SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    May 2009
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for May 8th, 2009

Sudirman Cup : Adakah Siklus 20 Tahun ?

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


Indonesia baru sekali merasakan gelar Piala Sudirman. Piala lambang supremasi beregu campuran itu singgah di Indonesia ketika turnamen dilakukan untuk pertama kalinya di Jakarta pada 1989.

Melihat materi pemain, ada kemiripan antara skuad 1989 dan 2009. Salah satu persamaan adalah kombinasi antara pemain senior dan muda dalam tubuh tim.

Tim Sudirman 1989 saat itu diisi Eddy Kurniawan (27), Susy Susanti (18), Eddy Hartono (25), Rudy Gunawan (23), Verawaty Fajrin (32), dan Yanti Kusmiati (26). Indonesia meraih gelar juara lewat sebuah partai dramatis.

Saat final, di dua partai awal Indonesia tertinggal 0-2 dari Korea karena Eddy Hartono/Gunawan takluk dari Park Joo-bong/Kim Moon-soo 9-15, 15-8, 13-15, sedangkan Verawaty/Yanti kalah dari Hwang Hye-young/Chung Soo-young 12-15, 6-15.

Di partai ketiga, Susy kalah 10-12 dari Lee Young-suk di set pertama. Pada set kedua, Susy, yang sudah tertinggal 7-10, mampu membalikkan keadaan dan menang 12-10. Di set terakhir, Susy tak tertahan untuk menang 11-0.

Selanjutnya Eddy Kurniawan menang 15-4, 15-3 atas Sung Han-kok dan di partai terakhir Eddy Kurniawan/Verawaty memastikan gelar setelah menang 18-13, 15-3 atas Park Joo-bong/Chun Soo-young.

Di dalam skuad 2009 materi pemain juga merupakan kombinasi pemain senior dan junior. “Salah satu pekerjaan sulit adalah menyatukan tim menjadi kesatuan yang solid. Sebelum berangkat, acara di luar lapangan seperti outbond dan menonton bersama adalah salah satu cara untuk membuat pemain jadi solid,” ujar Yan Haryadi, manajer tim.

Susy, yang jadi pemicu titik balik di Istora Senayan 20 tahun lalu, memberi sedikit masukan untuk skuad muda saat ini.

“Saya berusaha tak pernah merasa takut sebelum bertanding, termasuk ketika menghadapi lawan dengan nama besar. Jika bisa bermain nothing to loose, biasanya kita bisa mengeluarkan seluruh kemampuan terbaik,” ujar Susy, yang akhirnya menjadi salah satu pemain putri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Setelah dua dekade berlalu, bisakah Piala Sudirman kembali ke Tanah Air? (win)

Posted in Berita | Leave a Comment »

Piala Sudirman XI Amankan Kemenangan !

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009



Tim Piala Sudirman, mengincar kemenangan melawan Jepang dan Inggris di pertandingan penyisihan sebelum menantang Cina.

Tim Piala Sudirman Indonesia mengawali perjuangan melawan Jepang di Guangzhou Gymnasium, Cina, Minggu (10/5). Kemenangan bisa membawa dampak positif saat meladeni Inggris, Senin (11/5).

Jika mampu menang di dua pertandingan awal grup 1B ini, langkah Sony Dwi Kuncoro dkk. akan lebih ringan kala menantang tuan rumah sekaligus juara bertahan Cina pada pertandingan terakhir penyisihan, Kamis (14/5). Peluang menang memang terbuka. Namun, skuad Cipayung tetap memperlihatkan kewaspadaan.

“Inggris punya pemain yang bagus di nomor ganda putri dan ganda campuran. Sementara itu, kekuatan sektor putri Jepang seimbang. Tak ada lawan yang ringan buat kita,” kata Christian Hadinata, pelatih kepala.

Sony, Nova Widianto, dan Lilyana Natsir, yang telah kenyang pengalaman di ajang beregu, diharapkan menjadi lokomotif untuk mendulang poin.

“Di lapangan nanti saya harus cepat berpikir kalau memang perlu mengubah gaya main. Selama ini rekor kita cukup bagus melawan Jepang dan Inggris. Semoga bisa dipertahankan,” ungkap Sony.

Pelatih Hendrawan menilai Jepang turun dengan kekuatan penuh di tunggal putra. Jepang membawa Kenichi Tago dan Sho Sasaki. “Pertandingan pertama artinya amat penting. Sama sekali tak boleh meremehkan lawan. Kekuatan tim Inggris juga lebih merata. Jadi, kita harus lebih berhati-hati,” ucap Hendrawan.

Pelajaran 2007

Pengalaman pahit pernah dirasakan Nova/Lilyana di Piala Sudirman 2007. Ketika bertemu Inggris di semifinal, mereka tumbang.

“Sekarang kami akan menjadikan pengalaman itu sebagai pelajaran supaya tak terulang lagi,” ujar Butet, sapaan Lilyana.

Sebagai pemain paling senior, Nova menyimpan optimisme soal kekuatan tim yang diwarnai pemain muda minim pengalaman di ajang beregu.

“Tak ada lagi pemain berpengalaman seperti Taufik Hidayat atau Candra Wijaya. Tapi, saat ini kekuatan kita lebih merata. Kuncinya adalah kita tak boleh kalah dari Jepang dan Inggris,” kata Nova.

Isyarat untuk menurunkan kekuatan penuh di partai pertama dilontarkan Sigit Pamungkas, pelatih ganda putra. Artinya Markis Kido/Hendra Setiawan berpeluang turun dibanding Bona Septano/M. Ahsan dan Rian Sukmawan/Yonatan Suryatama.

“Pemain yang muda masih minim pengalaman. Di pertandingan pertama, sepertinya kita akan tampil dengan kekuatan terbaik untuk mengamankan kemenangan,” tutur Sigit.

“Kita berharap jangan sampai kecolongan pada nomor yang diandalkan meraih poin, sedangkan sektor yang mungkin belum jadi andalan harus berusaha mencuri poin,” sebut Christian.

Selamat berjuang! (Erwin Fitriansyah)

Posted in Berita | Leave a Comment »

Malaysia Yakin Tim Mini

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


Kejutan awal dibuat Malaysia menghadapi Piala Sudirman di Guangzhou. Malaysia hanya berkekuatan 10 pemain untuk memburu target lolos 4 besar.

“Ini kesempatan terbaik buat Malaysia karena kami punya kekuatan yang merata di tunggal dan ganda,” sebut pemain nomor satu dunia, Lee Chong Wei.

Sektor ganda putra, yang menjadi salah satu kekuatan Malaysia, hanya akan diwakili Koo Kien Kiat/Tan Boon Heong plus pemain cadangan Mohd Fairuzizuan Tazari. Selain Lee dan ketiga pemain ganda tersebut, mereka yang masuk dalam skuad Malaysia kali adalah Wong Mew Choo dan Julia Wong (tunggal puteri), pasangan Chin Eei Hui/Wong Pei Tty (ganda puteri), pemain spesialis ganda campuran, Ng Hui Lin, serta pemain muda Tan Chun Seang.

Dengan komposisi ini, beberapa pemain ganda mungkin akan main rangkap. Ng diplot bermain bersama pasangan tetapnya, Tan. Alternatif lain adalah menurunkan Fairuz dengan pemain ganda putri, Wong.

“Semua sudah diperhitungkan. Ini komposisi terbaik. Dengan skuad ini paling tidak kami bisa menembus babak semifinal,” sebut pelatih tunggal, Rashid Sidek.

Malaysia akan bertarung dengan Denmark, Korea, dan Hong Kong di subgrup 1A. Berita absennya Tine Rasmussen dari tim Denmark disambut gembira oleh Malaysia.

“Ini grup yang keras, di mana Malaysia bersama Korsel dan Denmark bersaing merebut dua tempat terbaik grup. Kalau Tine absen, tentu itu sebuah kabar bagus untuk tim lain, termasuk kami,” tutur Rashid.

Pelatih ganda, Rexy Mainaky, menebar keyakinan meskipun hanya membawa satu ganda putra terkuat. “Kondisi Koo/Tan lebih siap. Makanya kami cukup membawa satu pasangan saja,” ujar Rexy. (irw)

Posted in Berita | Leave a Comment »

Candra Wijaya Men’s Double Championships PERPADUAN PRESTASI, HIBURAN DAN SOSIAL

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


Written by Hendri Kustian,

Candra Wijaya Men’s Double Championships akhirnya berjalan dengan sukses. Turnamen yang menggelar pertandingan khusus ganda putra mengukuhkan pasangan mantan Pelatnas ALven Yulianto / Hendra Aprida Gunawan sebagai juara di kelompok Dewasa. Pada pertandingan final, pasangan ini mengalahkan rekannya sesama mantan penghuni Cipayung, Rendra Wijaya / Luluk Hadiyanto 21-9, 21-11. Klub Djarum Kudus menyabet gelar kelompok taruna melalui pasangan Didit Juang / Seiko Wahyu yang menang dari Budi (Ratih) / M.S Allan (SNG) 21-18, 21-17. Satu gelar juara lagi yang diperebutkan menjadi milik Alvian Eko / Andrio Samonco (Pusdiklat DKI) yang mengalakan pemain-pemain Djarum Bagus Hadiyanto / Felix Kinalsal 21-16 22-20.

Dengan menyediakan hadiah uang sebesar 200 juta untuk tiga nomor menjadikan gengsi tersendiri pada turnamen ini. Alvent / Hendra sebagai juara kelompok dewasa berhak atas hadiah sebesar 50 juta. Hadiah tersebut setara dengan semifinalis turnamen kelas Superseries atau bahkan mendekati hadiah finalis Superseries. Saat Alven / Hendra menjadi runner up Malaysia Superseries Januari lalu, mereka menerima hadiah 5.600 US dolar atau sekitar 58 juta.  Dari sisi lain walaupun belum menjadi kalender resmi BWF,  turnamen ini berhasil mengundang pemain-pemain dari beberapa negara.  Candra sebagai penggagas turnamen ini tidak ingin menjadi yang biasa saja. Turnamen dirancang untuk menjadi ajang prestasi pebulutangkis-pebulutangkis ganda putra.

Sisi hiburan bulutangkis juga dibidik dalam turnamen ini. Partai eksebisi saat pembukaan dan penutupan memberikan kepuasan tersendiri bagi penonton. Saat pembukaan dipertemukan Juara dunia 1997 Candra Wijaya / Sigit Budiarto dan Juara dunia 2007 Markis Kido / Hendra Setiawan. Sedangkan saat penutupan Candra / Sigit bertanding melawan seniornya juara dunia tahun 1995 Ricky Subagja / Rexy Mainaki. Partai eksebisi telah mengobati kerinduan melihat kembali penampilan maestro-maestro bulutangkis Indonesia. Prestasi dan hiburan merupakan bagian yang tak terpisahkan yang menjadi pendorong penonton datang ke stadion. Animo penonton ini akan menjadi sinyal positif dalam menggalakkan lagi olahraga yang telah memberi kebanggaan bagi negeri ini.

Dimensi sosial juga menjadi perhatian Candra. Pada acara penutupan juga diadakan lelang raket. Sebagian dana nya disumbangkan pada mantan bintang bulutangkis Indonesia Unang Abdul Fatah yang sedang menderita sakit. Sebagian lagi untuk lembaga sosial yang digagas Candra yang diberi nama Candra Kasih Nusantara (CKN). Dimensi sosial ini akan lebih mendekatkan bulutangkis dengan masyarakat.

Kehadiran turnamen Candra Wijaya Men’s Double Championships ini mempunyai nuansa tersendiri dalam perbulutangkisan Indonesia. Turnamen khusus nomor tertentu dan menjadi perpaduan antara prestasi, hiburan dan sosial. Semoga kerja keras Candra dan panitia turnamen ini semakin membawa kemajuan bulutangkis Indonesia.

Posted in Berita | Leave a Comment »

Profile : Liem Swie King

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


kingLIEM Swie King adalah salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Saya masih ingat ketika masih duduk di bangku sekolah menengah 1977-1982, Liem Swie King adalah pahlawan bulutangkis Indonesia. Saya waktu itu menonton King bertanding dalam arena internasional di TVRI. Rasanya bangga menyaksikan Liem Swie King menjadi juara All England tiga kali (1978, 1979, 1981), dan bersama kawan-kawannya tiga kali merebut Piala Thomas (1976, 1979, 1984). Intinya, saya kagum pada Liem Swie King yang membawa nama Indonesia harum di mata dunia.

King menggantung raket badminton sejak 20 tahun silam atau pada tahun 1988. Lalu kemana gerangan Liem Swie King selama ini? Pekan lalu, saya bertemu Liem Swie King di rumahnya di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Begitu tahu saya dari Kompas, King langsung menanyakan kabar TD Asmadi, Sumohadi Marsis, dan Valens Doy. Saya jelaskan bahwa Pak TD Asmadi sudah pensiun dari Kompas, sedangkan Pak Sumohadi Marsis merintis Tabloid Bola. Sementara Pak Valens Doy sudah almarhum. King agak kaget ketika tahu Pak Valens sudah meninggal dunia. (Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah, saya membaca berita tentang King dari wartawan-wartawan senior Kompas tersebut).

Kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulutangkis Indonesia menjadi inspirasi bagi Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, untuk membuat film tentang bulutangkis. Film itu bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King.

Keberanian Nia dan Ale membuat film bertema bulutabngkis, patut dipuji. Sangat sedikit film Indonesia yang bisa membangkitkan semangat menjadi juara, apalagi juara bulutangkis. Padahal cabang olahraga ini merupakan cabang unggulan Indonesia di kancah internasional. Nia dan Ale ingin membangkitkan semangat kaum muda Indonesia agar tetap mencintai bulutangkis.

Seperti Nia dan Ale, saya pun merindukan Indonesia berjaya dalam turnamen internasional. Dan saya kira bukan hanya saya. Ada jutaan, puluhan juta bahkan 220 juta rakyat Indonesia sudah lama menunggu lahirnya Liem Swie King-Liem Swie King baru dalam olahraga bulutangkis.

Film ini didukung oleh Komunitas Bulutangkis Indonesia yang dipimpin G. Sulistiyanto, yang juga salah satu pengurus inti Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia atau PBSI. Sulis memang bukan pemain bulutangkis, tetapi pada masa remaja, dia punya cita-cita menjadi juara bulutangkis di tingkat Provinsi Jawa Tengah, yang waktu itu menggelar Munadi Cup.

Banyak waktu

Dalam perbincangan, Liem Swie King menuturkan kini dia punya banyak waktu berkumpul bersama keluarganya. Tiga anaknya beranjak dewasa, yaitu Alexander (25), Stephanie (22) dan Michelle (12). King memiliki bisnis perhotelan dan spa di Jakarta.

Yang menarik, KIng mengaku anak-anaknya tidak tahu bahwa dia seorang legenda bulutangkis Indonesia. Stephanie, yang baru saja lulus dari Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, mengatakan dia baru tahu ayahnya seorang pahlawan bulutangkis Indonesia setelah duduk di bangku SMP. Mereka heran kok banyak orang menyapa King. Tapi akhirnya mereka paham, ayahnya, Liem Swie King betul-betul seorang legenda bulutangkis Indonesia.

King mengatakan beberapa kali berkunjung ke kota kelahirannya di Kudus, Jawa Tengah. Dia melihat lapangan bulutangkis, tempat dia kali pertama bermain, masih ada. Dia ingat ketika akan bermain, dia memasang sendiri net di lapangan. King juga ingat betapa sikap keras ayahnya, memacu dirinya untuk bisa menjadi juara. King selalu diomeli sang papa, jika kalah di lapangan.

Liem Swie King termasuk mantan pemain bulutangkis Indonesia yang beruntung karena tetap sukses usai menggantungkan raketnya. Namun dia prihatin masih ada beberapa mantan pemain bulutangkis Indonesia seperti Taty Sumirah yang setelah berhenti bermain, bekerja di sebuah apotek dan naik vespa tua. Komunitas BuluLiem Swie Kingtangkis Indonesia yang dipimpin G Sulistiyanto, membantu orang-orang seperti Taty Sumirah -yang pernah mengharumkan nama Indonesia, agar dapat hidup layak.

King memang menikmati hidupnya. Dia sudah jarang bermain bulutangkis, tetapi kini dia lebih suka bermain tenis. Bahkan rutin seminggu dua kali. King prihatin dengan kondisi dunia bulutangkis Indonesia saat ini. Pada zamannya, dia berlatih dengan fasilitas apa adanya dan bertanding dengan hadiah belum seberapa, tetapi dia punya semangat dan disiplin yang tinggi.

Untunglah ada orang-orang seperti Nia Zulkarnaen, Ari Sihasale, G. Sulistiyanto yang menyadari betapa pentingnya memotivasi kaum muda Indonesia, yang ada di pelosok-pelosok desa, kampung, kota, agar mau berlatih dengan disiplin dan semangat tinggi, dan punya motivasi tinggi menjadi juara di kancah internasional. Sudah waktunya Indonesia memiliki “Liem Swie King-Liem Swie King” baru….

Posted in Berita, Tokoh | 5 Comments »

Taklukkan Taufik, Budi ke Semifinal Piala Indocock

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


Kamis, 7 Mei 2009 | 21:20 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Mantan pebulu tangkis Pelatnas yang menempati unggulan teratas, Budi Santoso, sukses melewati tantangan berat di babak perempat final. Dia menaklukkan Taufik Hidayat Akbar (Surya Baja Surabaya) untuk merebut tiket semifinal kejuaraan Piala Indocock Wali Kota Surabaya 2009.

Pada babak delapan besar yang berlangsung di GOR Sudirman Surabaya, Kamis (7/5) malam, pemain Mutiara Bandung itu menang rubber set 21-8 16-21 21-11.

Tampil dominan dengan penempatan bola-bola sulit pada set pertama, Budi sedikit kewalahan ketika Taufik Akbar bangkit dan bermain agresif pada set kedua. Namun, modal pengalaman dan kematangan mental mengantarkan Budi mengatasi tekanan di set ketiga dan menang dengan angka telak.

Selanjutnya pada perebutan tiket final, Budi akan ditantang unggulan ketiga asal Djarum Kudus, Engga Setiawan, yang menang atas Agung Ruhanda (Mutiara) dengan dua set langsung 22-20 21-3.

Semifinal lainnya akan mempertemukan andalan tuan rumah Fauzi Adnan (Suryanaga Surabaya) melawan Ardiansyah Putra (Ganesha). Fauzi yang menempati unggulan kedua pada turnamen berhadiah total Rp 130 juta ini, tanpa kesulitan menghentikan Sakti Kusuma (Mutiara) dengan 21-8 21-15.

Sementara itu, Ardiansyah Putra mengalahkan Bayu Sukmo Pamulang (Djarum) juga dalam permainan dua set 21-16 25-23.

“Saya optimistis bisa mengatasi Ardiansyah dan lolos ke final. Saya sudah sering bertemu dia dan mengetahui tipe permainannya,” kata Fauzi seusai pertandingan.

Pada bagian putri, pemain asal Meksiko, Deyanira Angulo Chinas, memastikan lolos ke empat besar, setelah lawannya Yulia Yosephine Susanto (Bintaro Jaya Raya) didiskualifikasi. Yulia ketahuan merangkap bermain di kelompok taruna.

Deyanira yang menjadi satu-satunya wakil Meksiko pada turnamen ini, sempat kalah 14-21 ketika akhirnya lawannya terkena diskualifikasi sebelum set kedua dimainkan.

Pada babak semifinal yang dimainkan Jumat, Deyanira akan bertemu unggulan pertama, Rosaria Yusfin Pungkasari, yang mengalahkan Stevany (SGS Elektrik) dengan 21-9 21-7.

Perebutan tiket final lainnya akan mempertemukan unggulan kedua Febby Angguni (Djarum) melawan Gustiani Megawati Sari (Suryanaga). Febby lolos dengan kemenangan mudah 21-13 21-8 atas Putri Muthia (Tangkas Alfamart), sedangkan Gustiani menundukkan Ria Ade (Pertamina) 21-16 27-25.

Posted in Berita, Kejuaraan | Leave a Comment »

GUANGZHOU PREPARES FOR THE SUDIRMAN CUP

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


Between 10th and 17th May 2009, the sports-cultured Chinese city of Guangzhou(Venue Pic below) will play host to what is considered the third most prestigious team championship in the calendar of World Badminton Federation – the Sudirman Cup.

Unlike the more famously recognised Thomas and Uber Cups which are exclusive to men and ladies respectively, the biennial Sudirman Cup is a mixed team event, comprising one set of ladies and men singles and doubles and a mixed doubles, a total of five matches. This is the only BWF tournament where qualifying round are not held to determine finalists, either at regional or zonal levels. The finalists rather are determined through results from the previous tournament.

There is no prize money awarded in the Sudirman Cup competition. Players play for their respective countries and to earn world ranking points and national prestige.
The rules of the competition stipulate that participating teams be divided into seven groups based on their performance. Only teams in group 1 will have a chance to lift the trophy as the teams in other groups fight for promotion. The teams who finish last in their respective group will be relegated to the lower group, except the final group.

It was this ruling that enabled Japan to move into the top competition group for this year, relegating Thailand to the lower group. Other nations that suffered a similar switch were Sweden and France, Ukraine and the Czech Republic, Ireland and Spain and Portugal and Norway.
Named after one of Indonesia’s great badminton personalities, Dr. Dick Sudirman, the trophy stands 80cm high and is a 22-carat gold-plated, solid silver magnificence. The Indonesia Badminton Federation (PBSI) presented the trophy to WBF at its inaugural competition at the Bung Karno stadium in 1989 and appropriately the first holder of the trophy was Indonesia who beat Korea 3-2 in the final.

Since its introduction 20 years ago, only three member nations have won the trophy with China being dominant with six wins, in 1995, ’97, ’99, ’01, ’05, ‘ 07. The Koreans won the trophy in 1991, 93 and ’03.

Posted in Berita | Leave a Comment »

TIM INDONESIA BELUM JAJAL LAPANGAN PERTANDINGAN

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 8, 2009


Jakarta, 7/5 (Roll News) – Tim Indonesia yang tiba di Guangzhou Rabu (6/5), mulai menjalani latihan menjelang kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman di kota tersebut pada 10-17 Mei.

Menurut pelatih tunggal putra Hendrawan, latihan sesi pagi dilaksanakan di lapangan latihan. “Namun lapangan latihan belum siap sepenuhnya, karena memang jadwal latihan mulai besok (Jumat),” katanya saat dihubungi, Kamis.

Hendrawan yang membawa tiga pemain asuhannya yakni Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso dan Tommy Sugiarto, mengatakan tim Indonesia belum mencoba lapangan yang akan digunakan untuk pertandingan. “Belum tahu kapan, mungkin besok,” katanya.

Sementara pemain spesialis ganda, Fran Kurniawan menyebutkan latihan sesi sore dilakukan di hotel dengan latihan fisik berupa fitnes dan jogging.

“Latihannya enak dan mengasyikkan, kebersamaan juga terjaga,” kata pemain yang baru pertamakali memperkuat tim Piala Sudirman itu.

Ia juga mengatakan bahwa Konsulat Jenderal RI di Guangzhou mengundang mereka untuk makan malam pada Jumat (8/5).

Tim Indonesia terdiri atas 20 pemain, masing-masing 12 putra dan delapan putri. Tim yang menjadi unggulan kedua tersebut berada dalam Grup 1B bersama tuan rumah sekaligus juara bertahan China, Inggris dan tim yang mendapat promosi Jepang.

Sedang Grup 1A ditempati unggulan pertama Denmark, Malaysia, Korea Selatan dan Hong Kong.

Juara dan runner-up masing-masing grup berhak lolos ke semifinal untuk memperebutkan trofi.

Posted in Berita | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: