SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 19th, 2009

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Taufik dan Sony saling “Membunuh”

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


TaufikJAKARTA, KOMPAS.com — Taufik Hidayat mengikuti jejak Sony Dwi Kuncoro untuk maju ke semifinal Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Setelah berjuang selama 1 jam 12 menit, unggulan kelima tersebut lolos berkat kemenangan 21-19 8-21 22-20 atas unggulan kedua dari Denmark, Peter Hoeg Gade.

Sayang, dua pemain tunggal andalan Indonesia tersebut sudah harus saling “membunuh” di babak empat besar, Sabtu (20/6). Meskipun demikian, dengan pertemuan tersebut sudah dapat dipastikan Indonesia akan menempatkan satu wakilnya di final turnamen berhadiah 250.000 dollar AS tersebut.

Sebelum Taufik mendapatkan tiket ke semifinal, Sony lebih dulu memastikan diri maju ke babak tersebut. Sony yang merupakan unggulan keempat sekaligus juara bertahan turnamen ini, juga perlu bermain tiga set sebelum menang 18-21 21-17 21-10 atas pemain Hongkong Yan Kit Chan.

Setelah itu, giliran Taufik yang meraihnya. Tak jauh berbeda dengan Sony yang perlu waktu satu jam untuk maju, Taufik pun demikian.

Malah juara enam kali Indonesia Open tersebut harus berjuang lebih keras lagi karena lawan yang dihadapi memiliki kualitas mumpuni dan merupakan pemain nomor dua dunia.

Di set pertama, Taufik selalu memimpin pengumpulan poin meskipun Peter Gade terus memberikan tekanan. Peraih medali emas Olimpiade Athena ini pun berhasil menyudahi permainan dengan keunggulan tipis, 21-19.

Pada game kedua, Peter Gade bangkit dan langsung tancap gas. Setelah mengejar dan menyamakan perolehan poin Taufik di angka 3-3, Peter Gade melejit kencang untuk unggul 14-8. Selepas itu, Peter Gade menyapu bersih poin tersisa untuk menang 21-8 dan memaksa rubber game.

Duel seru dan menegangkan terjadi pada set penentuan ini. Peter Gade mengawalinya dengan bagus karena memimpin 4-0.

Namun setelah itu, Taufik bisa membalikkan keadaan setelah meraih lima poin beruntun untuk memimpin 5-4 dan kemudian sempat unggul jauh 11-7. Peter Gade yang memang terkenal pantang menyerah itu bisa menyusul Taufik untuk menyamakan angka 11-11.

Selepas skor tersebut, perolehan poin kedua pemain tak pernah terpaut jauh meskipun Taufik yang selalu memimpin. Ketika unggul 20-18, Taufik gagal menyudahi permainan dan Peter Gade bisa menyusul lagi dan memaksa deuce, meskipun Taufik yang akhirnya keluar sebagai pemenang dengan skor 22-20.

Bagi Taufik, keberhasilannya menuju semifinal membuat dirinya semakin dekat dengan impian membuat rekor baru di turnamen ini. Pasalnya, mantan pemain Pelatnas Cipayung tersebut membidik gelar ketujuh, yang berarti dia memecahkan rekor Ardi BW yang selama berkarier enam kali juara di Indonesia Open.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Nova/Liliyana Tersingkir, Satu Target Indonesia Lepas

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


NolinJAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia gagal mewujudkan impian untuk meraih gelar di nomor ganda campuran Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Pasangan nomor satunya, Nova Widianto/Liliyana Natsir sudah tersingkir di perempat final karena kalah dari pasangan China, Zheng Bo/Ma Jin.

Dalam duel di Istora Senayan Jakarta, Jumat (19/6), Nova/Liliyana yang merupakan unggulan utama menyerah dua set 17-21 18-21 dari unggulan kelima tersebut.

Dengan demikian, satu target yang dicanangkan PB PBSI sudah pasti lepas. Pasalnya, di turnamen berhadiah 250.000 dollar AS ini, Ketua Umum PBSI Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso mengatakan bahwa gelar yang dibidik adalah ganda campuran dan ganda putra.

“Kita memiliki dua pasangan yang saat ini menjadi nomor satu dunia, yakni ganda campuran dan ganda putra. Jadi, mereka diharapkan menjadi juara di sini,” ungkap Djoko menjelang kejuaraan ini.

Nova/Liliyana mengawali pertandingan dengan kurang bagus. Pasangan peraih medali perak Olimpiade Beijing 2008 tersebut nyaris selalu tertinggal dalam pengumpulan poin.

Selepas skor 13-13, Zheng Bo/Ma Jin tak terkejar lagi. Juara Singapura Open Super Series pekan lalu itu mendapatkan empat poin beruntun untuk unggul 17-13, sebelum memenangkan set pertama dengan 21-17.

Di game kedua, Nova/Liliyana hanya bisa memberikan perlawanan sengit sampai skor 4-4. Karena setelah itu, mereka justru jauh tertinggal meskipun sempat menyamakannya lagi saat kedudukan 15-15.

Namun, itulah skor penyama yang terakhir kali dibuat Nova/Liliyana. Selepas kedudukan tersebut Zheng Bo/Ma Jin melaju untuk menang 21-18 dan meraih tiket semifinal.

Di babak empat besar, Sabtu (20/6), Zheng Bo/Ma Jin akan bertemu Thomas Laybourn/Kamila Rytter Juhl. Pasangan Denmark yang merupakan unggulan keempat ini lolos setelah menang 21-11 21-16 atas unggulan enam dari China, Xie Zhongbo/Zhang Yawen.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : KINDRA MAJU KE SEMIFINAL

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com — Markis Kido/Hendra Setiawan tak terlalu kesulitan menembus babak semifinal Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Ganda putra nomor satu Indonesia dan dunia tersebut hanya perlu waktu 21 menit untuk lolos ke babak empat besar.

Peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 itu menang straight set 21-19 21-11 atas pasangan Indonesia non-Pelatnas, Hendra Aprida Gunawan/Alvent Yulianto. Apa rahasia kesuksesan ganda harapan Indonesia ini  ?

“Kami langsung mengambil inisiatif menyerang sejak awal pertandingan sehingga tidak memberikan kesempatan kepada mereka untuk berkembang,” ungkap Kido, Jumat (19/6) seusai pertandingan.

Menurut Kido/Hendra, ini adalah pertemuan kedua mereka melawan Hendra AG/Alvent. Dan, skor saat ini 1-1 karena pada pertemuan pertama di Malaysia, Kido/Hendra kalah dalam pertarungan selama tiga set.

Berikutnya, Kido/Hendra akan menghadapi pasangan Malaysia unggulan keempat Abdul Latif Mohd Zakry/Mohd Tazari Mohd Fairuzizuan atau pasangan Korea Selatan unggulan keenam, Jung Jae Sung/Lee Yong Dae. Jika memilih, mereka ingin bertemu pasangan Malaysia.

“Kami selalu menang melawan pasangan Malaysia itu sehingga kami pasti lebih senang melawan mereka. Tetapi yang pasti, kami siap menghadapi siapa saja,” tegas Kido.

Memang, Kido/Hendra selalu kesulitan bertemu Jung/Lee, dan mereka lebih banyak kalah. Terakhir, Kido/Hendra gagal menaklukkan pasangan Korea itu di Malaysia Super Series.

“Saya lupa berapa kali kalah, tetapi kami lebih banyak kalah. Pasangan Korea itu mempunyai pertahanan yang kuat sehingga sulit untuk ditembus,” papar Kido dan diamini Hendra.

Namun, dengan dukungan suporter yang memadati Istora Senayan Jakarta, Kido/Hendra mempunyai tekad kuat untuk mengulangi prestasi tahun 2005, ketika menjadi juara di turnamen berhadiah 250.000 dollar AS ini.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Maria Febe Inginkan Kejuaraan Beregu

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


Maria Febe

JAKARTA, Kompas.com – Tunggal puteri Maria Febe berharap suatu saat dapat bergabung di pelatnas Cipayung. “Saya ingin bermain di  kejuaraan beregu seperti Sudirman atau pun Uber Cup.”

Hingga hari kedua  turnamen Indonesia Terbuka Super Series 2009 yang berlangsung di istora Gelora Bung Karno, Maria Febe merupakan satu-satunya tunggal puteri lokal yang masih bertahan. Dua pemain utama pelatnas, Maria Kristin Yulianti dan Adrianti Firdasari sudah terlebih dulu masuk kotak.

Di hari kedua, Kamis (18/6) ini, Febe  berhasil mengalahkan pemain India, Aditi Mutatkar dalam dua game saja 21-8 21-5. Di game pertama, Maria Febe yang merupakan pemain Djarum secara mengejutkan menyingkirkan unggulan kelima dari Perancis, Pi Hongyan 24-22 6-21 21-15.

Toh tidak banyak yang memperhatikan pemain asal Boyolali, Jawa Tengah ini.  Sejak hilangnya era Susy Susanti, bulutangkis puteri memang tidak mendapat perhatian lagi.  Orang pernah berharap banyak pada Pia Zebadiah atau pun Adrianti Firdasari, namun ketika mereka menyurut dan kemudian menghilang seperti Pia, tidak banyak yang bersimpati atau kehilangan.

Keberhasilan Maria Kristin Yulianti meraih medali perunggu di olimpiade  Beijing, Agustus lalu pun oleh sebagian pengamat dianggap sebagai suatu kejutan yang menyenangkan. Namun tidak banyak yang yakin Kristin akan mampu masuk deretan elite dan bersaing dengan para pemain China.

Penampilan Febe di lapangan bulu tangkis  istora Gelora Bung Karno selama turnamen Indonesia Terbuka Super Series ini pun tidak menarik perhatian penonton. Mereka sibuk  mengelu-elukan para pemain pelatnas yang lebih dikenal seperti Maria Kristin, Adrianti Firdasari atau pun ganda puteri Greysia Polii/Nitya Krishinda.

Ketika Febe membulan-bulani dan kemudian menyingkirkan pemain India, Aditi Mutatkar di babak kedua, Kamis (18/6), perhatian penonton tengah tersedot pertandingan antara ganda puteri Greysia Polii/ Nitya Krishinda Maheswari di lapangan lain. Gryesia/Nitya akhirnya kalah dari ganda puteri China Cheng Shu/Zhao Yunlie.

Mungkin tidak banyak yang tahu pula, bahwa Maria Febe  menjadi satu-satunya tungal puteri Indoensia yang bertahan. ia akan menghadapi unggulan 3 asal China, wang Lin. “Saya belum pernah bertemu dia. Lihat besok saja, yang penting  saya main gaya saya saja,” katanya usai mengalahkan Aditi, Kamis.

Pemain kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 30 September 1989 ini mengaku bermain tanpa beban. Ia sudah menuntaskan keinginnya membalas kekalahan dari dua lawannya di babak awal yaitu unggulan 5, Pi Hongyan di babak pertama dan Aditi Mutatkar di babak kedua. “Moga-moga aja bisa lolos semifinal,” katanya.

Meski kelihatan bermain tanpa motivasi, Febe mengaku masih menyimpan keinginnya untuk dipanggil ke pelatnas Cipayung. “Usia saya sudah semakin tua. Sementara sebagai pemain saya punya keinginan memperkuat negara di kejuaraan beregu seperti Piala Sudirman atau pun Piala Uber,” kata pemain yang sudah memperkuat PB Djarum selama 8 tahun.

Ia mengaku sempat dua kali dipanggil untuk tes masuk pelatnas Cipayung. “Yang pertama saya masih dianggap belum saatnya, sementara yang kedua saya kebetulan jatuh sakit,” ungkapnya. Ia sendiri mengaku bisa mengimbangi permainan para pemain pelatnas.

Namun seperti gaya permainannya yang mengalir seperti air, Febe tidak ingin terlalu berharap keinginannya itu dapat segera terwujud.  Ia juga tidak ingin menjadikan hasil di Indonesia Terbuka Super Series ini menjadi pertimbangan para pengurus PBSI. “Jangankan saya. Koh Andre (Andre Kurniawan Tedjono-pemain PB Djarum) saja tidak kunjung dipanggil. Yang penting, saya  meraih prestasi terbaik saja-lah saat ini.”

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : INDONESIA LOLOSKAN 7 QUARTERFINALIS

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


Bulutangkis.com) – Tim tuan rumah akhirnya berhasil meloloskan 7 wakilnya ke babak 8 besar turnamen Indonesia Open 2009 setelah di babak perdelapan final hari ini beberapa pemain merah putih mampu menciptakan kejutan tak terduga. Namun runner up turnamen ini setahun yang lalu, Simon Santoso (8) harus tersisih lebih awal saat di tantang oleh jagoan Korea, Park Sung Hwan.

Pertandingan hari ketiga turnamen Indonesia SS 2009 sudah mulai dibanjiri oleh penonton. Beberapa diantarabya bahkan harus rela mengantri dari pagi namun tidak beruntung mendapatkan tiket masuk. Tunggal pelatnas, Adriyanti Firdasari mengawali pertarungan di lapangan 2 menghadapi andalan China, Wang Lin. Meladeni permainan taktis Wang Lin tentunya bukanlah hal yang mudah bagi Firda. Beberapa kali Firda tampak berjibaku di lapangan untuk mengantisipasi bola-bola dari tunggal China tersebut. Dalam tempo 17 menit, Firda akhirnya menyerah 13-21.

Namun rupanya selama pertandingan Firda tak mampu bermain maksimal akibat cedera engkel kaki kanan yang dialaminya saat menghadapi tunggal Belanda, Yao Jie di babak pertama kemarin. Akibat tetap ngotot menantang Wang Lin, cedera yang dialami oleh Firda akhirnya kambuh lagi. Setelah menjalani perawatan darurat di pinggir lapangan, pelatih Marleve Mainaky akhirnya member isyarat kepada wasit untuk tidak melanjutkan pertandingan sehingga Wang Lin dinyatakan lolos ke babak perempatfinal.

“Saya sebenarnya sudah pakai obat penahan rasa sakit. Cuma setelah set pertama saya sudah tak tahan lagi. Agak kecewa juga dengan keadaan ini. Tapi yang lebih mengecewakan saya karena cedera ini saya alami di saat pertandingan”, papar tunggal putri kedua Indonesia tersebut. “Beruntung cederanya tidak serius. Dokter hanya meminta saya untuk istirahat 1-2 minggu. Saya yakin kalau tidak cedera akan ramai pertandingan tadi” sambungnya setelah menjalani perawatan yang lebih intensif di ruan medis. Ini bukan merupakan cedera pertama yang dialami oleh Firda. Sebelumnya, Firda juga pernah mengalami masalah pada lutut kanannya.

Selain Wang Lin, China juga berhasil mendominasi sektor tunggal putri dengan meloloskan 3 wakil lainnya. Unggulan ke-8, Xie Xingfang tanpa banyak kesulitan menyingkirkan wakil Belanda, Rachel Van Cutsen 21-6, 21-15 sedangkan Wang Yihan (2) menjungkalkan dara muda Thailand, Porntip Buranaprasertsuk, 21-16, 21-5. Duel antara pemain China yang diharapkan akan berjalan seru ternyata berlangsung tidak seperti yang diharapkan. Unggulan ke-7, Lu Lan yang mengalami nasib buruk di turnamen Singapore SS pekan lalu, kali ini mampu bernafas lega saat berhasil menundukkan sang juara bertahan, Zhu Lin, 21-13, 21-11.

Empat tempat lainnya juga diisi oleh para pemain berdarah Asia. Saina Nehwal (6) harus berjuang keras 18-21, 21-7, 21-19 untuk menyingkirkan Juliane Schenk yang sedangan berada dalam performa terbaiknya. Maria Febe akhirnya menjadi satu-satunya tumpuan Indonesia di sektor ini setelah membukukan kemanangan telak atas lawannya, Aditi Mutatkar, 21-8, 21-5. Kekalahan Wang Chen (4) atas Hwang Hye Youn akhirnya memupuskan harapan kejutan dari pemain naturalisasi China untuk berjaya yang kedua kalinya. Sempat memaksa rubber set 21-14 setelah tertinggal 19-21, Wang Chen akhirnya harus mengakui ketangguhan Hye Youn 14-21 di partai pamungkas. Duel antara dua pemain kualifikasi Sayako Sato dan Kim Moon Hi akhirnya dimenangkan oleh tunggal negeri sakura 21-15, 21-18.

Keberuntungan para pemain Indonesia sedikit lebih baik di sektor tunggal putra. Meskipun Simon Santoso (8) gagal mengulang prestasinya setahun yang lalu setelah ditundukkan tunggal terbaik Korea, Park Sung Hwan 16-21, 17-21, Indonesia masih memiliki harapan untuk meraih gelar dari Sony Dwi Kuncoro (4) dan Taufik Hidayat (5). Sony mampu bermain lebih tenang saat menyingkirkan Wong Choong Hann 8-21, 12-21 sedangkan Taufik harus berjibaku 3 set untuk mengimbangi permainan ulet wakil Thailand, Boonsak Ponsana. “Saya bermain lebih senang hari ini disbanding kemarin. Kini saya agak fokus, jadi saya bisa bermain lebih sabar dan tenang”, kata Sonny.

Unggul 21-17 di set pertama, Boonsak mampu bangkit dan meladeni perolehan angka Taufik di paruh akhir set ketiga hingga skor kritis 19 sama. Di titik ini Boonsak mendapatkan ‘second winning’ dengan kemenangan 21-19. Permainan reli-reli panjang Boonsak ruapanya justru menghabiskan stamina peraih gelar Singapore SS 2007 itu di set ke-3. Setelah tertinggal jauh 6-11 dan 8-13, Boonsak semakin sulit untuk mengejar Taufik dan akhirnya menyerah 10-21.

Peter Gade yang menuai kemenangan atas tunggal fenomenal Vietnam, Nguyen Tien Minh 13-21, 21-19, 21-14 akhirnya menjadi satu-satunya wakil Denmark di sektor ini setelah sebelumnya unggulan ke-7, Joachim Persson gagal melumpuhkan perlawanan bintang Hongkong, Chan Yan Kit 22-24, 13-21.

Di nomor berpasangan merah putih hanya menyisakan wakil di sektor ganda putra dan campuran. Dua ganda Indonesia yang ditantang oleh para utusan China juga harus memetik kekalahan atas lawan-lawannya. Kolaborasi Fran Kurniawan/Pia Zebadiah gagal meredam permainan Xie Zhongbo/Zhang Yawen (6) dan menyerah 16-21, 15-21. Sedangkan Vita Marissa yang baru saja menggandeng Hendra AG juga tak dapat berbuat banyak ketika dijamu oleh juara Singapore SS 2009, Zheng Bo/Ma Jin (5). Hendra/Vita dipaksa bertekuk dua set langsung 16-21, 12-21.

“Kami baru berpasangan selama sebulan terakhir. Kami belum padu dan masih banyak yang harus dibenahi”, kata AG dalam jumpa pers seusai pertandingan. “Pasangan China ini kelasnya sudah seperti senior kami, Nova/Liliyana”, sambungnya kemudian.

Nova Widhianto/Liliyana Natsir sebagai favorit teratas akhirnya menjadi satu-staunya tumpuan public Istora setelah keduanya memetik kemenangan atas duet Korea, Yoo Yeon Seong/Kim Min Jung, 21-17, 21-17. Namun untuk meraih tiket semifinal bukanlah hal yang mudah bagi peraih juara dunia 2005 dan 2007 ini. Zheng Bo/Ma Jin yang pekan lalu menghentikan duet Lee Hyo Jung/Lee Yong Dae di partai semifinal Singapore Open SS akan menjadi jalan terjal mereka berikutnya.

Kejutan terbesar di nomor ini adalah tumbangnya unggulan ke-8, Sudket/Saralee atas pasangan gado-gado Inggris-Skotlandia, Robert Blair/Imogen Bankier. Setelah bersitegang selama hampir 1 jam, Robert/Imogen akhirnya unggul 21-19, 11-21, 21-11. Selain itu dua tunggal Eropa yang juga ikut melaju ke 8 besar adalah dua pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl (4) dan Joachim Fischer/Christinna Pedersen (7). Keduanya melibas dua wakil Asia, Mohd Razif/Woon Khe Wei 21-13, 21-19 dan Ko Sung Hyun/Ha Jung Eun 21-13, 21-16.

Nasib baik rupanya masih menaungi kubu merah putih di sektor ganda putra. Nomor yang selalu menjadi kebanggaan Indonesia ini berhasil meloloskan 3 wakilnya ke babak perempatfinal. Duet Markis Kido/Hendra Setiawan yang sempat dibuat ketar ketir saat menghadapi hijarahan Indonesia yang berbendera Singapura, Hendri Kurniawan/Hendra Wijaya akhirnya melaju ke babak selanjurnya setelah mendapatkan ‘keajaiban’ di set ketiga. Menang telak 21-11 di set pertama ternyata tidak lantas memuluskan jalan KiNdra di set kedua. Duo Hendri/Hendra yang menekan KiNdra sejak awal set kedua membuat pasangan Indonesia tak mampu bangkit dari tekanan dan banyak melakukan kesalahan sendiri. Pertahanan yang sempurna dari pasangan Singapura membuatnya terus ‘leading’ dari awal hingga akhir set, 21-18.

Kekalahan KiNdra seolah-olah suedah berada di depan mata dan ketegangan terlihat jelas di wajah keduanya ketika mereka kembali tertinggal jauh 4-11 saat jeda interval, 6-14 dan mendekati angka kritis 10-15. Namun justru di titik inilah KiNdra mendapatkan kesempatan kedua untuk berbalik menang dan mengalahkan pasangan kakak beradik tersebut. Berkat dukungan dari segenap pengunjung Istora, perlahan KiNdra mampu bangkit dan balik menekan Hendri/Hendra meskipun tandem negeri singa tersebut memiliki pertahanan yang luar biasa. Perlahan namun pasti, KiNdra mengumpulkan poin demi poin dari bola-bola serang dan kesalahan sendiri pasangan Singapura hingga kedudukan 16-18. Hendri/Hendra yang tersusul dalam perolehan poin justru akhirnya banyak melakukan ‘unforced error’ dari bola ‘out’ atau menyangkut di net dan harus mengalami kekalahan menyesakkan setelah KiNdra mengoleksi 5 poin beruntun dengan menutup set ini, 21-18.

”Di set kedua lawan sudah menemukan irama permainanya dan saya banyak mati sendiri,” kata Hendra usai pertandingan. “Saat mereka bermain baik, kami malah tidak siap”, lanjutnya kemudian. Sementara Kido mengaku sempat terpikir akan kalah dalam laga itu. “Pola pertahanan saya sangat jelek sehingga kerap menjadi sasaran serangan lawan”, jelas Kido. “Beruntung kami bisa mengejar karena dukungan penonton tentunya,” lanjutnya.“Dukungan penonton mampu menjaga semangat saya dan itu terlihat dari smash-smash saya,” tambahnya.

Langkah KiNdra juga diikuti oleh dua wakil non Pelatnas, Luluk/Joko dan Alvent/Hendra. Luluk/Joko di luar dugaan mampu menghempas juara Singapore Open SS 2009, Anthony Clark/Nathan Robertson 21-16, 24-22. Sedangkan VeNdra harus berjibaku 3 set untuk meredam ketangguhan Hwang Ji Man/Shin Baek Cheol 20-22, 21-17, 21-11. Luluk/Joko sendiri merasa terkejut dengan raihan prestasi keduanya. Selain harus mengurusi keperluan sendiri, karena tidak memiliki manajer, pasangan ini juga tak banyak melakukan persiapan. “Kami sebenarnya agak terkejut karena berhasil lolos karena kami hanya persiapan satu bulan dan itu sebenarnya sangat kurang,” jelas Joko. Bahkan beberapa waktu yang lalu, keduanya telat untuk mendaftarkan diri ke turnaman Philipina Open. “Karena semuanya sendiri, kami jadi telat daftar kesana”, tandas Joko kemudian.

Dua ganda Indonesia lainnya, Anggun/Rendra dan Rian/Yonathan sayangnya gagal mengikuti langkah senior mereka ke babak selanjutnya. ARen yang sempat menyajikan perlawanan sengit di set kedua akhirnya harus mengakui kesolidan duo Amerika, Tony Gunawan/Howard Bach, 8-21, 22-20, 15-21 sedangkan RiYo masih sulit untuk mengimbangi permainan taktis peraih perak Olimpiade Beijing 2008, Fu Haifeng/Cai Yun (5) dan harus menyerah 14-21, 11-21.

Wakil tirai bambu lainnya, Guo Zhendong/Xu Chen juga sempat memberikan perlawanan sengit kepada unggulan ke-3 asal Malaysia, Koo Kien Ket/Tan Boon Heong. Sempat unggul 21-16 di set pertama, keduanya gagal meredam bola-bola serag Koo/Tan dan tertinggal 14-21 di set kedua. Meskipun Koo/Tan mampu menguasai jalannya pertandingan di set ketiga, tandem terbaik negeri jiran tersebut harus berjuang maksimal karena beberapa kali perolehan angka mereka berhasil di susul oleh Guo/Xu. Setelah sempat tersamakan di titik 19 dan 20, Koo/Tan akhirnya mmapu menyudahi set ini lebih dulu 22-20.

Sektor yang paling kontras dengan hasil di tahun sebelumnya adalah ganda putri. Tahun 2008, Vita/Lily mampu mepersembahkan gelar untuk Indonesia namun pada kali ini, tidak ada satu pasang pemainpun yang lolos mampu meloloskan diri ke babak delapan besar. Andalan merah putih yang menuai kejutan pekan sebelumnya di turnamen Singapore Open SS, Grace/Nitya, kali ini harus puas tersingkir lebih awal. Sempat memukau dengan menekan tandem China, Cheng Shu/Zhao Yunlei di set pertama 23-21, permainan keduanya tak lagi berkembang di dua set berikutnya. Meski reli-reli panjang sempat terjadi, GraNi akhirnya harus mengakui kegigihan unggulan kedua tersebut 11-21, 8-21.

Hasil kurang memuaskan juga diraih pasangan non pelatnas, Nadya Melati/Natalia Poulokan. Ditantang oleh ‘ganda coba-coba’ Petya Nedelcheva/Anastasia Russkikh, NaNa harus tumbang dua set langsung 17-21, 20-22. Ikut gugur bersama mereka adalah duet Anneke/Annisa yang dikalahkan unggulan ke-3, Chien Yu Chin/Cheng Wen Hsing 12-21, 18-21 setelah sempat unggul di pertengahan set kedua.

Selain Cheng/Zhao, negeri panda juga menempatkan unggulan ke-6, Zhang Yawen/Zhao Tingting ke babak 8 besar. Selaras dengan China, Korea juga masih bisa menggantungkan harapan mereka pada Ha Jung Eun/Kim Min Jung dan Lee Kyung Won/Lee Hyo Jung (7). Ha/Kim mencatat kemenangan atas duet Jerman-Kanada, Nicole Grether/Charmaine Reid 21-19, 21-9 sedangkan duo Lee harus bertarung rubber set untuk menekuk Pan Pan/Tian Qing 21-19, 16-21, 21-16 (FEY).

Posted in Badminton, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Nitya/Greysia Tersingkir, Ganda Putri Habis

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com – Pupuslah impian Indonesia untuk meraih sekaligus mempertahankan gelar ganda putri Djarum Indonesia Open Super Series. Pasalnya, semua wakil tim Merah-putih di sektor itu yang tampil di turnamen berhadiah 250.000 dolar AS tersebut sudah tersingkir.

Kepastian itu diperoleh setelah Nitya Krishinda Maheswari/Greysia Polii tersingkir di babak 16 besar. Dalam pertandingan di Istora Senayan Jakarta, Kamis (18/6), pasangan yang diharapkan mewujudkan asa tersebut menyerah 23-21 11-21 8-21 dari pemain China unggulan kedua, Cheng Shu/Zhao Yunlie.

Nitya/Greysia yang pekan lalu membuat kejutan karena menembus final Singapura Terbuka tersebut mengawali pertandingan dengan sangat bagus. Mereka hampir selalu memimpin dalam pengumpulan poin, bahkan sempat unggul telak 18-13, disusul 20-16. Tetapi pasangan China itu bisa menyusul dan memaksa deuce yang akhirnya dimenangkan oleh Nitya/Greysia.

Namun di dua set selanjutnya, Cheng/Zhao tak terbendung lagi. Mereka mendominasi pertandingan yang berdurasi 1 jam 1 menit itu, sehingga dengan mudah meraih kemenangan untuk maju ke perempat final.

Di babak delapan besar nanti, Cheng/Zhao akan bertemu rekan senegara mereka, Zhang Yawen/Zhao Ting Ting. Unggulan keenam ini mengalahkan pasangan gado-gado Imogen Bankier (Skotlandia)/Donna Kellogg (Inggris) dengan 21-11 21-10.

Selain Nitya/Greysia, dua pasangan putri Indonesia yang tampil di babak 16 besar ini juga keok.

Anneke Feinya Agustine/Annisa Wahyuni tak berkutik melawan Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin. Unggulan ketiga asal Taiwan tersebut menang straight set 21-12 21-18 dalam tempo 25 menit.

Sementara itu Melati Nadya/Natalia Poulokan gagal melewati adangan pasangan gado-gado Petya Nedelcheva (Bulgaria)/Anastasia Russkikh (Rusia). Meskipun selalu memimpin perolehan angka di awal, Melati/Natalia justru gagal menyelesaikan pertandingan saat memasuki poin kritis, sehingga mereka harus menyerah 17-21 20-22.

Tahun lalu, nomor ganda putri mempersembahkan satu dari dua gelar yang diraih Indonesia di turnamen ini (satunya dari nomor tunggal putra yang dipersembahkan Sony Dwi Kuncoro). Waktu itu, Vita Marissa/Liliyana Natsir yang mempersembahkannya. Kini, pasangan itu telah “cerai” setelah Vita memutuskan untuk keluar dari Pelatnas Cipayung.

PENASARAN

Usai pertandingan, Greysia Polii, mengaku penasaran setelah disingkirkan ganda China di babak kedua turnamen Indonesia Terbuka Super Series, Kamis (18/6).

Pasangan Indonesia, Greysia Polii/ Nitya Krishinda Maheswari, disingkirkan ganda putri China Cheng Shu/Zhao Yunlie 23-21 11-21 8-21. Ganda Cheng/Zhao merupakan unggulan kedua turnamen Indonesia Terbuka Super Series ini.

Di game pertama, Greysia/Nitya mampu memberikan perlawanan ketat. Mereka melayani bola-bola tinggi pemain China dengan variasi bola di depan net. Setelah kedudukan 21-21, Greysia/Nitya merebut game pertama 23-21.

Namun, game yang berlangsung ketat tersebut ternyata menguras tenaga pemain Indonesia. Apalagi Nitya kemudian mengalami masalah di punggungnya yang sangat mengganggu geraknya. Pemain China yang menyadari kesulitan ini kemudian membulan-bulani Greysia/Nitya dan merebut dua game dengan cepat  21-11 21-8.

Seusai pertandingan, Greysia Polii mengaku faktor fisik merupakan hal yang berpengaruh pada kekalahan mereka, terutama setelah Nitya mengaku mengalami masalah pada punggungnya. “Cedera punggung itu membuatnya sesak dan sulit bermain baik,” kata Greysia.

Menurut Greysia pula, cedera itu sebenarnya sudah dirasakan Nitya sebelum mereka tampil di final Singapura Terbuka Super Series, pekan lalu. “Kalau tidak salah malah sebelum semifinal. Namun sifatnya hilang timbul, apalagi saat itu langsung ditangani,” kata Greysia.

Kekalahan ini bagi Greysia merupakan antiklimaks penampilan mereka setelah tampil gemilang di Singapura Terbuka Super Series pekan lalu. Di final mereka berjuang ketat sebelum dikalahkan ganda senior China, Zhang Yawen/Zhao Tingting 14-21, 13-21.

“Penasaran banget sih. Masa dalam beberapa hari kalah dua kali dari ganda China. Namun, yang pasti latihan fisik kayaknya harus ditingkatkan lagi kalau ingin mengimbangi para pemain China,” katanya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Taufik Optimistis Taklukkan Peter Gade

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com – Taufik Hidayat maju ke perempat final Djarum Indonesia Open Super Series 2009 usai taklukkan pemain andalan Thailand, Boonsak Ponsana. Namun di babak delapan besar turnamen berhadiah 250.000 dolar AS ini, Jumat (19/6), Taufik akan menghadapi pemain veteran Denmark, Peter Hoeg Gade.

Ini menjadi sebuah tantangan besar bagi Taufik yang mengincar gelar ketujuh Indonesia Open. Pasalnya, Peter Gade yang merupakan unggulan kedua ini kerab menghadirkan kesulitan bagi Taufik, meskipun suami Ami Gumelar tersebut optimistis bisa menang.

“Kami sudah sering bertemu sehingga sama-sama tahu tipe permainan masing-masing. Tetapi saya merasa memiliki peluang lebih besar karena bermain di rumah sendiri dan lebih muda darinya,” ungkap Taufik, Kamis (18/6).

Ya, Taufik yang kini berusia 27 tahun seharusnya optimistis dengan hal tersebut (usia,red). Pasalnya, Peter Gade yang kini merupakan pemain nomor dua dunia sudah berusia 32 tahun, sehingga staminanya pasti kalah.

“Dia sudah tua, sehingga staminanya pasti kalah. Karena itu, saya merasa memiliki peluang yang lebih besar untuk menang,” jelas Taufik yang terakhir kali mengalahkan Peter Gade di All England.

Meskipun demikian, Taufik yang pertama kali bertemu Peter Gade saat masih berusia 17 tahun itu tak mau terlalu jumawa. Dia tetap menaruh hormat kepada pemain senior Denmark tersebut yang dinilainya tetap punya potensi untuk menang karena memiliki mental baja.

“Kita juga tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Yang pasti, pertandingan nanti bakal berlangsung seru dan enak ditonton karena dia juga pemain yang hebat. Peter memiliki pukulan yang komplit sehingga takkan mudah mengalahkannya. Tetapi dengan motivasi untuk mencetak sejarah–tujuh kali juara Indonesia Open–, semoga saya bisa menang,” tambah Taufik.

Sementara itu Peter Gade sendiri mengakui, Taufik adalah lawan yang sangat berat. Apalagi, dia bermain di kandang sendiri.

“Taufik memiliki banyak senjata mematikan sehingga sulit melawannya,” ungkap Peter Gade yang berjuang tiga set ketika mengalahkan pemain nomor satu Vietnam, Nguyen Tien Minh, dalam perebutan tiket ke perempat final.

Pemenang pertarungan Taufik vs Peter Gade ini akan bertemu dengan pemenang duel Sony Dwi Kuncoro vs Chan Yan Kit (Taiwan). Mereka akan memperebutkan tiket semifinal turnamen ini.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Kami Hoki ! (KIDO)

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com – Markis Kido/Hendra Setiawan nyaris kalah ketika melawan ganda Singapura, Hendri Kurniawan Saputra/Hendra Wijaya, di babak 16 besar Djarum Indonesia Open Super Series 2009, Kamis (18/6), di Istora Senayan Jakarta. Setelah kalah di set kedua, Kido/Hendra sempat tertinggal 14-6 di game penentuan.

Namun ganda nomor satu dunia itu bisa bangkit dan menang. Dalam pertarungan berdurasi 52 menit tersebut, Kido/Hendra menaklukkan Hendri/Hendra dengan skor 21-11 18-21 21-18 dan tetap menjaga asa untuk meraih gelar kedua di turnamen ini setelah mendapatkannya tahun 2005.

Usai pertandingan, pasangan peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 itu mengaku mereka memang sering kesulitan menghadapi duet kakak-beradik tersebut. Tambahan lagi, dalam penampilan kali ini Kido/Hendra kerab melakukan kesalahan sendiri.

“Kami memang sering bermain rubber set melawan mereka, meskipun secara keseluruhan kami lebih unggul di setiap pertemuan. Kami sudah delapan kali bertemu dan mereka hanya satu kali menang,” ungkap Kido.

Sementara itu, Hendra yang paling banyak melakukan kesalahan sendiri di set kedua mengakui, bahwa dirinya tampil buruk. Itulah yang membuat mereka harus bermain tiga set meskipun pada awal pertandingan poin yang diperoleh sangat mudah.

“Saya banyak melakukan kesalahan sendiri di set kedua. Tetapi beruntung, di set ketiga kami bisa bangkit lagi walaupun sudah jauh tertinggal,” jelas Hendra.

Memang, Kido/Hendra yang menjadi unggulan utama di turnamen berhadiah 250.000 dolar AS ini dengan gampang meraih kemenangan di set pertama.

Tetapi pada set kedua, pasangan ini selalu tertinggal dalam pengumpulan poin. Semuanya terjadi karena mereka lebih banyak melakukan kesalahan sendiri, terutama Hendra, yang kerab gagal melakukan permainan net lantaran bola pengembaliannya tersangkut.

Di set penentuan, Kido/Hendra mengawalinya dengan cukup bagus. Hanya saja setelah skor 3-3, mereka jauh tertinggal. Para suporter pun sempat khawatir pemain pujaannya bakal tersingkir di babak 16 besar ini.

Ya, Hendri/Hendra melaju dengan sangat kencang. Selepas unggul 6-4, pasangan yang berasal dari Indonesia (kini sudah menjadi warga negara Singapura) tersebut memetik lima angka beruntun untuk unggul 11-4, sebelum menambahnya lagi menjadi 14-6.

Namun dukungan suporter yang terus bersorak ‘Indonesia’ diiringi tepukan pompom membuat semangan Kido/Hendra tak pernah padam. Pelan tapi pasti, ganda putra nomor satu Indonesia tersebut memangkas jarak dengan Hendri/Hendra sampai skor 18-16.

Inilah awal dari momen yang menegangkan karena menyajikan sebuah drama bagi suporter. Ketika kedudukan 18-17, kedua pasangan tersebut mempertontonkan permainan indah karena saling serang dan diakhiri sebuah smes keras dari Kido yang membentur bibir net.

Beruntung bagi pasangan tuan rumah ini, karena bola jatuh di wilayah permainan pasangan Singapura sehingga skor menjadi 18-18. Sontak, suporter yang perasaannya bercampur-aduk antara tegang dan kagum melihat reli tersebut, melompat kegirangan. Seperti diperintah, semuanya mengepalkan tangan dan diangkat ke atas.

“Kami sempat kehilangan harapan ketika sudah jauh tertinggal. Meskipun demikian, kami tak mau menyerah dan tetap berusaha mengejar. Dan ketika bola yang saya smesh sempat membentur net dan jatuh ke sebelah (bidang permainan lawan,red), saya merasa hoki dan keberuntungan ada di pihak kami. Ternyata benar, kami bisa menang,” ungkap Kido tentang duel menegangkan itu.

Ya, setelah menyamakan kedudukan tersebut, laju Kido/Hendra tak terbendung lagi. Mereka meraup tiga poin secara beruntun untuk menang 21-18 sekaligus mendapatkan tiket perempat final.

Di babak delapan besar, Jumat (19/6), Kido/Hendra akan bertemu ganda Indonesia yang dulu pernah bernaung di bawah atap Pelatnas Cipayung, Hendra Aprida Gunawan/Alvent Yulianto. Hendra AG/Alvent lolos setelah mengalahkan ganda Korea Selatan, Hwang Ji Man/Shin Baek Cheol dengan 20-22 21-17 21-11.

“Tak masalah bertemu siapa saja. Kami siap!” ujar Kido.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Taufik dan Sony ke Perempat Final

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com — Taufik Hidayat dan Sony Dwi Kuncoro maju ke perempat final Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Dalam pertandingan di Istora Senayan Jakarta, Kamis (18/6), dua pemain andalan Indonesia itu menaklukkan lawan-lawan mereka.

Taufik yang bermain di lapangan 2 menang rubber set 21-17 19-21 21-10 atas pemain senior Thailand, Boonsak Ponsana. Sementara itu, Sony yang bermain di lapangan 1 dengan mudah mengalahkan pemain Malaysia, Wong Choong Hann, dengan straight set 21-8 21-12.

Di babak delapan besar, Jumat (19/6), mereka akan bertemu lawan yang berat.

Taufik yang menjadi unggulan 5 bakal bertemu pemain veteran Denmark, Peter Hoeg Gade. Unggulan kedua ini lolos setelah lebih dulu berjuang selama 55 menit untuk menaklukkan pemain nomor satu Vietnam, Nguyen Tien Minh, dalam pertarungan rubber set 13-21 21-19 21-14.

Sementara itu, Sony yang merupakan unggulan 4 akan ditantang Chan Yan Kit. Pemain Hongkong tersebut di luar dugaan menang 24-22 21-13 atas pemain Denmark yang ditempatkan sebagai unggulan ketujuh, Joachim Persson.

Mendapat dukungan penuh dari suporter yang memadati Istora, baik Taufik maupun Sony tampil penuh percaya diri. Taufik menang mudah di set pertama, tetapi di set kedua dia justru terlalu bernafsu untuk mengakhiri duel sehingga kalah.

Belajar dari kesalahan tersebut (di set kedua), Taufik bermain lebih sabar di game penentuan. Alhasil, pemain yang sudah keluar dari Pelatnas Cipayung tersebut menang 21-10 untuk maju ke perempat final dan semakin dekat dengan impiannya membuat sejarah sebagai pemain pertama yang juara tujuh kali di Indonesia Open.

Sementara itu, Sony masih terlalu tangguh bagi Wong. Tunggal putra utama Indonesia tersebut hanya perlu waktu 33 menit untuk meraih tiket perempat final.

Sayang, jika Taufik dan Sony bisa melewati babak perempat final nanti, mereka sudah harus bertemu di semifinal. Artinya, satu dari mereka sudah harus tersingkir di babak empat besar.

Sementara itu dukungan ratusan penonton istora gagal menyelamatkan Simon Santoso saat dikalahkan Park Sung Hwan 16-21 17-21. Dalam pertandingan babak kedua Indonesia Terbuka Super Series tersebut, Simon menyerah dalam waktu 42 menit. Para penonton yang masih bertahan menyaksikan pertandingan tersebut gagal mengantar Simon maju ke permpatfinal.

Diunggulkan di tempat kedelapan, Simon mampu memimpin pada angka-angka awal game pertama. Namun Sung Hwan mampu memanfaatkan tinggi badannya dan merebut game pertama 21-16.

Di game kedua, Simon tampak bermain ragu-ragu. Berkali-kali bolanya  jatuh di luar lapangan atau tidak mampu mematikan bola Sung Hwan yang sebenarnya sudah out of position. Ia kemudian mencoba mengubah gaya bermainnya dengan bola-bola pendek, namun mampu diimbangi Sung Hwan.  Akhirnya Simon menyerah 17-21.

Simon mengaku tampil tidak maksimal. “Saya tidak tahu. Pukulan saya banyak yang tidak jalan.  Saya pun sering ragu-ragu mengantisipasi gerakan dia,” kata Simon.

Ia mengaku lawannya bermain lebih baik. “Saya sulit sekali mematikan bolanya. Dia selalu mampu mengembalikan bola saya,” katanya.

Di babak perempatfinal, Jumat (19/6), Park Sung Hwan akan menghadapi unggulan pertama dari Malaysia, Lee Chong Wei.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

DJARUM INDONESIA OPEN 2009 : Luluk/Joko Kaget Bisa Kalahkan Juara Singapura Terbuka

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 19, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com — Ganda putra Indonesia, Luluk Hadiyanto/Joko Riyadi, mengaku terkejut bisa lolos ke perempat final Djarum Indonesia Open Super Series 2009. Pasalnya, mereka mendapatkan tiket tersebut setelah mengalahkan pasangan Inggris Anthony Clark/Nathan Robertson dengan straight set 21-16 14-22.

Padahal, persiapan pemain yang sudah keluar dari Pelatnas Cipayung tersebut terbilang minim karena baru latihan efektif selama satu bulan terakhir. Namun hasil yang diraih cukup membanggakan, apalagi mampu mengalahkan pasangan yang pekan lalu menjadi juara Singapura Super Series.

Ya, Clark/Robertson tampil di turnamen berhadiah 250.000 dollar AS ini dengan modal keberhasilan menjadi juara di Singapura. Di babak final kejuaraan tersebut, pasangan Inggris ini menaklukkan ganda nomor satu Indonesia dan dunia, Markis Kido/Hendra Setiawan, dengan skor 21-12 21-11.

Namun, ketika bermain di hadapan publik Indonesia yang memadati Istora Senayan Jakarta, Clark/Robertson gagal menampilkan permainan terbaik. Mereka terus berada di bawah tekanan, baik oleh teriakan penonton maupun permainan gemilang Luluk/Joko.

“Kami juga sangat kaget bisa mengalahkan mereka, apalagi persiapan tidak maksimal. Ini menjadi sebuah tambahan motivasi untuk bisa meraih hasil yang lebih baik lagi pada pertandingan selanjutnya,” ungkap Joko seusai pertandingan.

Luluk dan Joko mengaku baru berpasangan pada turnamen ini setelah mereka sama-sama memilih jalur profesional. Karena itu, perlu pengertian yang besar di antara mereka lantaran harus ada komunikasi saat bermain.

“Persiapan satu bulan itu termasuk kurang, karena bermain di nomor ganda perlu kekompakan dan saling pengertian,” tambah Joko.

Seusai menyingkirkan Clark/Robertson, Luluk/Joko kembali harus menghadapi lawan tangguh. Di perempat final, Jumat (19/6), mereka bertemu pasangan tangguh Malaysia Koo Kien Keat/Tan Boon Heong. Unggulan ketiga ini lolos setelah menang 16-21 21-14 22-20 atas pemain China, Guo Zhendong/Xu Chen.

“Menghadapi pemain Malaysia, kami harus sabar karena rata-rata pemain Malaysia itu mengandalkan serangan balik. Mereka punya pertahanan yang bagus,” jelas Luluk.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: