SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    March 2015
    M T W T F S S
    « Feb   Apr »
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2,678 other followers

Jorgensen Punya Peluang jadi “Juru Selamat” Bulu Tangkis

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on March 10, 2015


2329154jorgensen-0803780x390JAKARTA, Kompas.com – Tunggal putra Denmark, Jan O. Jorgensen memiliki semua potensi untuk menyelamatkan pamor bulu tangkis sebagai olah raga prestasi sekaligus sebagai tontonan yang menarik.

Jorgensen gagal memenuhi ambisinya untuk menjuarai turnamen bulu tangkis dunia paling tertua, All England, Minggu (08/03/2015). Di final ia harus mengakui keunggulan pemain peringkat satu dunia saat ini, Chen Long. Meski sempat merebut gim pertama, Jorgensen akhirnya menyerah 21-15, 17-21, 15-21.

Pertandingan antara kedua pemain tidak diragukan lagi menjadi puncak pertunjukan All England malam itu. Chen Long dan Jorgensen mampu menebus kejemuan pertandingan sebelumnya di nomor ganda campuran antara juara bertahan Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad melawan Zhang Nan/Zhao Yunlei yang berat sebelah. Juga partai kedua antara Carolina Marin dan Saina Nehwal yang berlangsung seru namun mengalami antiklimaks di gim ketiga.

Dalam pertandingan ini, kedua pemain memperlihatkan gaya berbeda namun karakter sama yang tak mau menyerah. Di gim pertama, saat tertekan Chen Long berkali-kali menengok ke arah dua pelatihnya. Sementara di gim kedua dan ketiga, Jorgensen yang berganti tertekan berusaha mengatasinya sendiri, namun dengan perubahan ekspresi yang sangat transparan.

Dua pemain ini, Chen Long dan Jan O. Jorgensen tak bisa diragukan lagi adalah harapan akan masa depan dunia bulu tangkis di sektor tunggal putera. Memang masih ada nama legenda Tiongkok, Lin Dan dan pemain Malaysia, Lee Chong Wei apabila ia mampu lepas dari jeratan hukuman skorsing dua tahun akibat terbukti positif mengonsumsi doping saat kejuaraan dunia di Kopenhagen, Agustus tahun lalu.

Tetapi tentunya sedikit orang yang berharap Lin Dan dan mungkin Lee Chong Wei masih akan menjadi pemuncak persaingan di arena Olimpiade Rio De Janeiro pertengahan 2016 nanti. Meski Chong Wei masih di petingkat 3 dan Lin Dan saat ini di peringkat 6 dunia, kalau pertemuan final ketiga itu terjadi maka ini adalah bencana, karena bulu tangkis seperti mandek, stuck, jalan di tempat kalau tidak mau dikatakan mengalami penurunan.

Kalangan bulu tangkis lebih berharap partai puncak di Olimpiade Rio 2016 mempertemukan muka-muka baru. Di atas kertas, Chen Long yang kini menempati peringkat satu dunia dan Jan O. Jorgensen yang berada di peringkat dua berpeluang dan diharap dapat bertemu di final. Akan jauh lebih menarik, daripada pemain-pemain peringkat bawah mereka seperti Shon Wan Ho (Korea/4), K. Srikanth (India/5) atau pun Viktor Axelsen (Denmark/5).

Keduanya mewakili dua kutub yang berbeda dalam perkembangan bulu tangkis. Chen Long adalah buah dari pembinaan yang sistematis, spartan dan tertutup dari bulu tangkis Tiongkok. Dengan latihan yang keras dan terukur, Chen Long di atas kertas akan dapat diatur untuk mencapai puncaknya saat perhelatan Olimpiade nanti. Karena itulah tidak heran usai pertandingan melawan Jorgensen di final All England, Chen Long menolak menyebut ambisi pribadinya sebagai pemain. “Tugas saya saat ini adalah bermain sebaik mungkin dan menghindari mengalami cedera,” kata Chen Long.

Chen Long adalah tipikal yang berbeda dengan seniornya, Lin Dan. Legenda bulu tangkis ini adalah “sin tong” yang mungkin lahir satu dalam seratus tahun. Tipikal pemain seperti ini punya keinginan menang yang kuat, tetapi juga tahu kapan saatnya harus mengakhiri kehebatannya atau sudah kehilangan passion di situ.

Jorgensen lahir dari tradisi bulu tangkis Denmark yang panjang. Tradisi yang memiliki tantangan yang berbeda dan mungkin lebih sulit dari para pemain Tiongkok atau Asia pada umumnya. Mereka harus selalu memikirkan cara untuk dapat tetap eksis di tengah persaingan yang ketat di luar negara mereka. Mereka sadar kemampuan teknis saja tidak akan membuat mereka menjadi lirikan dari sponsor yang menjadi penopang utama karir mereka.

Tidak heran beberapa pemain Denmark kini gencar belajar bahasa mandarin karena sebagian besar sponsor yaitu produsen perlengkapan olah raga berasal dari negara-negara dengan tadisi bahasa mandarin. “Dengan menguasai bahasa mandarin, kita akan lebih mudah mendekati sponsor,”kata Viktor Axelsen, pemain peringkat 5 dunia asal Denmark.

Jorgensen sendiri adalah tipikal pemain yang stylish di dalam dan di luar lapangan. Di dalam lapangan, ia memiliki kemampuan teknis yang dapat membuatnya sulit ditaklukan pemain mana pun, bahkan Lin Dan atau Lee Chong Wei sekali pun. Sementara di luar lapangan, Jorgensen adalah seorang atlet dengan kemampuan pendekatan publik yang luar biasa. Ia mampu berkomunikasi dengan baik dengan penonton atau pun para jurnalis manca negara, melayani pertanyaan apa pun bahkan yang paling konyol seperti menanyakan rajah di tubuhnya. Atau bahkan melayani foto bersama para jurnalis dan penggemarnya.

Bulu tangkis tunggal putra saat ini dan masa depan memang berada di tangan dua pemain ini: Chen Long dan Jan O. Jorgensen. Namun dengan Chen Long yang dingin dan kaku, tampaknya Jorgensen lebih memiliki peluang untuk menjadi magnet olah raga ini. Di final All Eangland, Jorgensen memperlihatkan kemampuan non-teknis yang membuat dirinya mendapat dukungan bukan hanya dari penonton Denmark atau Eropa.

Ia melakukan protes dan call saat Chen Long tengah kegirangan karena baru saja mencapai angka 21 di gim ketiga. Ketika call-nya diterima ia langsung bereaksi gembira kepada penonton yang bersorak namun tanpa tendensi untuk melecehkan Chen Long. Dan ketika kalah, Jorgensen melakukan permintaan untuk menukar kaos dengan Chen Long. Sederhana sekali, namun tindakan ini mampu merebut hati para pendukung Chen Long di Barclaycards Arena, Birmingham.

Jorgensen menunjukkan sisi manusiawi seorang pemain bulu tangkis ketiak ia menangis saat menjadi jura di Indonesia Terbuka 2014 dan menangis ketika harus mengalami cedera  saat kejuaraan dunia berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada Agustus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: