SEJAHTERA BADMINTON

BERSAMA MEMBANGUN BULUTANGKIS INDONESIA

  • Meta

  • TIRTA SPORT ONLINE SHOP

    Promo Tirta
  • WIDE SCREEN FORMATED

    February 2020
    M T W T F S S
    « Mar    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    242526272829  
  • JADILAH PEMENANG

    Pemenang selalu memiliki program

    Pecundang selalu memiliki alasan

    Ketika pemenang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Saya melakukan kesalahan”

    Ketika pecundang melakukan sebuah kesalahan,
    ia akan berkata “Itu bukan kesalahan saya”

    Pemenang membuat komitmen-komitmen

    Pecundang membuat janji-janji

    Pemenang memilih seperti yang ia ingin lakukan

    Pecundang memilih sesuai pilihan orang banyak

    Pemenang membuat sesuatu terjadi

    Pecundang membiarkan sesuatu terjadi

  • BWF

    bwf-logo1
  • Archives

  • Top Posts

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 5,029 other followers

Archive for the ‘Tokoh’ Category

Ricky Yang Rendah Hati

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on April 14, 2015


Tiga minggu lalu sebelum Maybank Malaysia Open aku masih sempat bertemu dengannya. Anak muda ini Ricky Karanda Suwardi, pebulutangkis masa depan Indonesia. Dalam obrolan kecil ia sempat minta masukan kepadaku.

Sedikit tak percaya, dengan kerendahan hatinya ia meminta pendapatku. Padahal aku bukan pelatih bulutangkis ataupun jagonya bulutangkis. Tapi aku menangkap ketulusan hatinya meminta masukan dari siapa pun yang dia kenal. Termasuk kepadaku.

“Teknik pukulanmu susah ada, tinggal bermain lepas dan lebih atraktif saja. Jangan ada beban,” pesanku padanya.

“Dan kalau ada waktu, latihan lagi untuk nambah power. Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu bisa!,” aku menambahkan sembari memberikan keyakinan buatnya.

“Siap, makasih om!,” jawabnya singkat dengan penuh keyakinan.

Walau menjawaban singkat, tapi dari binar matanya aku menangkap rasa optimisnya. Dia akan berprestasi banyak. Dan itu mulai terbukti, setelah minggu lalu mereka menjadi perempat finalis Maybank Malaysia Open Open Super Series Premier.

Akhirnya malam ini, mereka menjadi Juara di ajang OUE Singapore Open Super Series setelah mengalahkan pasangan top dunia asal Tiongkok, Zhang Nan/ Fu Haifeng. Bahagia banget rasanya ketika menonton permainannya dengan Angga Pratama, pasangannya. Rasanya apa yang dijanjikannya padaku waktu itu benar-benar dia terapkan. Dan lebih bahagia lagi ketika dia lagsung berhasil menjadi juara. Tak terasa menitik air mata ini, melihatnya berdiri di panggung sebagai Sang Juara.

Teruslah berprestasi wahai anak muda, jangan cepat puas dan tetap rendah hati. Latihanlah lebih giat lagi, karena di depan sana masih banyak lagi turnamen-turnamen yang harus kau taklukkan.

Kamu bisa! Kamu bisa! Kamu bisa!

Bravo Ricky Karanda Suwardi/Angga Pratama! (Edward Naibaho) – See more at: http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=101144#sthash.B6OkjOd7.dpuf

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Facebook, Tokoh | Leave a Comment »

Jorgensen Punya Peluang jadi “Juru Selamat” Bulu Tangkis

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on March 10, 2015


2329154jorgensen-0803780x390JAKARTA, Kompas.com – Tunggal putra Denmark, Jan O. Jorgensen memiliki semua potensi untuk menyelamatkan pamor bulu tangkis sebagai olah raga prestasi sekaligus sebagai tontonan yang menarik.

Jorgensen gagal memenuhi ambisinya untuk menjuarai turnamen bulu tangkis dunia paling tertua, All England, Minggu (08/03/2015). Di final ia harus mengakui keunggulan pemain peringkat satu dunia saat ini, Chen Long. Meski sempat merebut gim pertama, Jorgensen akhirnya menyerah 21-15, 17-21, 15-21.

Pertandingan antara kedua pemain tidak diragukan lagi menjadi puncak pertunjukan All England malam itu. Chen Long dan Jorgensen mampu menebus kejemuan pertandingan sebelumnya di nomor ganda campuran antara juara bertahan Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad melawan Zhang Nan/Zhao Yunlei yang berat sebelah. Juga partai kedua antara Carolina Marin dan Saina Nehwal yang berlangsung seru namun mengalami antiklimaks di gim ketiga.

Dalam pertandingan ini, kedua pemain memperlihatkan gaya berbeda namun karakter sama yang tak mau menyerah. Di gim pertama, saat tertekan Chen Long berkali-kali menengok ke arah dua pelatihnya. Sementara di gim kedua dan ketiga, Jorgensen yang berganti tertekan berusaha mengatasinya sendiri, namun dengan perubahan ekspresi yang sangat transparan.

Dua pemain ini, Chen Long dan Jan O. Jorgensen tak bisa diragukan lagi adalah harapan akan masa depan dunia bulu tangkis di sektor tunggal putera. Memang masih ada nama legenda Tiongkok, Lin Dan dan pemain Malaysia, Lee Chong Wei apabila ia mampu lepas dari jeratan hukuman skorsing dua tahun akibat terbukti positif mengonsumsi doping saat kejuaraan dunia di Kopenhagen, Agustus tahun lalu.

Tetapi tentunya sedikit orang yang berharap Lin Dan dan mungkin Lee Chong Wei masih akan menjadi pemuncak persaingan di arena Olimpiade Rio De Janeiro pertengahan 2016 nanti. Meski Chong Wei masih di petingkat 3 dan Lin Dan saat ini di peringkat 6 dunia, kalau pertemuan final ketiga itu terjadi maka ini adalah bencana, karena bulu tangkis seperti mandek, stuck, jalan di tempat kalau tidak mau dikatakan mengalami penurunan.

Kalangan bulu tangkis lebih berharap partai puncak di Olimpiade Rio 2016 mempertemukan muka-muka baru. Di atas kertas, Chen Long yang kini menempati peringkat satu dunia dan Jan O. Jorgensen yang berada di peringkat dua berpeluang dan diharap dapat bertemu di final. Akan jauh lebih menarik, daripada pemain-pemain peringkat bawah mereka seperti Shon Wan Ho (Korea/4), K. Srikanth (India/5) atau pun Viktor Axelsen (Denmark/5).

Keduanya mewakili dua kutub yang berbeda dalam perkembangan bulu tangkis. Chen Long adalah buah dari pembinaan yang sistematis, spartan dan tertutup dari bulu tangkis Tiongkok. Dengan latihan yang keras dan terukur, Chen Long di atas kertas akan dapat diatur untuk mencapai puncaknya saat perhelatan Olimpiade nanti. Karena itulah tidak heran usai pertandingan melawan Jorgensen di final All England, Chen Long menolak menyebut ambisi pribadinya sebagai pemain. “Tugas saya saat ini adalah bermain sebaik mungkin dan menghindari mengalami cedera,” kata Chen Long.

Chen Long adalah tipikal yang berbeda dengan seniornya, Lin Dan. Legenda bulu tangkis ini adalah “sin tong” yang mungkin lahir satu dalam seratus tahun. Tipikal pemain seperti ini punya keinginan menang yang kuat, tetapi juga tahu kapan saatnya harus mengakhiri kehebatannya atau sudah kehilangan passion di situ.

Jorgensen lahir dari tradisi bulu tangkis Denmark yang panjang. Tradisi yang memiliki tantangan yang berbeda dan mungkin lebih sulit dari para pemain Tiongkok atau Asia pada umumnya. Mereka harus selalu memikirkan cara untuk dapat tetap eksis di tengah persaingan yang ketat di luar negara mereka. Mereka sadar kemampuan teknis saja tidak akan membuat mereka menjadi lirikan dari sponsor yang menjadi penopang utama karir mereka.

Tidak heran beberapa pemain Denmark kini gencar belajar bahasa mandarin karena sebagian besar sponsor yaitu produsen perlengkapan olah raga berasal dari negara-negara dengan tadisi bahasa mandarin. “Dengan menguasai bahasa mandarin, kita akan lebih mudah mendekati sponsor,”kata Viktor Axelsen, pemain peringkat 5 dunia asal Denmark.

Jorgensen sendiri adalah tipikal pemain yang stylish di dalam dan di luar lapangan. Di dalam lapangan, ia memiliki kemampuan teknis yang dapat membuatnya sulit ditaklukan pemain mana pun, bahkan Lin Dan atau Lee Chong Wei sekali pun. Sementara di luar lapangan, Jorgensen adalah seorang atlet dengan kemampuan pendekatan publik yang luar biasa. Ia mampu berkomunikasi dengan baik dengan penonton atau pun para jurnalis manca negara, melayani pertanyaan apa pun bahkan yang paling konyol seperti menanyakan rajah di tubuhnya. Atau bahkan melayani foto bersama para jurnalis dan penggemarnya.

Bulu tangkis tunggal putra saat ini dan masa depan memang berada di tangan dua pemain ini: Chen Long dan Jan O. Jorgensen. Namun dengan Chen Long yang dingin dan kaku, tampaknya Jorgensen lebih memiliki peluang untuk menjadi magnet olah raga ini. Di final All Eangland, Jorgensen memperlihatkan kemampuan non-teknis yang membuat dirinya mendapat dukungan bukan hanya dari penonton Denmark atau Eropa.

Ia melakukan protes dan call saat Chen Long tengah kegirangan karena baru saja mencapai angka 21 di gim ketiga. Ketika call-nya diterima ia langsung bereaksi gembira kepada penonton yang bersorak namun tanpa tendensi untuk melecehkan Chen Long. Dan ketika kalah, Jorgensen melakukan permintaan untuk menukar kaos dengan Chen Long. Sederhana sekali, namun tindakan ini mampu merebut hati para pendukung Chen Long di Barclaycards Arena, Birmingham.

Jorgensen menunjukkan sisi manusiawi seorang pemain bulu tangkis ketiak ia menangis saat menjadi jura di Indonesia Terbuka 2014 dan menangis ketika harus mengalami cedera  saat kejuaraan dunia berlangsung di Kopenhagen, Denmark pada Agustus.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Hanna Ramadini : Saya Deg-degan Sampai Terbawa Mimpi

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 21, 2014


1425384hanna-2009780x390INCHEON, KOMPAS.com – Ketika terpilih masuk dalam daftar tim inti bulu tangkis untuk Asian Games 2014, Hanna Ramadini mengaku senang bukan kepalang. Betapa tidak, mewakili Merah-Putih di ajang sebesar Asian Games tentunya menjadi pengalaman berharga yang belum tentu bisa didapatkan setiap atlet. Ditambah lagi, kesempatan ini diraih Hanna di usianya yang terbilang muda yaitu 19 tahun.

“Saya senang sekaligus deg-degan menjadi bagian tim di Asian Games. Sebelumnya sudah pernah sih ikut tanding di kejuaraan beregu, tetapi kan tidak sebesar Asian Games. Sementara ini, Asian Games adalah kejuaraan terbesar yang pernah saya ikuti dalam karier bulu tangkis saya,” kata Hanna yang dijumpai di Gyeyang Gymnasium, Korea Selatan.

“Deg-degan ini sampai terbawa mimpi. Semalam sebelum tanding saya mimpi tiba-tiba sudah ada di lapangan dan siap mau main. Lalu saya terbangun dan sadar kalau saat itu belum pagi,” cerita Hanna sambil tertawa.

Pemain kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 21 Februari 1995 ini juga kagum melihat fasilitas athlete village di Incheon, tempat para atlet menginap selama mengikuti Asian Games 2014. Tempat ini berbeda dengan ketika dia mengikuti kejuaraan lainnya di mana biasanya atlet menginap di hotel.

Belum punya pengalaman berlaga di ajang Asian Games, Hanna pun tak malu-malu meminta masukan dan saran dari para seniornya. Pemain berpostur 162 cm/ 55 kg ini mengaku sering mengobrol dengan Linda Wenifanetri mengenai pengalaman berlaga di turnamen-turnamen besar.

“Saya sering nanya sama senior. Kak Linda kemarin bercerita tentang pengalamannya di Asian Games. Saya dapat nasihat juga harus bagaimana selama mengikuti kejuaraan ini, pokoknya dapat banyak masukan,” ungkap Hanna.

“Karena paling muda di tim putri, saya sempat dikerjain sama tim. Pelatih bilang kalau nanti saya ditugasi mengurus cucian kotor senior-senior dan mengepel lantai di athlete village. Tetapi mereka cuma ngerjain saya, ternyata enggak disuruh seperti itu kok, ha ha ha…,” cerita Hanna kepada Badmintonindonesia.org.

Hanna merupakan pemain muda berbakat asal klub Mutiara Cardinal Bandung. Saat ini ia menghuni pelatnas potensi di bawah besutan pelatih Bambang Supriyanto. Hanna sudah menjadi andalan di Kejuaraan Dunia Yunior pada tahun 2011, 2012, dan 2013. Di kelas senior, Hanna pernah menjuarai turnamen Vietnam International Challenge 2013.

Selain Hanna, di skuad bulu tangkis Indonesia untuk Asian Games 2014 juga terdapat dua pemain muda lainnya yaitu Ihsan Maulana Mustofa (19 tahun) dan Jonatan Christie (17 tahun)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Chong Wei Feng, Sang Penentu Kemenangan Malaysia atas Indonesia

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on May 25, 2014


1926366chong-wei-feng-2405780x390NEW DELHI, KOMPAS.com – Chong Wei Feng jadi penentu kemenangan Malaysia atas Indonesia pada laga semifinal Piala Thomas 2014 di Siri Fort Indoor Stadium, New Delhi, India, Jumat (23/5/2014). Ini adalah kali pertama Malaysia bisa kembali menapaki partai final Piala Thomas sejak terakhir melakukannya pada 2002.

Maka wajar jika Chong menyebut keberhasilannya tersebut sebagai kemenangan terindahnya. Turun pada partai ketiga, Chong bertemu Dionysius Hayom Rumbaka, dalam posisi Malaysia memimpin 2-0. Kemenangan 21-10, 21-17 memastikan Malaysia menang 3-0 atas Indonesia.

“Ini adalah kemenangan paling berarti sepanjang karier saya karena kami lolos ke final setelah 12 tahun, dan ini menjadi lebih indah karena saya ikut menyumbang poin ke final,” kata pemain berusia 26 tahun tersebut seusai pertandingan, Jumat (23/5/2014).

Kemenangan pebulu tangkis kelahiran Kedah ini memang krusial. Seandainya ia kalah, Malaysia akan berada di posisi sulit, karena pada dua partai berikutnya Indonesia punya peluang untuk menang.

Rian Agung Saputro/Angga Pratama sudah menunggu Goh V Shem/Tan Wee Kiong pada partai keempat. Di atas kertas, Rian/Angga yang kini berada di peringkat 11 dunia diunggulkan bisa mengalahkan Goh/Tan yang baru dipasangkan pada event ini.

Jika Rian/Angga menang dan skor menjadi 2-2, partai kelima yang mempertemukan Simon Santoso dan Daren Liew harus digelar. Dalam kondisi normal, Simon seharusnya bisa memenangi pertandingan ini. Apalagi, dari dua kali bermain di babak penyisihan, Daren Liew selalu menelan kekalahan.

Menyadari fakta tersebut, Chong Wei Feng berusaha mati-matian untuk bisa memenangi laga melawan Hayom. Kerja kerasnya terbayar dan dia sukses membawa Malaysia ke final.

“Saya memang belum pernah melawan dia, tetapi saya tidak terbebani karena Malaysia sudah unggul 2-0. Siapa sangka Malaysia dan Jepang yang akan bermain di final,” kata pemain kidal tersebut.

Chong mengaku memiliki resep khusus ketika menghadapi Dionysius. “Saya katakan pada diri saya sendiri agar jangan ragu-ragu dan selalu mengambil kesempatan saat Dionysius lengah. Jangan sampai pula saya berada dalam posisi sulit.”

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Yu Yang : Fisik Jadi Musuh Utama Saya

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on December 25, 2013


ANSHAN, KOMPAS.com — Pebulu tangkis nomor ganda putri asal China, Yu Yang, mulai mengkhawatirkan kondisi fisiknya yang tidak lagi fit seperti dulu. Berpartner dengan Wang Xiaoli sebagai ganda putri terkuat dunia saat ini, Yu memutuskan untuk mengurangi keikutsertaannya pada rangkaian turnamen tahun depan.

“Tahun depan mungkin kami akan mengurangi keikutsertaan di turnamen-turnamen dan berusaha agar tidak terlalu capek. Saya bukan lagi pemain muda, fisik menjadi musuh utama saya saat ini,” kata Yu yang kini telah menginjak 27 tahun.

Dibandingkan Yu, Wang masih berumur cukup muda, yakni 24 tahun. Ditanya mengenai performanya bersama Wang Xiaoli, Yu mengatakan mereka sudah semakin kompak. “Kami sudah saling mengerti, bertambah banyak pengalaman, dan dapat bermain di level tertinggi,” aku Yu.

Pernyataan Yu tersebut disampaikannya saat berpartisipasi dan datang sebagai tamu undangan pada kegiatan promosi bulu tangkis di kampung halamannya di Anshan, Liaoning, Senin (23/12/2013).

Meski telah berada di Anshan sejak 21 Desember, Yu mengaku tidak bisa mengunjungi semua kerabat dan teman-temannya satu per satu. Acara promosi yang didatangi Yu pun menjadi tempat berkumpul bagi dia dan kerabat serta teman-temannya.

“Yu Yang tumbuh besar di sekitar saya. Setiap hari saya selalu mencari berita tentangnya. Mendengar hasil yang telah didapatkannya hingga saat ini, saya sangat senang,” kata nenek Yu yang kini telah berusia 85 tahun, Senin (23/12/2013).

Setelah selesai dengan urusannya di Anshan, Yu masih akan dijadwalkan untuk mempromosikan bulu tangkis di beberapa tempat lainnya.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Wang Yihan Harus Jatuh Bangun untuk Meraih Sukses di Bulu Tangkis

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 29, 2013


wang-yihan-all-smilesSHANGHAI, KOMPAS.com – Wang Yihan merupakan pebulu tangkis putri yang kini jadi salah satu andalan China. Terakhir, pebulu tangkis 25 tahun ini menjuarai Hongkong Open Superseries 2013, Minggu (24/11/2013).

Wang memulai karier bulu tangkisnya sejak kecil. Pada suatu malam, dia melihat ibunya bermain dan tertarik untuk mencoba. Ternyata, Wang bisa mengalahkan ibunya berkali-kali. Orang tua Wang melihat bakat tersebut dan menyekolahkannya di sekolah khusus olahraga.

Pada 2002, Wang bergabung dengan tim bulu tangkis Shanghai. Latihan berat dijalaninya setiap hari. Saat senior dan teman-temannya satu demi satu keluar karena tak kuat menjalani latihan yang sangat keras, Wang justru menetapkan target pribadi yang tinggi. Ia ingin menjadi juara dunia suatu hari nanti.

Akhirnya, Wang terpanggil masuk ke pelatihan tim nasional pada 2003. Kala itu Wang berpikir, tak akan sulit bertahan di tim nasional setelah latihan keras yang ia jalani. Ternyata, Wang yang merupakan pemain termuda dari tujuh pemain lain yang juga masuk bersamanya, harus menjalani latihan yang jauh lebih berat dari bayangannya. Setiap hari, Wang menelepon ke rumah dan menangis.

Kekuatan fisik menjadi kelemahan Wang saat itu. Dengan tinggi 1,74 meter, Wang hanya memiliki berat 60 kilogram. Wang juga kesulitan mengangkat beban seberat 25 kilogram saat pemain lain bisa mengangkat 40 kilogram.

Namun, Wang tak mudah menyerah dan terus berlatih di luar jadwal latihan rutin. Kerja kerasnya terbayar. Dia menjadi satu dari empat pemain yang akhirnya resmi bergabung dengan tim nasional China pada 2004.

Pada tahun yang sama, Wang memulai debut internasionalnya di China Open 2004. Ia langsung menjadi juara dan menuai kesuksesan pada turnamen-turnamen selanjutnya.

Sayang, pada Uber Cup 2010, Wang mendapat pukulan menyakitkan saat kalah pada pertandingan final yang sangat menentukan. Wang gagal membawa China mempertahankan piala Uber yang akhirnya direbut Korea.

“Karena saya, China kalah setelah sekian lama selalu menang,” kata Wang yang saat itu memutuskan untuk menyerah karena mentalnya hancur.

Performa Wang menurun drastis. Ia kalah pada babak kedua World Championships 2010 saat melawan Eriko Hirose dari Jepang. Sejak itu, pelatihnya tak lagi memberi kesempatan pada Wang untuk bertanding di turnamen-turnamen besar.

Wang baru bisa bangkit pada 2011 saat ia memenangi Malaysia Open dan Korea Open di awal tahun. “Itu merupakan titik balik dalam karier saya. Saya senang akhirnya bisa kembali setelah melewati ujian berat,” aku Wang.

Pada World Championships 2011, Wang akhirnya meraih mimpinya sejak kecil. Ia memenangi pertandingan final melawan Cheng Shao Chieh dari Taiwan dan berhak atas medali emas. Wang tak bisa menahan tangis saat menerima penghargaan tersebut. Dia membuktikan sudah kembali ke performa terbaiknya.

Wang sempat menderita cedera lutut cukup parah pada 2011, yang menyebabkan peringkatnya kembali turun drastis. Namun sekali lagi Wang berhasil mengatasi ujian tersebut dan kembali pada 2012. Saat ini ia sudah berada di peringkat empat dunia.

“Sekali saya merasa takut kalah, maka saya akan kalah. Saya menekan diri saya untuk terus bergerak maju. Perjalanan saya masih panjang dan saya tidak akan membiarkan siapa pun memperlambat langkah saya,” tandas Wang dengan penuh percaya diri.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Mampukah Marcus Menjaga Konsistensinya Bersama Kido?

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on November 7, 2013


Bulutangkis.com – Pemain ganda putra berperingkat 42 dunia, Marcus Fernaldi Gideon yang kini berpasangan dengan Markis Kido mampu menorehkan tinta emas di ajang turnamen bulutangkis French Open Super Series 2013. Di laga final yang berlangsung dua pekan lalu pasangan Marcus/Kido menekuk ganda Malaysia, Koo Kien Keat/Tan Boon Heong dua game langsung 21-16, 21-18.

Langkah Marcus/Kido menapak podium juara French Open Super Series 2013 taklah mudah. Marcus/Kido harus melewati dua laga di babak kualifikasi untuk menembus babak utama. Dan setelah melewati babak pertama dengan menyingkirkan ganda bukan unggulan dari Belanda, Ruud Bosch/Koen Ridder, Marcus/Kido harus menghadapi ganda-ganda terbaik di dunia.

Cowok kelahiran Jakarta 22 tahun silam ini, tepatnya 09 Maret 1991, sempat mendiami pelatnas hingga akhirnya memutuskan untuk keluar dan kembali ke klub asalnya PB Tangkas Specs. Sebelum berpasangan dengan Markis Kido, Marcus Fernaldi Gideon terlebih dahulu berpasangan dengan Andrei Adistia.

Kendati memiliki tinggi badan yang kurang bagus untuk bersaing di jajaran elit dunia (165 cm) tetapi Marcus yang selalu disapan ‘Sinyo’ ini mempunya teknik yang cukup mumpuni, dan diharapkan dapat terus berprestasi untuk mengibarkan bendera Merah Putih ke seluruh penjuru dunia melalui bulutangkis.

Dua turnamen terdekat yang akan diikuti Marcus/Markis yang kini mendapat julukan ‘Duo M’ ini adalah VICTOR China Open Super Series 2013 yang berlangsung di Shanghai, China pada 12 – 17 November 2013 dengan total hadiah USD 350,000. Dan yang kedua pada ajang Yonex Sunrise Hong Kong Open Super Series 2013 di Kowloon, Hongkong pada 19 – 24 November 2013 dengan total hadiah yang sama sebesar USD USD 350,000.

Di ajang China Open Super Series 2013 dari drawing yang ada, beruntung ‘Duo M’ yang kini berada di peringkat 42 tak harus melakoni laga dari babak kualifikasi. Marcus/Kido mengawali babak pertamanya melawan pasangan China Taipei (Taiwan) Chen Hung Lin/ Lu Chia Pin. Jika mereka bisa lolos diperkirakan kembali akan bertemu dengan pasangan China, Liu Xiaolong/ Qiu Zihan.

Namun pekan berikutnya di Hongkong Open Super Series 2013, nasib ‘Duo M’ masih belum beruntung karena kembali mengawali laganya melalui babak kualifikasi. Lawan pertama yang mereka hadapi adalah mantan pasangan Markis Kido, Alvent Yulianto Chandra yang berpasangan dengan pemain Jepang, Shintaro Ikeda.

Melihat pencapaian Marcus bersama Kido di beberapa turnamen yang diikuti cukup untuk menjadi modal yang bagus, diharapkan trend positive ini terus berlanjut bukan hanya trend sesaat.(*)

Catatan : @arneld
Selasa, 05 Nopember 2013, 21:02:46
Sumber : Forum Diskusi Bulutangkis.com

Berikut torehan prestasi Marcus Fernaldi Gideon (dari Wikipedia) :
Tahun 2010 :
– Semi final PROTON Malaysia International Challenge 2010 (Sabah) bersama Christopher Rusdianto

Tahun 2011 : :
– Perempat final Ciputra Hanoi Vietnam Challenge 2011 bersama Muhammad Ulinnuha
– Perempat final VICTOR Indonesia International Challengebersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Juara Singapore International Series 2011 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Perempat Final Bank Kaltim Indonesia Open GP Gold 2011 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas

Tahun 2012 : :
– Juara Iran Fajr International Challenge 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Juara Ciputra Hanoi Vietnam International Challenge 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Juara kedua Ciputra Hanoi Vietnam International Challenge 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Juara kedua Osaka International Challenge 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
-Perempat final Victor Indonesia International Challenge 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Perempat final Yonex Sunrise Vietnam Open GP 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas
– Perempat final Indonesia Open Grand Prix Gold Badminton 2012 bersama Agripinna Prima Rahmanto Pamungkas.

Berikut pencapaian Gideon bersama Markis Kido di turnamen internasional
– Yonex French Open 2013 Juara
– Yonex Denmark Open 2013 16 besar
– Yonex Sunrise Indonesia Open Semifinal
– Yonex Open Japan 2013 32 besar
– Adidas China Masters 2013 Perempat Final.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Carolina Marin : Rafael Nadal adalah Inspirasi Saya

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on October 2, 2013


1022555Carolina.MARIN-04-min-780x390MADRID, KOMPAS.com – Pebulu tangkis asal Spanyol, Carolina Marin, memilih petenis yang juga berasal dari Spanyol, Rafael Nadal, sebagai sumber inspirasi. Bagi pebulu tangkis kelahiran 15 Juni 1993 ini, Nadal merupakan sosok atlet dengan karakter yang unik.

“Saya tidak memiliki atlet perempuan yang menjadi inspirasi. Saya selalu menaruh perhatian pada petenis Spanyol, Rafael Nadal. Dia adalah inspirasi saya, karena saya sangat menyukai karakternya,” ungkap Marin seperti dilansir badmintoneurope.

Hingga saat ini, Marin belum bisa mewujudkan impiannya untuk bertemu Nadal. Meski menggeluti cabang olahraga yang berbeda, pebulu tangkis kidal ini berharap bisa mendapat saran dari Nadal, yang juga bermain kidal, untuk menjadi seorang atlet yang bagus.

“Nadal adalah idola saya dan saya sangat ingin bertemu dengannya. Saya pikir bisa bertemu dengannya saat Olimpiade 2012 di London, tapi dia sedang berada di Amerika Serikat saat saya menghubunginya. Tenis adalah olahraga yang sangat kompetitif. Dia adalah atlet yang sangat bugar, dan saya ingin sekali bisa belajar darinya,” ungkap Marin.

Marin merupakan salah satu bintang muda di dunia bulu tangkis. Pebulu tangkis 20 tahun ini bisa bertahan hingga babak perempat final World Championships, Agustus lalu, sebelum dikalahkan pemain Thailand, Ratchanok Intanon, yang akhirnya menjadi juara. Untuk sampai ke tingkat tersebut, Marin telah mengalahkan beberapa pemain unggulan, termasuk unggulan lima asal Korea, Sung Ji-hyun, pada babak ketiga.

Saat ini, Marin berada di Spanyol untuk beristirahat setelah mengikuti rangkaian turnamen yang berakhir di India, yaitu Indian Badminton League (IBL) 2013, hingga 31 Agustus lalu.

“Setelah ini, saya akan mengikuti turnamen di Denmark. Saya akan berlatih di luar lagi, entah di Indonesia atau Thailand. Saat berlatih di sana, saya belajar untuk tetap fokus pada latihan. Saat lelah, saya tidak boleh memikirkannya.”

“Mereka berlatih berjam-jam. Walaupun capek, mereka tidak berhenti. Di Spanyol, kami tidak melakukan itu. Kami banyak berlatih, tapi ketika lelah, kami berhenti. Dengan latihan cara Asia seperti ini, saya menjadi lebih percaya diri,” tutup Marin.

Editor : Pipit Puspita Rini

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Dua Playmaker Putri Indonesia Terhebat

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 29, 2013


indexBulutangkis.com – Partai final ganda campuran Yonex-Sunrise Indonesia Grand Prix Gold 2013 antara Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir melawan Praveen Jordan/Vita Marissa hari Minggu (29/09) tadi menjadi ajang unjuk kebolehan dua playmaker putri terbaik Indonesia saat ini dan yang pernah ada, Liliyana Natsir dan Vita Marissa.

Nama Vita Marissa terlebih dahulu muncul ke permukaan. Wanita kelahiran 4 Januari 1981 ini sudah berhasil menjadi juara Indonesia Open dan meraih medali emas SEA Games ketika masih berusia 20 tahun tepatnya di tahun 2001 berpasangan dengan Deyana Lomban di nomor ganda putri dan Nova Widianto di ganda campuran. Bersama dengan Nova pula gadis asal Manado ini menjadi Juara Asia di tahun 2003.

Nasib kurang beruntung dialami Vita di tahun 2004 dirinya mengalami cedera yang memaksa dirinya harus minggir dari lapangan untuk beberapa waktu. Nova yang ditinggal Nova kemudian dipasangkan dengan Liliyana Natsir.

Akibat cedera tersebut, karier seorang Vita Marissa nyaris berhenti. Ia baru kembali berhasil menjadi juara di tahun 2007 ketika berpasangan dengan Flandy Limpele. Hebatnya, bersama Flandy meraih banyak sekali gelar. Puncaknya ketika pasangan Flandy/Vita menjadi semifinalis Olimpiade 2008.

Lepas dari Flandy yang memasuki masa pensiun, Vita berpasangan dengan pemain muda, Muhammad Rijal. Kehebatan seorang Vita ternyata tidak hilang, bersama Rijal Ia memenangi Japan Open 2008. Padahal saat itu mereka baru pertama kali dipasangkan.

Lama tidak bermain di nomor ganda putri, Vita kembali mencoba nomor yang membawanya menjadi juara di usia muda itu. Berpasangan dengan Liliyana yang merupakan juniornya, Vita kembali membuktikan kehebatannya. Medali emas SEA Games 2007, Juara China Master 2007, dan juara Indonesia Open 2008 meruapakan sederet prestasinya bersama Liliyana.

Di tahun 2009, Vita memutuskan mundur dari Pelatnas Cipayung karena PBSI saat itu tidak mau mengabulkan permintannya untuk menaikkan gaji sebesar 20 persen.

Lepas dari Pelatnas, Vita mulai berjalan secara mandiri. Beberapa kali Vita bergonta-ganti pasangan bahkan sempat berpasangan pula dengan atlet asing seperti Saralee Thoungthongkam dan Robert Blair.

Mulai awal 2013 lalu, Vita kembali menggandeng nama baru, yaitu Praveen Jordan di nomor ganda campuran dan Variella di ganda putri. Bersama dengan mereka, sampai saat ini Vita sudah meraih tiga gelar juara.

Jalan cerita Vita Marissa agak mirip dengan Liliyana Natsir atau yang kerap disapa Butet. Butet bergabung dengan pelatnas di usia yang masih sangat muda. Tapi, beberapa lama di Pelatnas tanpa gelar membuatnya sempat putus asa.

Cedera yang diderita Vita di tahun 2004 ternyata menjadi sebuah anugerah untuk Butet. Butet mulai dipasangkan dengan Nova yang saat itu sedang ‘menduda’. Pasangan Nova/Butet ternyata berhasil melebihi prestasi Nova/Vita sebelumnya.

natsirDi usia yang belum genap 20 tahun, Butet sudah bisa menjadi Juara Dunia, tepatnya di tahun 2005. Rentetan prestasi seperti mengalir begitu saja bagi pasangan Nova/Butet. Hampir semua gelar bergengsi pernah direbut Butet bersama Nova, kecuali All England dan medali emas Olimpiade serta Asian Games. Prestasi tertinggi mereka di dua turnamen itu hanya menjadi runner up All England dan medai perak Olimpiade (tahun 2008). Bahkan Butet berhasil memenangi Kejuaraan Dunia keduanya di tahun 2007.

Selain di nomor ganda campuran, Butet juga meraih sukses di nomor ganda putri bersama sang senior, Vita Marissa.

Tahun 2010, Nova Widianto secara resmi menyatakan gantung raket. Saat itu lah Butet beberapa kali berganti pasangan. Walaupun begitu, Butet masih berhasil menjuarai Malaysia Open 2010 bersama Devin Lahardi.

Butet seperti menemukan lagi partner sejatinya kembali ketika dipasangkan dengan Tontowi Ahmad di tahun 2010. Beberapa gelar Super Series berhasil digenggam. Bahkan, gelar All England yang sebelumnya belum pernah diraih malah berhasil dimenangi bersama Tontowi sebanyak dua kali di tahun 2012 dan 2013. Butet juga sukses meraih gelar juara dunia ketiganya di tahun 2013 ini.

Sayangnya, satu gelar prestisius yang belum dimenangi Butet, yaitu medali emas Olimpiade masih urung didapat. Di Olimpiade 2012 lalu bahkan Butet tidak berhasil meraih satu medali pun.

Final Minggu siang tadi akhirnya kita bisa melihat dua playmaker terhebat di Indonesia saling mempertunjukan kepiawaian bermain di depan net dan mengatur serangan. Bukan ingin mencatat siapa yang menang, tapi pertandingan tadi siang menjadi pengobat kerinduan untuk melihat penampilan playmaker terbaik Indonesia. (Ivan Jhansen)

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

Wang Yihan, “Kucing Kecil” yang Tak Suka Kucing

Posted by SEJAHTERA BADMINTON on September 26, 2013


1338421wang-yihan780x390BEIJING, KOMPAS.com — Pebulu tangkis putri asal China, Wang Yihan, yang selalu bermain serius di lapangan, ternyata memiliki julukan yang lucu. Teman-teman dan para penggemarnya senang memanggil Wang dengan “kucing kecil” atau dengan nama tokoh animasi kucing terkenal, “Garfield”.

Julukan tersebut diberikan pada Wang karena ia memiliki wajah dan bentuk mata yang tajam seperti kucing. Juara Dunia 2011 ini juga senang memakai kaus belang-belang dan selalu membawa boneka kecil berbentuk kuda nil, bebek, atau hewan lainnya, yang makin menguatkan citra-nya sebagai kucing kecil di mata para penggemar.

Awalnya, Wang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki mata seperti kucing, hingga salah satu rekannya di tim nasional China berpikir bahwa dia memang mirip dengan kucing dan memberi julukan itu. Panggilan “kucing kecil” pun menyebar luas dengan cepat hingga sekarang.

Meski tak keberatan mendapat julukan seperti itu, Wang sebenarnya tidak terlalu suka kucing. Menurutnya, kucing merupakan hewan berbulu yang menakutkan. Sejak kecil, Wang memang lebih suka anjing daripada kucing.

“Kucing itu tidak loyal dan setia seperti anjing,” kata Wang mengutarakan alasan lain mengapa ia tidak terlalu menyukai kucing.

Posted in Badminton, Berita, Bulutangkis, Tokoh | Leave a Comment »

 
%d bloggers like this: