Yunior akan menggelar edisi perdana di negeri tetangga Singapura. Diperkirakan lebih dari 3500 atlet dari 205 negara akan menjadi peserta.

Bulutangkis sebagai cabang yang dipertandingkan pada olimpiade 2012 di London berhak menjadi salah satu cabang peserta Olimpiade Yunior. Tetapi dalam olimpiade yunior hanya dua nomor yang memperebutkan medali yaitu tunggal putra dan tunggal putri. Peserta masing-masing nomor akan diisi oleh 32 atlet yang lolos kualifikasi. Pemain yang bisa berlaga pada cabang bulutangkis dibatasi atlet kelahiran 1 Januari 1992 sampai 31 Desember 1993. Kualifikasi sendiri dihasilkan dari hasil turnamen continental untuk masing-masing benua dan kejuaraan dunia yunior. Bagi Indonesia perebutan tempat mulai dari Kejuaraan Yunior Asia 2010. Pada turnamen ini peringkat terbaik masing-masing negara otomatis lolos dengan catatan untuk Asia dibatasi lima pemain terbaik. Peluang berikutnya untuk meloloskan pemain melalui kejuaraan dunia Yunior 2010. Pada kejuaraan dunia yunior ini, setiap negara berpeluang memperoleh jatah maksimal 2 pemain per nomor untuk setiap negara dengan catatan kedua pemain tersebut berhasil masuk peringkat 1 sampai 7.

Indonesia sebagai negara besar dalam bulutangkis tentu berharap meraih medali pada cabang ini. Apalagi Indonesia merupakan satu-satunya negara yang selalu meraih medali emas bulutangkis sejak cabang ini resmi dipertandingkan Olimpiade Barcelona 1992. Dengan kebesaran nama-nya itu sudah sepantasnya Indonesia menjejakkan tradisi emas pada Olimpiade Yunior. Namun untuk mencapainya bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Sudah 16 tahun lamanya, pemain Indonesia tidak pernah lagi meraih gelar juara dunia yunior. Terakhir Indonesia meraihnya pada tahun 1992 melalui Kristin Yunita (tunggal putri) dan Santoso / Kusno (ganda putra). Pada penyelenggaraan terakhir tahun lalu, hasil terbaik pemain Indonesia hanya sebagai semifinalis ganda putri melalui pasangan Aneke Feinya / Annisa Wahyuni. Sementara itu pada ajang kejuaraan yunior Asia sepanjang 10 tahun terakhir, hanya empat gelar yang diboyong ke bumi pertiwi. Empat gelar tersebut dipersembahkan Hendry Saputra / Enny Erlangga (ganda campuran, 1999), Ardiansyah (tunggal putra, 2001), Markis Kido / Lilyana Natsir (ganda campuran, 2002) dan Dilli Pusupita Richi / Debby Susanto (ganda putri 2007). Sedangkan pada gelaran terakhir 2008, Indonesia mencatat prestasi menyedihkan karena tidak satu-pun pemainnya mampu menembus babak perempat final.

Prestasi yang kurang mentereng dari pemain-pemain yunior Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cukup menyedihkan. PBSI memang sudah mencanangkan pelatnas Pratama di Magelang untuk menggemleng pemain menghadapi Olimpiade Yunior, akan tetapi belum terdengar realisasinya.Pada sisi lain klub Djarum Kudus yang sangat memperhatikan prestasi pebulutangkis Indonesia, telah membawa pemainnya berlaga dalam turnamen yunior di Eropa. Dua ajang diikuti pada awal Maret ini yaitu Yunior Dutch Open dan Yunior German Open. Pada ajang yang pertama Djarum membawa pulang dua gelar juara melalui Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan (ganda putra) dan Muhammad Ulinuha / Jenna Gozali (ganda campuran). Kemudian Muhammad Ulinuha / Gerry Angriawan melengkapinya dengan gelar ganda putra Yunior German Open.

Keikutsertaan Djarum pada laga Eropa sangat bernilai positif bagi pemain-pemain muda menimbah pengalaman bertanding. Akan tetapi bila dihubungkan dengan Olimpiade Yunior maka Klub Djarum perlu mengikutkan pemain-pemain yang punya peluang pada event tersebut. Memang PB Djarum mengikut sertakan dua pemain tunggal putri dan tiga tunggal putra pada tur ini yaitu Risca Meisiani, Ayu Wanda Wulandari, Kho Hnedriko Wibowo, Arif Gifar Ramadhan dan Riyanto Subagja. Namun hanya Risca dan Riyanto yang memenuhi persyaratan tahun kelahiran yang dapat berlaga di Olimpiade yunior (tahun lahir 1992-1993). Kho dan Arif kelahiran tahun 1994, sedangkan Ayu kelahiran tahun 1991. Prestasi Riyanto sendiri pada dutch open sampai babak 1/4 final setelah kalah dari Iskandar Zulkarnain Zainuddin (MAS) 21-17 16-21 11-21 dan babak 1/8 final german open setelah takluk dari Ji Wook Kang (KOR) 18-21 13-21. Sedangkan Risca di tunggal putri dihentikan di babak ketiga Yunior Dutch Open oleh Lianne Tan (BEL) 18-21 20-22 dan babak pertama Yunior German Open oleh So Hee Lee (KOR) 16-21 21-12 17-21.

Berdasarkan catatan prestasi tersebut masih diperlukan kerja keras bagi klub Djarum khususnya maupun PBSI secara keseluruhan untuk meningkat kemampuan atletnya dalam menghadapi Olimpiade Yunior ini. Klub Djarum sebagai gudangnya pemain yunior diharapkan dapat menjadi pelopor. Meskipun kualifikasi sendiri baru digelar tahun depan tetapi pemain-pemain yunior Indonesia harus menempa pengalaman internasional agar kemudian bisa diandalkan untuk lolos ke Olimpiade Yunior sekaligus mempersembahkan medali dalam even tersebut.

Hendri Kustian

Posted in Berita | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: