SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    June 2010
    M T W T F S S
    « May   Jul »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 27th, 2010

Djarum Indonesia Open Super Series : Saina Juara Lagi

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 27, 2010


JAKARTA, Kompas.com — Tunggal putri India, Saina Nehwal, mempertahankan gelar juara di Djarum Indonesia Open Super Series, Minggu (27/6/2010).

Di final yang diselenggarakan di Istora Gelora Bung Karno, Saina merupakan unggulan pertama yang mengalahkan pemain asal Jepang, Sayako Sato. Saina menang rubber game 21-19, 13-21, 21-11 dalam 45 menit.

Dalam pertandingan final ini, Saina mendapat dukungan penuh dari komunitas India yang ada di Jakarta. Mereka mengibar-ngibarkan bendera India setiap kali Saina memetik poin.

Setelah unggul 21-19, Saina sempat kehilangan game kedua 13-21. Namun, di game ketiga ia tidak memberi kesempatan kepada pemain Jepang tersebut untuk unggul 21-11.

Seusai pertandingan, Saina mengatakan, ia hanya berusaha mempertahankan irama permainannya menghadapi Sato yang disebutnya bermain gigih. “Saya senang dapat merebut tiga gelar juara di tiga turnamen dalam waktu tiga minggu,” kata Saina.

Sebelum Djarum Indonesia Open Super Series, Saina meraih gelar juara di India Grand Prix dan Singapore Open Super Series.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series 2010 : Ana Rovita, “The Next of Susi Susanty”

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 27, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com – Postur tubuhnya terhitung mungil untuk ukuran seorang pemain bulu tangkis, hanya 157 cm. Akan tetapi, bicara soal kemampuan, Ana Rovita jelas tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Ya, nama Ana Rovita belakangan ini memang kerap menjadi sentral pembicaraan publik penikmat olahraga tepokbulu terutama selama penyelenggaraan Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010 berlangsung. Maklumlah, pemain kelahiran Jepara, 30 Maret 1991 ini semula tidak diunggulkan sama sekali dalam turnamen berhadiah total 250 ribu dollar AS ini.

Jangankan untuk melaju sampai ke semifinal, untuk bisa masuk jajaran pemain kualifikasi saja perlu keberuntungan bagi Ana yang menempati posisi 246 dunia ini. Melihat peringkatnya yang terhitung jauh, agak mustahil bagi Ana untuk ikut berlaga di turnamen DIOSS 2010 ini.

Untungnya, dewi fortuna berpihak pada Ana. Di detik-detik akhir dimulainya turnamen, pemain asal klub Djarum Kudus ini berhasil mendapatkan tiket ke babak kualifikasi karena tiga pemain unggulan di tunggal puteri memutuskan mengundurkan diri.

“Sehari sebelum pertandingan, kami baru diberitahu,” kata sang pelatih, Rusmanto Djoko Semaun.

Merasa mendapat peluang besar, Ana pun tidak mau menyia-nyiakannya begitu saja. Ia langsung melesat di babak pertama kualifikasi mengalahkan pemain Singapura, Jiayuan Chen 21-17, 13-21, 21-15, Selasa (22/6/2010).

Hal serupa terjadi di babak kedua. Meski harus melewati duel ketat, Ana mampu melewati hadangan Yu Chin Shu dari Hongkong 14-21, 21-17, 21-17. Keberhasilan ini sekaligus memastikan langkah Ana ke babak utama bersama tiga pemain kualifikasi lainnya yakni Linda Weni, Rosaria Yusvin dari Indonesia dan Zhu Ying Thai asal Hongkong.

Keberuntungan Ana terus berlanjut. Pemain yang semula diminta untuk lolos babak kualiikasi oleh sang pelatih ini telah memenuhi targetnya. Permainannya pun semakin hari semakin membaik. Runner up Sirkuit Nasional Jawa Barat 2010 ini mengalahkan dua tunggal puteri asing, Maja Tvrdy asal Slovenia (21-18, 1-17) dan Fu Mingtian dari Singapura (16-21, 21-19, 21-19) masing-masing di babak pertama, Rabu (23/6/2010) dan babak kedua, Kamis (24/6/2010).

Sampai babak ini Ana menjadi satu-satunya pemain kualifikasi yang bertahan setelah tiga pemain lainnya gugur melawan pesaing mereka masing-masing. Hasil yang paling mencengangkan diperoleh Ana ketika dihadapkan dengan pemain pelatnas Cipayung, Maria Kristin Yulianti di perempat final.

Di luar dugaan, Ana melibas mantan seniornya di klub PB Djarum ini dua game langsung 21-19, 21-14, Jumat (25/6/2010). Padahal ini merupakan kali pertama bagi Ana berhadapan dengan pemain peringkat 60 BWF itu. Ini juga merupakan kejuaraan super series pertama yang diikuti Ana.

“Saya sebenarnya juga tidak menyangka bisa menang karena pertandingan tadi berat. Pukulan-pukulan dia (Maria Kristin) tajam-tajam. Saya sebenarnya hanya main lepas saja, tetapi pelatih memberitahu saya untuk main berani dan banyak memberi bola silang. Ternyata itu cukup ampuh untuk mematikan serangannya,” ungkap Ana.

Sementara Rusmanto justru menilai salah satu keunggulan yang dimiliki anak asuhnya dalam pertandingan adalah kemampuannya bermain dalam reli dengan tipe pukulan lob yang tidak bisa diprediksi lawan. Gaya reli dengan durasi lama ini hampir mirip dengan tipe permainan legenda tunggal puteri Indonesia, Susi Susanti. Tak heran Ana pun sering disebut-sebut sebagai “The Next of Susi Susanty”.

Sayangnya, gaya reli tersebut kurang efektif apabila dihadapkan pada lawan dengan tipikal penyerang yang agresif. Seperti yang terjadi pada laga semifinal melawan Sayako Sato, Sabtu (26/6/2010). Tunggal puteri asal Jepang ini gencar melakukan serangan dan dengan mudah mengontrol ritme pertandingan. Ditambah lagi, Sato memiliki postur tubuh yang lebih tinggi sehingga lebih memungkinkannya melakukan smes tajam secara beruntun. Alhasil perjuangan Ana pun harus terhenti di semifinal setelah ditundukan Sato, 22-20, 21-17.

Meski gagal ke final, apa yang dicapai Ana boleh dibilang luar biasa. Di usianya yang masih 19 tahun, ia berhasil membuktikan eksistensi dirinya dan memanfaatkan peluang yang ada dengan berjuang semaksimal mungkin. Hal itu diamini Rusmanto, “Kalau dari pengamatan saya, Ana sudah bagus. Dia punya motivasi dan daya juang yang baik. Hanya saja masih ada beberapa hal yang harus diperbaiki seperti kemampuan merubah strategi secara cepat dan power pukulannya.”

Melihat potensi besar anak asuhnya, Rusmanto pun mengaku akan gencar mengirim Ana menimba pengalaman dengan mengikuti berbagai kejuaraan internasional lain dalam waktu dekat ini.

“Iya, saya rasa Ana perlu mengikuti kejuaraan-kejuaraan lain agar jam terbangnya bertambah. Dalam waktu dekat ini akan ada Kejuaraan Interseries di Singapora tanggal 22 Juli 2010 dan Indonesia International Challenge di Surabaya tanggal 27 Juli yang akan diikuti,” ujar Rusmanto.

Sementara bagi Ana sendiri, banyak pengalaman berharga yang diperolehnya di DIOSS 2010 sebagai kompetisi yang mengawali transisinya dari tunggal puteri junior ke dewasa.

“Buat saya, kegagalan ini akan jadi motivasi. Yang pasti menurut saya di dalam pertandingan itu siapa yang lebih mau capek, dialah yang akan menang,” tandas penggemar berat Taufik Hidayat ini.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

PBSI Harus Evaluasi Pembinaan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 27, 2010


Jakarta – Tidak ada satu pun wakil pelatnas Cipayung yang berhasil melaju ke final Djarum Indonesia Open Super Series 2010. PBSI harus segera melakukan evaluasi terhadap pola pembinaan.

Hal itu diungkapkan oleh Taufik Hidayat dan pelatihnya, Mulyo Handoyo. Taufik praktis menjadi ‘satu-satunya’ wakil Indonesia di final Indonesia Open setelah mengalahkan Nguyen Tien Minh di semifinal.

Sebenarnya, ada satu lagi pemain Indonesia yang maju ke final, yaitu Hendra Setiawan. Namun Hendra kali ini berpasangan dengan pebulutangkis putri Rusia, Anastasia Russkikh, di nomor ganda campuran.

Namun Taufik dan Hendra adalah pemain partikelir yang bukan berasal dari pelatnas PBSI, seperti halnya Ana Rovita yang maju ke semifinal tunggal putri. Kiprah para pemain yang digembleng di Cipayung itu banyak yang terhenti sebelum di semifinal.

Di antara pemain Indonesia yang berasal dari pelatnas, cuma Sony Dwi Kuncoro, ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir serta Vita Marissa (yang bersama Saralee Thoungthongkam dari Thailand) yang bisa sampai ke empat besar.

“Jarang ada evaluasi, jadinya tidak ada atau tidak tahu kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti usai Piala Thomas, tidak ada evaluasi,” komentar Taufik Hidayat, Sabtu (26/6/2010).

“Pembinaan kita tidak ada kejelasan. Coba saja dilihat di Kejurnas misalnya. Anak pelatnas tidak ada yang berhasil juara,” lanjut juara Indonesia Open enam kali tersebut.

Dari segi kuantitas, sebenarnya saat ini Indonesia sudah cukup bagus dengan telah memiliki turnamen sirkuit nasional yang berjumlah 12 seri setiap tahun. Tapi yang ada, kualitas pemain-pemainnya mentok saat harus bermain di level internasional.

“Itu sebenarnya ajang pembinaan yang bagus. Tapi pelatihnya ya begitu-begitu saja. Kenapa masih begitu? Tidak ada terobosan dalam hal pembinaan,” tukas Mulyo Handoyo.

“Kalau tidak ada perubahan dan evaluasi, jangan harap bulutangkis Indonesia maju. Bukannya memojokkan PBSI, tapi mari kita bersama-sama membangun bulutangkis Indonesia,” imbuh Taufik. “PBSI harus mendengar kritik.”

Sule dkk. Bikin ‘Kerusuhan’

Jakarta – Ada yang berbeda di konferensi pers yang dilakukan oleh Taufik Hidayat dan pelatihnya, Mulyo Handoyo. Kelompok komedi Opera van Java ikut meramaikan suasana dan membuat ‘kerusuhan’.

Mereka adalah Sule, Parto, Nunung dan Aziz Gagap. Keempatnya datang ke Istora Senayan untuk menyaksikan beberapa pertandingan, antara lain laga Taufik Hidayat kontra Nguyen Tien Minh.

Atas permintaan beberapa wartawan, Sule dkk ikut masuk ke ruangan konferensi pers yang sedang dilakukan Taufik dan Mulyo. Kelucuan pun mewarnai pembicaraan.

Sule misalnya, saat diminta untuk bertanya kepada Taufik, malah menanyakan soal apa pendapat dia soal video mirip Ariel Peterpan.

“Sebenarnya saya juga punya banyak video seperti itu, tapi untung saja nggak ada yang tahu,” tangkis Taufik lincah, disambut dengan tawa para hadirin.

Sule dkk lalu melempar beberapa guyonan yang sanggup mengocok perut, sementara Aziz malah berniat untuk meminta raket yang sudah tidak dipakai oleh Taufik.

Setelah bergurau sana-sini, Sule kemudian menyampaikan ucapan selamat bertanding dari para pemain OVJ.

“Semoga Mas Taufik bisa mengalahkan (pemain) Malaysia (Lee Chong Wei) dan menjadi juara,” kata Sule, kali ini dengan mimik serius.

Di akhir sesi konferensi pers ger-geran itu, Sule, Aziz, Nunung dan Parto pun mengajak Taufik dan Mulyo berfoto bersama.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: