SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    June 2010
    M T W T F S S
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 22nd, 2010

Alamsyah ke Putaran Kedua, Adnan dan Andreas Terhenti

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


Bulutangkis.com – Alamsyah Yunus melaju ke putaran kedua babak kualifikasi Djarum Indonesia Open Super Series 2010 setelah berhasil menaklukkan pebulutangkis Taipei Hsueh Hsuan Yi dua set langsung 21-8, 21-15 di Istora Senayan, Jakarta siang tadi (Selasa, 22/06/10).

Pada putaran kedua babak kualifikasi sore nanti Alamsyah Yunus akan berhadapan dengan pebulutagnkis asal Korea Selatan Hong Ji Hoon yang melaju ke putaran kedua babak kualifikasi dengan menyingkirkan pebulutangkis Indonesia dari PB Djarum Andreas Adityawarman dua set langsung 21-9, 21-13.

Sementara Adnan Fauzi juga terhenti langkahnya saat menghadapi pebulutangkis Hong Kong Wong Wing Ki dengan skor 11-21, 10-21. Adnan Fauzi mengungkapkan kegagalannya ini karena memang tidak mempersiapkan diri secara maksimal. ‘’Saya hanya berpartisipasi. Target saya pada Malaysia Open GP 2010 yang akan berlangsung awal juli depan,’’ ungkap Adnan.

Pada nomor ganda putri pasangan pelatnas pratama Gebby Ristiyani/ Tiara Rosalia melaju ke putaran kedua dengan menyingkirkan pasangan Indonesia dari PB Djarum Aulia Putri/ Nurbeta Kwanrico 21-10, 21-19. Sementara pasanganganda putrid Indonesia Yayu Rahayu/ Delis Yuliana masih harus mengakui keunggulan rekannya dari Indonesia Lita Nurlita/ Nathalia Poluakan melalui pertarungan dua set 13-21, 15-21.

Di nomor ganda putra empat pasangan dari pelatnas pratama berhasil melaju ke putaran kedua. Marcus Fernaldy Gideon/ Christopher Rusdianto menaklukkan ganda putra Vietnam Quang Tuan Bui/ Ngoc Manh Nguyen 23-21, 21-14. Pasangan Rachmat Adianto/ Andrei Adistia menyingkirkan ganda puta Amerika Serikat Halim Haryanto Ho/ Chandra Kowi 21-12, 21-14. Pasangan Rendy Sugiarto/ Afiat Yuris Wirawan meraih kemenangan atas ganda putra Vietnam Bang Duc Bui/ Manh Thang Dao 21-19, 21-14. Pasangan Andika Anhar/ Hendra Setyo Nugroho menang atas pasangan gado-gado Indonesia/ Perancis Viki Indra Okvana 21-14, 21-13. Sementara pasangan Berry Anggriawan/ Muhammad Ulinnuha menang rubber set atas ganda putra Vietnam lainnya Ngoc Tung Nguyen/ Duc Phong Tran 18-21, 21-9, 22-20.

Tiga ganda putra Indonesia yang menuai kekalahan adalah pasangan Angga Pratama/ Rian Agung Saputro atas ganda putra Korea Selatan Gun Woo Cho/ Yi Goo Kwon 15-21, 16-21. Pasangan ganda putra Albert Saputra/ Rizki Yanu Kresnayadi kalah atas ganda putra Taipei Min Chun Liao/ Chun Wei Wu 21-18, 21-14. Sementara ganda putra Indonesia dari PB Djarum Didit Juang Indrianto/ Seiko Wahyu Kusianto harus mengakui keunggulan ganda putra Singapura Danny Bawa Chrisnanta/ Chayut Triyachart 17-21, 17-21. (fk)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Kido dan Hendra Sering Lupa Teman

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com – Ganda putera Markis Kido/ Hendra Setiawan mengaku mengalami kesulitan tersendiri saat bermain terpisah di babak kualifikasi Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010.

Saya masih sering lupa karena sudah terbiasa bermain di ganda putera

Hendra Setiawan berpasangan dengan pebulutangkis cantik asal Rusia, Anastasia Russkik di nomor ganda campuran. Sementara Markis Kido berpasangna dengan mantan pemain pelatnas Cipayung, Lita Nurlita.

Kedua pasangan ini berhasil lolos ke babak utama setelah menyingkirkan lawan mereka masing-masing di final kualifikasi, Selasa (22/6/2010). “Saya masih sering lupa karena sudah terbiasa bermain di ganda putera,” kata Kido selepas pertandingan.

Hal senada juga diungkapkan Hendra, “Kalau berpasangan dengan Kido saya main di depan, sementara dengan Anastasia saya harus main di belakang. Ini hanya masalah kebiasaan. Apalagi waktu latihan kami hanya dua hari,” terangnya.

Ini memang bukan pertama kalinya bagi ganda putera nomor tiga dunia ini untuk bermain di nomor ganda campuran. Bagi Kido dan Hendra kejuaraan ini merupakan kejuaraan kedua nomor ganda campuran yang diikuti setelah Singapore Open pekan lalu.

Langkah Kido/Lita dan Hendra/Anastasia masing-masing terhenti setelah dikalahkan Greysia Polii/ Tantowi di babak kedua dan putaran pertama kualifikasi Singapore Open.

Sementara di nomor ganda putra Markis Kido/ Hendra Setiawan menempati unggulan kedua turnamen DIOSS 2010. Mereka akan ditantang pasangan ganda kualifikasi keempat yakni pemenang dari laga antara Rendy Sugiarto/Afiat Yuris Wirawan asal Indonesia atau Danny Bawa Chrisnanta/ Chayut Triyachart dari Singapura.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Halim Bertanding Saat Liburan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, Kompas.com — Mantan pemain nasional, Halim Haryanto, mengambil bagian dalam turnamen Indonesia Open Super Series saat tengah berlibur di Indonesia.

Semasa aktif, Halim Haryanto pernah menjadi juara duara dunia dan All England 2001 saat berpasangan dengan Tony Gunawan. Setelah pensiun, Halim memutuskan bermukim di Amerika Serikat dan kini tengah berlibur ke Indonesia.

Namun, pemain yang harus melalui babak kualifikasi itu, bersama pasangannya Eva Lee (ganda campuran) dan Chandra Kowi (ganda putra), langsung tersingkir pada penampilan perdana mereka. “Saya main di sini karena kebetulan sedang liburan,” ujar Halim, yang mengaku harus bekerja secara penuh di Amerika sehingga harus menyesuaikan waktu untuk mengikuti turnamen.

Berpasangan dengan Chandra Kowi yang juga “pulang kampung” untuk liburan, Halim yang dikalahkan pasangan Rachmat Adianto/Andrei Adistia dari Indonesia, 12-21, 14-21, mengaku baru berlatih bersama setelah keduanya tiba di Jakarta.

“Tempat tinggal kami terpisah, jadi baru berlatih bersama di sini,” kata Halim kepada Antara. Bersama keluarganya, Halim tinggal di Orange County, sedangkan Chandra sejak 2006 menetap di San Fransisco.

Saat ditanya ada tidaknya rencana kembali menetap di Tanah Air, Halim yang berangkat ke AS setelah keluar dari pelatnas mengatakan, keluarganya sudah memutuskan untuk menetap di AS. “Apalagi anak saya sudah bersekolah,” kata pria kelahiran Bandung, 23 September 1976, tersebut.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Tontowi/Greysia Singkirkan Unggulan Pertama

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Ganda campuran Tontowi Ahmad/Greysia Polii menyingkirkan unggulan pertama kualifikasi, Halim Haryanto/Eva Lee, di Indonesia Open Super Series, Selasa (22/6/2010).

Tampil dengan permainan cepat, Tontowi/Greysia hanya membutuhkan waktu 18 menit untuk mengalahkan Halim/Eva dalam dua game, 21-12, 21-12.

Dengan hasil ini, pasangan Indonesia ini akan menghadapi ganda Indonesia lainnya, Devin Lahardi/Shandy Puspa Irawati. Devin/Shendy memenangi pertandingan pertama kualifikasi atas ganda campuran Australia, Glenn Warfe/Kate Wilson Smith, 21-12, 21-6.

Turnamen bulu tangkis Djarum Indonesia Open Super Series 2010 dimulai Selasa (22/6/2010) hingga Minggu (27/6/2010). Dalam pertandingan kualifikasi Selasa ini beberapa pemain ternama Indonesia, seperti Greysia Polii, Markis Kido, dan Hendra Setiawan, harus melewati babak ini karena tampil dengan pasangan mereka yang baru.

Berikut hasil kualifikasi:

Tontowi AHMAD [INA]/Greysia Polii [INA]-[USA] Halim Haryanto [1]/Eva LEE 21-12, 21-12

Devin Lahardi [INA]/Shendy Puspa Irawati [INA]-[AUS] Glenn Warfe/Kate Wilson Smith 21-12, 21-16

Kim Ki-jung/Kyung Eun-jung [KOR]-Riky Widianto [3]/[INA] Jenna Gozali 21-15, 14-21, 21-11

Didit Juang Indrianto/Delis Yuliana [INA]-Gustiani Megawati [INA]/Viki Indra 21-14, 11-21, 21-17

Rizki Delynugraha/Richi Puspita [INA]-Tsai Chia Hsin/[TPE] Hsieh Pei Chen 18-21, 21-18, 21-11

Markis Kido/Lita Nurlita [INA]-Yu Yan Vanessa [4]/[SIN] Hendri Kurniawan 19-21, 21-17, 21-14

Hendra Setiawan [INA]/Anastasia Russkikh [RUS]-Tri Kusuma Wardhana/[INA] Nadya Melati 21-11, 21-18

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Super Indonesia Super Series 2010 : Greysia Polii Hibur Peserta DIOSS

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Atlet bulu tangkis ganda putri Indoneisa, Greysia Polii, menyuguhkan hiburan menarik bagi pemain Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010 berupa lantunan lagu dan permainan gitar pada welcome dinner di Ballroom Hotel The Sultan, Senin (21/6/2010). Pebulu tangkis yang akrab disapa Grace ini tampil bersama grup band yang merupakan teman-temannya sendiri dengan membawakan enam lagu medley, antara lain “Man in the Mirror” (Michael Jackson), “Where Is the Love” (Black Eyed Peace), dan “With or Without” (U2).

Meski mengaku tidak melakukan latihan sama sekali, aksi Grace membawakan rangkaian lagu tersebut mendapat sambutan tepuk tangan meriah dari penonton yang hadir.

“Sebenarnya saya cuma ingin memeriahkan acara saja karena jarang sekali atlet mau diminta tampil untuk bernyanyi. Lantas, saya bilang kepada mereka (grup band), mau enggak bantu saya untuk perform di acara ini, dan akhirnya mereka dengan senang hati mau membantu saya,” ungkap Grace.

Kecintaan Grace pada dunia musik ini terbukti dari ketertarikannya untuk belajar bermain gitar sejak duduk di kelas 3 SD. Namun sayang, karena jadwal latihan yng padat, dara cantik berusia 22 tahun ini harus mengesampingkan hobinya tersebut.

“Mungkin kalau aku enggak main badminton, aku lebih pilih les gitar. Tapi untungnya di PBSI ada waktu luang, jadi kami bisa main gitar sambil nyanyi-nyanyi untuk melepas kejenuhan,” sebut penggemar John Mayer ini.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Indonesia Open Super Series : Greysia/Tontowi Harus Lalui Kualifikasi

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran Tontowi Ahmad/Greysia Polii harus menghadapi Halim Haryanto/ Eva Lee di babak pertama kualifikasi Indoneia Open Super Series (DIOSS), Selasa (22/6).

Pasangan AS, Halim Haryanto/Eva Lee dalam DIOSS kali ini menmapati unggulan pertama kualifikasi. Di Singapura Terbuka Super Series pekan lalu, Tonrowi/Greysia lolos ke babak utama, namun kandas di tangan pasangan utama Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir.

Ganda baru lainnya, Markis Kido/Lita Nurlita juga harus melalui babak kualifikasi. Mereka akan menghadapi unggulan 4 asal Singapura, Vanessa Yeo/Hendri Kurniawan.

Bahkan Yunus Alamsyah yang dua pekan lalu menjuarai Grand Prix India harus melalaui babak kualifikasi. Yunus akan menghadapi unggulan kedua asal Taiwan, Hsueh Hsuan Yi.

Berikut jadwal pemain Indonesia di babak kualifikasi, Selasa:

Halim Haryanto Ho [1]/Eva Lee [USA]-Tontowi Ahmad/Greysia Polii [INA]

Glenn Warfe/Kate Wilson Smith [AUS]-Devin Lahardi/[INA] Shendy Puspa

Riky Widianto [3]/Jenna Gozali [INA]-[KOR] Kim Ki Jung/Kyung Eun Jung

Gustiani Megawati/Viki Indra Okvana [INA]-Didit Juang/[INA] Delis Yuliana

Rizki Delynugraha/Richi Puspita [INA]-[TPE] Tsai Chia Hsin/Hsieh Pei Chen

Markis Kido/Lita Nurlita [INA]-[SIN] Yu Yan Vanessa Neo [4]/[SIN] Hendri Kurniawan Saputra

Hendra Setiawan [INA]/Anastasia Russkikh [RUS]-[INA] Tri Kusuma Wardhana/Nadya Melati

Irfan Fadhilah/Weni Anggaini [INA]-Min Chun Liao [2]/[TPE] Chen Hsiao Huan

Gu Jan [SIN]-[INA] Aprilia Yuswandari

Rosaria Yusfin [INA]-[MAC] Wang Rong

Linda Weni [INA]-[INA] Melicia Kurniawan

Hsu Ya Ching [TPE]-[INA] Rizki Amelia

Chen Jiayuan [SIN]-[INA] Ana Rovita

Wong Wing Ki [4] [HKG]-[INA] Adnan Fauzi

Hong Ji Hoon [KOR]-[INA] Andreas Adityawarman

Alamsyah Yunus [INA]-[TPE] Hsueh Hsuan Yi [2]

Gebby Ristiyani/Tiara Rosalia [INA]-Aulia Putri /[INA] Nurbeta Kwanrico

Yayu Rahayu/Delis Yuliana [INA]-Lita Nurlita/Nathalia Poluakan

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Indonesia Open Super Series : Hayom, “The Next Taufik Hidayat”

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Lima tahun terakhir, sektor tunggal putra Indonesia didominasi tiga nama: Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan Simon Santoso.

Setahun belakangan, muncul nama baru, Dionysius Hayom Rumbaka. Setelah beberapa waktu hanya berkutat di regional Jawa Tengah, nama Hayom mulai berkesempatan masuk jajaran elite dunia.

Penampilan Dionysius Hayom Rumbaka dalam debut pertamanya saat Piala Thomas di Kuala Lumpur, Malaysia, cukup menggembirakan. Dia mendapat kesempatan bermain meskipun hanya sekali. Ia pun meraih kemenangan atas pemain Australia, Stuart Gomez.

Untung Hayom dapat kesempatan tampil meskipun hanya sekali sehingga dia bisa merasakan bagaimana tampil dalam kejuaraan beregu itu. Hal ini penting bagi pemain muda seperti dia sehingga ke depan bila ditampilkan lagi sudah mempunyai modal bertanding.

Prestasinya cukup menggembirakan. Hal itu ditandai dengan raihan beberapa gelar juara internasional tahun lalu. Umurnya belum genap 22 tahun. Namun, bila mendapatkan banyak kesempatan untuk bertanding, maka Hayom diprediksi akan menjadi salah satu bintang masa depan Indonesia.

Postur tubuhnya, yang mencapai tinggi badan 182 sentimeter, tentu menjadi salah satu modal untuk berprestasi. Pemain PB Djarum yang kini telah menghuni pelatnas ini dikenal sebagai salah satu pemain yang mempunyai smes keras dan sedikit ofensif. Pemain yang bercita-cita masuk Angkatan Udara jika tidak berkarier di bulu tangkis ini juga mempunyai permainan net yang baik.

Memang, pemain berwajah ganteng ini baru membuktikan diri pada turnamen menengah, seperti Banuinvest International Series di Romania, Maret tahun lalu. Gelar juara lainnya adalah Australia Open Grand Prix dan Indonesia Challenge. Tantangan Hayom ke depan tentu lebih berat, mengingat perjalanan kariernya masih panjang dan persaingan sangat ketat.

Satu tantangan terdekat adalah Djarum Indonesia Open yang digelar di Istora Gelora Bung Karno. Tahun lalu, pemain yang lahir 22 Oktober 1988 itu tidak mampu lolos kualifikasi.

Kini, dengan bekal juara di beberapa turnamen internasional dan pengalamannya bertanding di turnamen besar lainnya, seperti All England dan Swiss Terbuka, dia berharap dapat mencapai prestasi yang lebih baik lagi. “Tentu keinginan saya juara. Tetapi itu tentu berat. Satu demi satu dulu, dan lihat hasil undiannya juga. Kalau bertemu pemain unggulan tentu sulit. Namun, saat ini saya jauh lebih siap,” kata Hayom, yang mempunyai hobi sepak bola ini. Selain bermain bulu tangkis, dia juga lihai bermain sepak bola.

Pemain yang mengidolakan Taufik Hidayat itu hanya mampu bertahan pada babak pertama di All England dan babak kedua di Swiss Terbuka 2010. Saat itu, dia harus mengakui kehebatan dua pemain terbaik China, Chen Jin dan Chen Long. “Kalah dengan rubber game. Saya telah belajar banyak dari kekalahan itu,” ujar pemain yang menyukai pecel lele ini.

Jalan menjadi salah satu pemain terbaik di Indonesia cukup panjang. Dia mengenal bulu tangkis saat kelas III SD di Kanisius Wates, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Melihat bakatnya, dia dimasukkan ke klub bulu tangkis Pancing Sembada di GOR Pangukan, Sleman, DIY. Jarak sekitar 25 kilometer harus dia tempuh dari rumahnya ke Sleman.

Namun, menginjak kelas VI SD, dia pindah ke klub di Pikiran Rakyat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Saat memasuki kelas II SMP, orangtua Hayom membawanya kembali ke Pancing hingga 2005. Setelah itu, dia kembali ke kampung halamannya hingga akhirnya pindah ke PB Djarum di Kudus pada 2005.

Di salah satu klub terbesar di Indonesia ini, pemain kelahiran 22 Oktober 1988 tersebut seperti menemukan apa yang dia harapkan. Pelatih hebat dan juga kesempatan bertanding di luar negeri sangat besar. Di bawah binaan mantan pemain asal China, Fang Kai Xiang, dia digembleng dengan keras sehingga lahirlah beberapa gelar juara.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Indonesia Open Super Series Yong Dae, Jago, Muda, dan ‘Good Looking’

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, Kompas.com — Pemain Korea Selatan, Lee Yong dae, memiliki persyaratan sempurna buat seorang atlet, skill yang tinggi dan wajah yang tampan.

Bagi para pencinta bulutangkis, nama Lee Yong Dae tentu tidak asing lagi. Ya, pemain Korea Selatan ini merupakan satu dari sekian banyak jago-jago dunia yang namanya terus menanjak, seiring dengan prestasinya yang naik tajam pada usianya yang masih sangat muda.

Dalam ajang Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010, 22-27 Juni ini, Yong Dae berpeluang menjadi bintang. Dari segi fisik, wajahnya tergolong rupawan. Kulitnya juga putih bersih dan tubuhnya atletis. Dia juga ramah dan murah senyum.

Di Indonesia pun Lee, yang juga piawai bermain gitar ini, mempunyai banyak penggemar. Bahkan, ada pula yang membuat Lee Yong Dae Indonesia Fansite. Luar biasa. Namanya benar-benar sangat populer ketika dia merebut medali emas ganda campuran Olimpiade 2008 di Beijing, China. Saat itu usianya belum genap 20 tahun. Perpaduannya dengan pemain putri senior Lee Hyo Jung membuat pasangan Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir, sangat kecewa karena harus puas dengan medali perak di Beijing.

Tahun lalu, bersama Jung Jae Sung, dia menjadi yang terbaik di ganda putra. Usianya baru genap 22 tahun pada 11 September mendatang. Namun, berbagai gelar juara sudah diraih pemain bertinggi badan 180 sentimeter ini. Hebatnya, pemuda yang lahir di Hwasun ini begitu jago bermain di dua nomor sekaligus, yaitu ganda putra dan ganda campuran. Dua nomor itu memang spesialisnya. Dan, pemain yang digelari “Park Joo Bong baru” ini memang mempunyai prestasi menawan di dua nomor.

Kalau kita melihat kembali sepak terjangnya sejak masih yunior, pemain yang lahir di Hwasun ini memang mempunyai bakat hebat di dunia bulu tangkis. Pada Milo Junior Indonesia Open di Medan, 2004, dia bahkan bermain di tiga nomor sekaligus. Nomor tunggal juga dia kuasai dengan baik.

Dari tiga nomor itu dia merebut satu gelar, yaitu di ganda putra. Di ganda campuran, dia menembus final sebelum akhirnya menyerah di tangan ganda Indonesia, M Rijal/Greysia Polii. Di nomor tunggal, Yong Dae menembus semifinal sebelum akhirnya dikalahkan juara Gong Weijie dari China. Saat itu fisiknya tidak kelihatan melorot meskipun harus bermain di tiga nomor sekaligus.

Prestasinya memang sudah mengilap saat masih yunior dengan ditandai juara dunia yunior pada 2006, ganda putra, dan ganda campuran. Melihat prestasinya, dia mungkin akan menyamai atau bahkan melebihi prestasi legenda Korea, Kim Dong Moon, yang dua kali mendapatkan medali emas olimpiade, yaitu pada Olimpiade Atlanta 1996 (ganda campuran) dan Athena 2004 (ganda putra). Satu gelar medali emas telah dia rebut.

Melihat usianya yang masih muda, bukan tidak mungkin medali emas akan dia raih kembali pada masa mendatang.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | 1 Comment »

Indonesia Open Super Series : Maria Febe Ingin Lolos ke Semifinal

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Tunggal puteri Maria Febe Kusumastuti berharap mencapai prestasi yang lebih baik di Djatum Indoensia Open Super Series tahun ini.

“Tahun lalu, saya kalah dari Pi Hongyang di babak pertama. Kini, setelah satu tahun berlalu, dan saya sudah memiliki pengalaman bertanding yang lebih, saya ingin menggapai prestasi lebih dari itu. Saya ingin mencapai semifinal,” kata penyuka sate kambing ini.

“Banyak yang bilang gaya saya mirip Susy Susanti. Tetapi, saya tidak tahu mirip di mananya. Yang jelas, Susi Susanti idola saya. Saya tentu ingin berprestasi seperti dia,” kata Maria Febe Kusumastuti, salah satu bintang Indonesia yang akan tampil di turnamen bulutangkis Djarum Indonesia Open 2010 di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 22-27 Juni mendatang.

Febe, biasa dia dipanggil, kini menjadi salah satu pemain yang diharapkan Indonesia untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis, seperti era Susy Susanti, yang begitu disegani dunia, era 1990-an lalu.Saat ini, pemain kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, ini menduduki peringkat teratas pemain Indonesia di tingkat dunia. Dia bertengger di urutan ke-19, di atas seniornya Adriyanti Firdasari yang berada lima tingkat di bawahnya, dan juga seniornya di klub Djarum Kudus, Fransisca Ratnasari (rangking 30) dan Maria Kristin (54).

Tingginya peringkat Febe tidak lepas dari prestasinya tahun lalu, yang merebut beberapa gelar juara. Prestasinya terbaiknya, adalah juara Grand Prix Australia Open. Dia juga menggapai final Grand Prix Selandia Baru Open, yang digelar setelah Australia Open. Tahun sebelumnya, dia juara di turnamen Bitburger, Jerman.

Bakatnya sebagai atlet bulutangkis tampaknya lahir dari ayahnya, Yoshua Bawi Aryawijaya. Bapak tercintanya, piawai bermain di semua cabang olahraga. Selain bela diri, sang ayah juga pandai memainkan sepakbola, bulutangkis, dan juga voli. Namun rupanya, soal prestasi, ayahnya harus kalah dari sang anak. Febe memang telah mantap berada di jalannya sekarang ini.

Febe saat ini tidak lagi bermain membela nama Djarum, klubnya, karena dia telah masuk pelatnas. Tugas berat tentu harus diembannya. Setelah membela nama Indonesia di Piala Uber di Malaysia, awal Mei ini, dia akan bertanding lagi di Djarum Indonesia Open.

Prestasi yang diraihnya saat ini tidak lepas dari buah kerja keras sejak masih kecil. Febe harus melakukan perjalanan yang lumayan jauh untuk berlatih, karena di daerahnya, Boyolali tidak ada klub pembina. Dia pun pindah-pindah klub di Solo, kota yang tidak jauh dari daerahnya. Pemain yang bercita-cita menjadi pelatih ini pun mengarungi sejumlah klub di Solo, seperti di Panorama, Sinar, dan Tangkas Solo. Keinginannya menjadi pemain bulutangkis hebat semakin di depan matanya karena pada Oktober 2005 PB Djarum meliriknya. Tentu saja dia gembira karena Djarum merupakan salah satu klub pembina yang telah banyak melahirkan banyak atlet tingkat dunia, seperti Ivan Lie, Hastomo Arbi, Christian Hadinata, dan Haryanto Arbi.

Djarum pun memberikan kepercayaan penuh kepadanya dengan mengirim ke berbagai turnamen. Karena prestasinya yang gemilang hingga menembus peringkat 19 besar dunia, dia pun mendapatkan bonus sebesar Rp 90 juta dari PB Djarum.

Selain bulutangkis, dia ternyata juga jago melukis. Namun, ini hanya sekadar hobi saja. Dia juga mempunyai hobi mendengarkan lagu-lagu, dan jalan-jalan. Di luar itu, aktifitas lainnya di kala senggang, adalah membaca novel. (/*)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series : Di Sini Kandang Kita!

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 22, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Tahun lalu, Indonesia sebagai tuan rumah hanya menjadi penonton turnamen bulu tangkis Djarum Indonesia Open Super Series karena cuma menyaksikan wakil dari negara lain naik podium untuk mengangkat trofi dan menyabet medali. Memiliki sejumlah pemain top yang diharapkan bisa naik podium juara, pasukan “Garuda” justru berguguran sebelum mencapai final. Hanya Taufik Hidayat yang bisa mencapai partai puncak, sebelum dikalahkan rival beratnya dari Malaysia, Lee Chong Wei.

Padahal, menjelang turnamen bergengsi berhadiah 250.000 dollar AS tersebut, hampir semua orang sudah punya ekspektasi yang cukup tinggi. Bahkan, Ketua Umum PB PBSI Djoko Santoso berani memasang target minimal merebut tiga gelar, yaitu tunggal putra, ganda putra, dan ganda campuran.

Keyakinan ini cukup beralasan karena di tiga sektor tersebut Indonesia memiliki pemain-pemain bermental juara dan sudah mengoleksi banyak gelar. Di tunggal putra ada Taufik Hidayat, yang sudah enam kali juara di rumah sendiri, begitu juga dengan Sony Dwi Kuncoro, yang menjadi juara Djarum Indonesia Open Super Series 2008. Di ganda putra ada Markis Kido/Hendra Setiawan, juara 2005, dan di ganda campuran terdapat pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir, juga juara 2005.

Namun, harapan itu tinggallah harapan karena semua gelar tersapu bersih oleh para “tamu”. Taufik, yang mengincar gelar ketujuh di negara sendiri, harus mengakui kehebatan Chong Wei, pemain nomor satu dunia. Di sektor tunggal putri muncul juara baru asal India, Saina Nehwal. Kemudian ganda putri dimenangi pasangan Malaysia, Eei Hui Chin/Pei Tty Wong; ganda putra menjadi milik pasangan Korea Selatan, Jung Jae-sung/Lee Yong-dae; dan ganda campuran direbut pemain China, Zheng Bo/Ma Jin.

Mendung pun menyelimuti langit Indonesia karena bulu tangkis yang menjadi olahraga kebanggaan di Tanah Air gagal mempersembahkan gelar. Hasil tahun 2009 itu menjadi ulangan mimpi buruk tahun 2007 ketika Indonesia harus malu di kandang sendiri lantaran gagal menyabet satu gelar pun. Tahun tersebut, Chong Wei juara tunggal putra, Wang Chen (Hongkong) di tunggal putri, Fu Haifeng/Cai Yun (China) juara ganda putra, Du Jing/Yu Yang (China) juara ganda putri, dan Zheng Bo/Gao Ling juara ganda campuran.

Padahal, dalam sejarah Indonesia Terbuka yang mulai bergulir pada tahun 1982 hingga berganti nama menjadi Indonesia Super Series, Indonesia selalu dominan. Bahkan, pernah terjadi sapu bersih gelar, seperti pada tahun 1983, 1993, 1996, 1997, dan 2001, ketika di sektor putri masih ada pemain-pemain top seperti Susi Susanti, Mia Audina, Lili Tampi, Finarsih, Rosiana Tendean, Ivana Lie, Deyana Lomban, dan Verawaty Fajrin.

Kini, kekuatan sektor putri Indonesia sudah hilang semenjak era Susi dan Mia berakhir. Tak heran jika dua nomor putri (tunggal dan ganda) nyaris tidak pernah masuk hitungan lagi di setiap turnamen, termasuk pada Djarum Indonesia Open Super Series 2010 ini.

“Saat ini kita memiliki mantan juara di sektor tunggal putra, serta masih ada yang diandalkan dari sektor ganda putra dan ganda campuran,” ungkap Djoko, yang juga Panglima TNI.

Benar sekali, tiga sektor ini tetap masih menjadi nomor andalan Indonesia. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan terjadi kejutan di sektor tunggal dan ganda putri karena para pemain top dari China, Denmark, dan Korea Selatan tidak tampil dalam Djarum Indonesia Open Super Series kali ini. Bahkan, dari jauh-jauh hari China sudah memastikan tidak ambil bagian dalam turnamen yang akan berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, 22-27 Juni, ini karena mereka juga sedang menggelar kompetisi internal.

Inilah yang membuat Ketua Subbidang Pelatnas PB PBSI Christian Hadinata cukup optimistis Indonesia bisa menyapu bersih lima gelar. Tentunya, perlu perjuangan yang keras dan menunjukkan semangat yang tak pernah padam. “Peluang meraih gelar di lima nomor tetap terbuka karena China tidak ambil bagian sehingga kekuatan menjadi rata,” ujar Christian saat jumpa pers Djarum Indonesia Open Super Series di Jakarta, 8 Juni lalu.

Ya, kans para pemain putri mengakhiri paceklik gelar sangat terbuka kali ini. Absennya semua pemain top China, plus juara All England, Tine Rasmussen (Denmark), sedikit menguak harapan bagi Maria Febe Kusumastuti, Adriyanti Firdasari, dan Maria Kristin Yulianti untuk menjadi juara. Di sektor ganda pun demikian, tanpa China, peta kekuatan menjadi sangat berimbang sehingga Meiliana Jauhari/Greysia Polii dan Shendy Puspa Irawati/Nitya Krishinda Maheswari bisa mengambil kesempatan ini.

Pelajaran dari Singapura

Jelang tampil di Djarum Indonesia Open Super Series, para pemain Indonesia lebih dulu ambil bagian di Singapura Terbuka Super Series. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan karena Sony Dwi Kuncoro bisa membawa pulang gelar nomor tunggal putra. Dalam perjalanannya, dia lebih dulu menyingkirkan pemain nomor satu dunia, Chong Wei, dan di final mengalahkan unggulan keempat dari Thailand, Boondak Ponsana.

Nova/Liliyana juga berhasil menembus final. Sayang, ganda campuran nomor satu Indonesia ini tampil sangat buruk sehingga menyerah dua set langsung dari pasangan Denmark, Thomas Laybourn/Kamilla Rytter Juhl. Begitu juga dengan ganda putra Markis Kido/Hendra Setiawan, yang takluk di semifinal dari pasangan Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu Lee, yang akhirnya menjadi juara.

Di ganda putri, Meiliana/Greysia sempat membuat kejutan karena melangkah ke semifinal seusai mengalahkan unggulan ketujuh dari Korsel, Ha Jung-eun/Jung Kyung-eun. Tetapi, perjalanan mereka harus terhenti karena dijegal pasangan Korsel yang merupakan unggulan kelima, Kim Min-jung/Lee Hyo-jung.

Namun, yang menarik dari hasil final di Singapura ini adalah munculnya ganda putri tuan rumah, Shinta Mulia Sari/Yao Lei, yang menjadi juara. Menghadapi Kim Min-jung/Lee Hyo-jung, semangat tinggi dan daya juang Shinta/Yao, yang tidak diunggulkan, membuat mereka mampu meraih kemenangan straight game, 21-17, 22-20. Ini merupakan sebuah hasil yang semestinya dan sepatutnya bisa menjadi inspirasi bagi pemain-pemain putri Indonesia untuk berprestasi di negara sendiri setelah Ellen Angelina terakhir kali menjadi juara tunggal putri tahun 2001 dan Vita Marissa/Liliyana Natsir juara ganda pada tahun 2008.

Jika di Singapura saja—yang juga tidak diikuti para pemain top China, Denmark, dan Korsel—kita bisa membawa pulang gelar, di Jakarta pun kita harus meraihnya. Karena, di sini kandang kita !

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: