SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    December 2019
    M T W T F S S
    « Mar    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for the ‘Pelatnas’ Category

Kata Kuncinya Disiplin

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on July 25, 2012


KOMPAS.com – Setelah kegagalannya melaju ke final bulu tangkis Olimpiade Atlanta 1996, Susi Susanti kecewa dan sedih. Apalagi setelah melalui persiapan matang sebelumnya. ”Saya juga menangis. Namun, setelah itu saya bangkit lagi,” ujar Susi, mantan ratu bulu tangkis peraih gelar All England (1990, 1991, 1993, 1994) dan satu gelar kejuaraan dunia (1993), Jumat (20/7).

Tiada yang mengira, Susi, yang memiliki determinasi sebagai pemain tangguh nan tak terkalahkan, bakal terhenti di semifinal. Adalah musuh bebuyutannya, Bang Soo-hyun (Korsel), yang menjegalnya.

Di semifinal Olimpiade Atlanta, Susi kalah 9-11, 8-11 dari Bang. Tunggal putri Korsel itu begitu percaya diri menundukkan Susi—sebagai upaya membalas dendam atas kekalahannya dari Susi di final Olimpiade Barcelona 1992.

”Saya kesal dengan kekalahan itu,” ujar Susi. Namun, bukan Susi namanya jika dia tak kuasa cepat bangkit dari kekalahan.

Bagi mantan pemain dan peraih lima kali juara Piala Dunia Bulu Tangkis (1989, 1991, 1994, 1995, 1997), kekalahan itu bukan akhir dari segalanya. ”Dari kekalahan, saya belajar apa yang menyebabkan saya kalah. Saya harus belajar dan mengoreksi diri supaya pada pertandingan berikutnya saya bisa kembali menang,” ujar Susi yang sekarang ibu tiga anak itu.

Resep yang sering ia pakai adalah memiliki buku catatan pribadi tentang kelemahan dan keunggulan lawan. Sebagai petarung bulu tangkis sejati, sejak lama Susi memiliki buku catatan mengenai lawan dan rajin mengisinya. Catatan itu tidak melulu mengenai lawan tangguh yang cukup merepotkannya saja, tetapi juga catatan pemain yang dia prediksi bakal muncul sebagai pemain tangguh.

Dengan buku ”primbon” itu, Susi mempelajari kekuatan lawan sebelum bertarung. ”Catatan itu memudahkan saya menghadapi lawan, selain kesiapan saya sendiri,” ujar peraih medali emas tunggal putri di Olimpiade Barcelona 1992 itu.

Faktor lain yang wajib dimiliki petarung sejati adalah kemampuan bangkit dan tetap tenang ketika kehabisan napas atau saat-saat kritis. Menurut Susi, itu adalah bagian dari mental bertanding, fighting spirit.

Dia mencontohkan kala bertemu musuh yang sangat merepotkan, Bang Soo-hyun, di Korea Terbuka. Melawan Bang di semifinal, Susi selalu dicurangi juri lapangan. Mentalnya pun jatuh, tetapi Susi tetap tenang hingga akhirnya unggul.

Itu semua dapat dimiliki dengan kata kunci disiplin. Seorang pemain harus betul-betul berlatih dan menyiapkan diri dengan baik dan disiplin sehingga dia dapat dengan yakin mengetahui kemampuan dirinya.

”Saya bisa karena terbiasa,” ujarnya.

Kepada pemain bulu tangkis muda Indonesia, Susi pun berpesan agar mereka jangan mudah patah arang.

Pebulu tangkis Indonesia kini selalu dengan mudah jatuh mentalnya, bahkan sebelum turun ke lapangan. Itu biasanya terjadi kala pemain tersebut bakal bertemu pemain tangguh dari China atau Korsel. Susi melihat, kelemahan lain pemain muda saat ini adalah sangat cepat puas diri.

”Saya berharap pebulu tangkis Indonesia mau terus belajar dari kekalahan. Disiplin dalam berlatih dan belajar memperbaiki diri,” ujar pemain yang masuk Hall of Fame IBF 2004 dan 100 Olimpian dan Paralimpian Terbesar yang pernah ada dan diterbitkan Panitia Olimpiade London 2012 itu. (HLN/IVV)

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Aloysius Gonsaga Angi Ebo

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Djarum, Kejuaraan, Pelatnas, Smash, Tokoh, Turnamen | Leave a Comment »

Orientasi Prestasi, Regenerasi Terlupakan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 28, 2012


PALEMBANG, KOMPAS.com — Legenda bulu tangkis Indonesia, Christian Hadinata, menyebut regenerasi atlet berlangsung lambat sehingga gagal mempertahankan konsistensi prestasi pada ajang internasional.

“Prestasi Indonesia cenderung menurun karena tertinggal satu langkah dengan China dalam regenerasi atlet,” ujar Cristian di Palembang, Sabtu (28/4/2012).

Pada setiap era kepengurusan Pesatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) senantiasa menjadikan prestasi sebagai indikator keberhasilan organisasi.

Kondisi itu mengakibatkan Pengurus Besar PBSI mengirimkan atlet-atlet senior, seperti Taufik Hidayat, Sony Dwi Kuncoro, dan pasangan Markis Kido-Hendra Setiawan.

Christian menyatakan sempat mengingatkan kepada Pengurus Besar PBSI mengenai kebijakan itu. “Dampaknya justru merugikan Indonesia, karena memberikan pesaing lawan tanding atlet-atlet kelas dunia, sementara para yunior kita sama sekali tidak mendapat kesempatan,” kata pria kelahiran Purwokerto, 11 Desember 1949, ini.

Kini negara-negara lawan itu telah menuai hasilnya. “Pada awalnya bisa menang mudah, kemudian menang rubber set. Selanjutnya mulai ramai dan pada akhirnya Indonesia yang kalah,” ujarnya.

Selain menyoroti kebijakan para pemimpin PBSI itu, Christian juga menilai penyebab lainnya karena para pelatih di Indonesia tidak memiliki metode latihan yang seragam. “Sama sekali tidak pernah dibuat suatu metode latihan yang baku untuk mencetak atlet bulu tangkis. Pelatih membina seenaknya saja karena tidak ada buku panduan,” katanya.

Atlet-atlet yang dibina tidak memiliki standar fisik dan teknik yang seragam sehingga muncul anggapan jika ingin berprestasi, harus menetap di Pulau Jawa. “Inilah yang menyulitkan, padahal jika sejak awal dibina dengan benar, maka atlet-atlet kelas dunia bakal tercipta, bukan hanya di Pulau Jawa,” ujar juara Kejuaraan Dunia 1980 ini.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki riwayat bulu tangkis yang sangat membanggakan karena sejumlah atlet mampu menjuarai beberapa ajang bergengsi, tetapi pada satu dekade terakhir kian menurun.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Candra Wijaya, Djarum, Pelatnas, Tokoh, Yonex | Leave a Comment »

Anak-Anak Pesepak Bola di Pelatnas Cipayung (2-Habis)

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on August 26, 2009


Audi Bangga Ayah, tapi Lebih Terpikat Susi

Nitya Krishinda Maheswari bukan satu-satunya anggota Pelatnas Cipayung yang berasal dari keluarga sepak bola. Ni Made Claudia Ayu Wijaya adalah pebulu tangkis pelatnas lain yang memiliki bapak pesepak bola langganan timnas.

Miftakhul F.S., Jakarta

Namanya cukup panjang, Ni Made Claudia Ayu Wijaya. Sepintas namanya mengingatkan pada sosok pesepak bola kenamaan asal Bali, I Made Pasek Wijaya. Apalagi, wajah Audi -begitu dia akrab disapa- juga mengesankan adanya kesamaan dengan mantan pemain Pelita Jaya tersebut.

“Beliau (I Made Pasek Wijaya) memang papa saya. Saya merupakan anak pertama beliau (I Made Pasek Wijaya memiliki tiga anak),” sebut Audi kepada Jawa Pos.

Audi begitu bangga pada ayahnya. Dia bangga bukan karena dirinya begitu dekat dengan sang ayah. Tapi, kebanggaan tersebut tumbuh karena prestasi ayahnya di pentas sepak bola tanah air.

Nama I Made Pasek Wijaya di belantika sepak bola nasional memang cukup tenar. Pria kelahiran Denpasar itu pernah mengantarkan Pelita Jaya meraih tiga kali gelar juara Galatama. Tepatnya pada musim 1988/1989, 1990, 1993/1994. I Made Pasek Wijaya juga cukup lama dipercaya berseragam tim nasional, mulai 1991-2000.

“Beliau adalah idola, panutan, dan motivator saya. Saya terjun di dunia olahraga juga berkat peran besar beliau,” kata Audi.

Hanya, meski sangat bangga dan mengidolakan ayahnya, Audi tidak mengikuti jejak sang ayah ketika memutuskan berkiprah di olahraga. Ya, gadis berusia 18 tahun tersebut tidak berkecimpung di sepak bola. Audi lebih memilih bulu tangkis. Bahkan, pilihan untuk terjun di olahraga tepok bulu tersebut dijalani Audi sejak berusia delapan tahun. Pada usia itu Audi mulai berlatih di PB Jaya Raya Jakarta.

“Saya memang bangga terhadap papa. Tapi, saya lebih terpikat oleh aksi Mbak Susi Susanti. Karena itu, saya ingin mengikuti jejak Mbak Susi dengan bermain bulu tangkis,” ungkap pebulu tangkis kelahiran Jakarta tersebut.

Audi kecil memang sering bersentuhan dengan sepak bola. Namun, Audi kecil juga sering mendengar pembicaraan tentang aksi-aksi Susi Susanti. Era 90-an, saat Audi masih kecil, prestasi Susi memang begitu menonjol. Termasuk, ketika dia merebut emas Olimpade Bercelona 1992.

“Saya memang tidak pernah melihat aksi langsung Mbak Susi. Maklum, saat Mbak Susi main, saya masih balita. Tapi, saat ini saya sering mendengar cerita tentang beliau. Saat mulai berlatih bulu tangkis, saya mulai menyimak aksinya lewat rekaman,” tutur Audi.

Nah, semangat Audi untuk bermain bulu tangkis semakin membubung tatkala pada 2002 dirinya bertemu Susi. Sejak saat itu, Audi makin rajin berlatih. Asanya menjadi juara seperti Susi pun semakin membara. Karena itu pula, Audi memilih bermain di sektor tunggal wanita.

“Saya main di tunggal wanita sejak pertama berlatih bulu tangkis. Saya enjoy di sektor itu karena saya ingin seperti Mbak Susi. Tapi, sekarang juga tetap enjoy, meski harus bermain di ganda wanita,” ujarnya.

Audi sekarang memang bermain di sektor ganda wanita. Perpindahan itu terjadi setelah pebulu tangkis bertinggi 160 sentimeter tersebut masuk Pelatnas Pratama pada awal 2009. Di nomor barunya itu, Audi bersama pasangannya, Della Destiara, baru saja menjadi runner-up di turnamen Indonesia International Challenge 2009.

“Meski bermain di ganda, semoga prestasi saya tetap bisa menjulang tinggi seperti Mbak Susi. Semoga saya juga langgeng di pelatnas seperti yang dilakukan papa di timnas sepak bola,” harap Audi. (ang)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Pelatnas, Tokoh | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: