SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    July 2012
    M T W T F S S
    « Jun   Aug »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Kata Kuncinya Disiplin

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on July 25, 2012


KOMPAS.com – Setelah kegagalannya melaju ke final bulu tangkis Olimpiade Atlanta 1996, Susi Susanti kecewa dan sedih. Apalagi setelah melalui persiapan matang sebelumnya. ”Saya juga menangis. Namun, setelah itu saya bangkit lagi,” ujar Susi, mantan ratu bulu tangkis peraih gelar All England (1990, 1991, 1993, 1994) dan satu gelar kejuaraan dunia (1993), Jumat (20/7).

Tiada yang mengira, Susi, yang memiliki determinasi sebagai pemain tangguh nan tak terkalahkan, bakal terhenti di semifinal. Adalah musuh bebuyutannya, Bang Soo-hyun (Korsel), yang menjegalnya.

Di semifinal Olimpiade Atlanta, Susi kalah 9-11, 8-11 dari Bang. Tunggal putri Korsel itu begitu percaya diri menundukkan Susi—sebagai upaya membalas dendam atas kekalahannya dari Susi di final Olimpiade Barcelona 1992.

”Saya kesal dengan kekalahan itu,” ujar Susi. Namun, bukan Susi namanya jika dia tak kuasa cepat bangkit dari kekalahan.

Bagi mantan pemain dan peraih lima kali juara Piala Dunia Bulu Tangkis (1989, 1991, 1994, 1995, 1997), kekalahan itu bukan akhir dari segalanya. ”Dari kekalahan, saya belajar apa yang menyebabkan saya kalah. Saya harus belajar dan mengoreksi diri supaya pada pertandingan berikutnya saya bisa kembali menang,” ujar Susi yang sekarang ibu tiga anak itu.

Resep yang sering ia pakai adalah memiliki buku catatan pribadi tentang kelemahan dan keunggulan lawan. Sebagai petarung bulu tangkis sejati, sejak lama Susi memiliki buku catatan mengenai lawan dan rajin mengisinya. Catatan itu tidak melulu mengenai lawan tangguh yang cukup merepotkannya saja, tetapi juga catatan pemain yang dia prediksi bakal muncul sebagai pemain tangguh.

Dengan buku ”primbon” itu, Susi mempelajari kekuatan lawan sebelum bertarung. ”Catatan itu memudahkan saya menghadapi lawan, selain kesiapan saya sendiri,” ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 itu.

Faktor lain yang wajib dimiliki petarung sejati adalah kemampuan bangkit dan tetap tenang ketika kehabisan napas atau saat-saat kritis. Menurut Susi, itu adalah bagian dari mental bertanding, fighting spirit.

Dia mencontohkan kala bertemu musuh yang sangat merepotkan, Bang Soo-hyun, di Korea Terbuka. Melawan Bang di semifinal, Susi selalu dicurangi juri lapangan. Mentalnya pun jatuh, tetapi Susi tetap tenang hingga akhirnya unggul.

Itu semua dapat dimiliki dengan kata kunci disiplin. Seorang pemain harus betul-betul berlatih dan menyiapkan diri dengan baik dan disiplin sehingga dia dapat dengan yakin mengetahui kemampuan dirinya.

”Saya bisa karena terbiasa,” ujarnya.

Kepada pemain bulu tangkis muda Indonesia, Susi pun berpesan agar mereka jangan mudah patah arang.

Pebulu tangkis Indonesia kini selalu dengan mudah jatuh mentalnya, bahkan sebelum turun ke lapangan. Itu biasanya terjadi kala pemain tersebut bakal bertemu pemain tangguh dari China atau Korsel. Susi melihat, kelemahan lain pemain muda saat ini adalah sangat cepat puas diri.

”Saya berharap pebulu tangkis Indonesia mau terus belajar dari kekalahan. Disiplin dalam berlatih dan belajar memperbaiki diri,” ujar pemain yang masuk Hall of Fame IBF 2004 dan 100 Olimpian dan Paralimpian Terbesar yang pernah ada dan diterbitkan Panitia Olimpiade London 2012 itu. (HLN/IVV)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: