SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    May 2009
    M T W T F S S
    « Apr   Jun »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Tak Sulit Cari Pengganti Hendrawan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 30, 2009


Catatan Nurwahid (wartawan Jawa Pos)

KEPERGIAN Hendrawan untuk melatih di Malaysia tak perlu diratapi. Justru PBSI dan masyarakat bulu tangkis Indonesia mesti bangga karena kualitas pelatihnya diakui negara lain. Apalagi, arek Malang tersebut bukan pelatih pertama yang menangani tim mancanegara.

Memang sedikit disayangkan, mengapa Hendrawan melatih tim Malaysia, negara yang selalu menjadi pesaing utama Indonesia di setiap even, selain Tiongkok, Korea Selatan, dan Denmark. Malaysia tergolong negara maju dalam bidang bulu tangkis. Sehingga, kalau alasannya adalah penyebaran bulu tangkis di dunia, tak akan nyambung. Beda halnya jika yang dilatih adalah negara-negara yang prestasi bulu tangkisnya masih tertinggal, seperti negara-negara di Afrika, Amerika, dan kawasan Timur Tengah.

Tapi, apa pun, Indonesia yang merupakan salah satu negara besar di bidang bulu tangkis harus siap bila sewaktu-waktu pelatihnya yang berkualitas hengkang ke negara lain. Pelatih adalah manusia yang sejak kecil memutuskan bahwa olahraga tepok bulu itu merupakan jalan hidupnya. Kebanyakan di antara mereka juga tak memiliki keahlian lain, selain teknik memukul shuttlecock. Jangankan belajar keahlian lain, sekolah pun rela mereka korbankan. Sebab, mereka hanya berpikir bagaimana berprestasi di bidang yang sudah dipilih itu.

Ketika masih berjaya sebagai pemain, pendapatan mereka dari memenangi sebuah turnamen atau kejuaraan mungkin cukup besar. Kalau termasuk pemain hebat, mereka masih memperoleh tambahan dari sponsor. Tapi, sebagai pelatih? Mereka sangat bergantung pada nilai kontrak. Karena itu, tak salah jika orang seperti Hendrawan atau Rexy Mainaky memilih melatih Malaysia yang nilai kontraknya berlipat-lipat daripada Pelatnas Cipayung.

Ke depan, tren pelatih dan pemain Indonesia yang hijrah ke luar negeri mungkin terus bertambah. Toh, tidak ada aturan yang bisa menghalangi mereka. Saat ini negara-negara di Eropa Timur juga giat mengembangkan olahraga yang hingga kini masih dikuasai negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara tersebut. Mereka melirik potensi Indonesia. Bukan saja pelatih, tapi juga pemain yang prestasinya mulai menurun. Mereka bisa merangkap sebagai pelatih sekaligus mitra tanding bagi pemain-pemain setempat.

Apakah mereka tak punya nasioanalisme? Rasanya terlalu jauh bila hal seperti itu disangkutkan dengan nasionalisme. Sama sekali tidak ada hubungannya. Itu murni hukum pasar. Siapa yang bisa memberikan tawaran lebih menjanjikan, itu yang akan diambil.

Sepak bola mungkin bisa menjadi cermin, betapa bebasnya pelatih berseliweran serta keluar-masuk dari timnas satu ke timnas negara lain. Inggris yang termasuk gudang pemain hebat saat harus menangani timnas juga mengimpor pelatih dari Italia. Semua masalah kecocokan, termasuk harga.

Kalau begitu, Indonesia pun bisa mendatangkan pelatih asing? Mengapa tidak? Kalau mau mengambil dari Tiongkok, misalnya, jumlah mantan pemain hebat berjibun di sana. Tapi, pertanyaannya, apa perlu? Apa mungkin? Selain belum tentu cocok, masalah gaji pasti menjadi hambatan paling besar.

Indonesia merupakan gudang talenta bulu tangkis. Tiap kurun waktu selalu melahirkan pemain hebat. Karena itu, PBSI tak sulit untuk mencari dua atau tiga pelatih sekaligus guna menggantikan Hendrawan. Kalau ukurannya prestasi saat masih menjadi pemain (meski, selain skill, dibutuhkan kemampuan me-manage dan memotivasi pemain), tinggal didata. Banyak pemain hebat pada generasi Hendrawan dan di atasnya. Ada Joko Suprianto, Alan Budi Kusuma, Ardy B. Wiranata, Hermawan Susanto, Fung Permadi, hingga Haryanto Arby. Di atasnya lagi ada Kurnia Hu, Eddy Kurniawan, Hastomo Arby, hingga Icuk Sugiarto. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: