SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

Curahan Hati Claudia Ayu Wijaya selama Jadi “Taruna” Akmil

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 10, 2009


Unas pun Diantar-Jemput Tentara

Sejak tinggal di Akmil pada 15 April lalu, Claudia Ayu Wijaya merasakan banyak pengalaman unik. Salah satu yang paling berkesan adalah cara dia mengikuti unas.

FEMI DIAH, Magelang

CLAUDIA Ayu Wijaya tak bisa melupakan hari-hari pertamanya di Akademi Militer (Akmil) Magelang pada pertengahan April lalu. Dia susah buang air besar selama lima hari pertama. Dia menengarai, penyebabnya adalah makanan yang diberikan kepadanya dan 38 temannya. “Nasinya terlalu keras,” tutur putri mantan pemain bola I Made Pasek Wijaya dan Elizabeth itu.

Namun, lama-kelamaan perutnya bisa menerima nasi itu. Apalagi, beberapa waktu kemudian, makanan pemain pelatnas berbeda dengan para taruna. Jika makanan yang disantap para taruna itu dimasak di dapur Akmil, para pemain mendapatkan jatah makanan katering.

Terkait makanan, pihak Akmil memang menoleransi dengan memberikan menu katering. Namun, Claudia harus tetap menjalani kegiatan ala taruna tanpa ampun. Bangun pagi, senam, makan, apel, dan berlatih sudah menjadi makanan sehari-hari.

Sekuat apa pun upaya Claudia mematuhi semua jadwal ketat itu, tetap saja ada agenda penting yang tidak bisa dia jalani. Yaitu, dia tidak bisa menyisakan waktu untuk belajar. Padahal, dia sudah kelas tiga SMA dan harus menjalani ujian nasional (unas). Tak pelak, dia hanya bisa menjawab soal unas semampunya pada Mei lalu di Jakarta.

“Bagaimana mau belajar, badan sudah capai sekali kalau sudah malam. Kadang-kadang, malah ada jadwal latihan,” ujar pemain yang besar di PB Jaya Raya Jakarta tersebut. Karena itu, Claudia pasrah saja jika nilainya jeblok. Di antara mata pelajaran yang diujikan dalam unas, matematika menjadi pelajaran paling susah baginya.

Tapi, meski kesulitan menjalani unas, dia tetap merasakan pengalaman unik dengan status sebagai “taruna”. Yaitu, saat berangkat ke Jakarta untuk mengikuti unas, Claudia dan beberapa pemain lain dikawal. “Kami berangkat dan pulang diantar jemput. Lucu saja karena sebelumnya saat masih di klub tidak pernah seperti itu,” terang gadis kelahiran Jakarta, 25 Juni 1991, itu.

Makanya, rute pulang pergi selama ujian hanya Cipayung-Ragunan. Bahkan, Claudia sama sekali tak mempunyai waktu untuk bertemu dengan keluarganya yang tinggal di Jakarta.

“Sekarang memang saatnya saya menjalani ujian ini. Toh, apa yang diberikan pengurus tidak buruk. Saya bisa lebih disiplin soal waktu,” ujar pemain yang mewakili Indonesia di ASEAN School 2008 di Filipina itu.

Tekadnya memang sangat tinggi. Claudia berharap bisa seperti Susi Susanti yang mendapatkan medali emas Olimpiade, meski di nomor berbeda. Claudia memang diproyeksikan mengasah kemampuan di nomor ganda wanita bersama Della Destiara.

Sebagai langkah pertama, dia berhasrat menjadi juara di Sirkuit Nasional III Tegal, Jawa Tengah, 20-25 Agustus. Turnamen itu akan menjadi kesempatan pertamanya naik kelas ke kelompok dewasa. PBSI memang mewajibkan seluruh pemain taruna mengikuti kelompok dewasa. Semoga berhasil Claudia! (ang)

Claudia Ayu Wijaya

Lahir: Jakarta, 25 Juni 1991

Orang tua: I Made Pasek Wijaya/Elizabeth

Nomor spesialis: ganda wanita

Prestasi:

– Peringkat III seleknas PBSI

– Juara sirnas kelompok taruna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: