SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    May 2009
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for May 19th, 2009

PEBULUTANGKIS DAERAH HARUS DIBERI KESEMPATAN YANG SAMA

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 19, 2009


Jakarta, 18/5 (Roll Sports) – Para pebulutangkis daerah harus diberi kesempatan yang sama besar dengan para pebulutangkis yang berada di Pemusatan Latihan Nasional (pelatnas) untuk menunjukkan kemampuan mereka.

“Atlet-atlet daerah itu harus diberi kesempatan yang sama dalam seleksi untuk mewakili Indonesia ke kejuaraan tingkat dunia,” kata pemerhati olahraga bulutangkis Hadi Nazri di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, dengan memberi kesempatan kepada atlet-atlet daerah untuk menunjukkan kemampuannya, maka persaingan untuk mencetak pebulutangkis yang dapat mengangkat kembali prestasi Indonesia, akan lebih terbuka.

“Jadi jangan hanya bergantung pada atlet-atlet pelatnas saja,” katanya.

Dengan diberinya kesempatan yang sama bagi atlet-atlet daerah, menurut dia, hal itu dapat menjadi perangsang bagi pengurus daerah (pengda) dan klub untuk berlomba menghasilkan atlet berpretasi.

Namun, ia menyadari, metode ini akan sulit diterapkan, mengingat keterbatasan anggaran yang dialokasikan pemerintah.

Ia menuturkan, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pelatnas dengan jumlah atlet yang telah ditentukan, sehingga jika ditambah jumlahnya tentu akan memberatkan pendanaan.

Menyinggung kegagalan Indonesia dalam Piala Sudirman di China, dia berpendapat kegagalan tersebut merupakan salah satu akibat dari lemahnya regenerasi pebulutangkis.

Menurut dia, terdapat celah yang lebar antara kemampuan pebulutangkis terdahulu dengan kemampuan para pebulutangkis yang saat ini berada di pelatnas.

“Pemain yang potensial tidak ada lagi di pelatnas,” katanya.

Selain itu, ia menilai tim bulutangkis Indonesia saat ini tidak memiliki tunggal putra yang ditakuti.

Oleh karena itu, lanjut dia, untuk kembali membangun prestasi bulutangkis Indonesia, regenerasi atlet harus semakin digalakkan dan harus disertai dengan kerja keras.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

REGERENASI PEMAIN DAN PELATIH SEMAKIN MENDESAK

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 19, 2009


Oleh Fitri S

Guangzhou, 18/5 (Roll Sports) – Indonesia diperkirakan masih akan mengandalkan pemain-pemain yang ada sekarang pada kejuaraan dunia beregu Piala Thomas dan Uber tahun depan serta Sudirman 2011.

Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB PBSI Lius Pongoh mengisyaratkan hal itu saat dimintai evaluasi mengenai hasil yang dicapai Indonesia pada Piala Sudirman yang baru saja berlalu, ketika Indonesia terhenti di semifinal.

“Dua tahun ke depan, tunggal putra, tunggal putri, dan ganda putri masih kurang,” kata Lius.

Menurut Lius, hal ini disebabkan karena regenerasi pemain belum berjalan dengan baik pada semua sektor, yang mengakibatkan kemampuan antara pemain utama dengan pelapis di bawahnya masih terpaut jauh.

Ia mencontohkan pemain tunggal putri Maria Kristin seolah melenggang sendirian, sementara rekan-rekannya masih jauh tertinggal. Selain Adriyanti Firadasari yang satu angkatan, tunggal putri Pelatnas lainnya, Aprilia Yuswandari, Linda Wenifanetri, dan Rizki Amalia masih terhitung belum apa-apa.

Akibatnya ketika Maria cedera, tidak ada yang benar-benar dapat diandalkan untuk menggantikan perannya pada kejuaraan beregu seperti Piala Sudirman yang baru saja berakhir.

Sektor tunggal putra yang dianggap mempunyai lebih banyak pemain pelapis pun, proses regenerasinya tidak berjalan mulus. Pemain-pemain yang berada di bawah Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso masih jauh tertinggal.

Mungkin hanya ganda putra dan campuran yang rantai regenerasinya berjalan cukup baik. Selepas pasangan Olimpiade Candra Wijaya/Tony Gunawan, Indonesia mempunyai pasangan Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto disambung dengan munculnya Markis Kido/Hendra Setiawan yang dibawahnya kemudian hadir pasangan Bona Septano/Muhammad Ahsan.

Pada ganda campuran, di bawah pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir, Indonesia masih punya Devin Lahardi/Lita Nurlita, Fran Kurniawan/Pia Zebadiah, dan Tantowi Ahmad/Richi Puspita Dili yang mulai berkibar di turnamen-turnamen kelas menengah.

Perbanyak pemain

Menyadari sangat kurangnya pemain yang siap tanding, Sekjen PB PBSI Jacob Rusdianto mengatakan akan segera berusaha memperbanyak pemain utama pada tahun-tahun ke depan.

Selain menyelenggarakan Pelatnas Pratama seperti yang baru dimulai di Akademi Militer Magelang beberapa waktu lalu, PBSI juga akan mempercepat peningkatan kemampuan pemain dengan memperbanyak pengalaman bertanding.

“Kita akan berusaha mengirim mereka untuk sebanyak mungkin punya pengalaman tanding di luar negeri. Itu yang harus dilakukan kalau ingin menyamai China, Malaysia, dan Korea,” kata Jacob.

Sistem Pelatnas desentralisasi, tambahnya, akan dipertimbangkan untuk semakin memperbanyak calon-calon pemain muda yang dapat di andalkan, meskipun masih terbentur berbagai kendala.

Selain masalah pendanaan, kurangnya pelatih yang akan ditempatkan di daerah pun menjadi kendala terwujudnya proses Pelatnas desentrasilasi.

“Pelatih yang ada sekarang pun kurang ditopang untuk regenerasi. Kalaupun membuka desentrasilasi, pelatih-pelatihnya dari mana,” kata Jacob yang juga mengatakan akan memperbanyak pelatih.

Bicara soal pelatih, mundurnya pelatih tunggal putra Hendrawan dari Pelatnas di tengah usahanya membangun kembali tunggal putra tentu menjadi pukulan tersendiri bagi Pelatnas.

PBSI harus segera mencari pengganti yang sepadan jika tidak ingin program menjelang Kejuaraan Dunia di India Agustus yang akan datang berantakan.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

MANTAN JUARA DUNIA BULUTANGKIS MENUNGGU KEPUTUSAN MK

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 19, 2009


Oleh Imam Hanafi

Dengan mengenakan baju safari biru tua dan santai lelaki berumur 46 itu duduk di sofa kuning di ruang tamu Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) di Jalan Gerbang Pemuda Jakarta. Lelaki yang bertubuh gempal tersebut adalah mantan juara bulu tangkis dunia tahun 1983. Icuk Sugiarto, yang kini terjun ke dunia politik mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kini sedang menunggu keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). “Dua hari lalu, saya melalui pengurus partai PPP Jawa Tengah mengajukan tuntutan kepada MK,” kata Icuk. Dia menjelaskan, pasca perhitungan suara, empat daerah pemilihan (dapil) di Provinsi Jawa Tengah yakni dapil 4, 5, 8 dan 9 mendapatkan kelebihan empat kursi untuk DPR. Empat kursi tersebut, lanjut Icuk, diserahkan ke Provinsi Jawa Tengah, akan tetapi sistem pembagian yang dilakukan KPU setempat menurutnya belum sesuai dengan aturan. Berdasarkan Undang-undang nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu dan Peraturan KPU nomor 15 tahun 2009 tentang penetapan alokasi kursi dan penetapan calon terpilih. “Seharusnya saya mendapat kursi, karena memperoleh suara paling banyak di antara Celg-caleg di empat Dapil tersebut,” ujar dia. Menurut aturan, kursi lebih itu seharusnya diberikan kepada calon anggota legislatif yang mendapatkan suara terbanyak. Namun kenyataannya tidak demikian, justru Icuk terancam tidak memperoleh satu dari empat kursi tersebut, karena diduga ada pihak-pihak lain yang intervensi. “Sebagai lembaga publik, KPU harus independen dan tidak dapat diitervensi oleh siapa pun bahkan pihak-pihak yang bekepentingan sekali pun,” katanya. Icuk menjelaskan, pada pemilu legislatif 9 April lalu dirinya memperoleh 57.541 suara. Sementara bilangan pembagi pemilih di dapil V sebanyak 188.000 suara. “Saya tahu perolehan suara saya kurang dari 50 persen, namun jika dibandingkan dengan ke-21 orang caleg di empat dapil itu, saya adalah orang yang paling banyak memperoleh suara,” katanya. Menurut Icuk, telah terjadi multi tafsir terhadap undang-undang pemilu dan peraturan KPU. “Maka ada kemungkinan suara saya akan dikalahkan oleh calon anggota legislatif yang perolehan suaranya jauh di bawah saya,” katanya. Atas dasar perbedaan penafsiran itulah melalui pengurus partai PPP Jawa Tengah, mantan juara dunia bulu tangkis itu meminta MK memberikan keadilan yang seadil-adilnya. “Mudah-mudahan tidak lama lagi keputusan MK sudah turun,” jelas dia. Berjuang tidak hanya di DPR. Seiring berkembang pesatnya dinamika politik di Tanah Air, sekitar tahun 2007 lalu Icuk bergabung dengan partai berlambang Kabah. Icuk di percaya menjabat Ketua Departemen Olahraga DPP PPP. “Saya tertarik dunia politik itu karena ingin memberikan yang terbaik kepada masyarakat lebih luas, terutama untuk bidang olahraga. Karena jika saya diberi kesempatan duduk di DPR akan dapat berbuat lebih banyak untuk dunia olahraga,” ujarnya. Terkait dengan perkembangan dunia olahraga di Tanah Air, Icuk berpendapat, saat ini sudah waktunya induk organisasi olahraga ditangani orang-orang profesional. “Sistem keolahragaan kita perlu pembenahan secara menyeluruh. Negara lain yang dulu belajar dengan kita saja sudah profesional dan lebih maju dari kita,” terangnya. Menurut Icuk, sudah saatnya olahraga ditangani orang-orang profesional, bukan orang-orang yang hanya ingin mempertahankan eksistensinya. Pria yang lahir pada 4 Oktober 1962 itu mengaku keputusannya untuk terjun ke dunia politik adalah untuk mengabdikan diri dan memperjuangkan aspirasi rakyat di daerahnya. Keseriusan Icuk untuk terjun di dunia politik dibuktikan dengan menjadi calon anggota legislatif PPP untuk DPR RI pada Pemilu 2009 di Dapil Jawa Tengah V (Solo, Klaten, Sukoharjo, dan Boyolali). Icuk pun menempati posisi caleg nomor urut satu. Menurut dia, Dapil itu dikenal sebagai salah satu yang cukup berat, karena sejumlah partai besar memiliki basis massa yang cukup besar di wilayah tersebut. Di dapil itu, Icuk bertarung dengan sejumlah politisi ternama seperti Hidayat Nurwahid (Ketua MPR RI dan mantan Presiden PKS), serta Puan Maharani (PDIP, putri Megawati Soekarnoputri). Icuk menjelaskan, menuntut keadilan ke Mahkamah Konstitusi awalnya merupakan keinginan para simpatisan dan kader PPP di Dapil V. “Saya hanya menuruti keinginan kader dan teman-teman yang telah berjuang keras untuk saya, agar mengajukan tuntutan ke MK tentang persoalan tersebut,” katanya. Mantan juara dunia bulu tangkis tersebut mengaku akan menerima keputusan MK dengan hati “legowo”, baik keputusan yang menguntungkan ataupun yang dianggap merugikannya. “Karena bagi saya, berjuang bukan hanya di DPR semata, namun perjuangan itu bisa dilakukan di mana saja, termasuk di bidang olahraga yang telah saya tekuni selama ini,” katanya

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

SUDIRMAN CUP 2009 DALAM GAMBAR (BAGIAN KEDUA)

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 19, 2009


Lining Akhir

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Turnamen | Leave a Comment »

Hendrawan akan Melatih di Malaysia

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 19, 2009


HendrawanGUANGZHOU, Kompas.com – Pelatih tunggal putra pelatnas, Hendrawan memutuskan mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung untuk beralih menjadi pelatih profesional. “Ini keputusan yang berat karena selama ini saya selalu berjuang untuk Indonesia. Selanjutnya saya sudah harus profesional, memikirkan masa depan keluarga,” ujar Hendrawan di Guangzhou, Minggu. Ia mengatakan, sepulang dari Guangzhou untuk mengikuti kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman tempat langkah Indonesia terhenti di semifinal, Hendrawan yang sudah mengajukan surat pengundurkan diri sejak Maret lalu, akan berpamitan kepada Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso. Hendrawan yang melatih di pelatnas sejak 2004 mengatakan akan mengawali karir sebagai pelatihnya dengan melatih di Malaysia. “Keputusan yang saya buat ini bisa lebih baik tetapi juga bisa lebih buruk. Menghadapi tantangan baru memang tidak mudah,” kata juara dunia 2001 yang mengawali karir melatih di Pelatnas sebagai pelatih tunggal putri. Peraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 itu berharap masyarakat tidak mempertanyakan rasa nasionalismenya saat memutuskan melatih di luar negeri. “Saya ingin masyarakat tidak menilai saya tidak punya nasionalisme dengan kepindahan ini. Sudah waktunya saya memikirkan keluarga,” ujar ayah dua anak yang menjadi pelatih tanpa ada kontrak dengan PBSI itu. Selama menjalani karirnya sebagai pelatih di pelatnas, Hendrawan berhasil membangun kembali sektor tunggal putri yang semula dinilai tidak mempunyai kemampuan. Soal siapa yang akan melatih tunggal putra di Cipayung sepeninggal dirinya, Hendrawan menyerahkan sepenuhnya kepada Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Lius Pongoh. “Saya percaya bahwa dengan saya mundur, PBSI bisa lebih baik, termasuk Sony (Dwi Kuncoro) dan Simon (Santoso),” kata Hendrawan yang akan mulai melatih di Malaysia mulai 1 Juli. Kakak ipar pemain ganda putra Hendra Setiawan itu mulai masuk pelatnas pada 1993 sebagai pemain tunggal putra yang menghasilkan medali perak Olimpiade Sydney 2000, juara dunia 2001 dan membantu Indonesia memenangi Piala Thomas pada 1998, 2000 dan 2002. Ia meninggalkan pelatnas pada 2003 dan sempat berkarir di luar bulutangkis sebelum kembali ke pelatnas sebagai pelatih pada November 2004. Saat ini di Malaysia telah ada pelatih asal Indonesia yaitu Rexy Mainaky

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | 1 Comment »

Hendrawan Berprestasi untuk Bangsa

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 19, 2009


Nama : Hendrawan

Tempat/Tgl Lahir :
Malang, 27 Juni 1972

Agama :
Kristen

Alamat :
PB PBSI, Cipayung

Tinggi/Berat badan :
170 cm/65 kg

Nama Isteri:
Sylvia Anggraeni

Anak:
Josephine Sevilla

Nama Ayah :
Sugianto

Nama Ibu :
Susilowati

Anak ke :
3 dari 4 bersaudara

Pendidikan :
SMA

Mulai main Bulu tangkis :
usia 10 tahun

Masuk pelatnas :
1993

Prestasi :
1994
– Perempat finalis Singapura Terbuka
– Pereempat finalis Malaysia Terbuka
1995
– Semifinalis Korea Terbuka
– Runner up Swiss Terbuka
– Runner up Denmark Terbuka’
– Juara Rusia Terbuka
– Babak III All England
1996
– Perempatfinalis Swedia Terbuka
– 16 besar All England
– Perempat finalis Denmark Terbuka
– 16 besar Jerman Terbuka
1997
– 16 besar Taiwan Terbuka
– 16 besar India Terbuka
– 16 besar Indonesia Terbuka
– 16 besar Singapura terbuka
– Runner up Kejuaran Asia
– Semifinalis Kejuaran Nasional
– Babak III Cina Terbuka
– Juara Thailand Terbuka
1998
– Runner up Asian Games, Bangkok
– Juara Singapura Terbuka
– Anggota Tim Piala Thomas (Indonesia Juara)
2000
– Anggota Tim Piala Thomas (Indonesia Juara)
– Medali perak Olimpiade Sidney 2000
– Runner up Jepang Terbuka
2001
– Juara Kejuaraan Dunia Piala Sudirman
2002
– Anggota Tim Piala Thomas (Indonesia Juara)

HendraBerprestasi dan menjunjung tinggi nama bangsa dan negara, tetapi tetap sulit menjadi WNI. Sampai akhirnya dia mengeluh soal itu, sehingga Presiden Megawati turun tangan, barulah nasib kewarganegaraannya diperoleh.

Berita-berita olahraga kerap tenggelam oleh riuh rendahnya pertikaian politik dan krisis ekonomi. Untunglah di tengah kegalauan menghadapi berbagai persoalan muncul sosok Hendrawan dan Tim Piala Thomas Indonesia. Mereka memboyong Piala Thomas untuk ke-13 kalinya ke Indonesia. Sekaligus mengukir rekor lima kali berturut-turut merebut piala grup bulutangkis bergengsi itu.

Juni 2001, saat Indonesia cukup lama paceklik prestasi dunia di cabang olahraga bulu tangkis, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, ini juga membawa kabar gembira dengan memenangi juara tunggal putra dalam ajang Piala Sudirman, di Sevilla, Spanyol. Hendrawan mengalahkan pemain nomor satu dunia, Peter Gade Christensen dari Denmark. Sangat wajar bila saat itu prestasi Hendrawan ini membuat banyak pihak bersyukur dan bangga. Sebab prestasi itu pastilah mengharumkan nama bangsa dan negera.

Tapi, prestasi ini tidak membuat Hendrawan besar kepala. Dia atlet yang rendah hati. Yang paling membuat kita sebagai bangsa pantas malu, ternyata masalah status kewarganegaraan Hendrawan masih belum jelas. Padahal, dia lahir di Indonesia, bahkan ayahnya juga lahir di Indonesia. Namun, masalah kewarganegaraan ini tidak membuat Hendrawan patah hati. Dia bahkan makin giat berlatih untuk bisa meraih prestasi demi kebesaran bangsa dan negara Indonesia.

Cermin buat Kita

Hendrawan, sekali lagi membuktikan bahwa dia tulus dalam tekad memberikan sesuatu demi kebanggaan bangsa dan negaranya, Indonesia !

Para pemirsa Indonesia, ketika menyaksikan siaran langsung final Piala Thomas melalui Trans TV, hari Minggu (19/5/2002), pasti merasa bangga melihat penampilan Hendrawan yang menentukan kemenangan Indonesia.

Ketika itu, khalayak Indonesia sudah sport jantung. Posisi 1-2 untuk keunggulan tim Malaysia. Dua poin terakhir adalah partai keempat ganda kedua dan partai kelima yang mempertandingkan tunggal ketiga. Untunglah peluang kemenangan itu kemudian dibuka oleh pasangan “gado-gado” Halim Haryanto yang murni pemain ganda putra dengan Trikus Harjanto yang spesialis ganda campuran. Posisi menjadi 2-2.

Situasi benar-benar genting. Partai terakhir akan menghadapkan Hendrawan (30) dengan Roslin Hashim. Keduanya pemain reli. Roslin dikenal up and down permainannya, sementara Hendrawan dikenal agak “enggan” dengan sistem skor 5×7 yang diartikan oleh banyak pemain sebagai permainan yang “menyerang”-sama sekali bukan “tipe Hendrawan”. Set pertama partai penentu itu benar-benar menggedor jantung. Karena Hendrawan yang unggul 4-1 akhirnya malah tertinggal 4-6.

Begitu menyaksikan permainan Hendrawan di set kedua, dan melihat permainan Roslin, pencinta bulu tangkis melihat seorang Hendrawan yang bertanding bak macan luka. Permainannya taktis, cerdas, dan menyengat. Ibaratnya, “Siapa pun akan kalah kalau Hendrawan bermain seperti itu.” Seperti diungkapkan beberapa pelaku bulu tangkis sambil berdecak kagum.

Belum lagi keringatnya kering, Hendrawan seakan terlahir kembali menjadi “pahlawan”, istilah yang buru-buru ditolaknya. “Saya bukan hero, I’m not a hero. Jangan lupa ini even beregu dan kemenangan bukan ditentukan saya seorang,” tuturnya saat diwawancara secara langsung oleh jaringan China Central Television. “Saya berada di sini berkat suport dan dukungan rekan-rekan saya yang lain dan para pengurus, Ketua PB PBSI,” ujarnya sambil tersenyum.

Bapak satu anak, Josephine Sevilla, dari istrinya Sylvia Anggraini ini, tampil cool meskipun sebelum berangkat dia mendapat masalah dalam pengurusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI)-nya. Karena dia adalah warga keturunan Tionghoa. Masalah ini terselesaikan setelah Presiden Megawati Soekarnoputri membacanya di media massa. “Persoalan ini tidak akan mengganggu penampilan saya nanti di Guangzhou,” janjinya saat itu.

Jika diurut kronologis perkembangan prestasi Hendrawan, harus diakui dia telah berkata sejujurnya. Dia tidak mengklaim sukses itu sebagai miliknya sendiri, karena, putaran final Piala Thomas tahun ini sangat berbeda dengan empat tahun lalu ketika dia membuka peluang kemenangan tim Indonesia di Hongkong dengan merebut poin kedua bagi Indonesia-mengalahkan Yong Hock Kin dari Malaysia. Prestasi Indonesia saat itu membawa kembali kehormatan bangsa ini-yang terkoyak akibat kerusuhan Mei yang membawa banyak korban terutama kaum keturunan Cina.

(Komentar Indra Gunawan, pelatihnya ketika itu, “Terima kasih Hendrawan telah memecahkan teka-teki dari mana satu angka dari tunggal itu dihasilkan”-karena dua ganda Indonesia ketika itu adalah ganda-ganda terkuat dunia). Juga berbeda dengan dua tahun lalu ketika dia menjadi ujung tombak tim.

Sistem skor 5×7 yang “menjadi momok” bagi Hendrawan. Bahkan, dia meminta tambahan waktu untuk mempertimbangkan apakah akan ikut turun di Piala Thomas atau tidak. Dia merasa tidak yakin dengan kemampuannya bermain dengan sistem  itu. Apalagi, dia gagal berangkat ke Korea Terbuka, yang semula akan dijadikan ajang mengukur diri bagi Hendrawan, apakah dia “mampu” menyesuaikan diri dengan sistem baru tersebut atau tidak.

Yang pasti, Hendrawan membekali dirinya dengan tekad bulat, dengan kesiapan untuk mengubah diri, mengubah style, mengubah sistem latihannya, untuk lahir sebagai “Hendrawan baru”-yang lebih attacking. Pada dasarnya, Hendrawan adalah pemain yang “berbahaya” dan “ditakuti” lawan-lawannya. Tahun 1996, ketika Hendrawan masih “bukan siapa-siapa”, juara All England 1995, Poul-Erik Hoyer Larsen-yang kemudian menjadi juara Olimpiade 1996-menyatakan, “Saya mendapat drawing sulit karena ada Hendrawan”. Hendrawan? Siapa dia? “Dia pemain berbahaya, dia pemain bagus. Saya pernah kalah di Rusia Terbuka 1994. Dia bisa menjadi pemain besar suatu kali nanti. Dia berbahaya,” ujar Hoyer-Larsen.

Keberhasilan Hendrawan mencapai kualitas permainan seperti sekarang merupakan hasil kerja keras bertahun-tahun karena dia menyadari dirinya tidak terlalu berbakat. “Dia mengakui bukan seperti Hariyanto Arbi atau Taufik Hidayat yang punya pukulan yang luar biasa,” tutur Indrawati Sugianto, kakak kandung Hendrawan.

Kepada Indrawati, Hendrawan sering mengadu bahwa dirinya harus bisa menguras otak, mental, dan fisiknya untuk mengatasi segala kekurangan yang dimiliki. Sejak mulai bermain bulu tangkis di usia 10 tahun, disiplin menjadi modal Hendrawan untuk bertahan di bulu tangkis. Pulang sekolah, Hendrawan tidak langsung ke rumah tetapi berlatih lari mengelilingi stadion Malang.

Hendrawan juga bukan manusia setengah dewa yang sempurna. Saat dikirim ke klub Jarum Kudus karena ayahnya, Sugianto sadar anaknya tidak akan bisa berkembang di Malang, Hendrawan malah jadi seperti kuda lepas dari kekang kendali. Tidak jarang Sugianto memperoleh laporan tentang kenakalan Hendrawan. Misalnya, pada saat tidur siang, dia lebih suka main layang-layang di atas atap asrama. “Tidak heran prestasinya melorot. Prestasinya jadi tidak ada yang menonjol,” tambah Indrawati.

Keprihatinan Sugianto atas kemerosotan prestasi Hendrawan, terutama ketahanan fisiknya membuat wiraswastawan itu menyempatkan diri terus mengontrol anaknya. Setiap Sabtu sore, dia pergi ke Kudus menumpang bus malam agar bertemu Hendrawan pagi harinya di Stadion Kudus. Di sana Sugianto mendampingi Hendrawan untuk menambah latihan fisik. Usai latihan, Sugianto kembali ke Malang dengan menumpang bus. “Kenangan atas Papa yang membuat Wawan (nama panggilan Hendrawan-Red) tidak tega mengundurkan diri dari bulu tangkis saat masa-masa sulit di pelatnas di mana dia tak kunjung berhasil meningkatkan prestasi di arena internasional,” kenang Indrawati.

Kisah sukses ini seperti kata Hendrawan, bukan miliknya seorang. Kerja keras juga bukan hanya miliknya. Ironisnya, kerja keras pemain bulu tangkis yang berhasil mencetak rekor dengan lima kali berturut-turut dan membawa Sang Saka Merah Putih berkibar di Tianhe Gymnasium itu tidak diimbangi dengan sebuah pengakuan bahwa dia adalah seorang warga negara Indonesia, karena dia keturunan Tionghoa.

Sebuah “ketidakadilan” negara terhadap warganya terjadi dengan korban Hendrawan dan harus diselesaikan langsung melalui tangan Presiden. Sebelumnya, hanya dari bulu tangkis saja ada sederetan nama seperti Tan Joe Hock, Ivana Lie, Tong Sin Fu-pelatih yang berjasa melahirkan ganda-ganda putri dan pemain tunggal putra, dan pemain-pemain generasi muda sekarang seperti Halim, Candra, dan yang lain. Lagi-lagi karena mereka keturunan Tionghoa. Padahal, generasi orang tua mereka telah lahir di Indonesia.

Apa yang ditawarkan oleh negara ini kepada mereka-mereka yang telah “berjasa”? Melihat pada kasus Hendrawan, ternyata: nyaris tidak ada. Belum lagi jika kita bicara tentang mereka-mereka yang lain, keturunan Tionghoa lainnya yang dikatakan “tidak berjasa”-mereka yang “orang-orang biasa”. Hendrawan, penentu kemenangan yang sederhana itu menjadi cermin betapa “tidak pastinya hukum di negeri ini”.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: