SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    December 2009
    M T W T F S S
    « Nov   Jan »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for December 31st, 2009

TULISAN AKHIR TAHUN – LAMPU KUNING BULU TANGKIS INDONESIA

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 31, 2009


OLEH FITRI SUPRATIWI

Jakarta, 29/12 (Antara/FINROLL News) – Hasil SEA Games di Laos yang berlangsung pertengahan Desember mencerminkan posisi bulu tangkis Indonesia saat ini.

Meski tetap meraih gelar juara umum dengan empat medali emas, dua perak dan dua perunggu, hasil tersebut tidak sebanding dengan raihan dua tahun lalu di Thailand saat Merah Putih meraup ketujuh medali emas yang diperebutkan pada cabang bulu tangkis.

Mengandalkan materi pemain yang relatif sama, masih dengan pemain-pemain senior, terbukti tidak lagi menjadi jaminan untuk meraih sukses meraup medali.

Itu dalam ruang lingkup Asia Tenggara, tempat pesaing-pesaing kuat seperti Korea, Jepang, China, dan Denmark tidak masuk dalam hitungan.

Di tingkat dunia, gagalnya Indonesia meraih satu gelar pun pada Kejuaraan Dunia 2009 di India, Agustus, setelah pada 2007 membawa pulang dua gelar melalui pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Liliyana Natsir, juga memberi bukti nyata bahwa bulu tangkis Indonesia harus segera dibenahi. Pada 2008, kejuaran iu tidak digelar karena ada Olimpiade.

Perginya beberapa pemain berpengalaman meninggalkan pelatnas, sedikit banyak juga berpengaruh dalam ajang beregu.

Dalam kejuaraan dunia beregu campuran Piala Sudirman yang digelar Mei di Guangzhou, China, tim Indonesia yang menurunkan gabungan pemain berpengalaman dan yang belum berpengalaman hanya mencapai semifinal.

Hasil tersebut lebih buruk dari dari dua tahun lalu di Glasgow, Skotlandia, ketika tim Merah Putih masih bisa lolos ke final meskipun akhirnya dibabat 0-3 oleh juara bertahan China.

Pada ajang Super Series yang merupakan 12 rangkaian turnamen sepanjang tahun, Indonesia tercatat hanya meraih lima gelar dari total 60 gelar. Tahun sebelumnya Indonesia masih mampu mengumpulkan 10 gelar Super Series.

Dengan semua kenyataan tersebut, bisa dibilang 2009 adalah tahun minim prestasi bagi bulu tangkis nasional di ajang internasional.

“Pada prinsipnya prestasi tahun ini menurun dibanding tahun lalu, itu dapat dilihat dari perolehan gelar,” kata Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Lius Pongoh mengakui kondisi tersebut.

Padatnya jadwal turnamen, menurut Ketua Sub Bidang Pelatnas PB PBSI Christian Hadinata, turut mempengaruhi performa atlet dalam bertanding karena ketika masih melakukan pemulihan, mereka sudah harus bertanding lagi.

Dalam setahun, selain Super Series, turnamen reguler yang banyak diikuti pebulu tangkis nasional adalah grand prix dan grand prix gold, di samping kejuaraan Dunia dan beregu (Thomas-Uber atau Sudirman) yang setiap tahun juga diselenggarakan.

“Perlu keberanian untuk mengurangi jadwal bertanding terutama bagi atlet-atlet senior dan papan atas, agar mereka bisa menjaga penampilan tetap prima,” kata Christian.

“Bagi atlet-atlet papan atas seperti pasangan Kido/Hendra dan Nova/Liliyana, lebih penting menjaga kondisi, bukan bertanding sebanyak-banyaknya karena sudah tidak membutuhkan pengalaman bertanding lagi,” kata arsitek sejumlah ganda putra terkemuka itu.

Selain rawan cedera, kelelahan karena terlalu banyak bertanding yang mengakibatkan buruknya penampilan membuat pemain sekaliber mereka kehilangan rasa percaya diri.

“Karenanya lebih baik jika mengikuti beberapa turnamen saja, tetapi selalu tampil menjadi juara daripada ambil bagian dalam setiap turnamen tetapi prestasinya naik-turun,” kata Christian seraya mencontohkan juara Olimpiade asal China Lin Dan yang hanya mengikuti beberapa turnamen dalam setahun tetapi hampir selalu menjadi juara ketika ia tampil.

Masih berlanjut

Minimnya prestasi bulu tangkis Indonesia diakui Lius masih akan berlanjut pada tahun depan dengan keterbatasan pemain yang mumpuni setelah sejumlah pemain senior meninggalkan pelatnas.

Terakhir pasangan juara Olimpiade Markis Kido/Hendra Setiawan mengajukan surat pengunduran diri dari tim nasional usai memperkuat tim SEA Games dan berhasil menyumbang medali emas.

“Tahun depan prestasi bulu tangkis mungkin tidak berbeda jauh dari sekarang, tidak mungkin pemain-pemain yang tadinya belum apa-apa tiba-tiba melejit,” katanya.

Jika pengunduran diri mereka diterima, Kido/Hendra akan menyusul sejumlah pendahulunya seperti Taufik Hidayat, Vita Marissa, Alvent Yulianto dan Hendra Aprida Gunawan, menjadi pemain profesional.

Beratnya program latihan di Pelatnas diakui Kido sudah tidak dapat ia ikuti karena sakit yang ia derita menuntutnya untuk tidak melakukan aktifitas fisik yang terlalu berat.

Bukan hanya atlet yang keluar pelatnas tahun ini. Pada pertengahan tahun, pecinta olah raga bulu tangkis di Tanah Air juga dikejutkan dengan perginya mantan juara dunia dan peraih medali perak Olimpiade Sydney 2000 Hendrawan, pelatih tunggal putra, yang pergi ke negeri jiran Malaysia untuk melatih di sana.

Tidak cukup dengan itu, pengganti Hendrawan yang menangani tunggal putra, Davis Efraim, juga telah menyusul pendahulunya dengan menyatakan pengunduran dirinya pada akhir Desember untuk melanjutkan karir melatihnya di Jepang.

Namun menurut Sekjen PB PBSI Yacob Rusdianto, PBSI telah menyiapkan pengganti pelatih tunggal putra dengan memanggil pelatih Klub Djarum Kudus Agus Dwi Santoso, sehingga tidak ada kekosongan pelatih untuk menghadapi 2010 yang padat kompetisi.

Selain turnamen reguler, ajang penting pada 2010 di antaranya adalah kualifikasi Piala Thomas dan Uber dilanjutkan dengan putaran final jika lolos, ditambah Kejuaraan Dunia dan Asian Games yang butuh persiapan matang.

Lius mengatakan, tahun depan PBSI masih harus mengandalkan pemain-pemain senior dalam berbagai kompetisi penting tersebut.

“Untuk kualifikasi Piala Thomas dan Uber tidak mungkin menurunkan pemain muda, karena pasti tidak akan lolos. Mau tidak mau kita tetap mengandalkan yang senior karena lawan-lawannya berat,” kata Lius yang juga menyebutkan kemungkinan akan mengambil pemain dari luar pelatnas.

Mengandalkan pemain senior pun bukan berarti Indonesia bisa dengan mudah melaju ke putaran final yang akan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Mei. Meski tanpa juara bertahan China dan tuan rumah Malaysia yang otomatis lolos ke putaran final, masih ada Korea, Jepang, Thailand, dan India yang akan berebut tempat di putaran final turnamen bulu tangkis beregu paling bergengsi itu.

Namun, terlepas dari semua itu PBSI telah menegaskan bahwa pada 2010 akan lebih berkonsentrasi melakukan pembinaan terhadap pemain-pemain muda untuk menyiapkan mereka menggantikan senior-seniornya.

“Untuk 2010 kita akan menyiapkan yang muda-muda. Mungkin tidak bisa dituai sekarang tetapi baru kelihatan hasilnya pada periode kepengurusan yang akan datang. Tetapi itu tidak masalah,” kata Lius.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Denmark Borong Gelar di Copenhagen Masters

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 31, 2009


JAKARTA, KOMPAS.com — Tuan rumah turnamen invitasi Copenhagen Masters, Denmark, memborong empat gelar yang dipertandingkan dalam turnamen tersebut. Pada babak final, Selasa (29/12/2009) petang atau Rabu dini hari WIB, empat wakilnya menaklukkan semua lawan mereka.

Menurut situs resmi turnamen (www.badmintondenmark.com), Tine Rasmussen juara tunggal putri. Meski harus berjuang dalam tiga game, dia mampu mengalahkan pemain Malaysia, Lydia Cheah, 21-11, 18-21, 21-10 sekaligus mempertahankan gelar yang ia raih tahun lalu.

Sementara itu, pasangan juara dunia 2003, Lars Paaske/Jonas Rasmussen, unggul dalam pertarungan antarsesama pemain Denmark. Mereka menaklukkan Mathias Boe/Carsten Mogensen 21-16, 22-20.

Adapun pasangan juara dunia 2009, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl, meraih kemenangan atas ganda campuran Polandia, Roberts Mateusiak/Nadiezda Kostiuczyk. Kemenangan diraih tanpa harus bertanding karena pasangan Polandia tidak dapat bertanding setelah Mateusiak cedera pada kaki kirinya.

“Tentu sayang sekali kami tidak memainkan pertandingan final di hadapan begitu banyak penonton. Namun, kami senang kembali lagi ke lapangan dan turnamen ini telah membuat kembalinya kami menjadi hebat,” kata Kamilla melalui laman resmi turnamen.

Gelar tunggal putra diraih pemain muda Denmark yang sedang menanjak, Jan O Jorgensen. Dia tanpa kesulitan mengalahkan pemain Belanda, Dicky Palyama, 21-7, 21-14 dalam debutnya pada turnamen tersebut.

“Saya tidak memperkirakan ini pada awal tahun. Hanya diundang pun saya senang, tetapi memenanginya sungguh luar biasa. Saya berharap bisa bermain dalam turnamen besar ini pada tahun yang akan datang dan semoga menang lagi,” katan Jan yang akan berusia 22 tahun pada 31 Desember.

Indonesia juga ambil bagian dalam turnamen yang selalu digelar pada akhir tahun itu. Sayang, tiga wakil, yakni Simon Santoso, pasangan Markis Kido/Hendra Setiawan, dan Nova Widianto/Liliyana Natsir, semuanya tersisih sebelum mencapai final.

Ketiganya berangkat menuju Kopenhagen hanya sepekan setelah kembali dari Laos untuk memperkuat kontingen Indonesia di SEA Games XXV Laos. Pada event dua tahunan itu, mereka berhasil mempersembahkan medali emas.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: