SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    December 2009
    M T W T F S S
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for December 23rd, 2009

CHINA LEAGUE – Inaugural Stage gives Top 8 Teams

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 23, 2009


SOURCE : http://www.badzine.info

Super Dan, Lin Dan, current World Champion, helped his team, top seed 81 Chivas Badminton Club to qualify for the inaugural China League final, whose qualification stage was held on Sunday. The preliminary round was held in Guangzhou from 16 to 20 December. Lin Dan (photo) did not play in the final for 81 Chivas and the strong and powerful Jiangsu Yonex team beat them 3-0 to finish first in the qualification stage for next year’s league.

The long awaited Qualification stage of the China League kicked off on 16 December with a total of 14 teams participating, hoping to be part of the main stage of the China League with only 8 teams participating. The event featured many top China players like Cai Yun & Fu Haifeng (both playing for different clubs), Bao Chunlai, Zheng Bo, He Hanbin, Xu Chen, Lu Lan, Zhu Lin, Yu Yang, Cheng Shu and Zhao Yunlei as well as Malaysia’s Choong Tan Fook (photo), who was a last-minute replacement for his compatriot Lee Chong Wei. With so many top players in action, fans in Guangzhou were treated to some fierce competition performances as the teams fought hard to earn their semi-final berths. The 14 teams taking part are Beijing Shichalai, Shanghai 1 Trillion Wade, Jiangsu Yonex, Zhejiang Tong, Fujian, Hubei SOTA, Hunan Kawasaki, Guangdong Li-Ning, Guangxi, Sichuan Chuanwei, Qingdao Beer, Xiamen Wei Shi, Guangzhou Southern, 81 Chivas. The top team of each of the four groups will enter  the semi-finals.

In the upset match between Hubei SOTX and Qingdao Beer, the entire tie took 4 hours to complete. Hubei trailing 0-2, came from behind twice to win at 3-2. Playing for Qingdao are Fu Haifeng, Zheng Bo and Du Jing. In the women’s doubles match,  Hubei’s Zhao Yunlei and Wang Li  won against Du Jing / Ma Jin.

Jiangsu had no difficulty at all in demolishing Hunan 3-1 in spite of having Bao Chunlai playing in the men’s singles for Hunan.  Guangzhou had a tough tie to beat Zhejiang 3-2 .

Actually, in early round action, 81 Chivas, lost to Shanghai 2-3 but they still qualified for semi-finals. In this match, Lin Dan beat Gu Chao 2-1.

“Both international and domestic, there are many tournaments for me to take part. I am feeling very tired. I hope after the China League, I will go back to Beijing for a good break,” said Lin Dan.  With the tie deadlocked at 2-2, singles player Zhu Lin partnered Wu Min-yu in this crucial women’s doubles match against Feng Chen/Xiong Rui. Zhu/Wu won the first game 21-16 but lost the second 18-21. In the decider, Zhu/Wu won 21-14 to enable Shanghai to upset favourite 81 Chivas.

Who qualifies?

The four teams that went to the semi-finals are 81 Chivas, Jiangsu Yonex, Hubei and home-team Guangzhou.

Besides Lin Dan, those playing for 81 Chivas are He Hanbin, Jiang Yan Jiao, Wang Xin, Pan Pan, Zhao Tingting, Xue Rui, Zhijie, Han-Qing, Luo Shuaixiong, Lu Su, Feng Chen and Rui Xiong. Playing for Jiangsu Yonex, beside Cai Yun, Xu Chen, other players are Lu Lan, Cheng Shu, Tang Jinhua, Sun Xiaoli, Li Yu, Tao Jiaming, Wang Shixian, Tanwen and Sunjie. Playing for Guangzhou are Choong Tan Fook (Malaysia), Zhang Jiewen, Yu Yang, Wang Min, Gan Zhaolong, Yangjie, Qiuhong, Deng Xuan, Mei Qi-li, and Ting Xiao-xie.

In the first semi-final, Jiangsu beat Hubei 3-0. In the first match, Wang Shixian wont he women’s singles for Jiangsu. In the second match, the mixed doubles match was won for Jiangsu by Tao Jiaming (photo) and Sun Xiaoli, who scored many key points. Hubei’s Zhao Yunlei and Wang Xiaoli lost to Cheng Shu and Tang Jinhua 0-2 in the third match women’s doubles. In the second semi-final,  81 Chivas beat Guangzhou 3-0. Han Qing and Feng Chen won the first match mixed doubles for 81 Chivas, followed by another win from Wang Xin to make it 2-0 for 81 Chivas. Pan Pan and Xue Rui wrapped up the match for 81 Chivas to clinch the berth to final.

Who won the final? (20 Dec)

Unfortunately Lu Lan of Jiangsu was not featured in the final but the team still beat 81 Chivas. Jiangsu’s Cheng Shu / Tang Jinhua, playing in the first match (women’s doubles), lost 11-21 in the first game but managed to come from behind to win 21-14 and 21-12 in the next two games to give Jiangsu a head start.  Li Yu / Zhi Luoliang won their mixed doubles match to make it 2-0 for Jiangsu. In the third match (men’s doubles), the National Games champions Cai Yun / Xu Chen had it quite easy, winning 21-15, 21-16 to thrash 81 Chivas 3-0 and capture the title for Jiangsu.

Based on the results of this year’s China League competition, 6 to 8 clubs will be selected to play in the 2010 China Badminton Club Super League (home and away system).

More information is availabe on the video made from the event by The Star HERE

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Merelakan Melepas Si Bungsu

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 23, 2009


Bulutangkis.com – Tak pernah terbayang di benak Herawati Kusumo (50) bakal melepas putra bungsunya Rendy Sugiarto untuk menekuni bulutangkis sebagai pilihan hidupnya. Nyatanya, saat ini Rendy sudah mantap merajut masa depan di kawah candradimuka bulutangkis Indonesia di pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta.

Sejak berusia 3 tahun, Rendy sudah mulai memegang raket. Biasanya, si kecil Rendy bermain dengan pembantu rumah tangga orangtuanya, pasangan Iman Sugiarto-Herawati. Dua kakak perempuan Rendy, Elli Kurnia Dewi dan Ita Kurnia Dewi, tak ada yang menekuni bulutangkis.

“Umur 3 tahun saya belikan dia raket mainan dari plastik. Umur 4 tahun minta raket besi. Umur 5 tahun sudah berlatih bulutangkis di Purwokerto,” kenang Herawati. Domisili Herawati di Banyumas membuat perjalanan 18 km ke Purwokerto harus ditempuh Rendy setiap hari Senin hingga Jumat. Cara ini ditempuh karena hanya di Purwokerto ada pelatih yang bisa melatih Rendy.

“Sebetulnya Didit Mardito yang jadi pelatih pertama Rendy tak menerima murid selain anaknya. Tapi karena sewaktu dites bisa menang lawan anaknya, Rendy diterima jadi murid,” ujar Herawati yang memiliki toko sembako di rumah sebagai sandaran hidupnya. Setelah Rendy lulus SD di tahun 2003, dia meminta untuk ikut seleksi ke PB Djarum Kudus. Meski berat, Herawati meluluskan permintaan itu dan mengantar Rendy ikut seleksi. Hasilnya, Rendy dinyatakan lulus.

Hanya saja, keberhasilan itu membuat Herawati harus berpisah dengan putra bungsu kesayangannya. Setiap atlet yang lolos seleksi dan bergabung dengan PB Djarum memang harus tinggal di asrama yang sudah disediakan. “Di usia 12 tahun sudah harus tinggal sendiri terpisah dengan orangtua. Saya sebetulnya tidak tega. Tapi sejak kecil memang Rendy memiliki keinginan yang kuat jika sudah punya mau,” kata Herawati.

Setelah diterima, Rendy meminta orangtuanya untuk tak pulang ke Banyumas. Padahal jarak Banyumas-Kudus harus ditempuh selama enam jam. Iman dan Herawati tak kurang akal. Selama dua bulan, Iman tinggal di rumah kakaknya di Semarang, yang hanya berjarak satu jam perjalanan dari Kudus. “Tiap sore suami saya datang menemani Rendy latihan di Kudus. Saya yang menjaga rumah. Setelah dua bulan Rendy baru mau ditinggal,” kata Herawati.

Lantaran tetap menyimpan rasa khawatir, Herawati kerap merasa deg-degan jika Rendy menghubunginya lewat telepon. “Takut ada kenapa-kenapa. Saya khawatir dia sakit karena dia memang gampang sakit,” tutur Herawati lagi. Ketika Rendy menginjak bangku SMP kelas 2 kekhawatiran sang ibu itu terjadi. Rendy terserang penyakit tipus dan demam beradarah. Akibatnya, Rendy tak bisa berlatih selama dua bulan dan dibawa pulang ke Banyumas.

Setelah itu, hingga duduk di SMA kelas satu Rendy kembali tinggal bersama orangtuanya. Namun ketika naik ke kelas dua SMA, Rendy memutuskan untuk pergi ke Jakarta. Tekadnya sudah bulat untuk kembali menekuni bulutangkis. “Saat itu saya sudah tak terlalu khawatir lagi. Hanya saja, saya berpesan padanya untuk memilih, sekolah atau bulutangkis. Soalnya kalau ditekuni dua-duanya sulit untuk dijalankan. Harus pilih salah satu,” ungkap Herawati.

“Sebetulnya saya juga tak tega. Apalagi di rumah mereka hanya tinggal berdua karena kakak saya juga tinggal di luar kota. Tapi justru papa-mama memberikan dukungan sehingga saya bisa tenang,” kata Rendy. Ketika tiba di Jakarta, Rendy bergabung dengan PB Ratih Tangerang. Sempat bertahan setahun, Rendy masuk ke PB Djarum yang bermarkas di Petamburan, tempat penggodokan atlet nomor ganda.

“Setelah di Jakarta Rendy banyak cerita soal keadaan asrama. Saya jadi lebih tenang karena tahu rasa persaudaraan di klubnya itu sangat kental. Pilihannya untuk menunda pendidikannya setelah lulus SMA juga saya terima,” kata Herawati. Hal yang diingat Rendy adalah dukungan tanpa henti yang diberikan orangtuanya. “Kalau masih bisa dijangkau, mereka selalu menyempatkan diri menyaksikan saya bertanding jika ikut turnamen. Seingat saya paling jauh mereka datang ke Bandung. Sayangnya saat itu saya tak bisa jadi juara,” kata Rendy sambil tertawa.

Herawati tak memaksa Rendy untuk sekolah atau meneruskan usaha toko yang dikelolanya bersama sang suami. “Umur tak bisa menunggu. Padahal untuk jadi atlet ada usia emasnya. Saya relakan Rendy untuk menekuni bulutangkis,”.

Setahun berikutnya, di awal tahun 2009, Rendy diterima masuk pelatnas pratama. Tak lama bergabung dengan pelatnas pratama, Rendy mengukir prestasi internasional. Dalam Kejuaraan Asia Yunior, gelar juara ganda putra disabet Rendy yang berpasangan dengan Angga Pratama. Meski mulai mengukir prestasi, harapan Herawati buat anaknya masih panjang. “Selama ini Rendy masih sering diganti-ganti pasangannya. Semoga dia cepat menemukan rekan terbaik. Sehingga bisa meraih prestasi lainnya,” harap Herawati. (Contribute by: Image Dynamics)

Nama : Rendy Sugiarto

TTL : Banyumas, 16 Agustus 1991

Prestasi :

• Juara I Ganda Putra Badminton Asia Youth Under 19 tahun 2009

• Juara III Ganda Putra BWF World Junior Championship

tahun 2009

• Juara I Ganda Putra Kejurnas Solo 2007

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hadiah Miliaran Rupiah untuk Bulutangkis Setiap Tahun Pasti Meningkat

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 23, 2009


Bulutangkis.com – Turnamen atau kejuaraan, di mata seorang atlet tentu mempunyai arti yang sangat penting. Tanpa adanya turnamen, rasanya akan sia-sia atlet itu berlatih keras setiap hari. Dari sinilah atlet itu unjuk kebolehan, mengeluarkan segala yang telah dipelajarinya selama latihan. Turnamen dijadikan alat untuk mengukur sampai sejauh mana atlet itu menggembleng diri mereka. Pada akhirnya, prestasi yang menjadi ukuran. Semakin tinggi prestasi diraih, semakin berhasil pula pembinaan atlet itu. Sistem pembinaan harus terus memacu atlitnya untuk mengikuti turnamen.

Sedemikian penting arti sebuah turnamen sehingga banyak pelatih dan tentu saja atlet menempatkan turnamen sebagai puncak penampilan yang harus diraih pada periode tertentu. Sebagai contoh, banyak atlet mengidamkan gelar All England Super Series. Tentu banyak alasan mengapa turnamen itu dianggap sebagai ajang seorang atlet bulutangkis menemukan jati dirinya di turnamen bulutangkis tertua di dunia itu.

Yang tidak kalah penting dari suatu turnamen adalah hadiah. Tidak bisa dipungkiri hadiah merupakan salah satu faktor prestisenya suatu turnamen dan penarik bagi atlet untuk meraih juara. Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI) pun saat ini tengah berusaha meningkatkan mutu turnamen bulutangkis di Indonesia. PB PBSI tentu ingin agar anak bangsa dapat berprestasi di tingkat dunia. Untuk menjadikan atlet kualitas dunia, salah satunya adalah meningkatkan hadiah turnamen, sehingga merangsang insan bulutangkis untuk berlomba menjadi yang terbaik.

Hadiah Meningkat Tajam

PB PBSI pun menggandeng pihak-pihak swasta untuk bersama-sama meningkatkan prestise turnamen. Dengan total hadiah Rp 4,9 miliar uang tunai yang diberikan pada berbagai kalender turnamen nasional dan internasional di Indonesia selama tahun 2009, seperti Djarum Indonesia Open Super Series, Astec Indonesia International Challenge, Djarum Sirkuit Nasional, Kejurnas, dan berbagai kejuaraan bulutangkis swasta nasional sesuai kalender PB PBSI.

Angka ini luar biasa. Meningkat tajam dibanding tahun lalu. Pada 2008, total hadiah yang diberikan untuk turnamen besar bulutangkis di Indonesia sesuai kalender nasional adalah Rp 3,6 miliar dengan nilai terbesar diberikan oleh Djarum Indonesia Open Super Series 2008, yang menyediakan hadiah US$ 250.000 atau sekitar Rp 2,5 miliar.

Sementara itu, untuk turnamen Sirkuit Nasional mengalami peningkatan hadiah yang tajam, bila tahun 2008 total hadiah yang diberikan untuk seluruh rangkaian Sirkuit Nasional di 8 kota adalah Rp 400 juta. Pada tahun 2009, setelah Djarum masuk sebagai sponsor utama Sirkuit Nasional, total hadial menjadi Rp 1,4 miliar.

Menurut Ketua Bidang Turnamen dan Perwasitan PB PBSI Mimi Irawan, total hadiah bulutangkis di 2009 sangat meningkat tajam dibandingkan tahun 2008. Secara total keseluruhan event PB PBSI dengan dukungan sponsor utama PT. Djarum dari Rp 3.6 milyar menjadi Rp 4.9 milyar. Namun PB PBSI dan sponsor utama Sirkuit Nasional khususnya juga memiliki misi yang sama untuk mendukung pembinaan bulutangkis di Indonesia. Dukungan itu membuat berbagai kejuaraan, seperti Sirkuit Nasional semakin bermutu dan berkualitas. Tentunya sekaligus menjadi tantangan atlet Indonesia untuk berprestasi dan klub-klub menjadi bergairah melakukan pembinaan yang berkesinambungan.

Tahun 2010 berbagai turnamen dan hadiah pun tengah dipersiapkan oleh PB PBSI dan sponsor dengan asumsi angkanya lebih besar lagi. “Djarum Sirkuit Nasional 2010 total hadiahnya menjadi sekitar Rp 1,7 miliar dan digelar di 9 kota. Di samping itu, Indonesia rencananya akan menggelar satu lagi turnamen internasional, Indonesia Grand Prix Gold, yang memberikan total hadiah Rp 1,2 miliar. Dengan demikian, asumsi total hadiah tahun 2010 untuk turnamen bulutangkis ini pun menjadi sekitar Rp 6, 7 miliar. Dibandingkan dengan tahun 2008, maka asumsi total hadiah tahun 2010 untuk peningkatannya saja mencapai 88%, ini cukup signifikan” tambah Mimi.

Kenaikan hadiah bulutangkis tentunya menjadi tantangan dan semangat bagi para atlet. Pemain senior yang juga masih berprestasi Budi Santoso mengatakan, besarnya hadiah yang ditawarkan Sirkuit Nasional tahun 2009 merupakan yang terbesar. “Dulu-dulu, sebelum ada sponsor, hadiahnya masih di bawah standar. Lagi pula, antara satu daerah dengan daerah lainnya tidak sama tergantung co-sponsor di daerah itu. Kini, semua daerah sama besarnya jumlah hadiahnya,” kata pemain Mutiara Bandung ini.

Saat ini, kata Budi, pemenang dari nomor tunggal dewasa putra mendapat Rp 12,4 juta. Naik hampir tiga kali lipat dibanding tahun 2008. “Tahun lalu, saat saya merebut gelar juara, paling tinggi prize money yang saya terima hanya Rp 4,5 juta. Semoga tiap tahun hadiahnya bertambah,” canda mantan pemain Pelatnas ini.

“Bukan mata duitan lho. Namun, ini sangat penting. Sebenarnya ada positifnya juga dengan tingginya hadiah, antara lain anak-anak tidak ada yang mau mencuri umur lagi. Saat ini, banyak pemain kita di luar negeri karena antara lain hadiah turnamen yang disediakan selama ini kecil. Ini menjadi yang negatif bagi pembinaan karena di Indonesia akan kurang sparing. Jika hadiah tinggi, maka itu akan menekan perginya pemain potensial ke luar negeri. Di samping itu, dengan tersedianya turnamen berkelas di Tanah Air, maka tidak perlu lagi bertanding di luar negeri yang tentu biayanya akan sangat mahal.”

Daya Tarik Pemain

All England merupakan salah satu turnamen yang diinginkan setiap pebulutangkis mana pun karena turnamen ini mempunyai sejarah panjang, sebagai turnamen tertua di dunia. Namun, jika dilihat dari besarnya hadiah, turnamen ini bukan lagi menjadi yang paling prestisius. Bahkan, jumlah hadiah yang ditawarkan di bawah prize money Djarum Indonesia Open Super Series 2009 yang sudah menyentuh angka US$ 250.000, sedangkan All England Super Series US$ 200.000.

Djarum sebagai sponsor ingin mengangkat pamor turnamen di Indonesia dan di mata dunia perbulutangkisan. Dengan tersedia nilai hadiah besar , turnamen akan menjadi magnet bagi atlet elite dunia. Bukan rahasia lagi bila atlit-atlit dari Asia melirik turnamen Super Series karena menjadi tantangan selain prestasi. Namun, setelah hadiah turnamen meningkat, hampir semua pebulutangkis elite dari raksasa bulutangkis dunia sekalipun, hadir di Jakarta bertarung dengan elite-elite pebulutangkis dari belahan dunia lainnya. Mereka bertarung demi gengsi, kejayaan, dan juga hadiah yang besar seperti Djarum Indonesia Open Super Series 2009.

Selain Djarum Indonesia Open Super Series, peningkatan kualitas turnamen tingkat nasional pun terlihat di Djarum Sirkuit Nasional. Tahun ini, turnamen yang ditujukan untuk mencari bibit masa depan tersebut membuka pintunya bagi sponsor. Dari sisi hadiah, Sirkuit Nasional mengalami peningkatan sangat tajam. Tentu saja, ini menjadi keuntungan bagi pebulutangkis Indonesia. Hadirnya sponsor yang memberikan hadiah besar bagi para juara menjadikan peningkatan prestise Sirkuit Nasional dan antusias atlet mengikuti turnamen ini menjadi lebih tinggi.

Indonesia akan memiliki bibit pemain potensial cukup banyak jika semakin banyak terselenggaranya turnamen dan semakin besar hadiahnya di dalam negeri. “Ujian bagi seorang pemain ya turnamen,” ujar pemain senior Tri Kusharjanto. Sirkuit Nasional yang kini semakin tertata, katanya, akan menjadikan atlet bulutangkis Indonesia memiliki banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan, menajamkan smash, memperlincah footwork, dan memperbaiki mental bertanding. Ditambah dukungan hadiah yang besar, Sirkuit Nasional tentu menjadi incaran para atlet, termasuk atlet usia muda untuk meniti karir sebagai atlit masa depan.

Sejalan dengan itu, Febby Angguni yang berhasil meraih juara di Djarum Sirkuit Nasional Jawa Tengah mengungkapkan, Sirkuit Nasional sangat membantunya sebagai atlet generasi baru untuk melatih dan memperkuat tehnik bermain. “Saya semakin terasah di sini, dan ini menjadi bekal saya bertanding di turnamen internasional. Hadiah yang saya terima ini pun menjadi bekal masa depan saya untuk bisa mendapatkan pendidikan dan latihan bulutangkis yang terbaik,” kata pemain asal Bandung ini.

Sirkuit Nasional yang tahun depan rencananya akan digelar dalam sembilan kota ini pun akan ditambah hadiahnya. Tidak dipungkiri lagi, hadiah akan merangsang semua pihak untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Selain itu, bagi atlet muda, dengan prestasi mereka berkesempatan untuk menuju jenjang yang lebih bergengsi. Regenerasilah yang mampu menjawab tantangan bulutangkis Indonesia di mata Internasional. Maju bulutangkis Indonesia. (Contribute by: Image Dynamics)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Turkiye International 2009 : Viki Indrana Okvana/Gustiani Megawati Raih Juara

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 23, 2009


Bulutangkis.com – Pebulutangkis Indonesia meraih gelar juara pada kejuaraan bulutangkis Turkiye International 2009 yang berlangsung di Bagcilar Olympic Sport Hall, Istanbul, Turki pada hari Minggu kemarin (20/12/09).

Pada kejuaraan bulutangkis sekelas International Series dengan hadiah total USD 5.000, Viki Indrana Okvana/Gustiani Megawati meraih gelar juara pada nomor ganda campuran. Viki Indrana Okvana/ Gustiani Megawati yang tampil di final menyingkirkan ganda campuran Denmark Tore Villhelmsen/ Sara Thygesen dua set langsung dengan skor 21-11, 21-18.

Sementara pada nomor ganda putra pebulutangkis Indonesia Imam Sodikin yang berpasangan dengan pebulutangkis Swedia Joel Johansson Berg meraih gelar juara. Imam Sodikin/ Joel Johansson Berg di final kemarin menang WO (Walk Over) atas ganda putra Kroasia Zvonimir Durkinjak/ Zvonimir Hoelbling.

Gustiani Megawati yang juga turun di nomor tunggal putri langkahnya hanya sampai babak semi final setelah ditaklukkan tunggal putri Denmark Anne Hald Jensen unggulan dua lewat pertarungan tiga set 13-21, 21-14, 13-21. Sementara di final Anne Hald Jensen di final takluk saat berhadapan dengan tunggal putri tuan rumah Turki Li Shuang 14-21, 16-21.

Rudy Ignatius yang turun di tunggal putra dan memulai pertandingan melalui babak kualifikasi terhenti langkahnya di babak perempat final saat berhadapan dengan pebulutangkis Finlandia Ville Lang. Rudy Ignatius harus mengakui keunggulan Ville Lang yang merupakan unggulan satu dengan skor 16-21, 18-21. Sementara Ville Lang meraih gelar juara setelah di final kemarin menyingkirkan Henri Hurskainen pebulutangkis Swedia unggulan dua dengan skor 21-14, 21-23, 21-19.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

BWF World Ranking Top 100 Peringkat Atlit Indonesia per 17 Desember 2009

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 23, 2009


Bulutangkis.com – Tiga pebulutangkis Indonesia berada di tiga besar tunggal putra berdasarkan daftar peringkat bulutangkis yang dikeluarkan BWF (Badminton World Federation) pada 17 Desember 2009. Taufik Hidayat berada di posisi 3 dan masih yang terbaik di antara tunggal putra Indonesia lainnya.

Simon Santoso yang baru meraih medali emas beregu dan perorangan bulutangkis di

SEA Games XXV Laos berada di posisi 6. Sementara Sony Dwi Kuncoro berada di posisi 7.

Sementara Andre Kurniawan Tedjono dan Dionysius Hayom Rumbaka berada di posisi 31 dah 38. Hasil pertandingan India Open Grand Prix 2009 yang diikuti kedua pemain Klub Djarum ini masih belum diperhitungkan. Andre Kurniawan Tedjono melangkah hingga babak perempat final. Sementara Hayom tampil di final, sayang gagal menundukkan pebulutangkis tuan rumah India Chetan Anand.

Tunggal putri terbaik Indonesia Adrianti Firdasari berada di posisi 16, sementara Maria Febe Kusumastuti berada di posisi 30 naik satu tingkat dari minggu lalu. Poin Maria Febe pada India Open Grand Prix 2009 juga belum diperhitungkan, dimana Maria Febe melangkah hingga babak semi final.

Dua ganda putra Indonesia masih berada di posisi 10 besar. Markis Kido/Hendra Setiawan baru meraih medali emas beregu dan perorangan bulutangkis di

SEA Games XXV Laos berada di posisi 3 dan Alvent Yulianto Chandra/ Hendra Aprida Gunawan berada di posisi 5. Sementara dua ganda putra pelatnas masuk 20 besar yaitu Ahsan Mohammad/ Bona Septano di posisi 14 dan Rian Sukmawan/ Yonathan Suryatama Dasuki di posisi 16.

Peringkat ganda putri juga tidak mengalami perubahan bagi dua pasangan ganda putri pelatnas. Shendy Puspa Irawati/ Meiliana Jauhari berada di posisi 8 dan Greysia Polii/ Nitya Krishinda Maheswari berada di posisi 12. Kedua pasangan ganda putri Indonesia ini gagal meraih medali emas di pada nomor perorangan SEA Games XXV Laos. Pada nomor beregu putri mereka memperoleh medali perak.

Pasangan ganda campuran Nova Widianto/ Lilyana Natsir yang baru meraih medali emas di SEA Games XXV 2009 di Laos berada di posisi 2, diikuti pasangan ganda campuran non-pelatnas Hendra Aprida Gunawan/ Vita Marissa pada posisi 6. Sementara dua ganda campuran Indonesia lainnya berada di posisi 20 besar yaitu Devin Lahardi Fitriawan/ Lita Nurlita di posisi 13, sementara Fran Kurniawan/ Pia Zebadiah Bernadet berada di posisi 19 naik satu tingkat dari minggu lalu. (Contribute by: Fildzah Adhania)

Tunggal Putra :

3. Taufik Hidayat

6. Simon Santoso

7. Sony Dwi Kuncoro

31. Andre Kurniawan Tedjono

38. Dionysius Hayom Rumbaka (+1)

87. Tommy Sugiarto (+1)

Tungal Putri :

16. Adrianti Firdasari

30. Maria Febe Kusumastuti (+1)

51. Fransiska Ratnasari (+1)

52. Maria Kristin Yulianti (+1)

Ganda Putra :

3. Markis Kido/Hendra Setiawan

5 Alvent Yulianto CHandra/Hendra Aprida Gunawan

14. Ahsan Mohammad/Bona Septano

16. Rian Sukmawan/Yonathan Suryatama Dasuki

36. Lingga Lie/Fernando Kurniawan (+1)

37. Luluk Hadiyanto/Joko Riyadi (+1)

45. Afiat Yuris Wirawan/Wifqi Windarto

90. Joko Riyadi/Candra Wijaya

96. Flandy Limpele/Halim Haryanto Ho [INA/USA]

Ganda Putri :

8. Shendy Puspa Irawati/Meiliana Jauhari

12. Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari

32. Annisa Wahyuni/Anneke Feinya Agustin

59. Nadya Melati/Vita Marissa

62. Debby Susanto/Pia Zebadiah Bernadet (+1)

70. Dewi Komala/Keshya Nurvita Hanadia (+1)

71. Vita Marissa/Mona Santoso [INA/USA] (+1)

Ganda Campuran :

2. Nova Widianto/Lilyana Natsir

6. Hendra Aprida Gunawan/Vita Marissa

13. Devin Lahardi Fitriawan/Lita Nurlita

19. Fran Kurniawan/Pia Zebadiah Bernadet (+1)

32. Flandy Limpele/Anastasia Russkikh [INA/RUS]

36. Ahmad Tontowi/Richi Dili Puspita (+1)

47. Muhammad Rijal/Debby Susanto (+1)

87. Flandy Limpele/Cheng Wen Hsing [INA/TPE] (+2)

96. Flandy Limpele/Vita Marissa (+2)

Keterangan :

( – ) : Turun peringkat

( +) : Naik peringkat

(* ) : Pemain yang baru masuk 100 besar.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Kido/Hendra Tinggalkan Cipayung Kembali ke Klub, Janji Tampil jika Dibutuhkan Timnas

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 23, 2009


JAKARTA – Kegagalan baru saja dituai PB PBSI di SEA Games XXV/2009 Laos. Dalam even yang berakhir pekan lalu itu, pasukan Cipayung, markas pelatnas PB PBSI, hanya merebut empat emas. Padahal, olahraga yang senantiasa menjadi kebanggaan Indonesia tersebut menargetkan lima emas.

Melengkapi kegagalan itu, mencuat kabar tentang tidak kondusifnya kondisi Cipayung. Salah satunya terindikasi dari rencana mundurnya pasangan ganda pria peraih emas Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido/Hendra Setiawan. “Kebetulan, kontrak kami habis akhir Desember ini. Saya rasa, ini waktu yang tepat untuk mundur,” kata Kido kepada Jawa Pos kemarin (21/12).

Kenapa Kido memutuskan untuk meninggalkan Cipayung? Dia menyatakan, kondisi kesehatannya tidak cukup kuat untuk tetap di Cipayung. Cedera lutut kiri yang tak kunjung sembuh membuat penampilannya bersama Hendra di beberapa ajang internasional menurun. Sepanjang tahun ini, mereka hanya merebut dua gelar super series, di Jepang dan Prancis.

Bukan hanya cedera lutut yang membuat Kido mantap untuk meninggalkan Cipayung. Pada Agustus lalu, Kido/Hendra tidak dikirim ke kejuaraan dunia di Hyderabad, India, karena masalah kesehatan. Kido mengalami hipertensi. “Sejak saat itu, saya tidak mampu mengikuti program latihan di pelatnas dengan baik,” ungkapnya.

Pelatih yang menangani Kido, Sigit Pamungkas, juga tak berani memberikan porsi latihan penuh. Atas dukungan Sigit, Kido/Hendra tetap bertahan hingga selesai melakoni pertandingan pada SEA Games XXV. Hasilnya, Kido/Hendra menuai medali emas dari nomor perorangan.

Soal hipertensi, PB PBSI membuat regulasi yang dianggap Kido memuaskan. Sebab, dalam klausul kontrak dengan PB PBSI, pemain akan menanggung risiko sendiri jika terjadi satu masalah di lapangan. Padahal, Kido menanggung risiko kolaps yang bisa berujung maut di lapangan. “Karena itu, saya memilih mundur,” tegas atlet kelahiran Jakarta, 11 Agustus 1984, tersebut.

Sebenarnya, kondisi Hendra tidak bermasalah seperti Kido. Namun, karena sudah lama berpasangan dengan Kido, dia kompak meninggalkan pelatnas. Mereka memang sudah bersama sejak masih di PB Jaya Raya.

Sekjen PB PBSI Jacob Rusdiyanto belum dapat memberikan keputusan atas nasib Kido/Hendra. “Kami baru pulang dari SEA Games. Agenda terdekat adalah mengevaluasi prestasi selama setahun ini,” ujarnya. “Untuk urusan Kido/Hendra, kami akan bahas selanjutnya,” imbuh pria asal Surabaya tersebut.

Dalam perhitungan PB PBSI, akan ada 78 pemain di pelatnas utama. Sebanyak 39 atlet pemain pelatnas pratama akan pindah dari Magelang ke Cipayung. Kali ini PBSI tak perlu memulangkan pemain lebih dulu seperti saat ada pergantian pengurus tahun lalu. Kontrak pemain akan dilakukan awal Januari nanti. “Maret setelah ada hasil seleknas akan ditentukan pemain yang keluar dan yang masuk,” papar Jacob. (vem/ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: