SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    September 2015
    M T W T F S S
    « Aug   Oct »
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    282930  
  • BADMINTON GAME

  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2,702 other followers

Hebat! Ganda Campuran Indonesia Catat Rekor Baru

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 26, 2015


JAKARTA, Kompas.com – Tim ganda campuran Indonesia makin mengokohkan eksistensi di panggung bulutangkis dunia dengan menempatkan empat pasangan di top 15 rangking dunia.

Pasangan andalan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir masih menjadi yang terbaik dengan menduduki rangking dua dunia. Disusul dengan Praveen Jordan/Debby Susanto (9), Riky Widianto/Richi Puspita Dili (11) dan Edi Subaktiar/Gloria Emanuelle Widjaja (12).

Bicara soal tim ganda campuran memang tak lepas dari nama Richard Mainaky, orang dibalik sukses Tontowi/Liliyana cs. Dengan sentuhan tangan dingin kakak kandung Rexy Mainaky ini, pemain-pemain ganda campuran Indonesia menjadi salah satu yang paling ditakuti di dunia. Hanya ada dua negara yang mampu menempatkan empat wakil di top 15. Selain Indonesia, negara raksasa bulutangkis, Tiongkok, juga menyamai pencapaian ini.

Ketika ditanya soal resepnya meramu ganda campuran top dunia, Richard menekankan pentingnya melakukan pembinaan sejak dini, bahkan menyeleksi pemain yang akan diproyeksikan menjadi bintang bulutangkis andal.

“Resepnya ya dukungan dari PBSI untuk program saya dan dalam merekrut atlet-atlet yang tepat ke pelatnas, yaitu atlet yang punya potensi dan prospek bagus kedepannya. Hal ini jelas sesuai dengan harapan para pelatih,” ungkap Richard kepada Badmintonindonesia.org.

“Karena program PBSI jelas dan sangat mendukung program pelatih, termasuk dalam pengiriman atlet ke turnamen. Baru periode kepengurusan sekarang saya bisa meloloskan empat pasangan dalam 15 besar rangking dunia. Ini menandakan bahwa ada perubahan yang baik di kepengurusan ini, yang mana pembinaan untuk regenerasi penerus berjalan dengan baik,” imbuhnya.

“Maksimal lima pasang di top 20 itu sudah sangat luar biasa. Semoga program pembinaan bisa berjalan konsisten hingga olimpiade 2020 yang bakal diikuti pemain-pemain muda kita,” tutur Richard mengemukakan ambisinya.

Prestasi tim ganda campuran memang kerap kali menjadi kebanggaan tim Merah-Putih, disamping raihan yang kini juga dicatat Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (ganda putra) dan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri). Namun jauh sebelum Hendra/Ahsan dan Greysia/Nitya terbentuk, Tontowi/Liliyana sudah menjadi tumpuan dalam meraih gelar, termasuk di Olimpiade London 2012.

Bahkan sebelum Tontowi dipasangkan dengan Liliyana, Richard juga sudah punya andalan yang akhirnya mempersembahkan medali perak Olimpiade Beijing 2008 yaitu Liliyana yang berpasangan dengan Nova Widianto. Kini, penampilan para pelapis Tontowi/Liliyana pun tak dapat dipandang sebelah mata. Praveen/Debby menyumbangkan medali emas SEA Games Singapura 2015 serta medali perunggu Asian Games Incheon 2014.

Sedangkan Riky/Richi meraih medali perunggu di SEA Games Singapura 2015, dan Edi/Gloria mengantongi dua gelar dari Macau Open Grand Prix Gold 2014 dan Austria International Challenge 2015.

Cikal bakal pemain ganda campuran Indonsia memang sudah terlihat dari level junior. Indonesia pernah menguasai gelar juara BWF World Junior Championships selama dua tahun berturut-turut lewat kemenangan Alfian Eko Prasetya/Gloria Emanuelle Widjaja pada tahun 2011, disusul Edi Subaktiar/Melati Daeva Oktavianti.

Pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Masita Mahmudin nyaris membuat catatan ini menjadi tiga tahun berturut-turut saat memasuki final BWF World Junior Championships 2013 yang kala itu berlangsung di Bangkok, Thailand. Sayang, keduanya dikalahkan wakil Tiongkok.

Namun di tingkat Olimpiade, ganda campuran Indonesia belum pernah meraih medali emas. Medali emas Olimpiade dipersembahkan Susy Susanti dan Alan Budikusuma (1992), Ricky Subadja/Rexy Mainaky (1996),  Candra Wijaya/Tony Gunawan (2000), Taufik Hidayat (2004) dan Markis Kido/Hendra Setiawan (2008). Pada Olimpiade 2012, tim bulu tangkis Indonesia gagal total dan nihil medali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: