SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 29th, 2009

Hendrawan will handle the back-up boys, says Rashid

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 29, 2009


NATIONAL singles chief coach Rashid Sidek will hand over all his elite back-up players to come under the charge of Hendrawan so that he can play a more prominent role as an overseer.

The Indonesian former world champion will arrive today and begin work on Wednesday. And Rashid will meet Hendrawan tomorrow and lay out plans for him.

If the plans are agreeable to all parties, four elite back-up players — Tan Chun Seang, Mohd Arif Abdul Latif, Chong Wei Feng and Liew Daren — will immediately come under the charge of Hendrawan.

Rashid has worked with these players since 2004 and none of them has managed to win an Open title this far.

“All my players will be handed to Hendrawan. I will help out during training as and when is required,” said Rashid.

“I am not giving up my responsibilities but I think that it will be good for Hendrawan to have a shot at taking these players to another level.”

By giving Hendrawan the role to coach the second stringers, Rashid said that he would be able to monitor and help out with Misbun Sidek’s group of players and the women’s singles department.

Currently, the players under Misbun’s care are world No. 1 Lee Chong Wei, Mohd Hafiz Hashim, Kuan Beng Hong, Wong Mew Choo, Chan Kwong Beng and Lok Chong Chieh.

And those under the charge of Teh Seu Bock are Julia Wong (who is recovering from a knee injury), Lydia Cheah, Sannatasah Saniru, Tee Jing Yee, Ooi Swee Wern, Ng Sin Zou and Stephanie Shalini Sukumaran.

“I can oversee all these three groups. I will be more mobile to move around, depending on the needs of each group,” said Rashid.

“What is more important is for all of us to work together. My main goal is to add depth to the singles department and make sure that there is always quality supply of players for the national team.”

On moving more players from Misbun’s group to Hendrawan’s squad, Rashid said that it would be left to his elder brother to make a decision.

“I will let Misbun decide on who he wants to move over. A decision to send Hafiz and Beng Hong to Hendrawan is still pending. We will discuss this,” said Rashid.

Hendrawan is the third Indonesian coach to join the Malaysian national team. Rexy Mainaky is now the chief coach of the doubles department.

And the late Indra Gunawan was in Malaysia for two years (2001-2002) and he was in charge of the singles department.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

YONEX SUNRISE MALAYSIA OPEN GRAND PRIX GOLD 2009 : Chong Wei Juara Lagi, China Dominasi

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 29, 2009


JOHOR, Kompas.com – China membawa pulang tiga gelar juara dari turnamen Malaysia Terbuka Grand Prix Gold, dua di antaranya diperoleh melalui final antara pemain China, sementara Malaysia meraih dua gelar.

China memenangi gelar ganda campuran, serta tunggal dan ganda putri. Unggulan kedua ganda campuran Zheng Bo/Ma Jin memenangi gelar keempat dengan mengalahkan rekan senegara mereka Xu Chen/Zhao Yunlei setelah unggulan ketiga itu tidak melanjutkan pertandingan saat kedudukan 5-5 pada game pertama, karena cedera lutut kanan Zhao Yunlei kambuh.

Sebelumnya, Zheng Bo/Ma Jin telah memenangi tiga gelar di turnamen Super Series, Swiss, Singapura dan Indonesia terbuka.

Juara tunggal putri diperoleh Wang Shixian yang juga menyisihkan sesama pemain China Wang Xin 21-16, 18-21, 21-10.  Adapun Ma Jin yang berpasangan dengan Wang Xiaoli berhasil mengungguli pasangan Malaysia, unggulan pertama Chin Eei Hui/Wong Pei Tty untuk merebut mahkota ganda putri dengan kemenangan 21-9, 21-11.

Tuan rumah Malaysia memenangi nomor tunggal dan ganda putra, setelah unggulan pertama Lee Chong Wei  menundukkan pemain China Chen Long 21-16, 21-9, dan pasangan unggulan kedua Koo Kien Keat/Tan Boon Heong menang atas ganda Malaysia lainnya Gan Teik Chai/Tan Bin Shen 21-11, 21-13.

Bagi Lee Chong Wei, kemenangan pada turnamen di kandang sendiri yang berhadiah total 120.000 dolar AS itu adalah gelar keempat tahun ini setelah ia juga memenangi Malaysia, Swiss dan Indonesia Super Series.

Tidak ada pemain Indonesia yang lolos ke final setelah dua pasangan yang tersisa, Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa dan Hendra/Alvent Yulianto semuanya tumbang di semifinal, Sabtu (27/6).

Final of Malay

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Kontrak PB PBSI-PAL Belum Beres

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 29, 2009


JAKARTA – Keluhan dari salah seorang pengurus PB PBSI soal belum cairnya uang saku atlet Program Atlet Andalan (PAL) langsung direspons. Program percepatan prestasi olahraga gagasan Menpora itu membantah anggapan bahwa mereka tidak mencairkan uang saku pebulu tangkis PAL. Yang terjadi adalah proses kontrak kedua belah pihak belum tuntas sehingga uang saku dan akomodasi lainnya belum bisa dicairkan.

PB PBSI telah memasukkan enam pemain untuk mengikuti PAL. Yakni, Maria Kristin Yulianti, Sony Dwi Kuncoro, Markis Kido, Hendra Setiawan, Nova Widianto, dan Liliyana Natsir. “PB PBSI belum menerima (uang saku, Red) karena proses kontraknya belum selesai. Saat ini, belum ada tanda tangan kedua pihak, antara PAL dengan atlet,” jelas Setia Dharma Madjid, wakil ketua umum PAL, di Jakarta Sabtu lalu (26/6).

Saat ini, PB PBSI baru memberikan persetujuan enam atlet untuk mengikuti PAL. Status seperti itu sama dengan cabang olaharaga (cabor) voli indoor dan voli pantai. Jika nanti urusan kontrak selesai, PB PBSI mendapatkan suntikan dana yang lumayan besar.

Setiap bulan, para atlet itu akan mendapatkan Rp 30 juta. Sebab, enam pebulu tangkis yang masuk PAL lolos kualifikasi kelompok utama. Karena itu, keenamnya berhak mendapatkan Rp 5 juta per bulan.

Itu belum termasuk biaya kompetisi. Termasuk, biaya peralatan dan perlengkapan, transportasi, akomodasi, dan lain-lain. Dharma belum bisa mengestimasi besaran dana untuk setiap kompetisi yang bakal diikuti.

Hanya, tentu cabor bulu tangkis, selam, dan voli tidak akan menerima jadwal tryout tiga kali. “Kalau gabungnya belakangan, tentu ada konsekuensinya. Yakni, bisa saja hanya dua kali tryout untuk tim mereka,” jelas pria berkumis itu.

Jika ditilik dari agenda super series yang tersisa, para pemain pelatnas utama PB PBSI itu bisa tampil di Tiongkok Masters Super Series (15-20 September 2009), Jepang Super Series (22-27 September 2009), serta Denmark Super Series dan Prancis Open Super Series yang berurutan mulai 20 Oktober-1 November 2009.

Selain itu, masih ada dua sisa turnamen super series di Hongkong dan Tiongkok mulai 10 November-22 November nanti. Jika dirata-rata seorang pemain membutuhkan dana sekitar Rp 20 juta pada satu turnamen di Eropa, pengeluaran di Asia bisa lebih irit.

Jika benar PAL akan mengucurkan dana untuk mengikuti kompetisi, paling tidak hal itu bisa mengurangi beban keuangan PBSI yang memiliki 38 pemain pelatnas utama di Cipayung dan 39 pemain pratama di Akademi Militer (Akmil) Magelang. Dua sektor tersebut tentu membutuhkan pendanaan yang tak sedikit. Apalagi, tuntutan prestasi bulu tangkis cukup tinggi. Salah satunya, menjaga tradisi emas Olimpiade.

“Mungkin, bulu tangkis, selam, dan voli menerima uang saku mulai Juli nanti. Dengan catatan, kontrak selesai,” tegas Dharma. (vem/ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Liem Swie King, dari “Jumping Smash” ke Griya Pijat

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 29, 2009


Jakarta (ANTARA News) – Meski sudah sejak 21 tahun silam meninggalkan dunia bulutangkis, kecintaan Liem Swie King terhadap olahraga ini tidak pernah pudar.

Di sela-sela kesibukan mengurus usaha hotel dan spa, King mengaku masih suka bermain bulutangkis dan sesekali mengunjungi klub lamanya, PB Djarum, di Kudus, Jawa Tengah.

Juara All England tiga kali ini mengaku sulit melepaskan diri dari bulutangkis karena memiliki kenangan pahit dan manis ketika meniti karir di masa mudanya.

Lahir di Kudus, 28 Februari 1956, King adalah anak dari keluarga yang membuka usaha reparasi sepeda di kota kelahirannya. Seperti kebanyakan masyarakat disana, ayah dan kakaknya juga menyukai bulutangkis. Bisa dikatakan, dia memang sudah mengenal olahraga ini sejak kecil.

“Saya tidak ingat usia berapa persisnya mulai suka bermain bulutangkis, saya hanya ingat sering berlatih di lapangan belakang rumah,” katanya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (9/6).

King menyatakan motivasi awal dia bermain bulutangkis adalah ayahnya yang sangat keras dan disiplin mendidik dia dan kakaknya. Ayahnya akan marah bila dia kalah dalam satu pertandingan kejuaraan junior. Hal inilah yang memacunya untuk selalu berusaha menjadi yang terbaik dalam bulutangkis.

Namun, di klub PB Djarum-lah karir profesionalnya sebagai atlet dimulai. Pada 1972, King meraih meraih gelar juara tunggal putra junior Piala Munadi.

Pada 1973 ketika usianya baru 17 tahun, ia menjadi juara kedua Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, King direkrut masuk pelatnas dan ia pun meraih juara pada kejurnas 1974 dan 1975.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 1978, King yang berusia 20 tahun menjuarai All England setelah mengalahkan Rudi Hartono di babak final. Kemudian dia memenangi gelar itu lagi sebanyak dua kali, yakni pada 1979 dan 1981.

“Bagi saya, mengalahkan Rudy di All England adalah prestasi terbaik karena saya sangat mengidolakan dia,” katanya.

Selama karirnya, King dikenal memiliki senjata pamungkas yang menjadi ciri khasnya, yakni pukulan smash yang dilakukan sambil meloncat dan kemudian terkenal dengan sebutan “jumping smash” atau “King Smash”.

Disinggung mengenai hal ini, Lim menjawab dengan rendah hati bahwa pukulan itu baginya sama seperti pemain lain. “Wartawanlah yang mempopulerkannya dan memberi julukan King Smash pada saya” ungkapnya sambil tertawa.

Menurutnya, dia memang memiliki tipe permainan menyerang dan cepat. Maka dari itu, smash dengan meloncat akan membuatnya mengambil bola lebih cepat dan mematikan langkah lawan.

Selain turnamen individu, Lim juga ikut menyumbangkan kemenangan tim putra Indonesia dalam kejuaraan Piala Thomas 1976, 1979 dan 1984.

Pengusaha Griya Pijat

Sejak 1988, King secara resmi mundur sebagai pemain bulutangkis dan memilih membantu mertuanya menjalankan bisnis hotel keluarga di Jalan Melawai, Jakarta Selatan. Di awal karir barunya itu, dia mengaku tidak langsung bisa menyesuaikan diri karena selama ini hanya mengerti soal bulutangkis.

Namun, perlahan-lahan dia mulai menguasai dunia bisnis dan malah membuka usaha griya pijat kesehatan dengan nama Sari Mustika. Kini usahanya tersebut telah mempekerjakan lebih dari 200 karyawan dan memiliki tiga cabang yakni di Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan dan Kelapa Gading Jakarta Utara.

Ketika ditanya mengapa membuka bisnis griya pijat, King menyatakan sebenarnya dia terinspirasi dari kegiatan pemijatan yang selalu dilakukannya ketika masih menjadi atlet.

“Dulu setiap habis berlatih atau bertanding, biasanya saya mengunjungi tempat pijat kesehatan di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan. Penataan ruang dan layanannya yang begitu bagus membuat saya terinspirasi membuka usaha yang sama,” katanya.

Pelanggan griya pijatnya pun bukan orang sembarangan. Tercatat sejumlah pengusaha lokal, usahawan, keluarga menengah atas dan ekspatriat yang tinggal di Jakarta menjadi pengunjung tetap.

Ditanya mengenai usahanya yang semakin berkembang itu, dia menjawab hanya berusaha semampunya setelah tidak lagi menjadi atlet.

“Gaji sebagai atlet sebenarnya sudah cukup untuk membiayai kehidupan keluarga, tapi saya juga harus realistis karena bidang ini tidak bisa dijalani selamanya,” katanya.

King menyatakan saat menjadi atlet, dirinya berusaha memanfaatkan sebagian uang yang didapatnya sebagai atlet untuk ditabung. Simpanan inilah yang kemudian dijadikannya modal untuk membuka usaha sendiri.

Memang, untuk ukuran mantan atlet, dia termasuk salah satu yang sejahtera setelah tidak lagi membela nama Indonesia di bidang olahraga.

Namun, King tidak lantas lupa pada teman-temannya sesama mantan atlet. Bersama Ivana Lie, Tan Joe Hok dan G Sulistyanto, King mendirikan Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) yang beranggotakan mantan atlet mapupun pelatih bulutangkis se-Indonesia.

“Organisasi ini adalah wadah bagi para mantan atlet untuk membantu meningkatkan kesejahteraan anggota,” katanya.

KBI, katanya, berusaha menolong anggota dengan mencarikan pekerjaan ataupun bantuan modal dengan harapan para mantan atlet dapat menikmati hari tua mereka tanpa masalah keuangan yang menjerat.(*)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Misbun welcomes Hendrawan’s inclusion in the coaching set-up

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 29, 2009


THE more, the merrier. That was the positive reaction from national singles coach Misbun Sidek on the inclusion of former world champion Hendrawan in the coaching set-up.

Indonesian Hendrawan, the 2001 world champion, will start his duty as Malaysia’s singles coach on Wednesday.

Hendrawan, Misbun and women’s singles coach Teh Seu Bock are all under the charge of national singles chief coach Rashid Sidek.

Misbun said he would leave it to Rashid to decide on the players to be put under the charge of Hendrawan.

“For now, there has not been any discussion on that. But I am willing to accept any decision,” said Misbun.

“Hendrawan’s presence will be good for us. In fact, it will be good for some of our players to be trained by him. They will then be exposed to a different style of coaching.

“I will work with Hendrawan because, ultimately, our goal is to groom good players who can bring glory to the country.”

Misbun is likely to continue coaching Lee Chong Wei and Wong Mew Choo while Hendrawan is expected to take over the training of Mohd Hafiz Hashim and Kuan Beng Hong.

Several back-up players are also expected to be trained by Hendrawan.

On his return to coaching after being away for almost two months, Misbun said: “I was feeling quite nervous when I watched Chong Wei play (against Kenichi Tago of Japan on Friday). It has been quite a while since I last felt such excitement …

“But I am glad to be back. I will pick up the pace with Chong Wei after this tournament. We will be fully focused on getting him in top shape for the World Championships (to be held in Hyderabad, India, from Aug 10-16).”

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: