SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    May 2009
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for May 12th, 2009

PIALA SUDIRMAN 2009 : THAILAND, TAIWAN DAN INDIA RAIH KEMENANGAN KEDUA

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


sudirman-cup-mascotGuangzhou, China, 12/5 (Roll News) – Thailand dan Taiwan masing-masing meraih kemenangan kedua dalam dua pertandingan di Piala Sudirman, Selasa, sehingga harapannya tetap terbuka untuk promosi ke grup elite turnamen bulutangkis tersebut.

Taiwan, yang mendapat dukungan dari para penonton di Guangzhou, China bagian selatan, menundukkan Prancis 4-1. Thailand merebut partai kelima yang menentukan melalui “rubber set” untuk meraih kemenangan 3-2 atas Jerman.

Kedua tim tersebut akan saling berhadapan di Grup 2A hari Rabu.

Dalam pertandingan babak ketiga kompetisi tersebut, India menjadi tim favorit untuk promosi setelah menghancurkan Ukraina 5-0.

Tidak banyak tim yang meraih kemenangan mutlak di Guangzhou Gymnasium, tetapi kemenangan itu diraih India. Dalam pertandingan pertamanya melawan Australia, India menang 4-1.

Kejuaraan dunia beregu campuran tersebut akan berlangsung hingga hari Minggu

Di partai lain, India menunjukkan diri sebagai tim favorit untuk naik promosi ke lapis kedua Kejuaraan Bulutangkis Piala Sudirman di Guangzhou, China, dengan mengalahkan Ukraina 5-0, Selasa.

Sehari sebelumnya India juga menunjukkan keperkasaannya ketika mengalahkan Australia 4-1.

Angka bagi India dalam pertandingan di Guangzhou Gymnasium itu di antaranya diraih melalui Sania Nehwal atas Mariya Diptan 21-18 21-9 dalam waktu 22 menit di tunggal putri.

Hari Rabu India akan melakukan penampilan ketiga atau terakhir di grul 3B itu melawan Skotlandia.

Skotlandia Senin lalu menyerah kepada Ukrainia 2-3. Namun dapat bangkit dengan mengalahkan Australia 5-0, Selasa.

Berikut ini hasil lengkap pertandingan hari ke-tiga Lining Sudirman Cup 2009 :

Lining 3

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Turnamen | Leave a Comment »

DI DUA PENAMPILAN, TIM INDONESIA CUKUP BAIK

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


Guangzhou, 12/5 (Roll News) – Evaluasi dari sejumlah pelatih tim Piala Sudirman menyimpulkan bahwa penampilan tim Indonesia dalam dua pertandingan pertama pada Piala Sudirman, yang keduanya berakhir dengan kemenangan 4-1, cukup baik.

Pelatih ganda putra Sigit Pamungkas usai mendampingi tim Indonesia berlatih di Guangzhou Gymnasium, Selasa sore, mengatakan, meskipun ganda putra mengalami sekali kekalahan dari dua pertandingan, namun menampilkan pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan menguntungkan bagi tim Indonesia di masa mendatang.

“Pertandingan kemarin penting bagi Bona/Ahsan agar mereka merasakan atmosfir turnamen beregu karena sebentar lagi ada Piala Thomas, siapa lagi kalau bukan mereka yang akan tampil,” kata Sigit.

Pasangan Bona Septano/Mohammad Ahsan mengalami kekalahan dalam penampilan pertamanya pada kejuaraan beregu, saat tim Indonesia menghadapi Inggris pada penyisihan Grup 1B yang berakhir dengan kemenangan Indonesia 4-1.

“Pada game pertama mereka tampak sekali gugup sehingga tidak tahu harus berbuat apa di lapangan. Namun pada game kedua dan ketiga permainan mereka sudah jalan meskipun Bona belum sepenuhnya mengatasi ketegangannya,” papar Sigit.

Untuk pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan yang meraih kemenangan atas pasangan Jepang Noriyasu Hirata/Hirokatsu Hashimoto 21-14, 21-11 pada pertandingan pertama Indonesia, Sigit mengatakan tidak menduga dapat meraih kemenangan cukup mudah. “Pemain Jepang tampil tidak serapat biasanya sehingga mereka bisa menang mudah,” kata Sigit.

Soal siapa yang paling siap tanding dari keempat pemain tersebut, Sigit menyebut Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan, dan mereka akan dijajal dalam pertandingan yang akan dihadapi Indonesia berikutnya.

Jaga pukulan

Sementara itu pelatih ganda campuran Richard Mainaky mengatakan, penampilan pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir sudah bagus sejak game kedua dan ketiga menghadapi Jepang.

Nova/Liliyana yang menang 16-21, 21-14, 21-18 atas Shintaro Ikeda/Reiko Shiota itu, menurut Richard, harus terus menjaga kualitas pukulannya untuk menghadapi pertandingan selanjutnya. “Pukulan drive-nya harus menyulitkan lawan dan jangan banyak membuat kesalahan,” kata Richard yang mewaspadai tim Denmark dan Korea jika bertemu di semifinal.

Mengenai ganda campuran lapis kedua Devin Lahardi/Lita Nurlita, Richard mengatakan bisa saja diturunkan pada pertandingan selanjutnya jika keadaan darurat.

Adapun pelatih tunggal putra Hendrawan mengatakan bahwa dua kemenangan yang disumbangkan tunggal putra sudah sesuai dengan harapan.

Tim Indonesia yang tidak bertanding Selasa (12/5), tetap berlatih. Latihan berlangsung dalam bentuk latih-tanding antara beberapa pemain dengan pelatih. Namun pemain ganda putra Markis Kido tidak tampak dalamlatihan sore itu karena sudah menjalani latihan fisik pada pagi harinya.

Indonesia untuk sementara berada di posisi teratas klasemen Grup 1B diikuti tuan rumah China yang melawan Jepang, Selasa (12/5), Jepang di urutan ketiga dan terakhir Inggris yang sudah mengalami kekalahan dua kali.

Jika China menang atas Jepang sehingga mengumpulkan dua kemenangan setelah sebelumnya unggul 5-0 atas Inggris, maka Indonesia dan China dipastikan maju ke semifinal Sabtu (16/5).

Posted in Badminton, Berita, Turnamen | Leave a Comment »

HERYANTO: PEMAIN MUDA PERLU DITURUNKAN LAWAN CHINA

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


Semarang, 12/5 (Roll News) – Mantan pebulutangkis tunggal putra nasional, Heryanto Arbi berpendapat, Indonesia perlu menurunkan pebulu tangkis muda saat bertemu tuan rumah China pada babak penyisihan grup 1B kejuaraan bulu tangkis beregu campuran dunia Piala Sudirman yang saat ini berlangsung di Guangzhou, China.

“Kalau pada babak penyisihan, kita tidak perlu tampil maksimal lawan China supaya bisa menghemat tenaga saat bertanding pada babak semifinal,” katanya ketika dihubungi dari Semarang, Selasa.

Menurut juara All England dua kali (1993-1994) tersebut, dengan menurunkan pemain muda tentunya memberi kesempatan kepada mereka bertarung melawan pebulu tangkis dunia sehingga mereka mendapat pengalaman dan pelajaran berharga dari China.

“Jadi lebih baik kita simpan kekuatan saat bertemu China pada babak penyisihan, sedangkan untuk semifinal tentunya harua turun dengan kekuatan penuh karena akan menentukan langkah kita untuk mencapai babak final,” kata Heryanto Arbi yang tiga kali membela Indonesia pada perebutan Piala Sudirman.

Tetapi, kata pebulutangkis yang dibesarkan PB Djarum Kudus tersebut, kalau akhirnya Indonesia maju ke babak final dan bertemu tuan rumah China, mau-tidak mau harus tampil dengan kekuatan terbaiknya dan semangat yang tinggi.

Tim Indonesia memastikan langkah maju ke babak semifinal setelah berhasil memenangkan dua pertandingan pada babak penyisihan grup 1B, yaitu menang atas Jepang (4-1) dan menang atas Inggris (3-1).

Pertandingan terakhir pada babak penyisihan grup 1B melawan China hanya menentukan juara dan runner up grup karena apapaun hasil pertandingan melawan Lin Dan dan kawan-kawan tidak mempengaruhi hasil Sony Dwi Kuncoro dan kawan-kawan melangkah ke babak empat besar.

Sementara itu mantan pebulu tangkis nasional lainnya, Hastomo Arbi mengatakan, untuk pertandingan babak empat besar calon lawan Indonesia, seperti Malaysia, Denmark, dan Korea Selatan memang memiliki kelemahan dan kelebihan,

Pahlawan Piala Thomas 1984 tersebut mengatakan, kalau bertemu Denmark maka peluang tunggal putra yang akan diwakili Sony Dwi Kuncoro sedangkan Denmark adalah Peter Gade tentunya sama 50:50, kemudian tunggal putri (Maria Kristin) bertemu Tine Rasmussen (Denmark) tampaknya peluangnya berat.

Untuk ganda putra, peluangnya lebih besar Indonesia 55-45 dibandingkan Denmark, sedangkan untuk ganda putri peluangnya sama 50:50.

Apabila bertemu Korea Selatan pada babak semifinal, menurut dia, peluangnya juga masih ada karena tim Negeri Ginseng ini memiliki kekuatan di ganda putra, ganda putri, dan tunggal putri.

“Kita harus bisa mengambil salah satu dari ketiga nomor tersebut untuk meraih kemenangan karena untuk tunggal putra dan ganda campuran kemungkinan bisa kita rebut,” katanya.

Kemudian, kata dia, kalau bertemu Malaysia, tentunya peluangnya juga terbuka lebar meskipun untuk tunggal putra mereka memiliki Lee Chong Wei dan ganda putra Koo Kien Keat/Tan Boon Heong.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Ricky Soebagja dan Sigit Budiarto Jadi Ikon Flypower

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


rickysigit(Bulutangkis.com) – Bertempat di Kafe Lagunas , Senayan Jakarta (Senin, 11/05) di tanda-tangani kesepatan kerjasama Ricky Soebagja dan Sigit Budiarto dengan Flypower yang merupakan perusahaan khusus peralatan bulutangkis. Kerjasama ini akan berlangsung selama dua tahun hingga tahun 2011. Flypower sebagai perusahaan peralatan bulutangkis karya anak bangsa dan saat ini terus mengembangkan sayapnya. Setelah menjadi sponsor beberapa turnamen bulutangkis di Tanah Air dan terakhir menjadi sponsor bagi klub utama bulutangkis di Indonesia Klub Djarum Kudus. Ricky Soebagja dan Sigit Budiarto dipilih sebagai icon Flypower karena prestasi keduanya cukup fenomenal di ajang bulutangkis dunia. Disamping itu Ricky Soebagja dan Sigit Budiarto juga mempunyai kepribadian yang baik dan patut menjadi teladan bagi komunitas bulutangkis Indonesia. Juga Ricky dan Sigit sebagai mantan pemain memiliki ketrampilan dan teknik-teknik bulutangkis yang yang mempesona dah hingga kini masih mampu menghibur para penonton bulutangkis. Ini masih terlihat saat terakhir mereka menghibur penonton bulutangkis Jakarta pada event Candra Wijaya Men’s Doubles Badminton Championships awal bulan ini. Pada partai eksibisi tersebut Candra Wijaya berpasangan dengan Sigit Budiarto melawan senior mereka di pelatnas Rexy Mainaky yang berpasangan dengan Ricky Soebagja mampu menghibur dan memukau para penonton dengan teknik-teknik bermain yang masih dimiliki. Pada era tahun 1990-an Ricky yang berpasangan dengan Rexy adalah merupakan ganda terbaik Indonesia dan selalu menguasai ajang bulutangkis dunia. Salah satu kejuaraan bergengsi bagi Ricky dan Rexy adalah meraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996. Dan Sigit Budiarto tak kalah cemerlang prestasinya, menyabet juara All England tahun 2003. Bersama Candra Wijaya menjadi Juara Dunia 1997 di Glasgow. Dengan pesona dan prestasi yang dimiliki Ricky Soebagja dan Sigit Budiarto, peran mereka diharapkan mampu mengembangkan produk-produk Flyopower. Keduanya akan selalu dilibatkan dalam pengembangan produk terbaru, terutama sepatu dan raket Flypower. Sebagai pemain yang kenyang pengalaman internasional, Ricky dan Sigit tentu paham benar bagaimana cara memilih sepatu dan raket yang nyaman sebagai salah satu cara melangkah menuju prestasi dunia.(fk)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Piala Sudirman 2009 : Indonesia (sebaiknya) Simpan Tenaga untuk Semifinal

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


KontrakVIVAnews – Peluang Indonesia lolos ke babak semifinal Piala Sudirman 2009 terbuka lebar setelah pada pertandingan pertama babak kualifikasi grup 1B berhasil mengalahkan Jepang 4-1. Agar tampil maksimal, tim Merah Putih sebaiknya melepas laga terakhir kontra China.

Demikian saran dari mantan pebulutangkis nasional, Ricky Subagdja usai menghadiri penandatanganan kontrak dengan perusahaan Flypower bersama Sigit Budiarto di Senayan Jakarta, Senin 11 Mei 2009.

Menurut Ricky, peluang Indonesia tampil di semifinal cukup terbuka. Pasalnya di Grup B, Indonesia masih bisa tampil sebagai runner up di bawah China.

Di Piala Sudirman 2009, Indonesia bergabung di Grup 1 B bersama China, Inggris dan Jepang. Di pertandingan pertama, Minggu 10 Mei 2009, Indonesia mengalahkan Jepang 4-1.

Dengan hasil ini, Indoensia menempel China di peringkat 2 klasemen sementara dengan koleksi dua poin.

“Dengan kekuatan yang ada, Indonesia sebaiknya fokus pada semifinal. Untuk menyimpan tenaga, Indonesia sebaiknya menurunkan pemain pelapis saat bertemu China di pertandingan terakhir,” kata Ricky.

Langkah ini didukung oleh mantan pebulutangkis nasional lainnya, Hariyanto Arbi. Menurutnya, China adalah tim terkuat yang tampil di Piala Sudirman 2009. Karena itu, percuma bila harus fight dengan tim Tirai Bambu itu di babak-babak awal.

“Sebaiknya tenaga pemain inti disimpan untuk babak semifinal. Sebab, lawan yang akan dihadapi di semifinal juga tidak mudah. Di sana ada Denmark dan Malaysia yang punya peluang besar untuk jadi juara grup,” kata Ricky.

“Saat bertemu China, Indonesia sebaiknya menurunkan pemain pelapis. Ini baik untuk menambah jam terbang mereka di kejuaraan beregu,” tandas Hariyanto.

Divisi utama Piala Sudirman 2009 dibagi dalam dua grup, yakni 1A dan 1B. Juara dan runner up masing-masing grup akan lolos ke semifinal. Juara grup A akan berhadapan dengan runner up grup B, demikian sebaliknya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Perjuangan Para Atlit dan Pasang Surut Dukungan Masyarakat

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


Sebagai seorang pehobi dan penggemar bulutangkis sejak jaman 90-an dulu, sangatlah menarik melihat perkembangan animo masyarakat Indonesia terhadap perbulutangkisan dalam negeri. Olahraga ini mengalami pasang dan surut dukungan.

Tentunya, kita mengingat jaman kejayaan Alan, Susi, Ardi Wiranata, Herryanto Arbi, Hendrawan, Mia Audina, Lili Tampi dan lain-lain dimana Indonesia hampir selalu memenangkan gelar juara atau medali emas di kejuaraan apa pun. Stasiun TV milik pemerintah saat itu pun sangat suportif; hampir setiap pertandingan elit yang berlangsung di dalam maupun luar negeri ditayangkan secara langsung.

Saya masih ingat, pada jaman ini, satu isi rumah (sampai para pembantu rumah tangga juga ) semuanya pasti nongkrong di depan TV untuk menonton perjuangan anak bangsa ini. Tidak peduli berlangsungnya sore, malam, atau bahkan dini hari.

Setelah generasi ini gantung raket, tiba-tiba Indonesia dihadapi dengan kenyataan kurang menyenangkan: regenerasi selama ini ternyata kurang berjalan sehingga para yunior yang seharusnya menggantikan para seniornya pun tidak siap untuk ditinggalkan para senior.

Masuklah Indonesia ke masa kegelapan.

PBSI harus memutar otak dan berjuang keras untuk menempa para yunior untuk dapat segera matang dan berbuah. Masyarakat pun resah. Beberapa menyayangkan mengapa para senior harus gantung raket. Beberapa merasa pesimis dengan bulutangkis Indonesia. Dan beberapa masih menyimpan harapan bahwa bulutangkis masih (akan) menjadi kebanggaan Indonesia. Tetapi secara umum, dukungan berkurang karena banyak “penonton” kecewa.

Selama periode masa kegelapan ini, hanya tampak satu sinar terang: Taufik Hidayat.

Saat itu si muda Taufik baru berusia 17 tahun, tetapi permainannya secemerlang pemain papan atas dunia yang telah senior sekali pun. Pada usia belia tersebut, ia menggegerkan dunia dengan menjadi finalis All England; orang kedua setelah Rudy Hartono yang kala itu berusia 17 tahun juga ketika menjadi finalis All England.

Tiba-tiba dukungan masyarakat kembali terendus. Taufik rutin hadir di media cetak, radio, dan TV. Masyarakat mengelu-elukan Taufik yang dijuluki The Golden Boy (Anak Emas) karena dialah satu-satunya atlit bulutangkis dunia yang pernah menjuarai Kejuaraan Asia, ASEAN, SEA Games, Dunia, dan Olimpiade.

Dukungan terhadap bulutangkis mulai kembali merebak, tetapi tanpa disadari, Indonesia kembali ke masa dimana para yunior terabaikan dan masyarakat (dan terkadang juga pemerintah) mengharapkan Taufik (dan atlit senior lainnya) untuk terus diturunkan di berbagai turnamen – untuk menjamin kemenangan Indonesia – bahkan di kejuaraan yang sebenarnya sudah bukan jatahnya mereka untuk bermain, tetapi jatahnya pelapis atau para yunior untuk mencicip pengalaman.

Dan ketika Taufik dan para senior mulai memasuki masa anti-klimaks (mereka masih sama hebatnya, tetapi atlit-atlit muda penuh semangat dan stamina dari berbagai negara pun mengalami perkembangan pesat), masyarakat kembali banyak yang kecewa, dan banyak yang kemudian mundur dari jabatan “pendukung setia bulutangkis Indonesia” – termasuk TV Indonesia yang tidak lagi menayangkan para atlit kita; termasuk pada saat mereka berhasil masuk final dan bahkan memenangkannya.

Mulai dari sekitar tahun 2006, keputusan bijak dari PBSI untuk lebih mengedepankan para pemain yunior dan pelapis memang sulit untuk diterima mayoritas kala itu, karena itu berarti Indonesia harus rela “malu” pulang dengan tidak membawa gelar juara, seperti yang dikemukakan Koh Christian Hadinata, pelatih utama pelatnas yang kira-kira berbunyi demikian, “Paling baik memang terus mengedepankan para yunior supaya mereka cepat matang… tetapi masyarakat siap tidak dengan fakta bahwa Indonesia akan harus melewati periode vakum gelar?” (diucapkannya di sela-sela pertandingan Indonesia Terbuka tahun 2008 di Jakarta).

Dari saya pribadi, saya setuju dengan koh Christian. Bukankah sukses dimulai dari langkah awal yang terkadang tidak mulus, terjatuh-jatuh, tetapi terus bertekad untuk maju?

Para yunior tidak lunglai kehilangan dukungan dari banyak masyarakat ketika mereka masih menenun pengalaman dan belum berbuah. Sekarang mereka membuktikan bahwa mereka pun bisa berbuah manis. Yang dulunya yunior “hijau” (dan sering dipandang sebelah mata dan diremehkan – bahkan oleh beberapa masyarakat Indonesia sendiri) sekarang telah bermetamorfosis menjadi pemain papan atas dunia.

Sebutlah Sony Dwi Kuncoro (24 tahun), Simon Santoso (23), Maria Kristin (23), Adrianti Firdasari (22), Markis Kido (24), Hendra Setiawan (24), Bona Septano (21), Mohammad Ahsan (21), Shendy Puspa Irawati (22), Meiliana Jauhari (25), Greysia Polii (21), Nitya Krishinda, Lilyana Natsir (23 tahun), Fran Kurniawan (24 tahun), Rendra Wijaya (24 tahun), Alamsyah (22 tahun) …

Banyak dari nama-nama di atas sekarang sudah nongkrong di 10 besar dunia dan disegani pemain papan atas dari banyak negara. Kekuatan Indonesia pun sekarang cenderung lebih merata dibandingkan sebelumnya. Masyarakat Indonesia pun kembali optimis, apalagi tahun lalu Piala Thomas/Uber dan Indonesia Terbuka ditayangkan oleh TV swasta nasional. Dukungan pun kembali bergaung di seantero Indonesia.

Dan, saya pun terharu mendengar, melihat, dan menyaksikan kembali bangkitnya animo dukungan masyarakat bagi para atlit bulutangkis kita. Para atlit yang selama ini berjuang, berpeluh, dan berusaha menyambung hidup mereka lewat bulutangkis – sama sekali bukan pilihan hidup yang mudah – itu akhirnya mendapat penghargaan non-materiil yang sudah seharusnya mereka terima.

Bagi semua atlit bulutangkis Indonesia, dari yang sudah gantung raket, senior yang masih aktif bermain, pemain utama, pemain pelapis, dan para tunas muda yang nantinya akan menjadi tumpuan harapan negara, saya mengucapkan:

“TERIMA KASIH & TETAP SEMANGAT!”

https://i0.wp.com/photos-387.friendster.com/e1/photos/78/34/35414387/1_901465975l.jpg

Greysia Polii (kiri), atlit ganda putri, dan Lilyana Natsir (kanan), atlit ganda campuran.

PS: Tentu saja, hati kecil saya juga harap-harap cemas, kapan ya TV di Indonesia kembali berdedikasi menayangkan perjuangan anak bangsa ini di layar kaca kita… atau harapan ini hanya akan menjadi asa menggantung tak menentu?

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Menghadirkan Piala Kembali Ke Tanah Asal

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


Oleh: Hendri Kustian

(Bulutangkis.com) – Inggris dan Indonesia masing-masing menyumbangkan dua Piala untuk diperebutkan dalam gelanggang bulutangkis. Dua piala yang disumbangkan oleh Inggris tersebut mengambil nama dua pemainnya George Alan Thomas dan Betty Uber. Thomas Cup menjadi piala kejuaraan beregu putra dunia dan Uber Cup untuk beregu putri dunia. Meskipun kedua Piala berasal dari Inggris tetapi pemain-pemain Inggris belum pernah menghadirkan kebanggaan sebagai juara piala-piala tersebut.

Prestasi terbaik Inggris di Piala Thomas sebatas menjadi juara ketiga saat perhelatan berlangsung di Kuala Lumpur tahun 1984. Tim putri Inggris berprestasi lebih baik dengan dua kali menjadi runner up tahun 1963 dan 1984. Kala itu Inggris gagal mejadi juara setelah dikalahkan Amerika Serikat (1963) dan China (1984).

Indonesia hampir mengalami nasib yang sama dengan Inggris. Dua Piala asal Indonesia diperebutkan pada tingkat dunia. Kejuaraan dunia beregu Yunior memperebutkan Piala Suhandinata dan Kejuaraan dunia beregu campuran dinamakan Piala Sudirman. Nama Suhandinata diambil dari tokoh yang dijuluki diplomat bulutangkis, Suharso Suhandinata. Suharso berperan besar menyatukan dua badan bulutangkis dunia IBF (International Badminton Federation) dan WBF (World Badminton Federation) pada tahun 1981. Sayangnya Suhandinata Cup ini belum mampu di bawa ke pangkuan bumi pertiwi.

Bersama Suhandinata, Indonesia memunculkan tokoh bulutangkis lainnya Drs. Sudirman dalam usaha penyatuan IBF dan WBF. uedirman bahkan pernah menjabat wakil presiden IBF (kini BWF) tahun 1975-1983. Atas jasa-nya nama Soudirman yang wafat 10 Juni 1986 itu diabadikan pada Kejuaraan Dunia Beregu Campuran.

Piala Sudirman mulai digelar tahun 1989 di Jakarta. Seakan tidak mau terjebak pada mitos negara penyumbang piala tidak bisa juara maka Indonesia langsung menggebrak. Indonesia berhasil merebut Piala yang pada bagian puncak berbentuk candi Borobudur tersebut. Pada pertandingan final yang dramatis Indonesia tertinggal terlebih dahulu 0-2 dari Korea. Partai pertama, Eddy Hartono / Gunawan menyerah dari Park Joo Bong / Kim Mon Soo 9-15 15-8 13-15. Kemudian Verawaty Fajrin / Yanti Kusmiati takluk dari Hwang Hye Young / Chung Myung Hee 12-15 6-15. Pertandingan ketiga, Susi Susanti kalah set pertama 10-12 dari Lee Young Suk dan tertinggal 1-10 set kedua. Satu angka lagi Korea Juara, tapi Susi membalikkan keadaan dan menang 12-10. Young Suk benar-benar menyerah set ketiga 0-11. Selamatlah Indonesia. Dua partai terakhir diselesaikan dengan baik oleh rekan-rekannya. Eddy Kurniawan yang tampil ditunggal putra menang dari Han Kok-Sung 15-4 15-3 dan Pasangan EddyHartono / Verawaty mengalahkan Park Joo Bong / Chung Myung Hee 18-13 15-3.

Dua puluh tahun berlalu setelah Piala Sudirman digelar. Hanya satu kali Piala Sudirman berhasil digengam pebulutangkis Indonesia. Tahun ini pertandingan akan digelar di kandang musuh terberat, China. Meskipun diunggulkan di tempat kedua dibawah Denmark tetapi bukan berarti skuat Indonesia lebih baik dari tim lainnya. Selain China dan Denmark, Korea serta Malaysia juga memiliki pemain dengan kualitas merata disetiap nomornya. Tetapi harapan itu tetap terbuka buat Indonesia. Indonesia memang tidak pernah juara pada Suhandinata Cup, demikian pula Inggris di Thomas & Uber Cup. Tetapi Indonesia pernah juara di Sudirman Cup dan mudah-mudahan setelah dua dekade kesempatan itu dapat diraih kembali dan Piala kembali ke tanah asal.

(Hendri Kustian, hendri_kustian@yahoo.com)

Posted in Badminton, Berita | Leave a Comment »

PIALA SUDIRMAN 2009 : INDONESIA PASTIKAN DIRI KE SEMIFINAL (Was Was)

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 12, 2009


sudirman-cup-mascotIndonesia memastikan diri ke semifinal setelah di hari Kedua Perebutan Sudirman Cup 2009 yang berlangsung di Guangzhou  China, Indonesia berhasil mengatasi Inggris 4-1 pada laga kedua yang berlangsung dari pukul 19.00 waktu setempat.

Indonesia tinggal melakukan satu pertandingan lagi melawan tuan rumah China yang baru akan bertanding pada Kamis, 14 Mei 2009 pukul 19.00 waktu setempat.

Mengawali pertandingan di ganda putra, pasangan muda usia M. Ahsan/Bona Septono berhasil gagal membukukan kemenangan setelah harus takluk dari Nathan Robertson/Anthony Clark dalam pertandingan tiga set.  M. Ahsan/Bona Septono harus mengakui keunggulan permainan pemain ganda putra Inggris yang memang cukup menjadi kuda hitam bagi tim Indonesia. Di set pertama M Ahsan/Bona Septono harus kehilangan angka dengan skor telak 11-21.  M. Ahsan/bona tidak mampu mengembangkan permainan, sehingga permainan pemain Inggris yang nothing too lose tersebut berhasil mengungguli permainan pemain Indonesia yang prestasinya juga tergolong cukup bagus untuk sekelas pemain pelapis. Memasuki set kedua Ahsan/Bona menemukan kembali pola permainannya hingga memaksakan untuk bermain rubber set dengan 21-18. Di set penentuan, posisi kejar-mengejar angka yang cukup ketat pun terjadi. Set ketiga dimenangkan oleh pasangan Inggris sekaligus Indonesia harus tertinggal 0-1 atas Inggris dengan skor 22-24.

Partai kedua yang menyandingkan tunggal putri Adriyanti Firdasari melawan Sarah Walker.  Firdasari, pemain nomor dua pelatnas tampil penuh percaya diri sehingga mampu membuat mental lawan pun turun. Di set pertama, gadis kelahiran Aceh tersebut berhasil menyudahi permainan dengan skor 21-12. Memasuki set kedua, Firdasari yang bermain cukup lepas, selalu memimpin perolehan angka hingga set kedua pun dimenangkan oleh Firdasari dengan 21-18 sekaligus menyamakan kedudukan 1-1.  Firdasari yang mempunyai postur tubuh ideal bagi pemain bulutangkis mampu meraih kemenangan dengan straight set setelah sebelumnya di laga pertama tidak diturunkan. Ini juga strategi yang dipakai manager tim, meski di ganda putra meleset dari prediksi.

Pertandingan berikutnya mempertemukan tunggal putra Simon Santoso melawan Andrew Smith. Simon Santoso runner up Indonesian Super Series 2008 yang diharapkan dapat menerima tongkat estafet setelah Taufik Hidayat berhasil menumbangkan Andrew Smith. Di set pertama Simon yang unggul dari segi peringkat bermain cukup taktis hingga mampu menutup permainan dengan skor 21-15. Memasuki set kedua, kedudukan cukup berimbang, kejar mengejar angka selalu terjadi dari 5-5, 7-7, 10-10 hingga Simon unggul terlebih dahulu 11-10 hingga akhirnya Simon melaju terus dan menutup set kedua dengan 21-14 sekaligus membawa Indonesia unggul dengan 2-1 atas Inggris.

Pasangan Nitya Khrisinda Maheswari/Greysa Polii menjadi ganda putri yang di percaya untuk turun menghadapi Inggris.  Nitya/Greys berhadapan dengan Jennifer Wallwork/Gabrielle White. Greysa Polii yang merupakan pemain paling berpengalaman diantara pemain ganda putri lainnya dipasangkan dengan Nitya Khrisinda Maheswari harus memasang strategi jitu untuk dapat meraih kemenangan. Di set pertama kejar mengejar angka terus terjadi hingga kedudukan 10-10. Kemudian secara berturut-turut pasangan Indonesia meraih 4 angka hingga unggul 14-10. Akan tetapi pertahanan pasangan ganda putri Indonesia mengendur, sehingga ganda putri Inggris mampu menyusul dengan menyamakan angka 14-14.  Nitya/Greys mengubah pola permainan hingga set pertama dimenangkan dengan 21-15.  Memasuki set kedua, pasangan Nitya/Greys berhasil unggul lebih dahulu dengan 4-1 , akan tetapi keunggulan ini tidak lama karena pemain Inggris juga tidak mau melepaskan angka begitu saja, hingga berhasil menyamakan kedudukan 4-4 bahkan unggul terlebih dahulu dengan 4-6. Akan tetapi Nitya/Greys juga tidak mau kehilangan langkah hingga akhirnya pasangan Indonesia tersebut unggul terbelih dahulu dengan 11-6.  Set kedua ditutup dengan 21-7 sekaligus unggul menjadi 3-1 dan memastikan diri untuk melangkah ke semifinal.

Di partai terakhir yang mempertemukan pasangan ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir yang akan berhadapan dengan Anthony Clark/Donna Kellog. Nova/Lily tanpa kesulitan menekuk permainan pasangan ganda campuran Inggris tersebut dalam dua set langsung dengan 21-15 dan 21-10 sekaligus membawa Indonesia ke semifinal.

Berikut ini hasil lengkap Lining Piala Sudirman 2009 Hari kedua :

Day 2

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Kejuaraan, Turnamen | 4 Comments »

 
%d bloggers like this: