SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    May 2009
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Hendrawan Bersiap-Siap Berangkat ke Malaysia Kontrak Dua Tahun, Mudik Sebulan Sekali

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 24, 2009


Hendrawan merasakan pertentangan batin yang begitu berat sebelum memutuskan hijrah ke Malaysia. Hatinya luluh juga setelah bertahun-tahun dirayu. Seperti apa ?

PAK, tugas saya sudah selesai. Sony (Dwi Kuncoro) menang,” kata Hendrawan kepada Wakil Ketua Umum PB PBSI I Gusti Made Oka sesaat setelah Indonesia ditundukkan Korea Selatan (Korsel) 1-3 pada semifinal Piala Sudirman, Sabtu (16/5).

Sekilas, tidak ada yang berlebihan dari pernyataan Hendrawan tersebut. Itu layaknya pelatih yang melapor kepada atasan setelah satu even berakhir. Tapi, pernyataan tersebut bukan sekadar laporan biasa. Tugas selesai yang dimaksud Hendrawan saat itu sekaligus menjadi kalimat perpisahan pelatih asal Malang, Jawa Timur, tersebut. Dia tak akan lagi menangani tunggal pria pelatnas Cipayung mulai 1 Juni nanti. Dia telah membuat perjanjian dengan BAM (Federasi Bulu Tangkis Malaysia) untuk menjadi pelatih hingga dua tahun ke depan.

Hendrawan sebenarnya sudah menyerahkan surat pengunduruan diri Maret lalu. Dia bisa mulai melatih Malaysia pada 1 April. Tapi, PB PBSI meminta untuk menunda perpisahan setelah Piala Sudirman 2009 rampung. “Saya rasa, ini saat yang tepat untuk mundur. Saya merasa sudah selesai di PBSI. Saya akan melatih di Malaysia,” tegasnya.

Menurut Hendrawan, keputusan hijrah ke Malaysia itu bukan sesuatu yang dilandasi emosi. Selain ingin menjawab tantangan sebagai pelatih junior di Malaysia, dia tak memungkiri bahwa keputusan tersebut didasari kebutuhan akan jaminan masa depan dan keluarga. Di Malaysia, gaji seorang pelatih bulu tangkis memang jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Rexy Mainaky, pelatih asal Indonesia yang lebih dulu di sana, memiliki gaji lima kali lebih besar daripada pelatih pelatnas Cipayung.

“Selama ini, sebagai pemain dan pelatih, saya sudah memberikan yang terbaik untuk negara. Kali ini pun, meski melatih Malaysia, itu karena saya harus memulai karir sebagai pelatih profesional. Memang pilihan berat. Jika memang jalannya harus seperti ini, bagaimana?” tutur Hendrawan. Dia tidak mau kepergian ke Malaysia lantas membuatnya dicap sebagai sosok yang tidak nasionalis.

Hendrawan mengungkapkan pertentangan batin dalam mengambil keputusan itu. Bapak dua anak tersebut ditawari BAM (Persatuan Bulu Tangkis Malaysia) sejak empat tahun lalu. Tepatnya bersamaan babak kualifikasi Piala Uber 2005. Kala itu, dia masih menjadi pelatih tunggal wanita. “Waktu itu saya tegaskan kepada mereka bahwa saya tak mungkin pindah sampai saya menyelesaikan tugas di Olimpiade 2008,” terang pria kelahiran Malang, 7 Juni 1972, tersebut.

Malaysia tak menyerah begitu saja. Setiap bertemu dengan salah seorang pengurus BAM, Hendrawan terus ditagih. Dia benar-benar menanggapi serius ajakan itu setelah mengantarkan Maria Kristin Yulianti meraih medali perunggu di Olimpiade.

Hendrawan pun merasa mantap untuk pergi. Dia merasa telah memberikan sesuatu yang berarti bagi bulu tangkis Indonesia. Medali tersebut membuat sektor tunggal wanita Indonesia kian terangkat. Padahal, sebelumnya, tunggal wanita dipandang sebelah mata. Dia juga melihat bahwa prestasi Sony dan Simon Santoso, dua anak asuhnya di tunggal pria, mulai stabil di persaingan internasional.

Rencananya, pekan depan, dia berpamitan dengan pengurus dan atlet pelatnas PB PBSI. Sebab, 1 Juni nanti, dia sudah harus bergabung di pelatnas Malaysia. “Saya akan ke sana sendirian. Keluarga tetap di sini. Toh saya bisa pulang sekali sebulan atau jika anak-anak sedang libur sekolah, mereka akan ke Malaysia,” papar ayah dari Josephine Sevilla dan Alexander Thomas itu.

Silvia, istri Hendrawan, tak mempersoalkan kepindahan Hendrawan tersebut. Dia siap untuk menjalani rumah tangga berjauhan. “Anak-anak tidak mau ikut pindah ke sana. Kata dia, mereka sudah memiliki best friend di sini,” kata kakak kandung Hendra Setiawan itu.

Lagipula, selama ini, Silvia dan anak-anak terbiasa ditinggal Hendrawan dalam waktu yang tidak sebentar. Misalnya, urusan pertandingan atau bisnis yang digeluti. Pertimbangan lain yang dipilih Silvia menyangkut adaptasi dengan lingkungan dan budaya baru yang tentu tidak mudah. “Biarlah Mas Wawan (sapaan karib Hendrawan) dulu yang ke sana. Kalau misalnya cocok, barulah saya dan anak-anak menyusul,” ujarnya. (ang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: