SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    September 2013
    M T W T F S S
    « Aug   Oct »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for September 20th, 2013

Kido/Pia Pun Terhenti di Perempat Final Japan Open

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


TOKYO, KOMPAS.com — Markis Kido/Pia Zebadiah gagal melangkah ke semifinal Yonex Japan Open (Jepang Terbuka) Superseries 2013, yang berlangsung di Tokyo. Mereka tersingkir setelah takluk di tangan ganda China, Liu Cheng/Bao Yixin, 21-17, 19-21, 19-21, Jumat (20/9/2013).

Sempat saling mendahului dalam perolehan skor, Kido/Pia terus memimpin setelah unggul 3-2, pada game pertama. Ganda yang bernaung di Klub Jaya Raya Jakarta ini berhasil menutup game pertama dengan 21-17.

Kido/Pia memimpin di game kedua hingga unggul 14-8. Tetapi, Liu/Bao bangkit dan mengejar hingga 18-18. Selanjutnya, ganda China berbalik unggul dan menutup game ini dengan 21-19.

Kido/Pia mencoba bertahan di game ketiga atau penentuan. Setelah imbang 3-3, mereka terus tertinggal. Pasangan kakak-adik ini berhasil mendekat, tetapi akhirnya harus melepas game ini dengan kekalahan 19-21.

Indonesia masih menyisakan satu wakil di ganda campuran, yakni Praveen Jordan/Vita Marissa, yang akan menghadapi Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen dari Denmark, sore nanti.

Di semifinal, lawan yang mungkin dihadapi Liu/Bao adalah unggulan dua asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei, atau wakil tuan rumah, Takuto Inoue/Ayaka Takahashi.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Empat Wakil Indonesia di Arena Jepang Terbuka

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


TOKYO, KOMPAS.com — Empat wakil skuad Merah Putih lolos ke perempat final turnamen Jepang Terbuka (Japan Open) Super Series 2013 di Tokyo, Kamis (19/9/2013).

Dari keempat wakil tersebut, sektor tunggal gagal mengirimkan wakil setelah Linda Wenifanetri dihadang Sayaka Takahashi (Jepang), 12-21, 7-21.

Pada pertandingan babak kedua yang berlangsung di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Kamis (19/9/2013), pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses memetik kemenangan atas wakil tuan rumah, Yuya Komatsuzaki/Hiroki Takeuchi, 21-19, 21-19.

Sayangnya, Angga Pratama/Rian Agung Saputro tidak dapat menemani langkah sang Juara Dunia 2013 itu ke perempat final. Angga/Rian gagal menaklukkan pasangan Denmark, Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding, 14-21, 20-22.

“Cara main Angga/Rian masih kalah pintar dibanding pasangan Denmark. Selain itu Angga/Rian juga kurang tenang, terutama di saat-saat tertekan,” kata Herry Iman Pierngadi, Kepala Pelatih Ganda Putra PBSI seperti dikutip badmintonindonesia. “Angga/Rian harus meningkatkan rasa percaya diri mereka, masih sering ragu-ragu di lapangan,” tambah Herry saat dihubungi dari Jakarta.

Di nomor ganda putri, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari juga tak dapat menahan laju Cheng Wen Hsing/Hsieh Pei Chen (Taiwan). Greysia/Nitya dikalahkan dalam dua game langsung, 15-21, 21-23. “Tadi pelatih mengatakan bahwa kami harus menambah kekuatan. Tenaga juga harus lebih besar. Saat pulang ke Jakarta nanti, fisik kami akan digenjot habis-habisan,” kata Greysia soal kekalahannya bersama Nitya.

Gebby Ristiyani Imawan/Tiara Rosalia Nuraidah juga harus terhenti di babak kedua dari Bao Yixin/Zhong Qianxin (China), 14-21, 13-21. Dengan hasil ini, ganda putri hanya meloloskan Pia Zebadiah Bernadet/Rizki Amelia Pradipta yang memetik kemenangan atas wakil tuan rumah, Kugo Asumi/Yui Miyauchi, 21-19, 19-21, 21-17.

Selain itu, Pia juga lolos di ganda campuran bersama sang kakak, Markis Kido. Pasangan yunior-senior Praveen Jordan/Vita Marissa juga merebut tiket ke perempat final.

Berikut jadwal pemain Indonesia:
Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan    [Indonesia/1]-Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin [Taiwan/6]
Pia Zebadiah Bernadeth/Rizki Amelia Pradipta    [Indonesia/4]-Cheng Wen Hsing/Hsieh Pei Che [Taiwan]
Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen    [Denmark/3]-Praveen Jordan/Vita Marissa [Indonesia]
Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadet    [Indonesia/7]-Liu Cheng/Bao Yixin [China]

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Luluk Hadiyanto dan Topi Sarjana

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


Luluk_topisarjana_1aBulutangkis.com – Akhirnya terwujud juga impian Luluk Hadiyanto, mantan pebulutangkis nasional nasional untuk mengenakan Topi Sarjana. Usai menyelesaikan skripsinya Luluk pun menjalani menjalani proses wisuda akhir bulan Agustus lalu di Balairung Kampus Universitas Indonesia, Depok disaksikan isteri tercinta Wardahnia Hadiyanto SH, M.A dan putra semata wayang Rajendra Bhima Hadiyanto yang baru berusia 18 bulan.

“Senang bisa menyelesaikan mimpi yang tertunda,” ungkap Luluk, pebulutangkis ganda putra nomor satu dunia di tahun 2004 berpasangan dengan Alvent Yulianto Chandra, kepada Bulutangkis.com saat obrol-obrol pekan lalu melalui telpon genggam.

Bagi Luluk pendidikan adalah utama dan penting. Dan ini memang dilakoni mulai dari karirnya sebagai atlet cilik di PB Djarum Kudus. Saat masuk PB Djarum di Kudus, pebulutangkis kelahiran Blora, Jawa Tengah pada 8 June 1979, tak mengenal lelah harus bolak balik Kudus – Solo untuk menyelesaikan sekolahnya di SMPN 7 Solo.

Saat menjadi siswa kelas SMA 6 Solo, Luluk pun di panggil menjadi salah seorang pebulutangkis Pelatnas Pratama. Semangat bersekolah putra sulung dari pasangan Edy Soenarto dan Fatimah Sulami S.Pd tak surut. Luluk selalu rajin meminjam catatan teman-teman sekolahnya agar tidak tertinggal belajarnya. Dan ini akhirnya mengantarkannya sukses menyelesaikan pendidikan SMAnya.

Berkarir di bulutangkis Luluk harus kehilangan waktu untuk untuk melanjutkan pendidikannya. Walau begitu prestasi bulutangkis pun ditorehkannya bersama Alvent Yulianto dengan menjuarai ajang Korea Terbuka 2004, Indonesia Terbuka 2004, Muangthai Terbuka 2004, Singapura Terbuka 2004, juara 3 Dunia di Anaheim 2005 dan meraih medali perak Asian Games 2006.

Setelah keluar dari Pelatnas Cipayung, Luluk berkarir sebagai staff di Kementerian Pemuda dan Olahraga dan melanjutkan pendidikannya yang tertunda dengan menjadi mahasiswa FISIP UI. Luluk juga berhasil meraih ‘Beasiswa Unggulan’ yang disediakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Lewat skripsinya yang berjudul “Analisis Pengadaan Pegawai Negeri Sipil Fungsional Olahragawan dan Pelatih Berprestasi Pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Sebelum Kebijakan Moratorium” dengan nilai IPK 3,30 resmilah Luluk menggapai gelar sarjana yang merupakan salah satu mimpinya sejak kecil.

“Ini merupakan anugerah buat keluarga,” ungkap Edy Soenarto sang ayah tercinta kepada Bulutangkis.com pada kesempatan terpisah. “Merupakan kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami,” tambah Edy yang juga merupakan seorang guru di kota Solo.

Pasangan Edy dan Fatimah Sulami patut bersukacita akhirnya Luluk mampu menyelesaikan pendidikannya hingga meraih gelar sarjana walau sempat terhalang karir bulutangkisnya. Dua adik Luluk lebih dulu menyelesaikan pendidikannya. Luvi Hariyanti meraih gelar sarjana farmasi, dan adik bungsunya Lukman Hakim meraih gelar sarjana ekonomi.

Sukses menyelesaikan pendidikannya dengan meraih gelar sarjana di UI tidak membuat Luluk berpuas diri. Minat belajar Luluk tak juga surut. “Jika ada rejeki dan waktu saya masih ingin sekolah lagi,” ungkap Luluk mengenai rencananya untuk melanjutkan sekolahnya di jenjang pasca sarjana. Ayo Luluk, kamu bisa! (efka)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Mathias Boe/Carsten Mogensen Lewati Babak Kedua Japan Open

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


TOKYO, KOMPAS.com – Unggulan kedua ganda putra, Mathias Boe/Carsten Mogensen, memastikan diri lolos ke babak perempat final Yonex Japan Open Superseries 2013, usai mengalahkan ganda tuan rumah, Takatoshi Kurose/Sho Zeniya, pada babak kedua, Kamis (19/9/2013). Ganda Denmark ini menang dua game langsung, 21-15, 21-11, dalam 31 menit.

Pertandingan berlangsung ketat di awal, dengan kedua ganda saling kejar poin. Setelah skor menjadi 13 sama, Boe/Mogensen mulai meninggalkan lawan dan menutup game ini dengan 21-15.

Boe/Mogensen kembali menguasai jalannya pertandingan di game kedua, dan unggul 11-7 pada setengah game. Banyak melakukan pukulan ke arah net, Boe/Mogensen memastikan kemenangan usai menutup game dengan 21-11.

Hasil ini merupakan kemajuan bagi Boe/Mogensen. Dalam tiga penyelenggaraan turnamen ini sebelumnya, mereka selalu gagal menembus perempat final.

Finalis World Championships 2013 ini akan menghadapi rekan senegara, Mads Conrad-Petersen/Mads Pieler Kolding, pada babak perempat final. Conrad-Petersen/Kolding lolos berkat kemenangan fantastis atas unggulan lima dari Indonesia, Angga Pratama/Rian Agung Saputro.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Ahsan/Hendra ke Perempat Final Japan Open

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


TOKYO, KOMPAS.com — Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menang atas Yuya Komatsuzaki/Hiroki Takeuchi, 21-19, 21-19, pada babak kedua Yonex Japan Open Superseries 2013, yang berlangsung di Tokyo, Jepang, Kamis (19/9/2013). Kemenangan ini mengantar mereka ke perempat final.

Ahsan/Hendra memimpin perolehan poin pada game pertama, dengan pasangan Jepang selalu menempel ketat, hingga 12-11. Ahsan/Hendra mulai menjauh dan unggul 19-13. Tetapi, Komatsuzaki/Takeuchi berhasil mengejar hingga angka 19-20.

Ahsan/Hendra akhirnya berhasil melewati momen menegangkan dan menutup 12 menit game pertama dengan keunggulan 21-19.

Game kedua dimulai dengan kedua kubu saling kejar poin hingga enam sama. Ahsan/Hendra kembali lepas dan unggul 11-7 saat interval. Tetapi, pasangan Jepang tak pernah menyerah, dan berhasil menyamakan kedudukan, 14-14. Komatsuzaki/Takeuchi bahkan berbalik memimpn dalam perolehan poin hingga 17-15.

Ahsan/Hendra harus berjuang keras untuk meraih setiap poin demi menghindari rubber game. Setelah menyamakan kedudukan menjadi 19 sama, Juara Dunia 2013 ini akhirnya menutup game ini dengan 21-19, sekaligus memastikan kemenangan.

Di perempat final, Ahsan/Hendra akan menghadapi ganda Taiwan, Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin, yang lolos setelah mengalahkan pasangan tuan rumah, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, 21-13, 21-15.

Editor : Pipit Puspita Rini

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Lee Chong Wei Masih Aman di Japan Open

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


2135172elcewe2780x390TOKYO, KOMPAS.com – Unggulan pertama tunggal putra, Lee Chong Wei, melaju ke babak perempat final Yonex Japan Open Superseries 2013, di Tokyo, Jepang, setelah mengalahkan tunggal India, Anand Pawar, pada babak kedua, dengan dua game langsung, 21-12, 21-16, dalam 34 menit, Kamis (19/9/2013).

Pada awal game pertama, Lee belum bisa menemukan permainannya dan tertinggal 0-5. Saat pertandingan memanas, Lee menyamakan angka 7-7, lalu berbalik unggul. Tak butuh waktu lama, Lee menutup game ini dengan 21-12.

Lee lebih konsisten pada game kedua. Setelah memimpin 10-5, finalis World Championships 2013 ini menutup game dengan 21-16. Kemenangan ini membawa Lee ke perempat final, sekaligus mengubah rekor pertemuan dengan Pawar menjadi 4-0.

Selanjutnya, Lee akan bertemu wakil tuan rumah, Jun Takemura.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Ivana Lie, Perempuan Tangguh Indonesia

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 20, 2013


ivana lie_ bulutangkisBulutangkis.com – Mantan pebulutangkis putri nasional, Ivana Lie terpilih menjadi salah satu perempuan tangguh dari delapan perempuan Indonesia atas usahanya memperjuangkan hak-haknya. Apresiasi ini diberikan oleh Yayasan Pena Tanah Air, yang menaungi Majalah Pena Tanah Air beberapa waktu lalu di Jakarta.

Selain Ivana Lie, tujuh perempuan tangguh lainnya yang mendapat apresiasi adalah, Amelia Ahmad Yani, Antie Solaiman, Iffet Veceha Sidharta, Khofifah Indar Parawansa, Magda Hutagalung, Mooryati Soedibyo dan Ferdinando Ibo Yatipai.

Perjuangan Ivana Lie yang berdarah Tionghoa ini saat mengharumkan nama Indonesia dalam kancah perbulutangkisan dunia tanpa identitas menjadi salah satu penilaian untuk memilihnya menjadi perempuan tangguh. Prestasi yang ditorehkan Ivana di era 1970-1980an tak memudahkannya untuk mendapatkan status kewargaannegaraan. Ivana hanya dibekali secarik kertas yang menyatakan dirinya adalah warga negara Indonesia saat mengikuti turnamen membela nama Indonesia. Namun sekembalinya ke Tanah Air kewarganegaraannya dicabut dan kembali ‘stateless’ (tidak punya
kewarganegaraan).

“Sedih, seperti anak tiri tidak dihargai oleh negara,” ungkap Ivana kepada Bulutangkis.com mengenang pengalamannya saat membela Indonesia sebagai sebagai atlet bulutangkis.

Perjuangan Ivana di luar lapangan bulutangkis tidak kalah beratnya dengan perjuangan yang dihadapinya saat di lapangan bulutangkis. Ivana harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan sebuah pengakuan resmi sebagai warga negara Indonesia berupa SBKRI (Surat Bukti Kewarga-negaraan Republik Indonesia). Dan Ivana yang kini menjadi Staf Ahli Olahraga Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga tetap bertahan melakoni perjuangannya mengharumkan nama Indonesia di lapangan bulutangkis.

“Saya harus menunggu lima tahun, dari tahun 1977 hingga 1982,” ungkap Ivana mengenang lamanya menanti turunnya SKBRI.

“Saya lahir di Bandung, tanah air saya Indonesia. Orang bilang dimana engkau berpijak dan berlangit disitulah tanah airmu. Dalam hati sedih tapi Tuhan sudah memberi saya talenta ini untuk dikembangkan dengan kerja keras sehingga bisa memberikan yang terbaik untuk diri sendiri, keluarga dan bangsa,” ungkap Ivana, kelahiran Bandung, 7 Maret 1960.

“Saya merasa terhormat dengan penghargaan tersebut. Tapi sebenarnya saya merasa lebih banyak orang-orang yang jauh lebih tangguh dari saya. Saya masih terus belajar menjadi tangguh, karena menjadi tangguh adalah salah satu syarat untuk bisa sukses dalam kehidupan,” ujar Ivana.

Ivana tak hanya sukses sebagai pebulutangkis di nomor tunggal putri, namun mampu menorehkan prestasi pada nomor ganda putri dan ganda campuran. Di nomor tunggal putri torehan prestasi Ivana adalah juara pada Juara Denmark Terbuka 1979, juara Indonesia Terbuka 1983, medali emas SEA Games 1979 dan 1983, juara Taiwan Open 1982, 1984, runner-up Kejuaraan Dunia 1980, runner-up SEA Games 1981 dan 1985, serta runner-up World Grand Prix Final 1984.

Di nomor ganda putri saat berpasangan dengan Verawati Fajrin meraih gelar juara pada ajang Juara Indonesia Terbuka 1986, China Terbuka 1986 dan Taiwan Open 1986. Kemudian dengan Rosiana Tendean, prestasi Ivana ditorehkan saat meraih gelar juara Indonesia Terbuka 1987.

Berpasangan dengan Christian Hadinata di nomor ganda campuran, Ivana juga menorehkan beberapa prestasi diantaranya adalah juara Asian Games 1982, juara SEA Games, juara Indonesia Terbuka 1983 dan 1984, juara Piala Dunia 1985 dan juara US Open .

Usai berkiprah sebagai atlet Ivana sempat menelorkan gagasan Badmini (Badminton Mini). Ivana menggagas agar dibuatkan lapangan berukuran lebih kecil dari umumnya untuk menggairahkan anak-anak Indonesia bermain bulutangkis.

“Badmini bagus untuk pemasalan, sama seperti pada olahraga lainnya. Misalnya di golf anak-anak memulainya dengan peralatan olahraga yang sesuai dengan perkembangan fisik dan psikologis anak. Banyak orang berfikir langsung ke hasil atau ouputnya, bukan proses. Badmini adalah untuk proses yang lebih baik,” jelas Ivana mengenai gagasannya untuk mengembangkan badmini di kalangan anak-anak.

“Badmini sangat cocok buat anak-anak berusia 5 – 8 tahun,” jelas Ivana mengakhiri obrolan dengan Bulutangkis.com. (efka)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: