SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 23rd, 2009

Saina Bisa, Indonesia Juga Harus Bisa !

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 23, 2009


Nehwal

Djarum Indonesia Open Super Series 2009 melahirkan bintang baru. Tunggal putri India, Saina Nehwal, tiba-tiba saja bersinar terang di turnamen berhadiah 250.000 dolar AS tersebut setelah menjadi juara usai mengalahkan pemain China yang menjadi unggulan kedua, Wang Lin, dalam pertarungan rubber set.

Tak pelak, suporter yang memadati Istora Senayan Jakarta mengelu-elukan pemain berusia 19 tahun tersebut. Dalam sekejab, Saina yang pada awal turnamen ini tak mendapat perhatian, berubah menjadi sosok sentral usai pertandingan final tunggal putri, Minggu (21/6).

Standing ovation penonton Indonesia, plus suporter India, menyertai langkah Saina ketika meninggalkan lapangan pertandingan, menuju ke podium juara. Dia dipuja layaknya pahlawan Indonesia. Ini yang membuat Saina sangat terkesan.

Tapi lebih dari itu, Saina menjadi juara karena dia telah menunjukkan usaha dan disiplin yang hebat. Nyalinya tak ciut meskipun lawan yang dihadapi pada partai puncak adalah pemain nomor satu China, dan dia menjalankan dengan penuh tanggung jawab setiap instruksi pelatih.

“Saya nyaris tak percaya bisa menang, apalagi melihat lawan yang dihadapi. Tapi dengan kerja keras saya bisa meraihnya. Ini bisa menjadi motivasi untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya,” ungkap Saina yang kini tercatat sebagai wanita India pertama yang juara di turnamen super series.

Ya, Saina yang tahun lalu menjadi juara dunia junior memberikan sebuah pelajaran bagi semua olahragawan, bahwa usaha keras dan disiplin menjadi kunci keberhasilan. Dengan senjata tersebut, siapa pun lawan yang dihadapi pasti bisa ditaklukkan. yang membuat dia optimistis menyambut Kejuaraan Dunia bulan Agustus nanti di Hyderabad, India, kampung halamannya.

Hal itu dibenarkan oleh Atik Jauhari. Pelatih yang sukses membawa Saina meraih prestasi tertinggi dalam kariernya itu mengakui, pemain binaannya tersebut sangat disiplin dan serius ketika melakukan latihan maupun menjalankan instruksinya.

“Ketika kalah di set pertama, saya berusaha memotivasinya untuk tetap fokus pada pertandingan. Dan, saya juga meminta dia untuk menjalankan instruksi dengan lebih banyak bermain reli, selain netting yang menjadi kelebihannya. Benar, dia akhirnya bisa menang di dua set selanjutnya,” ungkap Atik yang pernah melatih di Pelatnas selama 27 tahun.

Seharusnya Indonesia juga bisa

Berbanding terbalik dengan India, Indonesia justru gagal total di kejuaraan ini karena tidak bisa meraih satu gelar pun–seperti yang terjadi pada tahun 2007. Sektor tunggal putri lebih memprihatinkan karena langkah terjauh adalah perempat final, itu pun diraih pemain non-Pelatnas Maria Febe Kusumastuti (PB Djarum).

Maria Kristin Yulianti yang mengalahkan Saina di perempat final Olimpiade Beijing 2008 langsung tersingkir di babak pertama, menyerah dari pemain China Xie Xingfang. Sementara itu Adriyanti Firdasari hanya mencapai babak kedua, karena mundur di set kedua akibat cedera saat melawan Wang Lin.

Menanggapi kegagalan tersebut, Atik mengatakan bahwa pemain Indonesia seharusnya bisa berprestasi. Tetapi hal yang terpenting adalah meningkatkan kedisiplinan dalam segala hal, karena tanpa hal tersebut bakat yang ada dalam diri para pemain menjadi sia-sia.

“Seharusnya Indonesia juga bisa juara karena negara ini adalah gudangnya pemain. Ibarat sepak bola, Indonesia adalah Brasil yang memiliki pemain-pemain berbakat. Menurut saya, jika ingin berprestasi maka para pemain Indonesia harus lebih meningkatkan kedisiplinan,” jelas Atik yang dikontrak India sejak berakhirnya Olimpiade Beijing.

Djarum Indonesia Open Super Series 2009 sudah selesai. Hasil buruk yang diraih dalam turnamen selama sepekan tersebut menjadi sebuah bahan evaluasi bagi PB PBSI–padahal PBSI pasang target minimal meraih gelar dari nomor ganda campuran dan ganda putria–untuk menentukan langkah di kejuaraan selanjutnya, sehingga paceklik gelar yang sedang melanda Indonesia bisa segera berlalu.

“Apapun hasilnya harus diterima dengan jiwa besar, dan menjadi tantangan bagi PBSI untuk melakukan evaluasi,” ujar Ketua Umum PB PBSI Jenderal TNI Djoko Santoso, usai partai final di Istora Senayan, Jakarta.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Saina Nehwal Juara Indonesia Terbuka Karena Pengorbanan Keluarga

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 23, 2009


TEMPO Interaktif, Jakarta: Juara bulu tangkis Indonesia Terbuka, Saina Nehwal asal India, bisa berprestasi bagus karena ayahnya rela menghabiskan separuh gajinya yang sudah pas-pasan untuk membiayai latihan.

Saina, peringkat tujuh dunia yang baru berusia 19 tahun, mengalahkan peringkat tiga dunia asal Cina, Lin Wang, dalam final salah satu kejuaraan Super Series ini, pada Minggu (22/6). Saina pun menjadi pemain India pertama yang menang dalam kejuaraan bulu tangkis yang masuk kategori Super Series.

Prestasi Saina ini dengan usaha susah payah keluarganya. Separuh penghasilan keluarga setiap bulan dihabiskan agar anak mereka bisa berlatih tanpa terganggu. Ayahnya, Harvir Singh, bahkan mesti merelakan tabungan pensiunnya dikuras habis.

Harvir bukan orang kaya. Peneliti di Direktorat Riset Tanaman Mengandung Minyak Hyderabad hanya mengandalkan sebuah skuter untuk mengantar keluarganya ke mana-mana.

Tapi Harvir, dan istrinya Usha Nehwal, adalah pecinta bulu tangkis. Anaknya, Saina, sejak kecil diajari main tepok bulu. Pada Desember 1998, mereka mengikutsertakan Saina dalam sebuah turnamen bulu tangkis anak-anak.

Pelatih bulu tangkis di Otoritas Olah Raga Negara Bagian Andhra Pradesh, yang melihat bakat Saina, segera menawarinya latihan selama musim panas. Persoalan muncul: dari rumah sampai tempat latihan itu berjarak 20 kilometer.

Jika membawa mobil, jarak 20 kilometer–alias 40 kilometer pulang pergi–bukan jarak yang jauh. Tapi perjalanan 40 kilometer setiap hari dengan sebuah skuter cukup melelahkan bagi bocah berusia delapan tahun.

Setiap pagi, sebelum pukul 6.00, Saina harus sudah siap di lapangan bulu tangkis. Latihan berlangsung dua jam. Ayahnya kemudian harus mengantar ke sekolah. Dalam pekan pertama, Saina kadang tertidur di boncengan skuter. Jadi, ibunya kemudian ikut mengantar agar Saina tidak terjatuh dari boncengan.

Setahun kemudian, agar anaknya bisa berlatih bulu tangkis dengan baik, Harvir pindah rumah agar lebih dekat tempat latihan. Kali ini jaraknya hanya tujuh kilometer alias hanya 14 kilometer pulang pergi.

Persoalan belum selesai, pelatihnya meminta Saina juga datang ke tempat latihan pada malam hari. Jadi, dua kali ayahnya mengantar dengan skuter itu ke tempat latihan.

Persoalan utama bagi ayahnya adalah uang. Untuk transport saja, Saina membutuhkan 150 rupee (Rp 32 ribu) per hari. Itu belum termasuk biaya untuk latihan–mulai dari shuttle cock, rakte, sepatu, sampai baju–yang sesekali mesti dibeli.

Total, sebulan ia menghabiskan uang 12 ribu rupee (Rp 2,5 juta) agar Sania bisa berlatih keras. Itu bukan hal yang murah bagi Singh, bahkan sekitar separuh dari penghasilan bulanannya.

Tak heran, ia harus mengambil dana pensiunnya berulang-ulang agar latihan anaknya tidak terganggu. “Kadang saya ambil 30 ribu rupee (Rp 6,4 juta), kadang hampir 10 ribu rupee (Rp 21,5 juta),” katanya. Ia bahkan sampai lima kali lebih harus mengambil dana pensiun ini demi Saina.

Baru mulai 2002 ia sedikit lega karena pabrik peralatan bulutangkis Yonex menjadi sponsor dan memberi peralatan gratis. Sponsor lain, Bharat Petroleum, menjadi sponsor pada 2004 dan tahun berikutnya dana olahraga dari Mittal Sport Trust.

Bantuan dari pemerintah India ada, tapi terlalu sedikit. Sampai 2003, ia hanya mendapat 600 rupee (Rp 130 ribu) sebulan. Setelah itu hanya 2.500 rupee (Rp 540 ribu) sebulan. “Periode antara 1994-2004 adalah saat yang menjadi cobaan keluarga karena kami tidak mendapat sponsor apapun,” kata Harvir.

Kehidupan keluarganya sangat berprihatin. Sejak 1998 sampai 2005, Saina tidak pernah ke pesta, rumah makan, atau bioskop. “Saat wartawan televisi datang ke rumah pada Mei tahun silam, saya bahkan tidak bisa menyajikan kue-kue,” katanya.

Tapi Harvir tidak pernah mengungkapkan kesulitan keuangan ini kepada Saina karena takut akan merusak konsentrasi Saina. “Ia mungkin bisa terganggu begitu tahu ayahnya tidak memiliki dana pensiun lagi,” katanya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: