SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 24th, 2009

YONEX SUNRISE MALAYSIA OPEN GRAND PRIX GOLD 2009 : Taufik Langsung Tersingkir, Andre Jadi Harapan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 24, 2009


JOHOR, KOMPAS.com – Taufik Hidayat langsung tersingkir di babak pertama Malaysia Open Grand Prix Gold 2009. Unggulan kedua asal Indonesia tersebut ditaklukkan oleh pemain China, Chen Long.

Dalam duel di Stadium Bandaraya Johor Bahru, Rabu (24/6), yang berdurasi 57 menit, Taufik kalah rubber set 14-21 22-20 19-21. Ini tentu sebuah kejutan besar, apalagi Taufik adalah unggulan kedua dan Chen tidak diunggulkan.

Di set pertama, terjadi persaingan ketat dalam pengumpulan angka. Tetapi setelah skor 8-8, Taufik mulai jauh tertinggal karena Chen bisa menambah empat poin secara beruntun untuk unggul 12-8, dilanjutkan 17-9, sebelum menang 21-14.

Set kedua, perolehan poin kedua pemain tetap ketat. Alhasil, deuce menjadi penentu kemenangan Taufik yang menyudahi duel itu dengan skor 22-20, dan memaksa rubber set.

Pada game penentuan, Taufik tak pernah bisa menyamakan poin Chen. Mantan pemain Pelatnas Cipayung yang pekan lalu menjadi runner-up Djarum Indonesia Open Super Series 2009 tersebut hanya bisa membuntuti Chen yang akhirnya menang 21-19 dan maju ke babak kedua.

Di partai lain, Alamsyah Yunus juga harus menyerah kepada Du Peng Yu dengan straigh set 21 – 17 dan 21 – 9. Harapan kini tinggal bertumpu kepada Andre Kurniawan Tedjono yang bertahan dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di nomor tunggal putra. Pemain PB Djarum tersebut menang 21-13 21-17 atas pemain Malaysia Kim Long Hoo.

Selanjutnya, Andre yang merupakan unggulan keenam, akan bertarung lagi pada Rabu sore ini pukul 18.50 waktu setempat, melawan pemain Denmark Christian Lind Thomsen.

Di nomor ganda campuran Hedra AG/Vita Marisa yang notabebe non pelatnas melangkah ke babak selanjutnya setelah mengalahkan pasangan malaysia Peng Soon Chan/Liu Ying Goh dengan skor 21 – 13 dan 21 – 16.

Kemenangan lain juga diraih pasangan gado gado non pelatnas indonesia Flandy Limpele/Anastasia Russkikh yang mengalahkan pasangan Malaysia M. razif A/Khe Wei Won dengan 21 – 18, 15  – 21 dan 21 – 18.

Dalam kejuaraan ini, Indonesia hanya diwakili oleh pemain-pemain profesional. Para pemain Pelatnas yang semula dijadwalkan ikut, terpaksa harus absen karena PB PBSI membatalkannya usai hasil buruk di Indonesia Open.

Para pemain Pelatnas yang sudah ikut drawing tetapi menarik diri adalah tiga ganda campuran; Muhammad Rijal/Debby Susanto, Tontowi Ahmad/Richi Puspita Dili, Fran Kurniawan Teng/Pia Zebadiah Bernadet dan dua ganda putri; Anneke Feinya Agustine/Annisa Wahyuni dan Komala Dewi/Keshya Nurvita Hanadia, serta satu tunggal putri, Rizki Amelia Pradipta.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Taufik Berpeluang Balas Kekalahan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 24, 2009


TaufikJAKARTA, KOMPAS.com — Taufik Hidayat berpeluang bertemu kembali dengan pemain utama dunia, Lee Chong Wei, di turnamen bulu tangkis Malaysia Terbuka Grand Prix Gold, 23-28 Juni ini.

Di final Djarum Indonesia Terbuka Super Series, Minggu (21/6) lalu, Taufik dikalahkan Chong Wei di babak final dalam dua game 9-21 dan 14-21. Meski kalah, Taufik merupakan satu-satunya pemain Indonesia yang lolos ke babak final. Adapun harapan utama, seperti Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido/Hendra Setiawan, dan Nova Widianto/Liliyana Natsir sudah lebih dulu tersisih.

Di turnamen Malaysia Grand Prix Gold ini, Lee Chong Wei merupakan unggulan utama, sementara Taufik yang kini menempati peringkat 5 dunia, diunggulkan di tempat kedua.

Seusai kekalahan di Djarum Indonesia Terbuka yang lalu, Taufik mengaku memang ia sudah sulit mengimbangi permainan Chong Wei. Tahun ini saja kedua pemain telah tiga kali bertemu, yaitu di All England, Swiss Super Series, dan Indonesia Terbuka Super Series. Hasilnya, Taufik tidak pernah menuai kemenangan.

“Saya tidak bisa mengingkari usia dan kondisi yang sudah tidak sebaik 2-3 tahun lalu, sementara saat ini dia sedang dalam kondisi puncak dan sulit dikalahkan siapa pun,” kata Taufik yang telah berusia 28 tahun. Adapun Chong Wei berusia 26 tahun.

Taufik akan menghadapi pemain muda China, Chen Long, di babak pertama, Rabu (24/6). Adapun Chong Wei ditantang pemain Singapura, Derek Wong Zi Liang.

Jadwal pemain Indonesia, Rabu (24/6):
Long Chen [CHN]-[INA]  Taufik Hidayat [2]
Peng Soon Chan [8] [MAS]/Liu Ying Goh [MAS]-[INA]  Hendra Aprida Gunawan/[INA]  Vita Marissa
Alamsyah Yunus [INA]-[CHN]  Pengyu Du
Andre Kurniawan Tedjono [6] [INA]-[MAS]  Kim Long Hoo
Sook Chin Chong [MAS]/Khe Wei Woon [MAS]-[INA]  Vita Marissa/[INA]  Nadya Melati
Hee Chun Mak [MAS]/Wee Kiong Tan [MAS]-[INA]  Luluk Hadiyanto/[INA]  Joko Riyadi
Chung Chiat Khoo [MAS]/Soon Hock Ong [MAS]-[INA]  Alvent Yulianto Chandra [5]/[INA]/Hendra Aprida Gunawan
Lim Wah Lim [MAS]/Jian Guo Ong [MAS]- [INA]  Candra Wijaya [INA]/Rendra Wijaya

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

PBSI SEDANG DALAM PROSES REGENERASI

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 24, 2009


Jakarta, 23/6 (Roll News) – Ketua Komisi Sport Development Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Joko Pramono mengatakan, buruknya prestasi para pebulutangkis nasional di Super Series 2009 Indonesia Terbuka adalah dampak dari proses regenerasi dalam tubuh PBSI.

“Prestasi atlet kita memang sedang menurun, bahkan sejak kepengurusan sebelum dipimpin Jenderal TNI Djoko Santoso. Harus dimaklumi kepengurusan ini juga merupakan kepengurusan yang masih baru dan mereka tengah dalam proses untuk mengembangkan kembali kejayaan bulutangkis,” kata Joko yang juga mantan Danjen Marinir.

Seperti halnya pada 2007, para pebulutangkis tuan rumah Indonesia kembali gagal merebut satu pun gelar juara pada kejuaraan Bulutangkis Indonesia Terbuka yang berakhir Minggu (21/6) di Jakarta.

Malaysia meraih dua gelar melalui pemain tunggal putra dan ganda putri. China yang meloloskan finalis pada empat nomor hanya berhasil membawa pulang satu gelar melalui ganda campuran.

Korea kebagian gelar di ganda putra, sedangkan satu gelar lainnya tunggal putri jatuh ke tangah pebulutangkis India, Saina Nehwal.

“Saya sudah berdiskusi dengan Ketua Umum PBSI, Djoko Santoso. Beliau katakan PBSI saat ini tengah membangun kembali mental atlet dengan menempa sekitar 40-an atlet pelapis,” ujarnya.

Terkait dengan prestasi atlet nasional yang tengah memprihatinkan, Joko mengimbau agar masyarakat tak usah saling hujat menghujat.

Joko mengajak semua pihak untuk berpikir secara realita, bahwa sistem pembinaan harus dilakukan “back to basic” yakni memulainya dari bawah dengan lebih banyak mengirimkan atlet-atlet muda ke ajang internasional.

“Untuk menciptakan atlet berprestasi dunia, kita membutuhkan waktu setidaknya lima tahun dan tak bisa muncul setiap saat. Bagi seorang ketua, untuk mengelola PB juga dibutuhkan waktu yang cukup,” ujar Joko Pramono menambahkan.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Saatnya Pelatnas PB PBSI di Cipayung Lebih Memercayai Pemain Muda

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 24, 2009


Jangan Jadi Kuburan Junior

Sukses Lee Yong Dae menjadi juara Djarum Indonesia Open Super Series 2009 seharusnya bisa dijadikan pelajaran oleh PB PBSI. Bahwa, pemain muda harus diberi banyak kesempatan agar lebih cepat matang.

Atik Jauhari, pelatih tim nasional India asal Indonesia, menyepadankan Indonesia dengan Brazil. Kedua negara itu sama-sama kaya pemain berbakat, namun dalam cabang olahraga yang berbeda. Brazil sebagai penghasil pemain sepak bola dunia, sedangkan Indonesia adalah rajanya bulu tangkis.

Tanpa adanya aturan yang bisa menghambat seorang pelatih dan pemain bulu tangkis hijrah ke luar negeri, saat ini banyak negara diperkuat orang asal Indonesia. Nahasnya, kalau Brazil tetap perkasa sebagai favorit juara setiap kali Piala Dunia diselenggarakan, Indonesia terus menunjukkan tren menurun.

Kegagalan pebulu tangkis Merah Putih merebut satu pun gelar di Djarum Indonesia Open Super Series 2009 menjadi bukti paling nyata atas kondisi itu. Catatan tersebut mengulang kegagalan serupa pada 2007. Kalaupun pada 2008 beberapa pemain Indonesia juara, itu terjadi karena banyak pemain kelas dunia memilih absen untuk mempersiapkan diri menghadapi Olimpiade Beijing 2008.

Tidak berburuk sangka, kalau saja pada 2008 pemain papan atas dunia tampil di Indonesia Open, peluang hat-trick tanpa gelar cukup besar. Demikian juga ke depan, ancaman tanpa gelar di Indonesia Open terus membayangi.

Kenapa prestasi bulu tangkis Indonesia bisa begitu terpuruk? Apakah bakat yang disebut Atik bertebaran di Indonesia sudah tidak lagi ada?

Indonesia dengan penduduk lebih dari 200 juta jiwa tetap memiliki sumber bakat melimpah. Ratusan perkumpulan bulu tangkis yang ada di tanah air setiap tahun menghasilkan ribuan pebulu tangkis muda potensial. Namun, sekian banyak potensi itu tidak bisa dimaksimalkan untuk melahirkan pemain sehebat Rudy Hartono, Liem Swie King, ataupun Susi Susanti.

PB PBSI sebagai organisasi pembina bulu tangkis di tanah air memang tidak bisa langsung disalahkan karena persoalan itu. Namun, sejatinya, banyak pihak lain yang juga harus bertanggung jawab. Mulai pemerintah sampai masyarakat pencinta tanah air.

Selama ini, pemerintah maupun masyarakat selalu menuntut pebulu tangkis Indonesia bisa memberikan gelar juara di setiap even yang diikuti. Hal tersebut secara tidak langsung membuat PB PBSI terpaku untuk mengandalkan pemain-pemain senior di semua ajang. Lihat saja pada SEA Games 2007, ketika pemain juara Olimpiade Athena 2004 Taufik Hidayat masih diandalkan untuk merebut emas di even level regional itu. Padahal, SEA Games seharusnya menjadi jatah pemain muda seperti Tommy Sugiarto atau pemain lain.

Cara Korea Selatan melahirkan seorang Lee Yong Dae sehingga menjadi juara Olimpiade Beijing 2008, termasuk di Indonesia Open pekan lalu, layak ditiru oleh PB PBSI. Masyarakat dan pemerintah pun harus belajar bersabar jika beberapa saat harus puasa gelar untuk adanya regenerasi yang lebih baik.

Yong Dae sebenarnya adalah pemain seangkatan ganda pelatnas Muhammad Rijal. Yong Dae memang dua tahun lebih tua. Namun, mereka pernah main bersama di level junior.

Jika ditilik, prestasi Rijal di level junior malah lebih cemerlang daripada Yong Dae. Bersama Greysia Polii, pemain PB Djarum itu sukses mengalahkan Yong Dae yang turun di ganda campuran pada final Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Milo. Tak hanya sekali, Rijal menang dua kali atas Yong Dae, yakni pada edisi 2003 dan 2004.

“Kalau dilihat hasil sekarang, memang prestasi kami sudah jauh berbeda. Saya masih harus mencari poin untuk masuk super series lagi, tapi Yong Dae yang pernah saya kalahkan semasa junior sudah bisa jadi juara Olimpiade,” ujar Rijal.

Secara teknik pun, Rijal mengakui sudah sangat tertinggal bila dibandingkan dengan Yong Dae. “Saya disimpan terus-terusan sih. Kalau saya perhatikan, Yong Dae selalu mengikuti turnamen apa saja sehingga bisa lebih cepat matang,” ujar Rijal.

Richard Mainaky, pelatih ganda campuran pelatnas, mengakui bahwa kematangan Rijal memang terhambat. Maklum, Cipayung memiliki banyak pemain ganda campuran yang terlalu lama membela timnas. “Kalau mau dinilai, Nova (Widianto) saja terlambat jadi juara. Sebab, dia juga harus bersaing dengan pemain-pemain senior yang dulu sangat banyak,” ujar Richard.

Pada 2008, Rijal sebenarnya sukses menjadi juara super series, yaitu di Jepang Open, bersama Vita Marissa. Namun, sejalan dengan kepergian Vita dari pelatnas, Rijal pun kesulitan mendapatkan pasangan baru.

Kalau PB PBSI sejak beberapa tahun lalu memberikan kesempatan lebih banyak kepada Rijal, mungkin saat ini dia sudah bersaing di papan atas seperti Yong dae. Bukan hanya Rijal, mungkin juga pemain lain yang saat ini masih berkutat di lapis kedua pelatnas utama.

Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso setelah berakhirnya Indonesia Open berjanji lebih memperhatikan pembinaan pemain muda. Bahkan, dia mengindikasikan siap puasa gelar untuk sementara waktu. Itu kebijakan yang layak didukung agar Indonesia bisa seperti Brazil. (vem/ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Dominasi Indonesia Di New Zealand

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 24, 2009


Kabar baik terdengar dari New Zealand, pebulutangkis muda Indonesia yang diwakili oleh atlet-atlet binaan PB Djarum berhasil meraih 4 gelar juara pada turnamen Auckland International yang diselenggarakan mulai tanggal 17 Juni hingga 21 Juni 2009 bertempat di Auckland, New Zealand. Turnamen tersebut berkategori Internastional Series.

Pada empat partai babak final tersebut Indonesia berhasil menempat dua partai sebagai final sesama pemain Indonesia, yakni pada partai tunggal putri yang diwakili oleh Febby Angguni yang mengalahkan Rosaria Yusfin Pungkasari (unggulan ke-1) dan ganda putra diwakili oleh Berry/ M. Ulinnuha yang mengalahkan Didit Juang/ Seiko Wahyu.

Dua partai lainnya yakni tunggal putra dan ganda putri diperoleh dengan menumbangkan atlet- atlet tuan rumah. Riyanto Subagja menumbangkan Joe Wu (unggulan ke-1), dan Jenna Gozali/ Rufika Olivta menumbangkan Michelle (Kit Ying ) Chan/ Rachel Hindley. (pbdjarum.com)

Berikut hasil lengkap babak final:

Tunggal Putra :
Riyanto Subagja (Ina) vs Joe Wu (Nzl): 14-21, 21-16, 21-10

Tunggal Putri :
Febby Angguni (Ina) vs Rosaria Yusfin Pungkasri (Ina): 21-15, 21-16.

Ganda Putra :
Berry Angriawan/M. Ulinnuha (Ina) vs Didit Juang/ Seiko Wahyu (Ina): 21-14, 21-19.

Ganda Putri :
Jenna Gozali/ Rufika Olivta (Ina) vs Michelle (Kit Ying) Chan/ Rachel Hindley (Nzl): 21-16, 21-11.

Ganda Campuran :
Warfe/ Veeran (Nzl) vs Whitehead/ Tanaka (Nzl) : 21-12, 21-15

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: