SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    June 2010
    M T W T F S S
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for June 28th, 2010

Djaruim Indonesia Open Super Series : Mengkritik Lewat “Wall of Fame”

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Sederetan kalimat singkat yang menarik perhatian seperti “Anak Desa Pingin Tau Cara Jadi Juara,” atau “Go Taufik Ganyang Lee Chong Wei” dan puluhan kalimat lainnya tampak menghiasi dua buah papan besar yang dinamai “Wall of Fame”.

Ya, kalimat-kalimat tersebut merupakan bentuk dukungan dari para penonton yang hadir menyaksikan perhelatan akbar pertandingan bulu tangkis Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010.

Memasuki tahun ke-10 pelaksanaannya, DIOSS hadir dengan membawa berbagai ide segar guna semakin memasyarakatkan bulu tangkis kepada seluruh penonton Indonesia. Salah satunya adalah “Wall of Fame”. Ini merupakan inovasi baru yang menjadi bagian dari konsep besar acara secara keseluhuran, yakni “City of Badminton”.

Wall of Fame merupakan sebuah fasilitas yang disediakan pihak panitia DIOSS 2010 bagi para penonton yang hadir di Istora, Senayan. Mereka bisa menuliskan apa saja yang ingin mereka sampaikan, misalnya dukungan atau semangat bagi para atlet yang akan bertanding.

Wall of Fame ini terdiri dari dua papan kayu masing-masing berukuran 20 x 2,44 m yang dipajang di depan pintu masuk Istora. Di sekitar papan-papan ini juga disediakan masing-masing 10 spidol besar dengan aneka warna.

Ukuran raksasa Wall of Fame dan penempatannya di depan pintu masuk Istora ternyata cukup efektif menyedot perhatian pengunjung untuk ikut menulis, seperti halnya Awek. Pemuda asal kota Lampung ini sengaja meluangkan waktu datang ke Jakarta bersama sahabat-sahabatnya untuk menonton DIOSS 2010. Dengan semangat ia segera menghampiri Wall of Fame dan menulis kalimat, “Cah Lampung Dukung Reinkarnasi Indonesia.”

Menurut Awek, ia menulis kalimat tersebut sebagai penyemangat bagi bulu tangkis Indonesia yang ia nilai saat ini sedang “mati suri.” “Saya kan enggak mungkin ngomong langsung sama PBSI. Siapa pengurusnya saja saya enggak tahu. Yang penting saya menunjukkan kepedulian saya lewat nulis di papan ini. Semoga aja bisa dibaca orang PBSI yang lewat,” tutur Awek.

Lain lagi dengan Yulia dan Dewi. Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta ini memilih menghabiskan hari Minggunya untuk menyaksikan sang idola, Taufik Hidayat, beraksi. Mereka masing-masing menuliskan dukungan bagi peraih medali emas Olimpiade Athena 2004 ini. Yuli menulis, “Ka opik… kita semua akan selalu mendukungmu, ka !!!!! semangat ya, ka!,” tulisnya.

Sementara itu, Dewi menuliskan kalimat yang lebih ekstrem lagi, “Taufik Hidayat, I luv U!.” “Kita ingin mendukung Taufik, walaupun enggak bisa disampaikan langsung sama Taufik tapi kita sudah senang kok menulis di Wall of Fame ini,” aku Dewi.

Wall of Fame ternyata tidak hanya menarik penonton lokal. Suporter dan keluarga para pemain asing pun antusias menuliskan bentuk dukungan mereka. Walau demikian, beberapa di antaranya menggunakan bahasa yang sulit untuk dimengerti penonton Indonesia.

Seperti halnya Sella, gadis cilik berusia 8 tahun, sibuk merengek minta diizinkan ikut menulis di dinding Wall of Fame. Sella datang dari Malaysia bersama ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki. Ketika diizinkan sang ibu, Sella lantas menghampiri Wall of Fame dan menuliskan kalimat singkat, “GO Lee Chong Wei!”

Menurut sang ibu, Aisyah, Sella memang sangat mengidolakan pemain nomor satu dunia ini. Berhubung akhir pekan, ia mengizinkan anaknya mengisi liburan dengan menyaksikan sang jagoan berlaga pada partai final. “Ya, kami sekeluarga suka badminton. Apalagi Sella, dia adalah salah satu penggemar berat Chong Wei. Tapi kami tidak suka main badminton, hanya menonton saja,” papar Aisyah.

Sambutan positif ternyata tidak hanya datang dari kalangan suporter. Atlet yang berlaga pun ikut senang dengan adanya Wall of Fame dalam penyelenggaraan DIOSS 2010. “Wall of Fame Bagus. Saya belum sempat nulis tapi sudah lihat dan sangat keren pastinya,” ujar pemain ganda campuran Indonesia, Fran Kurniawan.

Sementara itu, menurut ketua pelaksana “City of Badminton”, Ardan, awal tercetusnya ide menghadirkan Wall of Fame merupakan hasil rembukan seluruh tim panitia penyelenggara. “Seperti konsep awal ‘City of Badminton’ kami ingin mengajak seluruh masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk artis sekalipun, untuk mendukung para atlet yang sedang bertanding,” kata Ardan.

“Wall of Fame ini merupakan sarana bagi para penonton untuk menyampaikan dukungannya. Awalnya kami sempat ragu karena takut para penonton menulis hal yang macam-macam dan justru tidak berhubungan dengan DIOSS 2010. Tapi, melihat tanggapannya antusias seperti ini, kami senang,” lanjutnya.

Mengomentari banyaknya kritik pedas yang disampaikan masyarakat lewat Wall of Fame terkait prestasi Indonesia yang menurun, Ardan mengaku tidak masalah. “Soal kritik, kami tidak masalah. Wall of Fame memang merupakan sarana bagi para penonton untuk menyampaikan aspirasinya. Kami justru senang mendapatkan banyak dukungan dan masukan dari masyarakat,” sebutnya.

Menurut Ardan, rencananya selepas kejuaraan DIOSS, Wall of Fame ini akan dipindahkan ke kantor PBSI di Pelatnas Cipayung, Jakarta. Meski masih sebatas rencana, semoga hal ini memudahkan PBSI agar lebih terbuka terhadap masukan dan komentar dari masyarakat tentang bulu tangkis Indonesia. Paling tidak, ini sebagai selingan untuk dibaca saat waktu luang….

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Usai Juara, Chong Wei Kebingungan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com — Pemain tunggal putra utama dunia, Lee Chong Wei, mengaku belum memutuskan apakah ia akan ikut serta dalam turnamen Grand Prix Gold Malaysia pada 6-11 Juli mendatang.

Chong Wei baru saja memenangi gelar juara pada turnamen Djarum Indonesia Open Super Series, Minggu (27/6/2010). Di final, ia mengalahkan unggulan ke-2 asal Indonesia, Taufik Hidayat.

Beberapa saat setelah memastikan gelar juara, Chong Wei mengaku diliputi kebimbangan tentang keikutsertaannya di turnamen yang akan berlangsung di Johor Bahru tersebut.

“Saya masih bingung. Saya ingin ikut pertandingan yang dilangsungkan di Malaysia ini dan saya ingin menghibur para penggemar saya,” kata Chong Wei. “Namun bila ikut, saya mengambil risiko karena ikut terlalu banyak turnamen,” kata Chong Wei yang dua pekan lalu disingkirkan Sony Dwi Kuncoro di Singapura Terbuka Super Series.

“Saya akan menghadapi tiga kejuaraan besar. Saya harus ikut kejuaraan dunia (Paris pada Agustus), Commonwealth Games (New Delhi, Oktober), dan Asian Games (Guangzhou, November). Saya harus membicarakan dulu dengan pelatih saya (Misbun Sidek),” ungkapnya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Taufik : Biarkan Saya Pergi !

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Tunggal putera veteran, Taufik Hidayat berharap masyarakat jangan lagi berharap dirinya akan menyelamatkan bulu tangkis Indonesia.

Di ajang Djarum Indonesia Open Super Series 2010, Taufik mencatat hasil paling tinggi di antara pemain Indonesia dengan lolos ke babak final, sebelum dikalahkan Lee Chong Wei di babak final 19-21 8-21.

Bagi Taufik ini merupakan pengulangan hasil tahun lalu, saat ia juga gagal di final dikalahkan Lee Chong Wei. Prestasinya lebih baik dari para pemain tunggal lainnya seperti Sony Dwi Kuncoro, Simon Santoso dan Dionysius Hayom Rumbaka.

Taufik sendiri mengaku persiapannya menghadapi DIOSS tahun ini sangat kurang. “Setelah perebutan Piala Thomas, Mei lalu, saya istirahat dan kemudian terkena sakit selama seminggu. Setelah itu saya harus menunggui isteri saya yang melahirkan anak kedua,” katanya.

Namun Taufik menolak menjadikan semua masalah itu sebagai alasan kegagalannya di DIOSS tahun ini. “Saya harus mengatakan bahwa persiapan saya cukup. Karena kalau merasa tidak cukup, lebih baik saya tidak mendaftarkan diri,” kata Taufik lagi.

Ia juga menolak bila dikatakan kekalahannya dari Chong Wei merupakan bukti bahwa dirinya sudah menurun. “Kalau saya menang, orang akan mengatakan saya mulai kembali. Padahal seharsunya kan yang dilihat bukan saya, tetapi bagaimana para pemain-pemain muda yang sekarang menjadi pengganti saya,” kata ayah dua anak ini.

Menurut Taufik, ia memang sudah melewati masa jayanya. “Ini hal yang alami yang dialami semua pemain. Saat ini Chong Wei yang di atas, tetapi mungkin satu atau dua tahun lagi, dia akan mendapat pertanyaan serupa seperti kepada saya. Apakah anda sudah menurun?”

Taufik justru berharap masyarakat tidak memberi harapan berlebihan kepada dirinya, apalagi menganggap dirinya akan mampu menyelamatkan kembali bulu tangkis Indonesia yang tengah terpuruk. “Ketika memutuskan keluar dari pelatnas, saya sudah mengatakan saya akan mundur perlahan-lahan. Saya tidak ingin terjun bebas, berada di puncak dan kemudian menghilang,” kata taufik.

Bagi Taufik keberhasilannya menjadi juara dunia, meraih medali emas Olimpiade, membantu tim Piala Thomas dana enam kali menjuarai Indonesia Open sudah lebih dari cukup. “Yang penting sekarang justru adalah tanyakan kepada pengurus, pelatih mau pun para pemain di pelatnas, mengapa kita tidak ada yang juara di sini? Seharusnya mereka-lah yang melakukan evaluasi. Soal saya, pada saatnya nanti saya juga akan dilupakan orang….”

Seperti dikatakan jenderal besar Douglas MacArthur usai perang Korea, “Old soldiers never die. They just fade away…”

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | 1 Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series : Nihil Gelar, PBSI Janji Evaluasi

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com – Pihak PBSI berjanji akan melakukan evaluasi menyusul kegagalan pemain Indonesia untuk memenuhi target tiga gelar di Djarum Indonesia Open Super Series (DIOSS) 2010.

Hal ini diungkapkan Sekjen PBSI, Yacob Rusdianto selepas pertandingan final tunggal putera Taufik vs Lee Chong Wei di Istora, Senayan, Jakarta, Minggu (27/6/2010). “Kalau kalah kita harus instropeksi dan akan kita perbaiki. Apa pun yang orang lain katakan kenyataannnya kita memang tidak mendapatkan gelar. Soal target yah yang namanya target mau bagaimana lagi kalau memang tidak tercapai,” kata Yacob.

“Pihak binpres akan mengevaluasi kegagalan ini. Terutama untuk sistem latihan. Ini bukan hanya kesalahan atlet, tapi juga pelatih, PBSI dan semua pihak diharapkan ikut serta memberi masukan apa yang harus kami lakukan,” terang Yacob.

Sementara, Ketua umum, Djoko Santoso yang menonton langsung pertandingan final tunggal putera mengaku menghargai usaha dan kerja keras yang telah dilakukan Taufik. ” Taufik sudah bagus. Itu sudah maksimal dan kita semua sudah berusaha melakukan yang terbaik,” sebut Djoko. Hal senada juga diungkapkan Yacob, “Taufik sudah mati-matian tapi Chong Wei memang lebih bagus.”

Dari lima nomor yang dipertandingkan dengan total 120 atlet yang diturunkan tidak satupun berhasil membawa pulang gelar juara. Pencapaian terbaik diperoleh tunggal putera, Taufik Hidayat di babak final dan Hendra Setiawan yang berpasangan dengan Anastasia Russkikh di nomor ganda campuran.

Mengomentari soal lambannya regenerasi di pelatnas, Yacob meyangkal,” Saat ini kami sudah melakukan regenerasi. Tapi negara lain seperti China ternyata juga melakukannya dengan hasil yang lebih baik,” tandasnya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series : Chong Wei Terlalu Kuat Buat Taufik

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Tunggal utama dunia, Lee Chong Wei terlalu kuat dan mampu mengatasi pemain Indonesia, Taufik Hidayat di babak final Djarum Indonesia Open Super Series, Minggu (27/6/2010).

Chong Wei yang merupakan unggulan pertama turnamen yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno ini mengatasi Taufik dalam dua game 21-19 21-8. Chong Wei mengatasi perlawanan Taufik dalam 37 menit.

Di game pertama, Taufik masih mampu mengimbangi pemain asal Malaysia tersebut. Taufik tampil mengejutkan dengan mengajak Chong Wei bermain cepat dengan mengandalkan netting dan backhand smashnya yang terkenal.

Kedua peman saling berkejaran hingga kedudukan 18-18. pada kedudukan ini, Chong Wei sempat melancarkan protes saat sebuah pukulan Taufik yang jelas-jelas keluar dinyatakan masuk. Namun pemain Malaysia ini tidak terpengaruh dan langsung menyelesaikan game pertama 21-19.

Game kedua merupakan antiklimkas buat Taufik Hidayat. Pemain yang telah berusia 30 tahun ini tampak kehabisan nafas dan menyerah mudah 8-21. “saya tdaik bsia memungkiri lagi, game kedua memang saya sudah habis,” kata Taufik.

Dengan kegagalan Taufik ini, lengkaplah kegagalan para pemain tuan rumah. Hasil ini serupa dengan tahun lalu, saat Indonesia nihil gelar di Djarum Indonesia Open Super Series. Sangat disayangkan memang. Dengan penyelenggaraan dan prize money yang maksimal, hasil yang dicapai justru minimal.

Hasil lengkap:

Saina Nehwal [1] [IND]-[JPN] Sayaka Sato 21-19 13-21 21-11

Robert Mateusiak [3] [POL]/Nadiezda Zieba [POL]-[INA] Hendra Setiawan/[RUS] Anastasia Russkikh 21-18 22-20

kim Min Jung [5] [KOR]/Lee Hyo Jung [KOR]-[TPE] Chen Wen Hsing [4]/Chien Yu Chin 21-12 12-21 21-11

Fang Chieh Min [TPE]/Lee Sheng Mu [TPE]-[KOR] Cho Gun Woo/[KOR] Kwon Yi Goo 21-16 21-15

Lee Chong Wei [1] [MAS]-[INA] Taufik Hidayat [2] 21-19 21-8

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series : Korea dan Taiwan Kebagian Satu Gelar

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Ganda puteri Korea Selatan, Kim Min Jung/Lee Hyo Jung dan ganda putera Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu keluar sebagai juara Djarum Indonesia Open Super Series, Minggu (27/6/2010).

Dalam pertandingan final di istora, Gelora Bung Karno, Kim/Lee yang diunggulkan di tempat kelima mengalahkan ganda asal Taiwan, Cheng Wen Hsing/Chien Yu Chin yang merupakan unggulan empat. Kim/Lee menang rubber game 21-12 12-21 21-11 dalam 39 menit.

Sementara di nomor ganda putera, pasangan Taiwan, Fang Chieh Min/Lee Sheng Mu terlalu kuat buat ganda asal Korea Selatan, Cho Gun Woo/Kwon Yi Goo. Fang/Lee bermain cepat dan menang dua game atas lawan mereka 21-16 21-15 dalam 30 menit.

Di babak perdelapanfinal, Fang/Lee menyisihkan unggulan dua dari Indonesia, markis Kido/Hnedra Setiawan.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series : Anastasia Terserah kepada Hendra

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, KOMPAS.com – Hendra Setiawan/Anastasia Russkikh mengaku mendapat pelajaran berharga usia dikalahkan Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba 18-21 20-22 di final Indonesia Open, Minggu (27/6/2010).

“Saya sempat kesulitan karena ini merupakan pertemuan pertama saya dengan pasangan Polandia ini. Jadi, saya belum tahu bola-bola mereka seperti apa. Kami juga banyak melakukan kesalahan,” ungkap Hendra. Pasangan Markis Kido di ganda putera ini menambahkan, “Maunya saya sih menang di game kedua tapi tipe Eropa lebih susah karena lebih cepat. Jadi, bolanya lebih halus ketimbang permainan pemain Asia.”

Berbeda dengan Hendra yang mengalami kesulitan bertemu pasangan Polandia, Anastasia justru mengaku lebih mudah beradaptasi dengan tipe permainan cepat ala Eropa. “Sebelumnya saya tahu kalau ini akan menjadi pertandingan yang berat. Sangat berbeda sekali antara permainan pemain Eropa dan Asia. Saya tahu hal ini karena saya juga berasal dari Eropa. Kami tidak bingung, hanya masih harus belajar dan masih banyak hal yang harus diperbaiki ke depannya,” ujar Anastasia.

Ketika ditanya kemungkinannya untuk terus berpasangan dengan Hendra untuk jangka penjang, pebulutangkis cantik asal Rusia ini lantas tersenyum dan menjawab,”Semuanya terserah kepada Hendra. Dia harus berkonsentrasi untuk bermain di nomor ganda putera dan ganda campuran. Jadi semuanya tergantung padanya. Yang pasti, saya merasa sangat nyaman berpasangan dengan Hendra,” tandas Anastasia.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Atik Djauhari Ingin Tangani Pemain Indonesia

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Pelatih bulu tangkis senior, Atik Djauhari bersedia menangani para pemain Indonesia setelah kontraknya menangani pemain India berakhir tahun ini.

Atik mengatakan hal ini usai mengantar anak asuhnya, Saina Nehwal menjuarai turnamen Djarum Indonesia Open Super Series, Minggu (27/6). Saina mempertahankan gelar juara yang diraihnya tahun lalu dengan mengalahkan Sayako Sato (Jepang) di babak final.

“Tugas saya di India sebenarnya sampai berakhirnya Commonwealth Games yang akan berlangsung Oktober mendatang. Saya ditargetkan mempersembahkan emas dari event ini,” kata Atik yang merupakan pemain nasional Indonesia pada era awal 1970-an.

Menurut Atik, ia sebenarnya telah melampaui target yang dibebankan kepadanya, terutama menyangkut prestasi Saina Nehwal. “Saya katakan Saina akan masuk peringkat lima besar dunia pada pertengah tahun ini. Namun sekarang dia bahkan sudah masuk tiga besar dunia,” kata Atik lagi.

Menurut Atik, keberhasilan Saina sedikit banyak didukung oleh sikap pemain itu sendiri. “Saina itu tidak pernah merasa puas diri. kalau latihan tiga jam sehari, dia sering minta tambah sendiri menjadi empat jam,” kata Atik yang juga pernah melatih di Swedia.

Setelah kontraknya berakhir, Atik tidak menutup kemungkinan bila ada tawaran untuk melatih tim Indonesia. “Saya bersedia dan memang sebaiknya diberi target,” katanya.

Menurut Atik, kondisi pemain puteri Indonesia sekarang ini sebenarnya tidak mereleksikan kekayaan talenta yang dimiliki negara ini. “Kita ini seperti Brasil di sepakboila, memiliki pemain berbakat yang banyak sekali. Sekarang tinggal apakah pelatih atau pemainnya mau bekerja keras dan mau maju,” ungkapnya

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series 2010 : Saina Didukung Suporter Indonesia

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


DIOSS JAKARTA, KOMPAS.com – Juara bertahan asal India, Saina Nehwal kembali mengukuhkan tahtanya nomor tunggal puteri Djarum Indonesia Open Super Series 2010 setelah mengalahkan Sayako Sato asal Jepang di partai final lewat rubber game 21-19; 13-21; 21-11, Minggu (27/6/2010). Ditemui selepas pertandingan, anak asuh pelatih Atik Jauhari ini mengaku dukungan penonton di Istora menjadi salah satu kunci kemenangannya di laga pamungkas tersebut.

“Penontonnya luar biasa, mereka hebat. Saya tidak menemukan mereka di tempat lain selain Indonesia,” ungkap Seina. Pada laga final tersebut, ribuan penonton yang memadati Istora Senayan Jakarta memang terdengar mengeluh-eluhkan nama Seina.

Mereka memberi dukungan kepada pemain yang peringkatnya merangsek naik ke tiga besar versi BWF sejak 24 Juni 2010 ini. Beberapa penonton Indonesia bahkan menyanyikan syair lagu India yang kerap didengar seperti “Kuch Kuch Hota Hai” sebagai bentuk dukuangannya.

Sayangnya, ini justru berdampak buruk bagi sang lawan Sayako Sato yang menyisihkan tunggal terakhir Indonesia, Ana Rovita 22-20 21-17 di semifinal, Sabtu (26/6/2010). Sato pun mengakui sorakan penonton mempengaruhi permainannya. “Saya merasa seperti menjadi musuh dari penonton Indonesia. Itu sangat mengerikan,” sebut Sato.

Bagi Seina, gelar juara di DIOSS 2010 ini sekaligus menjadi gelar ketiga yang dibukukannya dalam tiga minggu berturut-turut setelah India Open Grand Prix dan Singapore Open Series. Pemain berusia 20 tahun ini pun berhak membawa pulang hadiah utama senilai Rp 18.750 dolar AS. “Saya akan memberikan hadiah itu untuk ayah saya, tapi mungkin sebelumnya saya akan berbelanja sedikit untuk beberapa barang yang saya ingini,” pungkas Seina.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Djarum Indonesia Open Super Series : Hendra/Anastasia Gagal Raih Gelar

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 28, 2010


JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran dadakan, Hendra Setiawan/Anastasia Russkikh gagal di final Djarum Indonesia Open Super Series setelah dikalahkan Robert Mateusiak/Nadiezda Zieba, Minggu (27/6).

Dalam pertandingan final yang berlangsung di Istora Gelora Bung Karno, Hendra dan pasangannya asal Rusia ini gagal mengatasi ganda unggulan 3 tersebut dan menyerah dalam dua game 18-21 20-22.

Didukung oleh sekitar 6 ribu penonton yang datang ke istora, Hendra/Anastasia mampu memberi perlawanan ketat kepada lawannya asal Polandia yang lebih berpengalaman tersebut. Mereka mampu melakukan tekanann melalui pukulan netting Anastasia dan smash Hendra Setiawan. Namun mereka akhirnya menyerah 18-21 20-22 dalam 36 menit.

Saat kedudukan kritis di game kedua, ganda Polandia ini melakukan protes terhadap keputusan wasit yang langsung memancing reaksi penonton. Usai pertandingan, Mateusiak mengaku ia melakukan protes atau tindakan provokatif lainnya karena ia merasa memang dirinya benar dan untuk memotivasi dirinya. “Mungkin saja para penonton marah karena kami menang menghadapi ganda Indonesia,” katanya.

Di babak semifinal, Mateusiak/Zieba menyingkirkan ganda utama Indonesia, Nova Wiianto/Liliyana Natsir. “bagi kami ini luar biasa. tahun lalu kami tidak memenangi satu pertandingan pun. tahun ini kami memenangi semua pertandingan dan menjadi juara.”

Dengan kegagalan Hendra/Anastasia meraih gelar ini, Indonesia tinggal berharap pada tunggal putera Taufik Hidayat. Unggulan ke 2 ini harus menghadapi lawan berat, Lee Chong Wei yang merupakan unggulan pertama turnamen.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: