SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    January 2018
    M T W T F S S
    « Dec    
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
    293031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2,675 other followers

Archive for the ‘Bulutangkis’ Category

Hong Kong Terbuka Super Series : Fran/Shendy Juga Gagal

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 23, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Indonesia tinggal menyisakan satu ganda campuran setelah unggulan 6, Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati tersingkir di perempatfinal Hong Kong Terbuka Super Series, Jumat (23/11).

Fran/Shendy yang menjadi unggulan keenam disingkirkan unggulan 4 asal Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christina Pedersen. Mereka kalah dalam dua game 21-23 8-21.

Pasangan Indonesia ini sempat memberi perlawanan ketat pada game pertama sebelum menyerah 21-23. Namun perlawanan ini membuat mereka habis di game kedua dan menyerah mudah 8-21.

Dengan gugurnya Fran/Shendy, di nomor ganda campuran, Indonesia tinggal berharap pada Riky Widianto/Puspita Richi Dili. Namun pasangan muda ini harus menghadapi mission impossible karena bertemu unggulan 2 asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hendra Penasaran Lawan Juara Olimpiade

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 23, 2012


KOWLOON, Kompas.com – Juara Olimpiade 2008, Hendra Setiawan mengaku penasaran ingin segera berhadapan dengan juara Olimpiade 2012, Cai Yun/Fu Haifeng.

Hendra yang kini berpasangan dengan Mohammad Ahsan akan bertemu Cai/Fu di  babak perempat final Hongkong Open Super Series 2012 , Jumat (23/11) di stadion Hongkong Coliseum.

Tantangan berat di babak perempat final Hongkong Open Super Series memang sudah menanti pemain Indonesia. Pasangan ganda campuran Riky Widianto/Richi Puspita Dili kemungkinan besar akan bertemu dengan ganda campuran terbaik dunia sekaligus peraih medali emas Olimpiade London 2012 asal China, Zhang Nan/Zhao Yunlei.

“Kami belum pernah bertemu, tapi standard pemain China, mereka pasti cepat dan kuat. Kami akan lebih banyak mengandalkan taktik, karena kalau adu kuat pasti kalah kuat” kata Richi soal pertandingannya besok.

Sementara itu di tunggal putri, Adriyanti Firdasari ditantang oleh Juara Dunia 2010, Wang Lin. Pertemuan terakhir keduanya terjadi di Australia Open Grand Prix Gold 2012, di mana kala itu Wang memenangkan pertandingan dengan skor 19-21, 21-19, 21-14. Firda tercatat belum pernah menang melawan pemain asal China tersebut, skor sementara ini 3-0 untuk keunggulan Wang.

“Tak mudah untuk melawan Wang Lin, pada pertemuan terakhir saya kalah. Besok harus siap lebih capek dari hari ini” kata Firda.

Di nomor ganda putra, pasangan baru Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan juga berpeluang besar bertemu dengan juara Olimpiade London 2012, Cai Yun Cai/Fu Haifeng.

“Kami siap jika harus bertemu Cai/Fu, penasaran juga ingin melawan juara olimpiade” kata Hendra yang juga merupakan peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 bersama Markis Kido

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

RIP : Mantan Pelatih Bulu Tangkis Nasional Berpulang

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 23, 2012


JAKARTA, KOMPAS.com — Dunia bulu tangkis Indonesia berduka. Salah satu pelatih bertangan dingin, M Ridwan Sumardjo, telah berpulang pada Kamis (22/11/2012) dalam usia 74 tahun.

Bekas pelatih yang banyak melahirkan pemain-pemain muda berbakat ketika digembleng di SMP/SMU Ragunan tahun 1970-an itu wafat karena sakit prostat dan komplikasi.

Jenazah pelatih kelahiran Medan, 26 Desember 1937, itu dimakamkan di pemakaman umum Al Akmal Kedoya, Jakarta Barat, pada Kamis siang. Hingga akhir hayat, almarhum meninggalkan seorang istri dengan empat anak dan satu cucu.

Sebelum tutup usia, sarjana muda lulusan FPOK IKIP Medan tahun 1965 itu pada Maret silam seusai menjalankan ibadah umrah langsung masuk Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, untuk menjalani operasi prostat.

Setelah sempat membaik, pada Juni silam, M Ridwan harus kembali masuk ruang bedah di RS Siloam Kebon Jeruk untuk menjalani operasi prostat lanjutan. Meskipun operasi berjalan lancar, karena usia lanjut, kesehatan almarhum pun makin menurun.

“Kita sangat kehilangan dengan kepergian almarhum. Pak Ridwan adalah pelatih yang sangat disiplin dan bisa membaca segala kemampuan pemain muda. Beliau juga tahu bagaimana caranya memoles dan meningkatkan prestasi pemain muda untuk dicetak menjadi pemain kelas dunia,” ujar Lius Pongoh, salah satu pemain binaan Ridwan ketika menempuh pendidikan di SMU Ragunan tahun 1977-1979.

Selain Lius, sejumlah pemain muda hasil didikan M Ridwan kemudian bisa dipanggil masuk pelatnas dan berhasil dientaskannya menjadi pemain kelas dunia. Nama-nama pemain tersebut di antaranya Icuk Sugiarto, Hendry Saputra, Bobby Ertanto, almarhum Hadibowo, Eddy Prayitno, dan Susy Ogeh.

Selain berkarier di SMP/SMU Ragunan, almarhum juga pernah dipercaya menangani para pemain klub Tangkas Jakarta. Dia pun pernah terlibat dalam persiapan tim Piala Thomas Indonesia. Bahkan, pada tahun 1980 didaulat sebagai pelatih nasional di Brunei Darussalam.

Ketika warga Komunitas Bulutangkis Indonesia (KBI) mengunjungi sekaligus memberikan bantuan di rumahnya, Jalan Idata 17, Kemanggisan Ilir, Jakarta Barat, pada Juli silam, almarhum masih menaruh kepedulian tinggi terhadap bulu tangkis Indonesia.

Ia juga sempat berpesan kepada para pemangku kepentingan bulu tangkis nasional untuk menjaga persatuan, jangan saling bertengkar dan menyalahkan demi memajukan prestasi olahraga bulu tangkis Indonesia.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Tommy Lolos, Ahsan/Hendra Bertemu “Tembok China”

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Tunggal putra yang menjadi satu-satunya andalan Indonesia, Tommy Sugiarto, melangkah ke babak perempat final turnamen Hongkong Terbuka Superseries di Hongkong Coliseum. Di babak kedua turnamen berhadiah 350.000 dollar AS ini, Kamis (22/11/2012), Tommy hanya menyelesaikan separuh game pertama dengan durasi sembilan menit karena lawannya dari India, Kashyap Parupalli, mundur dalam kedudukan 11-6 untuk Tommy.

Dengan demikian, Tommy tetap memelihara asa untuk membawa pulang gelar turnamen ini ke Tanah Air. Di perempat final, Jumat (23/11), Tommy akan menghadapi pemain Jerman, Marc Zwiebler, yang menang 21-16, 21-19 atas pemain muda Denmark, Hans-Kristian Vittinghus. Ini akan menjadi pertemuan kedua mereka setelah Belanda Terbuka tahun 2007 yang dimenangkan Zwiebler.

Sementara itu di sektor ganda putra, Indonesia hanya menyisakan pasangan Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. Pasangan yang dipersatukan usai Olimpiade London 2012 ini menang 21-14, 21-13 atas pemain Korea Selatan, Shin Baek Choel/Yoo Yeon Seong.

Di babak delapan besar nanti, Ahsan/Hendra akan bertemu lawan berat dari China, Cai Yun/Fu Haifeng. Unggulan kedua ini lolos setelah menang 23-21, 19-21, 21-6 atas pasangan India, Pranaav Jerry Chopra/Akshay Dewalkar. Ahsan/Hendra baru satu kali bertemu mantan pemain nomor satu dunia tersebut di Piala Sudirman tahun 2009, yang dimenangkan oleh pasangan China itu.

Sedangkan ganda putri terbaik Tanah Air, yang baru bermain lagi setelah didiskualifikasi dari Olimpiade London, Meiliana Jauhari/Greysia Polii, gagal melanjutkan kiprah mereka. Meiliana/Greysia kalah 19-21, 17-21 dari pasangan Malaysia, Goh Liu Ying/Lim Yin Loo.

Kegagalan juga dialami pasangan kakak-beradik di sektor ganda campuran, Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadeth, yang kalah 13-21, 9-21 dari unggulan keempat asal Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen. Di perempat final, pasangan Denmark ini akan menjadi lawan unggulan keenam yang menjadi andalan Indonesia, Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati, yang dalam tiga pertemuan sebelumnya selalu kalah.

Ganda campuran Indonesia lainnya, Riky Widianto/Puspita Richi Dili, juga akan menjalani misi sangat berat di perempat final. Pasalnya, mereka bertemu unggulan kedua dari China, Zhang Nan/Zhao Yunlei. Ini akan jadi pertemuan pertama mereka.

Dari sektor tunggal putri, Adriyanti Firdasari, yang lolos setelah mengalahkan pemain Jepang Eriko Hirose, akan bertemu pemain China, Wang Lin. Wang maju ke babak delapan besar setelah menyingkirkan unggulan ketiga dari India, Saina Nehwal, dengan 21-19, 21-15.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hongkong Terbuka Superseries : Firdasari Lolos ke Perempat Final

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Adriyanti Firdasari terus memelihara asa Indonesia menyabet gelar tunggal putri turnamen Hongkong Terbuka Superseries di Hongkong Coliseum. Firdasari lolos ke babak perempat final setelah menang 21-17, 21-19 atas pemain ulet Jepang, Eriko Hirose, Kamis (22/11/2012).

Saat ini Firdasari menjadi satu-satunya wakil andalan Indonesia di sektor tunggal putri turnamen berhadiah 350.000 dollar AS tersebut. Pasalnya, Belaetrix Manuputi yang juga tampil di babak kedua hari ini, tak berhasil melewati hadangan pemain China yang merupakan unggulan kedua, Li Xuerui. Di perempat final, Jumat (23/11), Firdasari akan bertemu pemenang antara unggulan ketiga dari India, Saina Nehwal, dengan pemain kualifikasi China, Wang Lin.

Dari sektor ganda campuran, pasangan Fran Kurniawan/Shendy Puspa Irawati juga meraih tiket babak delapan besar. Unggulan keenam ini lolos setelah menang dua game langsung 21-15, 21-10 atas pasangan Denmark, Mads Pieler Kolding/Kamilla Rytter Juhl. Di perempat final, mereka menunggu pemenang antara unggulan keempat dari Denmark, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen, dengan pasangan kakak-beradik dari Indonesia, Markis Kido/Pia Zebadiah Bernadeth.

Sayang, langkah Fran/Shendy tak diikuti rekannya sesama pemain Pelatnas, Muhammad Rijal/Debby Susanto. Unggulan kelima ini menyerah 21-17, 24-26, 18-21 dari pasangan Korea Selatan, Yoo Yeon Seong/Jang Ye-na, yang di perempat final menghadapi unggulan ketiga dari Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hong Kong Terbuka Super Series : Baru Ganda Campuran ke Perempatfinal

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Ganda campuran Riky Widianto/Puspita Richi Dili maju ke perempatfinal Hongkong Terbuka Super Series dengan menyingkirkan ganda Malaysia, Kamis (22/11).

Riky/Puspita mengalahkan Tan Wee Kiong/Lim Yin Loo lewat permainan dua game 21-17 21-8 dalam 24 menit.  Di babak perempatfinal mereka akan menghadapi salah satu dari dua ganda China, Zhang Nan/Zhao Yunlei yang merupakan unggulan dua atau Qiu Zihan/Luo Yu.

Namun kegagalan merundung banyak wakil Indonesia di babak kedua, Kamis (22/11). Di ganda puteri, Suci Rizky Andini/Della Destiara Haris disingkirkan unggulan pertama, Tian Qing/Zhao Yunlei 21-23 18-21.

Ganda putera Angga Pratama/Ryan Agung Saputra juga gagal setelah disingkirkan ganda Korea Selatan, Ko Sung Hyun/Lee Yong Dae lewat pertandingan dua game 18-21 16-21.

Sementara Bellaetrix Manuputty juga gagal setelah disingkirkan unggulan 2 dari China, Li Xuerui 14-21 13-21.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Pia Alami Cedera Kaki; Dua Ganda Putera Tersingkir

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Pia Zebadiah Bernadet mengalami cedera kaki yang membuat pasangannya bersama Markis Kido diragukan tampil di babak kedua.

Ganda campuran Markis Kido-Pia Zebadiah belum memastikan dapat tampil pada babak 16 besar Hong Kong Terbuka Super Series menyusul cedera yang dialami Pia.

“Tadi Pia cedera, tetapi tidak tahu lagi bagaimana…lihat besok,” ujar Kido yang dihubungi dari Jakarta mengenai cedera yang dialami adik sekalius pasangan duetnya.

Pada putaran pertama turnamen yang berlangsung di Hong Kong Coliseum, Kowloon, Hong Kong, Rabu siang, Kido-Pia menang atas pasangan Prancis Gaetan Mittelheisser-Emilie Lefel 21-11, 21-13 dan maju ke putaran kedua bertemu pasangan unggulan keempat asal Denmark Joachim Fischer Nielsen-Christinna Pedersen.

Namun pada malam harinya, ketika bertanding pada ganda putri bersama Rizki Amelia Pradipta melawan pasangan Taiwan Chiang Kai Hsin-Tsai Pei Ling, Pia-Rizki tidak melanjutkan pertandingan saat tertinggal 18-21, 17-17 dan memberi kemenangan bagi lawan mereka.

Pia yang mengalami cedera pergelangan kaki kiri itu mengaku belum tahu apakah dapat tampil bersama kakaknya, Kido, pada ganda campuran, Kamis (22/11). “Belum tahu,” katanya.

Sementara itu, pasangan Greysia Polii-Meiliana Jauhari yang tampil pertama kali sejak dikenai hukuman karena dianggap tidak berusaha keras untuk menang pada Olimpiade London lalu, berhasil lolos ke babak kedua setelah menang atas pasangan Rusia Tatjana Bibik-Anastasia Chervaykova 21-10, 21-15.

-Selanjutnya mereka akan melawan ganda putri Malaysia Goh Liu Ying-Lim Yin Loo yang menundukkan unggulan ketiga Christinna Pedersen-Kamilla Rytter Juhl dari Denmark 12-21, 22-20, 21-18.

Sementara itu, Dua ganda putera, Bona Septano/Afiat Wirawan dan Alvent Yulianto/Markis Kido terhenti langkahnya di babak kedua turnamen Hong Kong Terbuka Super Series, Kamis (22/11).

Ganda bentukan baru, Bona/Afiat gagal mengimbangi unggulan 5 asal Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa. Mereka menyerah dalam dua game  19-21 16-21.

Sementara ganda senior, Alvent Yulianto/Markis Kido juga harus menyerah dua game dari ganda asal Taiwan, Lee Sheng Mu/Tsai Chia Hsin. Mereka kalah 17-21 13-21.

Dengan kekalahan ini, Indonesia tinggal menyisakan dua ganda putera yaitu Muhammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Yonathan Suryatama/Hendra AG.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Tati Sumirah : “Nggak kepikiran duit, yang penting kita menang”

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


Bulutangkis.com – Tak banyak pecinta bulutangkis jaman sekarang yang tahu mengenai sosok seorang Tati Sumirah. Ya dia adalah salah seorang pahlawan tim Uber Cup Indonesia pada tahun 1975, yang ketika itu menjadi tunggal kedua setelah Minarni (Alm). Pada saat itu pulalah Indonesia pertama kali memboyong piala Uber yang digelar di Indonesia (Istora Senayan, Jakarta).

Pada tanggal 10 November 2012 lalu, tepat pada hari pahlawan, kami berkesempatan mengunjungi kediaman Tati Sumirah (yang akrab kami sapa dengan Bu Tati) di kawasan Waru Doyong, Buaran, Jakarta Timur. Sempat mengalami sedikit kesulitan karena ternyata alamat yang kami miliki terdapat sedikit kekeliruan, namun hal tersebut tidak menghalangi niat kami untuk terus mencari rumah Bu Tati. Setiap orang yang kami temui terus kami tanyai mengenai alamat tersebut. Bahkan kami langsung menyebut nama Bu Tati, namun tak banyak juga warga yang tahu mengenai Tati Sumirah. Akhirnya kami bertanya ke rumah Pak RT setempat dan ditunjukkan jalan oleh Bu RT. Hati lega rasanya ketika kami berhasil menemukan rumah Bu Tati, rasa capek dan teriknya sinar matahari yang membakar tubuh kami rasanya terbayarkan.

Sesampai di rumah Tati Sumirah yang cukup sederhana, kami disapa dengan hangat oleh Bu Tati. Tak ada rasa canggung sedikit pun dari beliau untuk berbagi cerita dengan kami yang baru ia kenal. Beliaupun menyuguhkan kami minuman.

Menurut Tati Sumirah, ia bukanlah sosok yang pandai berbicara di depan publik, oleh sebab itu sebelum kami membuat janji untuk bekunjung ke rumahnya ia sempat bertanya apakah kami adalah wartawan. Pernah juga dia diundang oleh suatu acara Kampus sebuah perguruan tinggi di Jakarta untuk berbagi pengalaman tentang masa kejayaannya namun ia menolak karena dia tidak pandai berbicara kecuali jika ada yang “mancing”.

“Kalo ibu bisa ngomong mungkin gak perlu seperti sekarang, mungkin ibu bisa duduk di PBSI seperti teman-teman lainnya,” ungkapnya. Tampak ada sedikit penyesalan di raut wajahnya.

Tati Sumirah masih hidup lajang sampai sekarang, “Ibu gak pandai ngomong, mungkin itu kali makanya ibu belum berkeluarga,” ungkapnya dengan muka tersenyum. Tati Sumirah tinggal di rumah milik orang tuanya bersama dengan ibunya yang kondisi kesehatannya sudah mulai lemah, serta adik dan keponakan-keponkannya. Rumah yang Ia tempati sekarang sudah berumur 20-an tahun.
Ketika kami menanyakan kepadanya bagaimana awalnya ia bisa menyukai bulutangkis, ia pun bercerita bahwa ketika dia masih SD, dia kenal dengan orang Amerika yang membangun jalan by pass. Ketika ia bermain ke rumah orang Amerika tersebut, ia mendapatkan sebuah majalah yang tergeletak di atas meja yang isinya mengenai liputan bulutangkis, dan orang Amerika tersebut pun bercerita sedikit mengenai bulutangkis yang pada saat itu sangat populer di Amerika. Dari situlah Tati kecil mulai tertarik dengan bulutangkis dan sedikit didorong oleh Ayahnya yang ternyata adalah seorang atlit tinju. Oleh ayahnya, halaman rumah yang dulu berada di daerah Rawamangun dibuatkan sebuah lapangan kecil yang dasarnya masih tanah, dan digaris dengan menggunakan kapur tulis. Jika bermain pada malam hari, Tati kecil dan warga setempat harus menggunakan 4 buah lampu petromaks sebagai penerang.

Tati Sumirah pun mulai mengikuti kejuaraan-kejuaraan antar daerah, pernah suatu hari juara mewakili Jakarta, dari situ lah nama Tati mulai diperhitungkan. Tati Sumirah pun masuk ke PB Tangkas pada umur sekitar 14-15 tahun.

Pengorbanan Tati Sumirah pada pendidikannya patut kita beri “standing applause” karena pada SMP kelas 3, ia bercerita kalau ia tidak lulus SMP karena harus mengikuti PON mewakili DKI Jakarta.

Sekitarumur 20-21 tahun, Ia pun dipanggil masuk ke Pelatnas. Bu Tati pun bercerita sedikit mengenai latihan di Pelatnas jaman dulu. Pelatnas dulu berada di Senayan, yang sekarang menjadi Hotel AtletCentury. Pukul 04.30 pagi ia dan teman-temannya sudah harus bangun, dan pukul 06.00 pagi harus menjalani latihan fisik dengan berlari mengitari lapangan sepak bola Gelora Bung Karno (GBK) dengan pola 8 kali putaran pemanasan, dan dilanjutkan 30 kali putaran untuk atlit putri, serta 40 putaran bagi atlit putra.

Untuk pengiriman pemain ke sebuah turnamen, tidak sembarangan. Para pemain dari Pelatnas maupun Pelatda diseleksi terlebih dahulu, yang terpilih adalah juara seleksi 1 sampai dengan 3. Baru kemudian di berangkatkan untuk turnamen. Salah satu contoh pada masa itu adalah ketiga pemain tersebut didaftarkan sekaligus untuk 3 turnamen yaitu Belanda Terbuka, All England,dan Denmark Terbuka. Berbeda dengan sekarang, dimana atlit yang dikirim adalah atlit-atlit penghuni Pelatnas yang sudah “dijatah” atau atlit-atlit profesional yang dibiayai oleh klub masing-masing.

Ditanya mengenai “musuh” nya, Bu Tati menjawab Margaret Beck asal Inggris. Tati Sumirah gagal menjuarai Kejuaraan Invitasi Dunia pada tahun 1974 setelah di final dikalahkan Margaret Beck asal Inggris. Selain Margaret, pemain Jepang dan Denmark juga merupakan lawan yang cukup berat pada masa itu.
pertandingan paling berkesan menurut Bu Tati adalah pada Asian Games VII di Teheran, Iran. Pada saat itu tim beregu putri Indonesia hanya ditargetkan untuk juara 3, namun tim Indonesia berhasil mengalahkan tim Jepang di Semifinal, dan Tati Sumirah sendiri merupakan salah satu pemain yang berhasil menyumbangkan poin bagi tim Indonesia.

“Wah senangnya minta ampun pas menang, saya langsung lari ke ruang atlit loncatin pembatas untuk kasih tau temen-temen kalo saya menang,” ungkap Bu Tati. Namun, Indonesia gagal di Final dan dikalahkan oleh China. Kala itu, Tati Sumirah diturunkan di tunggal dan dikalahkan oleh Liang Qiuxia.

Kemudian kami pun lanjut bertanya mengenai motivasi menjuarai sebuah turnamen apakah karena hadiah Prize Money? Dia langsung tersenyum lebar karena pada masa itu juara tidak mendapatkan prize money, hanya uang saku dari PBSI dan sebuah piala. “Gak kepikiran duit, yang penting kita menang, rebut medali, lihat bendera Indonesia dan denger Indonesia Raya berkumandang, kita pulang dengan bangga,” ungkapnya.

Tati Sumirah sudah banyak mengikuti turnamen-turnamen di hampir seluruh belahan dunia, mulai dari Asia, Eropa, hingga Australia sudah diikutinya. “Jaman Ibu dulu nggak ada yang namanya Sirnas, makanya Ibu udah pernah keliling dunia tapi belum pernah ke Bali, hehe..” tuturnya dengan gaya khas sederhananya.

“Ibu asyik donk keliling dunia bisa jalan-jalan?” canda kami.

Bagi dia pertandingan ke luar negeri bukanlah untuk jalan-jalan, melainkan untuk bertanding membawa nama bangsa. “Jalan-jalan jarang sih, kalau mau jalan-jalan harus kalah dulu baru bisa jalan, kalau nggak kalah nggak bisa jalan. Tapi ibu jarang sih, paling tersisa satu hari, besokannya udah harus pulang lagi”. Mengenai jalan-jalan dan kalah, Bu Tati mengungkapkan bahwa ia paling cepat ‘angkat koper’ adalah pada babak 4 (quarterfinal). Sungguh pengalaman yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan era sekarang, dimana pemain tunggal putri banyak yang sudah ‘rontok’ pada babak-babak awal. Sampai Ia berhenti dari bulutangkis, rupanya pada masa itu belum ada sistem Ranking BWF. Jadi, penentuan unggulan suatu turnamen berdasarkan hasil pencapaian di beberapa turnamen sebelumnya.

Pada tahun 1981, Tati Sumirah yang pada saat itu baru berusia 28 tahun menyatakan “gantung raket”. Hal ini terjadi karena begitu ketatnya persaingan di Pelatnas. Tati Sumirah sudah mampu dikejar oleh junior di bawahnya seperti Verawaty dan Ivana Lie. Tati Sumirah sudah kurang berprestasi pada masa itu, oleh sebab itu ia sendiri yang menyatakan pensiun dari bulutangkis yang pernah membesarkan namanya. Setelah keluar dari Pelatnas, Tati Sumirah bekerja paruh waktu selama 2 tahun di sebuah apotik sebagai kasir. “Yang punya apotik seneng sama bulutangkis, makanya mau nerima Ibu, padahal ibu nggak bisa apa-apa”, kenangnya. Baru 2 tahun setelah itu, Tati Sumirah bekerja secara full time di apotik tersebut selama 20 tahun hingga tahun 2005 dengan gaji yang kadang tidak mencukupi kebutuhannya.

Tahun 2006, Tati Sumirah mencoba melatih di sebuah klub bulutangkis kecil di wilayah Pekayon, Bekasi selama satu tahun. Kemudian pada Tahun 2007, Tati Sumirah diundang oleh sebuah acara talk show di Metro TV, Kick Andy yang bertemakan Simpati kepada mantan atlit. Setelah melihat tayangan dari talk show tersebut, Rudy Hartono yang juga mantan atlit dan pengusaha mengajak Tati Sumirah untuk bekerja di perusahaan oli Top 1 miliknya di bagian administrasi hingga saat ini. Setiap harinya, Bu Tati berangkat ke tempat kerjanya dengan mengendarai sepeda motor hasil jerih payahnya sendiri. Meski sudah berusia 60 tahun, Bu Tati masih kuat mengendarai sepeda motor setiap hari dari kediamannya di daerah Klender menuju Kemayoran. Ia berangkat pukul 7 pagi, dan baru tiba di rumah sekitar pukul 19.30 malam setiap harinya.

Cerita mengenai sepeda motornya, dulu Bu Tati menggunakan motor Vespa yang didapat dari bonus uang dari PBSI atas keberhasilannya dan teman-temannya merebut piala Uber pertama kali pada tahun 1975. Dari hasil uang bonus tersebut, dibelikan sebuah sepeda motor Vespa. Kemudian setelah ia bekerja di perusahaan milik Rudy Hartono dengan penghasilan yang mendingan, Vespa tersebut ditukar tambah dengan sepeda motor yang lebih baik.

Sambil mendengar kisahnya, kami pun sambil melihat beberapa piala, medali, serta beberapa penghargaan dari Pemerintah yang terpampang di lemarinya yang sudah mulai usang. Belum lama ini, Bu Tati mendapat jaminan asuransi dari MNC Sport. Pernah juga ia menerima sejumlah uang dari Menpora atas jasanya berupa uang untuk dibelikan sebuah rumah dan untuk usaha, namun oleh Bu Tati hanya cukup digunakan untuk mengurus sertifikat rumah yang ia diami sekarang. Melihat ada sedikit keganjalan karena tidak terlihat selembar pun foto ketika Ia masih menjadi atlit, kami pun bertanya apakah ada foto kenang-kenangan ketika ia bermain bulutangkis, ia pun menjawab bahwa tidak ada foto, namun hanya ada satu foto ketika Ia menerima penghargaan Bintang Satu dari mantan presiden Soeharto, namun sayang sekali foto tersebut pun sudah tidak ada karena dipinjam oleh salah seorang wartawan dan tidak dikembalikan hingga kini.

Saat ini, Tati Sumirah sudah tidak terlalu mengikuti perkembangan bulutangkis. Ia tidak begitu tahu mengenai penerus-penerusnya seperti Adrianti Firdasari, Maria Febe, dan lain-lain. Ia hanya tahu nama-nama seperti Taufik Hidayat, Tommy Sugiarto, dan beberapa nama lainnya. Namun, pada perhelatan Thomas-Uber Cup yang lalu, Ia mengaku sempat nonton dan merasa “gregetan” karena baik Tim Thomas maupun Tim Uber, keduanya kalah dari Jepang pada babak quarter final.

“Harusnya pemain dan pelatih itu punya satu hati, baru mainnya bisa enak,” katanya. Kala itu ia mengajak warga di sekitaran rumahnya untuk menonton siaran Thomas-Uber dan memberikan dukungan kepada tim Merah Putih di depan rumahnya dengan mengangkat sebuah TV ke teras rumahnya.

Sebagai seorang mantan pemain bulutangkis, pasti ada rasa rindu untuk berlaga di karpet hijau. Untuk mengusir rasa ridunya tersebut, Bu Tati biasanya bermain dengan bapak-bapak di kantor. “Ibu biasanya main sama bapak-bapak dua lawan satu, bapak-bapak seneng main sama ibu, soalnya ibu suka buat bapak-bapak lari pontang-panting,” akunya.

Di akhir silaturahmi kami, kami pun mengajak jika suatu hari nanti Bu Tati dapat Mabar (Main Bareng) bersama kami. Beliau pun mengiyakan ajakan kami, katanya ia mau melihat permainan kami. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagi kami bisa mendengar langsung kisah pahlawan Uber Cup 1975.

Terima kasih Bu Tati untuk waktunya, semoga kita dapat berjumpa lagi dilain kesempatan. (Septiani Lay – Buldoc)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hongkong Terbuka Superseries : Meiliana/Greysia Melangkah ke Babak Kedua

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Ganda putri terbaik Indonesia, Meiliana Jauhari/Greysia Polii, melangkah ke babak kedua turnamen Hongkong Terbuka Superseries, Rabu (21/11/2012), di Hongkong Coliseum. Pasangan yang sempat mengalami pukulan telak di Olimpiade London 2012 karena didiskualifikasi ini menang dua game 21-10, 21-15 atas pasangan Rusia, Tatjana Bibik/Anastasia Chervaykova.

Di babak kedua turnamen berhadiah 350.000 dollar AS ini, Kamis (22/11), Meiliana/Greysia akan bertemu pemenang antara unggulan ketiga dari Denmark, Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl, dengan pasangan Malaysia, Goh Liu Ying/Lim Yin Loo.

Sayang, keberhasilan Meiliana/Greysia ini tak diikuti pasangan Indonesia lainnya, Pia Zebadiah Bernadeth/Rizki Amelia Pradipta, yang mundur saat bertemu pasangan Taiwan, Chiang Kai Hsin/Tsai Pei-Ling. Pada game pertama, Pia/Rizki kalah 18-21, dan pada gama kedua kedudukan 17-17 saat mereka tak bisa melanjutkan pertandingan.

Dengan demikian, ada dua ganda putri Indonesia yang lolos ke babak kedua karena Suci Rizky Andini/Della Destiara Haris juga berhasil melewati hadangan pasangan Taiwan, Hung Shih Chieh/Wu Fang Chien, yang ditaklukkan dengan 21-13, 21-12. Tetapi di babak selanjutnya lawan berat sudah menanti, karena Suci/Della bertemu unggulan utama dari China, Tian Qing/Zhao Yunlei.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

Hongkong Terbuka Superseries : Hanya Tommy Sugiarto yang Tersisa

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 22, 2012


JAKARTA, Kompas.com – Tommy Sugiarto menjadi satu-satunya tunggal putra Indonesia yang lolos dari hadangan berat di babak pertama turnamen Hongkong Terbuka Superseries, Rabu (21/11/2012), di Hongkong Coliseum. Meski dipaksa bermain rubber game, Tommy akhirnya menaklukkan pemain tuan rumah, Wong Wing Ki, dengan 21-12, 10-21, 21-15.

Dengan demikian, Tommy bakal jadi tumpuan Indonesia untuk merebut gelar tunggal putra turnamen berhadiah 350.000 dollar AS ini, setelah Sony Dwi Kuncoro, Taufik Hidayat, Andre Kurniawan Tedjono, dan Dionysius Hayom Rumbaka terjegal. Di babak kedua, Kamis (22/11), Tommy akan bertemu pemain India, Kashyap Parupalli, yang menang 24-22, 20-22, 22-20 atas unggulan ketujuh dari Denmark, Jan O Jorgensen.

Atas kemenangan ini, Tommy memperbaiki rekor pertemuannya dengan pemain Hongkong tersebut. Saat ini, kedua pemain berbagi kemenangan 1-1, setelah Tommy ditaklukkan Wong di Selandia Baru International Challenge 2011 dengan dua game langsung 11-21, 11-21.

Sementara itu rekor pertemuan Tommy dengan Parupalli cukup ketat meskipun putra mantan pebulutangkis nasional, Icuk Sugiarto, ini masih unggul. Dari lima pertemuan yang sudah terjadi, Tommy tiga kali meraih kemenangan. Tetapi dalam dua pertemuan terakhir di Kejuaraan Asia 2010 dan India Terbuka Grand Prix Gold 2010, Tommy kalah.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: