SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    April 2018
    M T W T F S S
    « Mar    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 2,604 other followers

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Kisah Huang Hua, Mantan Pebulu Tangkis Dunia Asal China yang Menetap di Klaten

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 16, 2018


KOMPAS.com — Di tahun 1990-an, sosok perempuan asal China ini menjadi sorotan dunia. Kiprahnya di dunia bulu tangkis melesat dan menjadi pemain perempuan nomor satu dunia. Namun saat karirnya mencapai puncak, Huang Hua, yang asal Nanning, Guangxi, China itu memilih mundur dari dunia perbulutangkisan. Tak lama setelah mundur, Huang Hua menikah dengan pria asal Klaten, Jawa Tengah dan menjadi warga negara Indonesia. Setelah 25 tahun menetap di Jalan Mayor Kusmanto, Sekarsulu, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah, Huang Hua benar-benar tak aktif lagi di dunia bulu tangkis. Ia memilih menjadi ibu rumah tangga, mengurus tiga putranya, dan membantu bisnis properti suaminya.

Saat ditemui Minggu (1/4 /2018) dua pekan lalu di kediamannya, Huang Hua yang didampingi suaminya, Tjandra Budi Darmawan, menceritakan keinginannya dulu pindah dan menetap di Indonesia. Huang Hua yang kini lancar berbahasa Indonesia juga menceritakan bagaimana susahnya move on dari dunia bulu tangkis. Selama dua tahun awal di Indonesia, Huang Hua kesulitan karena berada lingkungan baru dan tidak punya teman. “Setelah pensiun dari tim China sejak tahun 1993, selama empat hingga lima tahun saya seperti susah terlepas dari bulu tangkis. Saya seperti kangen terus bermain bulu tangkis. Namun situasi sepertinya tidak memungkinkan saya main lagi. Dan akhirnya saya memilih fokus mengurus rumah tangga,” ujar Huang Hua. Walau tidak lagi bermain, Huang Hua masih mengikuti pertandingan di televisi.

Sepuluh tahun setelah pensiun dari timnas China, ia masih sempat berkumpul dengan eks pemain dunia untuk reuni di Jepang. “Jadi mantan juara dunia kumpul bertanding di Jepang di Osaka,” kenang Huang Hua. Ia juga masih sering berkomunikasi dengan lawan mainnya, mantan pemain kelas dunia asal Indonesia, Susi Susanti. Bahkan sesekali, ia bersama suaminya menyambangi dan berdiskusi dengan Susi di markas pelatnas PBSI di Jakarta. Setelah lama menetap di Indonesia, tawaran menjadi pelatih tunggal putri Indonesia pun pernah didapatkannya. Namun putri pasangan Huang Yu Hui dan Shi Juan itu menolak tawaran itu.

Bagi Huang Hua, melatih sebuah tim butuh totalitas waktu dan pikiran. Keberadaannya sebagai ibu rumah tangga yang harus menjaga tiga anak dan dan tinggal jauh dari Jakarta menjadi alasannya menolak tawaran jadi pelatih pemain putri Indonesia. “Setelah saya bicara dengan suami dan anak-anak bila saya jadi pelatih saya harus ke Jakarta. Semua waktu harus fokus melatih makanya bagi saya sangat berat. Apalagi bisnis suami saya semuanya di sini,” kata Huang Hua. Menurut dia, menjadi pelatih tidak bisa sambilan. Seorang pelatih yang baik harus mendedikasikan waktu dan tenaganya secara penuh untuk melatih pemainnya menjadi yang terbaik. “Semua pelatih yang saya lihat penuh dengan dedikasi dan tidak bisa bekerja sambilan. Jadi pelatih juga harus mengikuti seluruh perkembangan pemain,” ungkap Huang Hua.

Tentang tim putri bulu tangkis Indonesia saat ini, Huang Hua menilai tim tunggal putri Indonesia masih butuh perjuangan. Ia menilai pemain tunggal putri Indonesia main kurang percaya diri. “Saya lihat pemain ladies single main kurang percaya diri. Padahal saya lihat mereka latihannya keras lho. Dan sekarang masih dibenahi sama Susi,” jelas Huang Hua. Bagaimana caranya menumbuhkan rasa percaya diri? Huang Hua menyatakan, mental dan teknis mainnya harus kuat. Ia mencontohkan pemain tunggal putri India dan Jepang yang berjuang gigih dan pantang menyerah saat bertanding.

Huang Hua pernah mencoba melatih tiga putranya saat masih kecil, yaitu Tjandra Michael (22), Tjandra Christian (18), dan Tjandra William (18) agar tertarik bermain bulutangkis. Namun rupanya tiga putranya itu tak tertarik. “Saat masih kecil saya pernah coba ajarkan mereka latihan. Saya ingin waktu itu anak saya lebih baik dari saya. Tetapi rupanya mereka tidak menyukai bulu tangkis, ” kata Huang Hua tersenyum.

Dia sendiri mulai berlatih main bulu tangkis sejak kecil. Ia mengenal bulu tangkis sejak usia sembilan tahun. Dua tahun bermain di tingkat kabupaten, prestasi Huang Hua tidak begitu gemilang. Setelah berumur 11 tahun, ia dipilih masuk tim Propinsi Guangxi. Uniknya, Huang Hua terpilih bukan karena dirinya menjuarai turnamen tingkat kabupaten atau provinsi. Tim pelatih saat itu memilih Huang Hua masuk karena fisik dan kemampuannya yang bagus. Empat tahun bergabung di tim propinsi, Huang Hua akhirnya bertemu dengan Chen Yu Niang, pelatih yang ditunjuk pemerintah China saat itu. Di tangan Chen, Huang Hua menjadi pemain yang matang hingga menjadikannya pemain bulu tangkis top dunia di era 1990-an. Menurut dia, sebelum berkiprah menjadi pelatih, Chen yang masih bersaudara dengan Tjandra (suaminya), pernah tinggal di Indonesia. Chen pindah ke Hongkong kemudian diminta wakil perdana menteri saat itu untuk melatih tim bulu tangkis putri China. Awalnya Chen menolak. Namun Chen kemudian memberikan syarat, ia mau melatih asal dia pilih sendiri pemain-pemainnya. Persyaratan itu diterima pemerintah China. Chen mulai melatih tim bulu tangkis putri China tahun 1984.

Chen memilih Huang Hua untuk dilatih karena menilai dia masih lugu. Tak hanya itu, Chen memilih pemain yang belum juara agar mudah dibentuk pola permainannya. Chen khawatir kalau mengambil pemain yang sudah jadi susah mengubah pola permainannya. Saat itu ia ingin mengubah karakter dan pola permainan seperti yang diinginkannya. “Makanya dia memilih saya karena lugu sehingga masih bisa ditanam apa saja,” jelas Huang Hua.

Setelah berumur 20 tahun, karir Huang Hua mulai menonjol. Tahun 1991, Huang Hua menyabet gelar pemain nomor satu dunia. Saat itu pula berbagai gelar kejuaraan dunia disabetnya. Saat karirnya menanjak, Huang Hua terserang penyakit infeksi pankreas. Selama 40 hari, ia dirawat di rumah sakit. Saat menjalani perawatan di rumah sakit, Huang Hua dilamar Tjandra, pria asal Klaten. Huang Hua menerima pinangan Tjandra dan akhirnya menikah tahun 1993. Tak lama kemudian mereka menikah dan memutuskan tinggal di Indonesia.

Meski memiliki modal sebagai pemain nomor satu dunia, Huang Hua tak mengikuti jejak Susi Susanti yang berbisnis peranti bulu tangkis. Pasalnya, namanya tidak sebesar Susi Susanti di Indonesia. “Nama saya kurang besar untuk membuat itu. Saya sekarang malah pintar buat bakpao. Siapa tahu bakpao saya laku,” ujarnya. Tjandra mengenal Huang saat Huang mengikuti turnamen Indonesia Open di Malang tahun 1991. Setelah selesai bermain, Huang Hua diajak Chen, pelatihnya yang berkerabat dengan Tjandra, ke Klaten. “Waktu itu saya mengikuti Indonesia Open di Malang. Terus pelatih saya, setiap tahun mengunjungi keluarganya di Klaten. Kebetulan saya saat itu sudah selesai main lalu saya diajak ke Klaten. Lalu berkenalan dengan Tjandra. Tetapi kenal hanya sekedar say hallo saja,” kata Huang Hua. Tjandra ternyata menyukai Huang Hua. Tjandra mulai intens ke China untuk lebih dekat dengan Huang. “Untuk tambah dekat dengan Huang Hua saya sering ke sana. Dan di sana saya belajar bahasa Mandarin selama setengah tahun agar mudah berkomunikasi dengan Huang Hua,” kata Tjandra.

Saat akan memboyong Huang Hua, Tjandra mengalami kesulitan. Apalagi saat itu posisi tim Indonesia dan China masih kuat di dunia bulu tangkis. “Saat itu mau membawa Huang Hua keluar saja kesulitan. Pasalnya Huang Hua menjadi aset negara China saat itu,” ujar Tjandra. Tak hanya itu, ada media di China yang menulis Huang Hua berkhianat setelah menikah dengan Tjandra. Karena itu, Huang Hua memilih tidak bermain bulu tangkis setelah menikah dengan Tjandra. “Kalau Huang Hua main dari Indonesia maka finalnya pasti ketemu China. Kalau ketemu China kalah pasti dikiranya mengalah. Tetapi kalau menang , Chinanya pastinya nggak senang,” ujar Tjandra.

Usai menikah, Huang Hua dan Tjandra tidak langsung tinggal di Klaten. Keduanya memilih tinggal di Amerika Serikat (AS) selama beberapa tahun. Di AS, Huang Hua belajar bahasa dan Tjandra sekolah di penerbangan. “Dan tidak sampai seratus jam saya sudah lulus,” jelas Tjandra. Setelah puluhan tahun hidup di Indonesia, Huang Hua sudah akrab dengan masakan Indonesia. Ia menyukai rendang, rawon, ayam goreng hingga nasi kuning. “Kalau masak masakan jawa belum bisa. Tapi kalau masakan China bisa dan enak,” ungkap Tjandra.

Beberapa waktu lalu, Tjandra mengajak istrinya itu bermain ketoprak berjudul Rebut Kuasa pada perayaan Imlek 2018. Ia berperan sebagai Jagawara dan Huang Hua memerankan istri Jagarawa. Tjandra menerima tawaran main ketoporak yang dimainkan warga keturunan Tionghoa itu setelah ada permintaan Pemkab Klaten. Meski sudah lancar berbahasa Indonesia, Tjandra menyatakan terkadang orang masih tersenyum mendengarkan Huang Hua berbahasa Indonesia. “Orang lain dengarnya lucu. Omongnya masih terbalik-balik,” ujar Tjandra.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Kunci Utama Mutiara Cardinal dalam Membina Pemain

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on February 26, 2017


1723470mutiara-juara-1780x390SURABAYA, KOMPAS.com – Manajer Mutiara Cardinal, Umar Djaidi, membeberkan sejumlah aspek penting yang perlu diperhatikan dalam membina para pemainnya.

Hal itu dinyatakan Umar pasca-keberhasilan Mutiara menjuarai Djarum Superliga 2017 di DBL Arena, Surabaya, Sabtu (25/2/2017).

“Saya rasa faktor yang membuat kami seperti ini adalah atmosfer pembinaan. Selain itu, perlu diperhatikan juga soal hubungan interpersonal,” kata Umar seraya tersenyum.

Sang pelatih, Devi Sukma, melontarkan pendapat senada. Ia menyebut bahwa keharmoisan adalah hal terpenting dalam tim.

“Saya sudah kenal (para pemain) sejak mereka masih kecil. Kami tak punya kendala dalam berkomunikasi, khususnya mengenai siapa yang akan main dan tidak,” ucap Devi.

Butuh penantian panjang bagi klub asal Bandung tersebut untuk meraih gelar Superliga perdana. Mereka kali pertama mengikuti ajang ini pada 2007.

Kebanggaan Mutiara semakin berlipat karena mereka menjadi juara dengan mengandalkan pemain binaan sendiri.

“Awalnya kami prediksi hanya menang 3-2 karena materi pemain lawan yang lebih bagus. Namun, ternyata hasilnya melampaui target,” tutur Umar.

Seusai juara, Mutiara mengaku belum memikirkan soal bonus. Mereka hanya berharap prestasi ini bisa memberikan manfaat untuk pembinaan selanjutnya.

Kemenangan 3-0 Mutiara diraih oleh Hanna Ramadini (tunggal), pasangan Yulfira Barkah/Tiara Rosalia Nuraidah, dan Gregoria Mariska Tunjung (tunggal).

Hanna menyumbangkan angka pertama untuk Mutiara setelah meraih kemenangan 21-15 21-10 atas pemain kelahiran China, Zhang Beiwen.

Kemudian, Yulfira/Tiara berhasil memetik kemenangan dari pasangan Rizki/Amelia Pradipta/Greysia Polii dengan skor 21-15, 21-14.

Gelar juara Superliga dipastikan jatuh ke tangan Mutiara setelah Gregoria memang atas Yip Pui Yin dengan 21-18, 21-18

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Cinta dari Tepi Lapangan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on June 4, 2016


Sony gadingBulu tangkis bukanlah permainan yang tenang. Sony Dwi Kuncoro (32) merasakan jatuh bangun di dalamnya. Bersama Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), ia pernah melambung sebagai atlet muda ‘berbahaya’ yang menduduki peringkat 3 dunia pada tahun 2004.

Sayangnya, prestasi Sony menukik tajam karena mengalami serangkaian cedera fisik. PBSI pun mencoret namanya dari daftar pemain tunggal putra nasional pada tahun 2014. Ia didegradasi dan dikeluarkan dari pelatnas bulu tangkis Cipayung, Jakarta. Beruntung, Sony tidak pernah benar-benar sendiri saat berada di titik terendah itu. Gading Safitri (32) selalu berada di sisinya. Sang istri, yang juga berperan sebagai manajer dan pelatih, menggandeng tangan Sony untuk kembali mengayunkan raket.

Jadi ‘Penonton’
Ada kesibukan baru di Jalan Medokan Asri Tengah, Surabaya. Sebuah bangunan sedang dalam proses penyelesaian akhir. Di dalamnya, bernaung enam lapangan bulu tangkis yang kelak dapat menjadi wadah pengembangan kualitas para atlet bulu tangkis yang datang dari segala penjuru dunia, dengan fokus utama para atlet muda di Surabaya.

Bagi Sony dan Gading, bangunan bernama Sony Dwi Kuncoro Badminton Center (SBC) itu ibarat jejak kaki mereka. Uang pembangunannya diperoleh dari hasil kemenangan Sony di berbagai turnamen bulu tangkis. “Sejak awal bertemu dan sampai kapan pun, kehidupan kami digerakkan oleh bulu tangkis,” tutur peraih medali perunggu tunggal putra, di Olimpiade Athena 2004 ini, memutar kenangan.

Pertemuan keduanya berawal saat Sony mengikuti kejuaraan Indonesia Terbuka di Surabaya. Sony sebagai pemain, Gading sebagai penonton. Saat itu, usia mereka baru 17 tahun. Perjumpaan mereka  berlangsung singkat, karena Sony harus segera kembali berlatih di pelatnas. Sementara Gading tetap tinggal untuk melanjutkan pendidikan di kota kelahirannya itu.

Meski singkat, perkenalan itu ternyata sangat membekas. Atas informasi dari teman, mereka saling mencari tahu nomor telepon. Belakangan, keduanya pun aktif berkomunikasi via telepon. Jadwal latihan Sony yang ketat dan disiplin membuat keduanya hanya bisa bertelepon di akhir pekan. “Waktu itu belum punya handphone. Kalau mau telepon, saya harus ke wartel (warung telepon),” ujar wanita kelahiran 1 Juli 1983 ini, tertawa kecil.

Dua bulan aktif berkomunikasi lewat telepon, Sony dan Gading pun sepakat untuk menjalin kasih. Menurut Gading, Sony yang pertama kali memastikan bahwa pujaan hatinya itu belum punya kekasih. Namun, ingatan Sony justru mengatakan sebaliknya. Keduanya penuh kemesraan mengenang peristiwa penting yang terjadi pada tahun 2002 itu.

Jarang bertemu langsung membuat Sony jadi lupa seperti apa wajah Gading. Sementara  Gading justru lebih mudah mengingat wajah Sony karena sering melihat sosok atlet pemegang juara Djarum Indonesia Super Series 2008 itu muncul di media cetak lokal dan nasional. “Akhirnya, Gading kirim foto kepada saya. Supaya saya ingat wajahnya, ‘Oh, ini, toh, yang sering saya telepon,’” ujar Sony, tertawa.

Saat itu, Sony tidak jarang mengajak Gading menonton pertandingannya di beberapa turnamen di Indonesia. Meski begitu, Gading mengaku hanya menonton aksi sang kekasih dari deretan kursi penonton paling belakang. Ia takut kehadirannya diketahui pelatih atau pengurus PBSI yang harus menjaga pemain untuk tetap fokus bertanding.

Kedekatan yang terbina lewat percakapan telepon selama hampir 7  tahun sudah cukup meyakinkan hati Sony untuk melamar Gading. Di antara persiapan Sony untuk berangkat  ke Kejuaraan Dunia 2009 di Hyderabad, India, mereka menikah pada 24 Juli 2009 di Surabaya.

Babak Baru
Setelah menikah, Sony mengajak Gading tinggal di Jakarta. Sony memilih tempat tinggal yang tak jauh dari pelatnas agar sang istri bisa lebih sering melihatnya berlatih. Setelah menikah, Gading pun tak perlu lagi datang ke pelatnas secara diam-diam untuk menunggui suaminya berlatih. Resmi menjadi istri Sony, Gading jadi lebih leluasa mendampingi suaminya itu, baik ketika berlatih maupun bertanding.

Diakui Gading, kebiasaan mendampingi Sony di tepi lapangan ternyata mengasyikkan. Dari situ pula, ia mulai lebih cermat memperhatikan kondisi fisik dan teknik permainan sang suami. “Tapi, saat itu saya tidak pernah menceritakan hasil pengamatan saya ke Sony. Dulu dia tidak suka ngomongin bulu tangkis ketika di luar lapangan,” ungkap wanita yang dulunya sempat menjadi atlet bulu tangkis ini.

Saat  Sony terus-menerus didera cedera fisik yang mengganggu permainannya, seperti saat babak kualifikasi Sunrise Modi Memorial India
Open Grand Prix 2011 dan London Games 2012, Gading masih tidak berani menyampaikan hasil pengamatannya di lapangan. Ia khawatir, Sony yang terbiasa dilatih oleh pelatih-pelatih kelas dunia, seperti Joko Supriyanto, Hendrawan, Agus Dwi Santoso, dan Li Mao itu keberatan menerima masukan dari Gading.

Tak lama setelah bertanding di turnamen tersebut, prestasi Sony makin menurun. Peringkatnya pun merosot keluar dari posisi 100 besar dunia. Kondisi itu membuat PBSI lalu mengeluarkan nama Sony dari squad pemain tunggal putra baru tahun 2014. “Saat itu, rasanya sangat menyakitkan. Tanpa bulu tangkis, saya enggak tahu harus melakukan apa,” kenang Sony.

Setelah didegradasi oleh PBSI, Sony pun mengajak Gading untuk kembali ke Surabaya. Selama beberapa bulan, Sony menggantung raket dan sempat kehilangan arah. Sementara itu, Gading menyibukkan diri menonton video beberapa pertandingan bulu tangkis para pemain dunia, seperti Lin Dan dan Chen Long dari Cina, serta Lee Chong Wei dari Malaysia. Sembari menonton, Gading juga berdiskusi dengan sang ayah, Subechan, yang juga merupakan pelatih bulu tangkis. Dalam diam, wanita penyuka musik ini mencoba memperkaya wawasannya tentang bulu tangkis. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Sony yang sedang patah arang.

Setelah merasa cukup bekal, Gading memberanikan diri berbicara tentang bulu tangkis kepada Sony. Awalnya, suaminya itu menolak dengan tegas. Namun, karena tak ingin melihat suaminya terus berduka, Gading terus mencoba. Ia paham benar bahwa bulu tangkis adalah dunia Sony. Saat itu Gading berkata kepada Sony, “Yuk, ikut pertandingan lagi, Sayang. Kalau saya enggak bisa bawa kamu naik ke podium juara tahun ini, saya mundur, deh!”

Melihat kegigihan wanita yang ia cintai, ayah dari Divya Amanta Kuncoro (5) dan Naraya Aisha Kuncoro (2) ini pun bersedia kembali mengayun raket. Ia tidak peduli pada omongan miring orang lain yang menganggapnya aneh karena menjadikan istri sebagai manajer dan pelatih.

Ketekunan Sony membuahkan hasil. Gelar juara Victor Indonesia International Challenge 2015 berhasil ia raih dengan mengalahkan tunggal putra asal Korea Selatan, Jeon Hyeok Jin, dengan skor 22-20 dan 21-15.

Kemenangan itu membuat Gading  makin bersemangat  menyusun program latihan sesuai dengan kondisi fisik Sony. Ia mempelajari kelemahan dan kekuatan suaminya sekaligus menganalisis pola permainan calon lawan-lawannya. Selangkah demi selangkah, lewat berbagai kejuaraan, kepercayaan diri Sony kembali tumbuh.

Dengan mantap Sony melangkahkan kaki ke podium tertinggi atas kemenangannya di Chinese Taipei Open 2015 di Taipei. Sempat terhenti di babak perempat final pada turnamen Yonex Sunrise India Open 2016, ia kemudian ‘membayarnya’ dengan berhasil merebut kembali gelar juara Singapore Open Superseries  2016. Sebelumnya, gelar tersebut pernah ia raih pada tahun 2010. Sony pun tercatat sebagai pemain tunggal putra Indonesia ketiga yang dua kali berturut-turut menjuarai turnamen tersebut, mengikuti jejak Hariyanto Arbi dan Taufik Hidayat.

Ketika kemenangan itu menjadi perbincangan hangat di media, Gading menanggapinya tanpa jumawa. Kemenangan itu ia anggap sebagai penyembuh luka suaminya. “Saya hanya ingin dia enjoy melakukan sesuatu yang ia cintai. Kalau sudah enjoy, hasilnya pasti baik,” tutur wanita lulusan Magister Kenotariatan Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Seperti dalam permainan bulu tangkis, posisi shuttlecock tidak bisa selamanya melambung. Ia harus jatuh dan mendarat di lapangan hijau sebelum bisa bangkit kembali menyerang lawan. Sony dan Gading sudah melalui hal itu. Love will find a way.(f)

Sumber : http://www.femina.co.id/True-Story/kisah-sony-dwi-kuncoro-gading-safitri-cinta-dari-tepi-lapangan

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Carmelita : Mantan Pebulutangkis Kelas Dunia yang Prihatin

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 28, 2016


CarmelitaKoran Sulindo – Prestasi olahraga yang bisa dibanggakan Indonesia di level dunia adalah bulutangkis. Dari tahun 1970-an hingga kini, kita antara lain mengenal nama Rudi Hartono, Liem Swie King, Taufik Hidayat, Verawaty Fajrin, Ivana Lie, hingga Susi Susanti. Untuk pasangan ganda putri, kita mengenal nama Carmelita, yang pernah berpasangan dengan Etty Tantri dan Deyana Lomban.

Mengenal bulutangkis sejak usia 10 tahun, masuk klub Pelita Jaya, kemudian karirnya dilanjutkan di Sekolah Atlet Ragunan, Jakarta, puncaknya masuk Pelatnas, Cipayung, Jakarta, dari tahun 1993 hingga tahun 2001. ”Semua kejuaraan dunia pernah saya ikuti. Mulai Uber, All England, Indonesia Open, Singapore Open, kejuaraan dunia. Saya gagal ikut di Olimpiade Sidney, tahun 2000. Kecewa sekali saya. Tahun 2001, saya memutuskan keluar dari pelatnas,” ujar Carmelita, yang berkunjung ke kantor Koran Suluh Indonesia di Jakarta Selatan, 18 Mei, 2016 lalu.

Sempat berkarir sebagai pebulutangkis profesional dengan bergabung ke satu klub bulutangkis di Swedia, tapi itu hanya bertahan satu tahun. ”Saya tidak begitu nyaman di sana. Udaranya sangat tidak cocok. Saya lebih suka Indonesia,” aku Carmelita, yang kini berprofesi sebagai pengacara, dengan mendirikan The Cilent’s Law Firm, yang berkantor di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Ia akui, mantan pebulutangkis yang menggeluti bidang hukum baru dirinya. Umumnya, yang lain menggeluti dunia bisnis, menjadi pelatih, atau pengurus organisasi bulutangkis. ”Passion saya tidak ke sana, ya. Saya lebih suka dunia seperti sekarang ini, bisnis dan hukum,” tuturnya. Sebelum menerjuni bidang hukum, alumni Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus Jakarta ini bekerja di bidang pemasaran pada beberapa perusahaan ternama.

Bidang pemasaran itu kini dia padukan dengan bidang hukum. ”Saya yang banyak berurusan untuk marketing di kantor hukum saya, sementara suami yang juga mendalami bidang hukum untuk urusan di kantor,” ujar ibu dari dua orang anak ini. Untuk memperluas pergaulan dan banyak mendapat klien, Carmelita antara lain melakukan pendekatan dengan bermain bulutangkis.

Bagaimana ceritanya Carmelita memutuskan untuk mendalami ilmu hukum? Ternyata, awalnya adalah keluhan dari klien ketika dia menjadi pegawai pemasaran di salah satu perusahaan. ”Dia selalu bilang ke saya, akan melaku somasi ke perusahaan tempat saya kerja. Sebentar-sebentar somasi. Dari situ saya mau tahu dan mau belajar ilmu hukum,”  ungkap Carmelita.

Wajahnya yang sedap dipandang dan kerap berpenampilan menarik juga membuat Carmelita pernah tampil menghiasi layar kacar sebagai pemain sinetron dan film televisi. Padahal, ketika itu, ia masih disibukkan di pelatna, akhir tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an.”Karena jenuh di pelatnas, saya diajak teman ke lokasi syuting. Saya berkenalan dengan sutradara Emil G Hamp, langsung ditawari main. Waktu itu, sinetronnya berjudul Cinta Berkalang Noda. Saya akting bareng Maudy Kusnaedy dan Ari Wibowo,” kenang Carmelia.

Dia mengaku tak mengambil honornya. “Saya malah sering dimintai raket,” tuturnya. Salah satu FTV yang masih ia ingat berjudul Asmara di Bilik Asrama. Di FTV itu, Carmelita beradu akting dengan Bucek Depp.

Meski ada peluang yang cukup lebar untuk berkarir di dunia akting, Carmelita kurang begitu berminat untuk terjun total.”Saya ingin mencoba aja, apa sih rasanya menjadi artis dan akting. Setelah saya coba, ya, saya lebih pilih berbisnis,” kata Carmelia.

Menyoal kondisi pebulutangkis sekarang ini, Carmelita cukup prihatin dengan prestasi putri pebulutangkis Indonesia. ”Padahal, dari segi fasilitas, pebulutangkis sekarang lebih enak. Dari materi, mereka juga lebih berkecukupan. Zaman saya dulu, kalau dapat sponsor, uangnya ke organisasi dulu, baru ke pemain. Sekarang, atlet bisa langsung dapat sponsor, hasilnya buat pribadi,” ungkap Carmelita, yang mengagumi sosok pelatih bulutangkis Tong Sin Fu.

Bagi Carmelita, dunia olahraga sangat berbeda dengan bidang yang ia jalani sekarang. ”Di vidang olahraga, orang harus berjuang sendiri kalau mau juara, tanpa mengandalkan orang lain. Kalah, ya, kalah, enggak mungkin skornya diubah atau bagaimana. Semuanyakan terlihat dengan jelas. Kalau hukum, ya, kita tergantung pada orang lain untuk menang atau kalahnya. Ada jaksa dan ada hakim. Tapi, saya berupaya mendudukkan hukum yang memberi rasa keadilan bagi masyarakat,” ungkap Carmelita sambil tersenyum. [DPS]

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Gading Safitri, Penyembuh Luka Son

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 24, 2016


sony-dwi-kuncoroBehind every great man there’s a great woman. Di belakang pria sukses ada wanita hebat. Sebuah kutipan yang populer, walau tak diketahui pasti siapa dan kapan muncul pertama kali. Yang pasti, Gading Safitri, istri atlet bulu tangkis Sony Dwi Kuncoro adalah bukti nyata kalimat masyhur tersebut.

Sony, kampiun di di Singapore Open Super Series (SS) 2016, pekan lalu, ternyata tak meraih sukses tersebut sendirian. Selama bertanding sejak babak kualifikasi hingga ke partai puncak, istrinya, Gading Safitri begitu setia mendampingi. Namun ia tak sekadar melihat dari tribun penonton, melainkan duduk di pinggir lapangan Singapore Indoor Stadium sebagai pelatih peraih perunggu Olimpiade 2004 Athena.

“Saya sebenarnya hanya punya pengetahuan dasar bulu tangkis karena dulu sempat bermain, namun berhenti di kelas 2 SMA. Setelah itu saya memutuskan untuk kuliah. Karena sering mendampingi suami, melihat dia latihan di pelatnas, bertanding, dan melihat video pertandingan pemain lain, lama-lama bisa menganalisa,” kata Gading kepada HARIAN NASIONAL, Rabu (20/4) malam.

Hasilnya teruji. Dalam delapan bulan, Gading berhasil mengantarkan sang suami ke podium tertinggi turnamen bintang empat dunia. Gelar SS kelima ini sekaligus menggenapi penantian enam tahun Sony. Kala terakhir dia meraih level serupa di turnamen serupa pada 2010.

“Awalnya jadi manajer dulu setelah ke luar pelatnas, namun fokus saya memulihkan kondisi suami. Saat di pelatnas, cedera dia sering kambuh sehingga sulit jadi juara. Itu karena penangannya tak intens (berkesinambungan). Untuk itu, saya benahi dulu kondisinya, mulai dari pikiran, badannya, hingga pola makannya,” tutur Gading.

Patah hati, itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan Sony saat dinyatakan terdegradasi dari pemusatan latihan nasional (pelatnas) Cipayung di 2014. Bisa dibayangkan, 13 tahun selalu di tempat itu, tentu tak mudah pergi dari tempat yang pernah membesarkannya.

Wajar jika kemudian kepercayaan diri Sony runtuh. Ia pun enggan berpartisipasi di berbagai turnamen internasional. Peringkatnya melorot, Sony semakin jatuh.

Melihat suaminya terpuruk, dengan sabar Gading mengobati “lukanya”. Secara perlahan ia mengembalikan konfidensi yang hilang, lalu kembali membangun karier sebagai atlet profesional se-cara mandiri.

“Saya sempat mencari pelatih juga tapi sulit, karena mereka harus tahu pukulan dan bola pemain. Akhirnya, pada Agustus 2015 saya menawarkan diri sebagai pelatih,” cerita ibu dari Difya Amanta Kuncoro (5 tahun) dan Naraya Aisha Kuncoro (2,5 tahun)

Ide ini tak langsung diterima Sony. Pada akhirnya, demi efisiensi bujet sang suami menyetujui tawaran itu. Pada mulanya tak mudah meyakinkan Sony mengikuti programnya. Maklum, selama jadi penghuni pelatnas, Sony ditangani pelatih andal seperti Hendrawan, Agus Dwi Susanto, dan Joko Suprianto.

“Kesulitannya tentu di ego. Selama di pelatnas, dia diajari pelatih top hingga lingkungan yang top pula. Tapi bagi saya, gaya permainannya harus diubah agar tak menyulitkannya saat bermain. Awalnya tentu dia tak percaya dengan (arahan saya) karena sulit juga mengubah style pemain yang sudah jadi,” tutur wanita jebolan Magister Kenotariatan Universitas Airlangga itu.

Gading memutar otak. Sebagai permulaan, mereka menjalankan program sesuai kesepakatan. “Saya turuti dulu maunya. Saya pun harus menjaga jangan sampai karena program jadi dibawa ribut hingga ke rumah.”

Penerimaan Sony terhadap pelatihan Gading terjadi saat turun di Malaysia Open 2016, awal April. Sony yang merangkak dari babak kualifikasi tak mampu melaju ke babak utama usai dikalahkan tuan rumah Iskandar Zulkarnain Zainuddin.

“Saya bilang padanya, kalau satu tahun ini saya tidak bisa bikin kamu berdiri di podium, saya mundur. Dari situ dia (akhirnya) menurut. Semua program yang saya berikan dijalani. Alhamdullilah hasilnya memuaskan,” kisah kelahiran Surabaya 1 Juli 1983 itu.

Kesuksesan Gading melatih Sony kini menuai hasil gemilang di Singapura. Tak muluk-muluk, target selanjutnya yang diberikan ke “anak latihnya” itu hanya satu, yakni bisa menikmati pertandingan.

“Saya ingin mengalir saja. Setiap ketemu lawan, siapa pun itu, saya ingin dia enjoy mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya. Kalau sudah begitu, saya yakin dia pasti bisa medulang hasil terbaik.”

Reportase : Brigitha Sesilya

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Masih Ingat 14 Legenda Bulu Tangkis Ini ?

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 1, 2015


1941457legenda3780x390KUDUS, Kompas.com – Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2015 yang berlangsung 1-6 September akan  menampilkan hal berbeda dengan hadirnya 14 nama legenda bulu tangkis nasional.

Demi mendapatkan bibit-bibit pemain yang berkualitas super, Audisi Djarum di kota Kudus ini bakal menerjunkan 14 sekaligus tim pencari bakat dari para lengenda bulutangkis di Indonesia. Mereka ini berkumpul dengan tujuan ingin membangkitkan lagi olahraga bulutangkis di Indonesia maupun di mata dunia.

14 legenda sebagai tim pencari bakat ini adalah Liem Swie King, Hadiyanto, Eddy Hartono, Hariyanto Arbi, Lius Pongoh, Hastomo Arbi, Denny Kantono, Fung Permadi, Heryanto Saputra, Johan Wahyudi, Christian Hadinata, Bobby Ertanto Kurniawan, Simbarsono Susanto dan Kartono Hari Atmanto.

Buat para generasi muda, nama-nama itu mungkin terdengar asing. Namun pada masa jayanya pada dekade 1970-1990-an, para pemain ini pernah mengharumkan nama Indonesia dengan  menjadi juara dunia, juara All England sampai peraih medali Olimpiade.

Menurut pengakuan Yoppy Rosimin selaku Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation bahwa dengan melibatkan banyak sekali legenda bulutangkis di Indonesia dan berkumpul di Kudus ini sebagai bukti nyata, kerelaan dan sumbangsih para legenda untuk memantau para talenta muda untuk segera digembleng di klub PB Djarum ini.

Sejarah pun mencatat para legenda bulutangkis yang di miliki Indonesia saat ini berasal dari berbagai daerah dan datang dari kota-kota kecil. Sebut saja, Christian dan Fung berasal dari Purwokerto. Liem Swie King, Hastomo Arbi, Eddy Hartono dan Hariyanto Arbi dari Kudus. Denny Kantono dari Samarinda, Johan Wahyudi dari Malang.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Tan Joe Hok Mengenang Rekan Seperjuangan

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on August 30, 2015


0716093JoeHok780x390JAKARTA, Kompas.com – Berkat ukiran prestasinya yang mengharumkan nama Indonesia, mantan pebulutangkis handal Tan Joe Hok mendapatkan gelar Empu Bulutangkis dari Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI). Dalam rangka Gerakan Kebanggan Nasional, MURI menganugerahkan gelar kehormatan kepada mantan atlet berusia 78 tahun tersebut.

Pemberian penghargaan berlangsung di Balairung Jaya Suprana Institute, Mall of Indonesia, Sabtu (29/8). Kepala BIN RI yang juga mantan Ketua Umum PP PBSI Sutiyoso, memberikan langsung piagam penghargaan kepada Joe Hok.

Dalam acara ini turut hadir Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan, serta para mantan pemain bulutangkis seperti Liem Swie King, Lius Pongoh, Susi Susanty, Alan Budikusuma, Hariyanto Arbi dan Denny Kantono.

“Terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada saya, walaupun saya sudah lama tak main bulutangkis, tetapi orang masih mengingat prestasi saya,” ujar Joe Hok kepada Badmintonindonesia.org.

“Soal gelar empu bulutangkis, saya ingin membagi gelar ini kepada rekan-rekan saya yang sudah tiada. Karena sukses itu tidak dapat diraih sendiri, jadi saya hanyalah sebagian kecil dari sukses bulutangkis di masa lalu,” imbuhnya.

“Saya berharap ini menjadi motivasi pemain yang lebih muda. Bulutangkis mungkin saja tidak selamanya dimainkan di olimpiade, berbeda dengan All England atau Kejuaraan Dunia, ada kekhawatiran bulutangkis tergeser cabang olahraga lain di olimpiade. Tapi selagi masih dimainkan, berusahalah sebaik mungkin karena sekarang olimpiade adalah titik tertinggi kejuaraan bulutangkis,” ujarnya.

Nama Joe Hok memang sudah tak asing lagi di dunia perbulutangkisan Indonesia. Di era keemasannya, Joe Hok merupakan salah satu pebulutangkis terbaik negeri ini. Ia merupakan salah satu anggota tim inti yang berhasil memboyong Piala Thomas pada tahun 1958. Setahun kemudian, Joe Hok meraih gelar juara All England 2015, gelar ini adalah gelar pertama yang berhasil diraih Indonesia di turnamen tertua di dunia tersebut. Setelah gantung raket, Joe Hok hingga kini tetap berperan dalam memajukan bulutangkis Indonesia, saat ini ia tercatat sebagai anggota Dewan Penasihat PBSI.

Joe Hok juga merupakan satu-satunya anggota tim Piala Thomas 1958 yang masih tersisa. rekan-rekan seangkatannya seperti Ferry Sonneville, Eddy Yusuf, Tan King Gwan, Njoo Kim Bie, Lie Po Djian dll.

“Selamat atas gelar Empu Bulutangkis yang diberikan kepada Tan Joe Hok. Prestasi beliau di masa lampau serta kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan bulutangkis Indonesia memang patut diapresiasi. Semoga Indonesia akan punya Tan Joe Hok- Tan Joe Hok selanjutnya yang juga bakal mengharumkan nama bangsa,” kata Gita Wirjawan

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Lee Chong Wei, Kejuaraan Dunia, dan Olimpiade

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on August 8, 2015


1404156lee-chong-wei-2305780x390KOMPAS.com – Istora Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, akan kedatangan bintang-bintang bulu tangkis dunia pada 10-16 Agustus 2015. Mereka akan berlaga di Kejuaraan Dunia edisi ke-22.

Salah satu bintang yang paling dinantikan adalah Lee Chong Wei. Pebulu tangkis asal Malaysia itu hadir tanpa status unggulan karena peringkatnya yang merosot tajam setelah absen bertanding selama beberapa bulan akibat skorsing dari BWF.

Pada Kejuaraan Dunia 2015, Lee akan bertemu Kestutis Navickas dari Lithuania pada laga pembuka. Jika mulus melaju, Lee berpeluang berjumpa musuh bebuyutannya, Lin Dan, di semifinal.

“Saya tahu siapa lawan yang akan saya hadapi. Untuk saat ini, saya akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama pelatih Hendrawan dan Morten Frost (direktur teknis BAM) untuk menganalisis kekuatan lawan,” ujar Lee kepada The star.

Sepanjang kariernya di kancah bulu tangkis dunia, Lee belum pernah menjadi juara dunia. Prestasi terbaiknya di Kejuaraan Dunia adalah menjadi runner-up pada 2011, 2013, dan 2014.

Pada Kejuaraan Dunia tahun ini, ia tidak terlalu mementingkan medali emas. Suami mantan pebulu tangkis Malaysia, Wong Mew Choo, itu lebih fokus berburu poin menuju Olimpiade Rio 2016.

“Saya akan tampil sebagai pemain non-unggulan untuk kali pertama dalam beberapa tahun terakhir. Ini adalah kesempatan bagi saya untuk memperbaiki posisi di ranking BWF,” kata pemain 32 tahun tersebut.

Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) telah menetapkan tanggal 1 Mei 2015 sebagai waktu pembukaan penghitungan poin menuju Olimpiade, dan 16 pemain teratas (per 5 Mei 2016) di setiap nomor berhak tampil di Rio de Janeiro.

Sebelum berlaga di Kejuaraan Dunia 2015, Lee sukses meraih dua gelar beruntun pada turnamen berlevel grand prix (gold) di New York dan Calgary, Amerika Serikat. (Tulus Muliawan)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Tan Joe Hok, Begawan Bulu Tangkis

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on July 29, 2015


558d28e3d2e58Meski kondisi fisiknya tidak segagah dahulu, Tan Joe Hok selalu bersemangat bila berbicara tentang prestasi bulu tangkis Indonesia. Seluruh hidupnya didedikasikan untuk kejayaan Merah-Putih.

Tan Joe Hok atau Hendra Kartanegara adalah pebulu tangkis andalan Indonesia pada akhir era 1950-an. Ia putra Indonesia pertama yang menjuarai All England, tepatnya pada 1959.

Setahun sebelumnya, bersama dengan Ferry Sonneville, Lie Poo Djian, Tan King Gwan, Njoo Kim Bie, Eddy Jusuf, dan Olich Solihin, Tan Joe Hok merebut Piala Thomas bagi skuat Garuda untuk pertama kali pada 1958 di Singapura

Tak hanya sebagai pemain, ketika tampil sebagai pelatih tokoh ini juga disebut bertangan dingin.

Tan Joe Hok sukses mengantarkan Indonesia kembali merebut Piala Thomas dalam pernyelenggaraan di Kuala lumpur 1984. Di final, Tim Garuda menekuk Tiongkok 3-2 lewat pertarungan begitu dramatis.

Usai pensiun sebagai pelatih, sumbangan saran, ide, dan nasehat Tan Joe Hok tetap dibutuhkan.

Hingga kini, pria berusia 77 tahun ini didaulat sebagai Ketua Komunitas Bulu Tangkis Indonesia (KBI).

“Tugas ini juga amanah. Saya harus terus menaruh kepedulian terhadap para mantan pebulu tangkis. Forum ini lebih banyak kami gunakan sebagai ajang tali silaturahmi,” ujar Tan.

Hari-hari Tan tetap diisi dengan banyak aktivitas, termasuk menjalani olah raga. Menonton pertandingan olah raga secara langsung atau di televisi juga tidak pernah dilupakannya.

“Selebihnya, saya sekarang benar-benar menikmati hidup. Saya bisa berkeliling bertemu kenalan atau berlibur ke Australia,” tutur Tan.

Tempat Bertanya

Pengalaman sebagai pemain dan pelatih, juga sebagai pembina bulu tangkis di Tanah Air, membuat ketokohan Tan tidak ada yang berani membantah. Tan adalah tempat terbaik untuk bertanya dan menimba ilmu. Dia adalah begawan bulu tangkis saat ini dan pionir kejayaan prestasi bulu tangkis Indonesia.

Tan_Tjoe_HoekBerbekal pengalaman segudang, saran dan nasihat ayah dua anak dan kakek satu cucu itu begitu aktual untuk diterapkan. Di berbagai diskusi atau seminar tentang bulu tangkis, Tan selalu diundang. Bahkan, dari sisi strategi pembinaan, ide-ide cemerlang yang dilontar kannya juga sangat cemerlang.

“Lewat pengamatan dan intuisi, bila ada pemain yang saya rasa tidak akan berkembang menjadi juara dunia, selalu saya anjurkan banting setir saja untuk sekolah daripada gagal di tengah jalan,” kata Tan.

Begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada prestasi bulu tangkis Indonesia belakangan ini.

Sumber: http://www.juara.net/read/bulu.tangkis/nasional/117072-tan.joe.hok.begawan.bulu.tangkis?utm_source=news&utm_medium=bp-kompas&utm_campaign=related&

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Ricky Yang Rendah Hati

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 14, 2015


Tiga minggu lalu sebelum Maybank Malaysia Open aku masih sempat bertemu dengannya. Anak muda ini Ricky Karanda Suwardi, pebulutangkis masa depan Indonesia. Dalam obrolan kecil ia sempat minta masukan kepadaku.

Sedikit tak percaya, dengan kerendahan hatinya ia meminta pendapatku. Padahal aku bukan pelatih bulutangkis ataupun jagonya bulutangkis. Tapi aku menangkap ketulusan hatinya meminta masukan dari siapa pun yang dia kenal. Termasuk kepadaku.

“Teknik pukulanmu susah ada, tinggal bermain lepas dan lebih atraktif saja. Jangan ada beban,” pesanku padanya.

“Dan kalau ada waktu, latihan lagi untuk nambah power. Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu bisa!,” aku menambahkan sembari memberikan keyakinan buatnya.

“Siap, makasih om!,” jawabnya singkat dengan penuh keyakinan.

Walau menjawaban singkat, tapi dari binar matanya aku menangkap rasa optimisnya. Dia akan berprestasi banyak. Dan itu mulai terbukti, setelah minggu lalu mereka menjadi perempat finalis Maybank Malaysia Open Open Super Series Premier.

Akhirnya malam ini, mereka menjadi Juara di ajang OUE Singapore Open Super Series setelah mengalahkan pasangan top dunia asal Tiongkok, Zhang Nan/ Fu Haifeng. Bahagia banget rasanya ketika menonton permainannya dengan Angga Pratama, pasangannya. Rasanya apa yang dijanjikannya padaku waktu itu benar-benar dia terapkan. Dan lebih bahagia lagi ketika dia lagsung berhasil menjadi juara. Tak terasa menitik air mata ini, melihatnya berdiri di panggung sebagai Sang Juara.

Teruslah berprestasi wahai anak muda, jangan cepat puas dan tetap rendah hati. Latihanlah lebih giat lagi, karena di depan sana masih banyak lagi turnamen-turnamen yang harus kau taklukkan.

Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu bisa!

Bravo Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama! (Edward Naibaho) – See more at: http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=101144#sthash.B6OkjOd7.dpuf

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Facebook, Tokoh | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: