SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    October 2014
    M T W T F S S
    « Sep   Nov »
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    2728293031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2,679 other followers

Tong Sin Fu Mampir di Turnamen Ganda Putra Candra Wijaya

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on October 5, 2014


1916244tong1780x390JAKARTA, Kompas.com – Mantan pelatih nasional dua negara -Indonesia dan Tiongkok- Tong Sin Fu, menyempatkan diri hadir di acara turnamen bulu tangkis Yonex-Sunrise Candra Wijaya men’s Doubles Championships di Jakarta, Jumat (3/10/2014).

Tong yang merupakan mantan pelatih pemain legendaris Tiongkok, Lin Dan datang untuk menghadiri penganugerahan Life-Time Achievement award yang diberikan Candra Wijaya buat dua mantan pebulu tangkis nasional, Tan Joe Hok dan Hendra Sugita (Tan Thiam Beng).

Tan Joe Hok merupakan pemain tunggal legendaris Indonesia yang menjadi juara All England 1959 dan ikut Piala Thomas 1958-1964. Sementara Hendra Sugita atau Tan Thiam Beng merupkan pemain cadangan di Tim Indonesia yang merebut Piala Thomas untuk pertamakali pada 1958.

Tong Sin Fu sendiri pernah melatih timnas bulu tangkis Indonesia di Cipayung pada dekade 1990-an. Dekade itu merupakan masa keemasan bulu tangkis Indonesia yang ditandai dengan medali emas Olimpiade Barcelona (1992) dan Atlanta (1996) serta raihan Piala Thomas (1994-2002) dan Piala Uber (1994-1996).

Pada masa itu, Tong atau dengan dialek lama Tang Hsien Hu, dikenal sebagai pelatih yang keras pada puteri-puteri Indonesia. Dengan polesan Tong, Indonesia mampu dua kali menjuarai Piala Uber semasa diperkuat pemian bintang seperti Susy Susanti, Mia Udina, Rosiana Tendean dll.

Tidak heran saat Tong Sin Fu kembali ke Jakarta setelah terkahir kali datang pada 2004 , para mantan anak asuhnya beramai-ramai datang ke Gedung Bulu tangkis Jalan Asia Afrika, Senayan pada Jumat (03/10/2014) sore. Hadir antara lain mantan pemian seperti Rosiana Tendean, Lily Tampi dan Finarsih.

Menurut Lily Tampi, sebagai pelatih Tong Sin Fu memang sangat disiplin dengan selalu datang lebih awal daripada para pemain. “Tetapi kalau dia melatih, kita bisa bermain dengan taktis dan tidak mau kalah.”

Candra Wijaya menyebut sosok Tong Sin Fu sebagai seorang yang penuh dedikasi terhadap perkembangan bulu tangkis sebagai olah raga. Yang saya tahu dia orangnya sangat mengenal para pemain atau orang-orang yang dekat dengannya,” kata Candra.

Kisah tragis Tong Sin Fu memang nyatanya pernah terjadi di dalam sejarah negeri ini. Lahir di Teluk Betung, Lampung 13 Maret 1942, Tong atau Tang Hsien Hu harus hengkang ke Tiongkok pada 1950-an. Pada 1960-1970-an namanya dikenal di Indonesia sebagai juara Republik Rakyat Tiongkok yang ditakuti di Asia sebelum dikalahkan pemain Indonesia, Iie Sumirat pada 1976.

Tong datang ke Indonesia sebagai pelatih pada 1986. Sejak itu ia berusaha memperoleh kewarganegaraan RI, termasuk buat anak dan isterinya yang masih warganegara Tiongkok. Menurut penuturan mantan anak didiknya, Alan Budi Kusuma, usaha Tong SIn Fu menemui kegagalan pada 1998.

“Apa sih yang kurang saya lakukan buat negara ini? Saya sudah bawa gelar juara dunia, dapat penghargaan dari Priseden RI. Tetapi semua itu tidak ada gunanya,” kata Alan Budi Kusuma menguitip ungkapan Tong. “Gue di sini warganegara asing. Kalau saya mati, istri dan anak gue makan apa.”

Pada 1998, Tong memutuskan kembali ke Tiongkok. Di sana ia kembali melatih pemain-pemain muda dan menghasilkan beberapa nama besar seperti Xia Xuanze, xi Jinpeng dan Lin Dan. Bahkan setiapkali Indonesia bertemu Tiongkok dalam kejuaraan beregu, Tong selalu berada di sisi lapangan saat Lin Dan bermain.

Ketika Tong kembali ke Tiongkok pada 1998, ia diantar oleh anak-anak asuhnya seperti Alan Budi Kusuma, Hendrawan, Hariyanto Arbi, termasuk Candra Wijaya. “Saya tidak pernah ditangani langsung boleh Om Tong. Tetapi yang saya tahu dia adalah pelatih yang memilik karisma dan dihargai karena dedikasinya yang tinggi. Saya kira semangat semacam ini lah yang ada pada senior-senior dan pendahulu kami di bulu tangkis. Teramsuk juga Om (Tan) Joe Hok dan om Hendra (Sugita). Saya hanya ingin meneruskan semangat mereka.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: